bc

Hantu Cinta (Cupid)

book_age16+
1
FOLLOW
1K
READ
reincarnation/transmigration
HE
arrogant
bxg
scary
magical world
superpower
like
intro-logo
Blurb

Lunetta bisa melihat dan memprediksi jodoh semua orang melalui benang merah takdir, kecuali dirinya sendiri. Benang merah di kepalanya pudar dan tak berujung.

Bersama Cupid, hantu wujud kucing pelangi yang menemaninya. Lunetta mengira dia tak akan pernah merasakan cinta. Sampai akhirnya, benang merah itu mendadak terikat kuat pada seorang pria tampan yang datang ke rumahnya.

Sayangnya, benang takdir itu membawa satu peringatan mengerikan: Pria calon suaminya itu ternyata bukan dari alam manusia.

Apakah Lunetta bisa menerima takdir itu? Atau ... dia harus berlari menghindarinya?

cerita ini hanya fiksi dan genre dewasa muda yaa ^^

chap-preview
Free preview
1. Benang yang Memudar dan Makhluk Pelangi
‘Aku bisa melihat benang merah di kepala semua orang, yang ternyata terhubung dengan jodoh mereka. Bahkan ketika aku menyentuh benang itu, aku bisa melihat penggalan kehidupan pernikahan mereka kelak … namun, mengapa benang merah di kepalaku perlahan memudar dan tak pernah tersambung dengan lelaki mana pun yang pernah kutemui? Apakah memang aku tidak ditakdirkan punya jodoh di dunia ini?’ Sebuah kafe di sudut kota, dengan pemandangan jalanan ramai yang macet. Tidak ada kesan aesthetic sama sekali dari pemandangan asap knalpot dan klakson kendaraan yang saling bersahut-sahutan di luar kaca jendela. Namun, hal itu tak mengganggu perhatian gadis yang sejak tadi menatap layar ponselnya dengan wajah bosan. Tak lama kemudian, seorang wanita yang tampak seusia dengannya datang bergeser cepat, menarik kursi, lalu duduk tepat di sebelahnya dengan napas terengah-engah. “Gimana, Lun? Ada enggak?” tanya wanita itu antusias, matanya membelalak penuh harap. Gadis itu, menatap tepat ke arah atas kepala wanita di depannya. Di sana, sehelai garis halus tak kasat mata berwarna merah membara tampak melayang lentur. Tak lama kemudian, pintu kafe terbuka melantunkan gemerincing bel pintu. Seorang pria berkemeja kotak-kotak masuk. Secara otomatis, benang merah di kepala teman Lunetta meliuk di udara dan menyatu presisi dengan benang di kepala pria yang baru masuk itu. “Nempel sih,” ujar Lunetta ragu, matanya menyipit mengamati jalinan itu. “Tapi apa, Lun? Jangan bikin gue senewen deh!” tanya temannya lagi, memegang dadanya yang berdebar. “Sebentar, gue pegang dulu.” Gadis itu mengulurkan tangan kanan yang terlatih secara khusus. Jarinya menyentuh jalinan tak kasat mata itu. Seketika, kilatan bayangan seperti gulungan film terputar cepat menembus kesadarannya. Dia melihat adegan pernikahan yang megah, lalu berlanjut ke masa depan tiga tahun kemudian … di mana pria berkemeja kotak-kotak itu melempar piring sembari memaki, sementara seorang wanita simpanan bersembunyi di balik pintu kamar. DEG! Lunetta tersentak mundur sampai kursinya berderit keras. Wajahnya seketika memucat pasi. “Kenapa, Lun? Kok muka lu kayak habis ngeliat tuyul nyolong duit?” tanya temannya heran. “Nanti … nanti gue kabarin lagi ya. Gue mendadak enggak enak badan, perut gue mulas banget!” jarinya dengan gemetar meremas kuat gantungan kunci berbentuk kucing di tasnya, lalu menyambar tas itu kasar. Tanpa memedulikan panggil temannya yang kebingungan, Lunetta berjalan cepat meninggalkan kafe tersebut. Langkahnya terburu-buru dengan wajah penuh ketakutan, persis seperti orang yang baru saja menyaksikan hantu paling seram sedunia, atau dalam kasus ini, masa depan rumah tangga penuh drama beracun. *** Lunetta Tsamara, gadis yang lahir tepat dua puluh lima tahun lalu itu, kini tengah duduk bersimpuh di atas ranjang hangat di kamarnya yang sederhana. Suasana kamar itu remang, didominasi aroma samar minyak kayu putih dan tumpukan kartu tarot yang berserakan di atas sprei motif kotak-kotak. Kartu-kartu itu datang dari berbagai merk dan visual, mulai dari bergambar kucing lucu, hingga ilustrasi ala abad pertengahan yang agak