Adit dan Arin kini telah tidur di kamar mereka. Namun tidak dengan Elina dan juga Anita. Saat ini mereka sedang berada di ruang televisi di rumah tersebut. Anita melirik ke arah Elina yang terlihat gelisah namun berusaha untuk menyembunyikan kegelisahan tersebut. Anita lalu memberanikan diri untuk membuka suara dan memberikan beberapa pertanyaan pada Elina.
"Elina," ucap Anita pada Elina.
Elina pun menatap ke arah Anita.
"Iya bu? Ada yang bisa Elina bantu?" tanya Elina.
"Kamu sedang memikirkan apa nak? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Anita.
Elina tersenyum tipis lalu menggeleng.
"Enggak kok bu. Elina baik-baik aja. Cuma sedang kurang sehat aja," ucap Elina berbohong.
"Oh iya nak. Sebelumnya ibu minta maaf. Tadi ketika di toko ibu tidak sengaja mendengar obrolan kamu dengan para reseller kamu. Sebenarnya apa yang terjadi pada kamu dan suami kamu? Sampai mereka berbicara seperti itu pada kamu? Apa benar jika Arhan itu selingkuh nak?" tanya Anita.
Deg!
Glek!
Elina menelan salivanya sendiri dengan susah payah bersamaan dengan matanya yang membulat dengan sempurna. Elina menggigit bibir bawahnya dan menunduk. Ia benar-benar bingung harus menjawab apa pertanyaan dari sang mertua.
'Ya Allah apa yang harus aku katakan? Kalau aku bilang iya, aku masih belum punya bukti jika mas Arhan berselingkuh. Tapi kalau aku bilang enggak, pasti ibu bakal tanya yang lain lagi.' ucap Elina gelisah di dalam hatinya.
Anita lalu membawa satu tangannya untuk menggenggam tangan Elina dan mengusapnya lembut.
"Kamu jangan takut nak. Ceritakan pada ibu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ibu pasti akan membantu kamu jika Arhan memang terbukti bersalah. Satu lagi nak, kamu jangan sembarang diet. Tadi ibu lihat saat makan siang dan makan malam kamu hanya makan sedikit. Nanti kamu bisa sakit nak. Pikirkan kesehatan kamu. Kalau kamu sakit, siapa nantinya yang akan menjaga kedua anak kamu dan Arhan?" ucap Anita.
Mata Elina berkaca-kaca. Bibirnya gemetar saat ia mulai menjawab pertanyaan dari Anita.
"Ibu hiks maafin Elina. Bukannya Elina gak mau cerita ke ibu tetapi ini masih kecurigaan Elina. Maaf kalau Elina sudah curiga pada mas Arhan tetapi Elina juga punya alasan kenapa Elina mencurigai mas Arhan berselingkuh. Sikap mas Arhan selama enam bulan terakhir ini sangat berubah pada Elina dan anak-anak bu. Terutama sebulan belakangan," ucap Elina.
Anita mengerutkan keningnya.
"Arhan berubah bagaimana nak?" tanya Anita.
"Mas Arhan menjadi lebih sering marah ketika ia berada di rumah. Mas Arhan juga selalu pulang malam dan paling cepat itu jam sembilan malam. Bahkan Elina pernah tungguin mas Arhan sampai jam dua subuh. Mas Arhan berubah bu. Dia sudah tidak peduli lagi pada Elina dan anak-anak. Elina gak tahu apa salah Elina. Tetapi ketika Elina bertanya, mas Arhan justru. Hiks," ucap Elina tak sanggup melanjutkan ceritanya.
Ia menangis terisak saat ini. Anita lalu memeluknya untuk menguatkannya. Anita mengusap lembut punggung Elina dan membiarkan Elina tenang terlebih dahulu. Setelah dirasa lebih tenang, Anita lalu melerai pelukan tersebut.
"Apa yang Arhan lakukan pada kamu saat kamu menanyakan kesalahan kamu padanya nak?" tanya Anita.
"Hiks mas Arhan justru menarik Elina ke depan cermin. Hiks dia lalu meminta Elina untuk berkaca bahwa Elina sudah tidak secantik yang dulu. Elina berubah. Elina menjadi tidak terawat. Mas Arhan menyakiti hati Elina, bu. Hiks hiks mas Arhan jahat bu," ucap Elina.
Deg!
Anita benar-benar terkejut mendengar cerita Elina. Ia lalu kembali menarik Elina ke dalam pelukannya. Sungguh ia sangat mengerti apa yang Elina rasakan saat ini. Hal itu benar-benar membuat Elina merasa sangat tidak berharga di mata suaminya sendiri.
'Ya Allah apa yang terjadi pada Arhan? Kenapa Arhan bersikap seperti itu pada Elina? Kenapa dia menyakiti hati istrinya sendiri? Astaghfirullah ya Allah.' ucap Anita di dalam hatinya.
"Elina, kamu jangan sedih ya nak. Ibu sangat mengerti jika apa yang Arhan lakukan pada kamu sangat menyakiti hati kamu. Atas nama Arhan ibu minta maaf ya nak. Maaf karena Arhan tidak bisa menjadi suami yang baik untuk kamu. Maaf karena dia sudah melukai hati kamu nak. Ibu tidak pernah menyangka jika saat ini Arhan menjadi seperti itu," ucap Anita.
"Elina sudah memaafkan mas Arhan karena Elina benar-benar tulus mencintai mas Arhan. Elina yang menemani mas Arhan dari nol bu. Elina dan mas Arhan sama-sama berjuang untuk kehidupan keluarga kami. Tetapi hati Elina akan sangat sakit jika memang mas Arhan terbukti mengkhianati Elina. Hati Elina hancur bu. Hancur. Hiks," ucap Elina semakin terisak.
Anita semakin mengeratkan pelukan mereka. Anita meneteskan air matanya. Sungguh menantunya begitu tulus mencintai putranya.
"Elina jangan menangis ya nak. Kamu jangan khawatir tentang Arhan karena ibu akan selalu ada untuk kamu. Ibu akan menjadi penengah atas masalah yang terjadi dalam pernikahan kalian. Ibu gak mau pernikahan kalian hancur karena ibu sayang sama Elina seperti anak ibu sendiri," ucap Anita.
Elina lalu melerai pelukan tersebut. Ia menatap Anita dengan begitu dalam dan dipenuhi rasa bersalah. Elina lalu meraih tangan Anita kemudian mengecup punggung tangan Anita.
"Ibu, Elina minta maaf ya sama ibu. Maafin Elina atas semua kesalahan yang pernah Elina lakukan pada ibu di masa lalu. Elina menyesal bu. Elina benar-benar menyesali semua itu. Elina gak pernah bermaksud untuk menyakiti hati ibu. Tolong maafkan Elina bu," ucap Elina.
"Ya Allah nak ibu sudah memaafkan kamu. Ibu bahkan sudah melupakan semua kejadian itu. Semua sudah berlalu nak. Kamu gak perlu mengingat masa-masa buruk itu. Sekarang kamu fokus ya nak untuk masa depan kamu dan keluarga kecil kamu," ucap Anita.
"Elina takut bu. Elina takut jika dosa Elina di masa lalu menjadi penyulit kehidupan Elina yang sekarang. Elina tahu jika ibu adalah mertua yang baik. Makasih ya bu," ucap Elina.
Anita tersenyum lalu mengangguk.
"Ibu akan berbicara pada Arhan nanti setelah dia pulang ya nak. Kamu jangan sedih terus seperti ini. In Syaa Allah Arhan tidak pernah mengkhianati kamu. Kamu masih ingat kan kejadian saat Arhan masih bekerja di tempat kerjanya yang lama sebelum kalian memulai usaha kalian?" tanya Anita.
Elina pun mengangguk.
"Iya bu. Anak mantan bosnya mas Arhan suka sama mas Arhan dan berusaha untuk merebut mas Arhan dari aku. Tapi mas Arhan justru lebih memilih aku dan memutuskan untuk resign dari perusahaan itu lalu kami membangun usaha ini," ucap Elina.
Anita tersenyum lalu mengangguk.
"Kita berharap yang baik ya nak. Semoga Arhan yang dulu masih seperti Arhan yang sekarang. Tidak mudah digoda oleh sang penggoda," ucap Anita.
"Siapa yang digoda oleh sang penggoda?"
Deg!
............
Jangan lupa support?