menyeramkan. Lunetta membalik satu kartu terakhir, menatap gambar manusia tanpa kepala, lalu mendengus frustrasi. “Kartunya jelek banget! Masa ramalannya The Tower campur Three of Swords terus? Harus cek langsung sekali lagi nih,” gerutunya. Tangannya yang cekatan mulai membereskan kartu-kartu itu, merapikan dan menumpuknya sesuai kelompok. Sekali lagi dia menghela napas panjang, menatap bayangan dirinya di cermin meja rias. Benang merah di atas kepalanya masih ada, tetapi warnanya sangat pudar, seperti benang jahit murah yang sudah dicuci ratusan kali sampai hampir transparan. Dan gilanya, ujung benang itu terputus begitu saja di udara, melambai-lambai tanpa arah seolah tak punya tujuan akhir. “NETTTT! MAKAN NIHHH! EMAK UDAH MASAK SAYUR OYONG KESUKAAN LU!!” Teriakan melengking itu seketika memecah keheningan kamar. Lunetta memejamkan mata rapat-rapat, meratapi nasib telinganya. Teriakan itu berasal dari wanita yang telah melahirkannya dengan susah payah di atas bangku angkot jurusan Kampung Melayu dua puluh lima tahun silam. “Iyee iyee, Mak! Sabar dikit napa, lagi ngerapiin barang nih!” gerutu Lunetta keras-keras agar suaranya menembus dinding pintu. “Nat Net Nat Net … emangnya nama gue jaring buat bulu tangkis!” gumamnya pelan sambil bergeser turun dari ranjang. “Lu ngomong apaan barusan di dalem?!” seru suara ibunya lagi dari arah dapur, insting seorang emak-emak memang tidak boleh diremehkan. “Kagak ada! Cuma bilang kalo emak cantik!” cebik Lunetta pelan. “Emang enak! Lagian emak dilawan!” Suara kecil memekik itu tiba-tiba terdengar. Sumbernya bukan dari bawah ranjang atau luar jendela, melainkan berasal tepat dari gantungan tas berbentuk boneka kucing berbulu di sudut meja. “Lu juga! Tadi dibangunin kaga mau bangun! Sekarang aja giliran ngedengar kata makan, bangun lu!” gerutu Lunetta menunjuk gantungan tas itu dengan kesal. “Eh, ingat! Princess enggak boleh ngomong kasar! Nanti aura keperawanannya luntur, lho!” suara cempreng itu kembali membalas. Tak lama kemudian, gantungan tas berbulu itu bergerak-gerak sendiri. POP! Muncullah sesosok makhluk kecil berwarna pelangi. Tubuhnya mini menyerupai hamster, tetapi mukanya amat mirip anak kucing dengan mata bulat bersinar. Jika terlalu banyak makan dan tidur, tubuhnya bisa menggembung membesar seukuran anak kucing anggora. Makhluk itu melayang santai di udara, menggoyangkan ekor pelanginya yang mengembang. Lunetta biasa memanggilnya Cupid. Entah siapa nama aslinya yang sebenarnya, karena sosok itu sendiri tidak pernah mau mengaku. Makhluk itu sudah menemaninya hampir delapan tahun, dan berkat keberadaannya pula Lunetta memiliki kemampuan aneh untuk menerawang benang merah jodoh orang lain, terkecuali jalan takdirnya sendiri. “Mau ikut makan dong, Lun. Bau tumis sambel terasinya tercium sampai ke alam gaib nih,” ucap Cupid sambil menjulurkan lidah merah mudanya, membasahi bibir mungilnya yang rakus. Tentu saja, di rumah beratap genteng asbes ini, hanya Lunetta yang bisa melihat dan mendengar celotehan makhluk ajaib itu. Kejadiannya bermula delapan tahun lalu, tepat di hari ulang tahun Lunetta yang ke-17. Saat itu sekolahnya mengadakan kegiatan kemping di atas gunung. Memang nasibnya ketiban sial memiliki kepala sekolah mantan ketua Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala). Semua murid kelas 2 SMA diwajibkan ikut mendaki gunung bahkan merayap di tanah dan tidur di dalam tenda lembab, termasuk Lunetta yang fisiknya kadang lemah seperti selembek kerupuk disiram kuah bakso. Sebenarnya sejak kecil Lunetta memang sering mendengar bisikan aneh dan sesekali melihat sekelebat bayangan tak kasat mata. Ditambah ibunya selalu berdalih dia sering mengalami itu karena akibat kepalanya terbentur papan kayu angkot sewaktu lahir, maka Lunetta memilih untuk mengabaikannya selama tidak mengganggunya. Namun di gunung itu, insting gaibnya mendadak menggelegak. Udara dingin terasa menusuk dan pandangannya dipenuhi sosok-sosok aneh bertubuh tinggi besar yang mengintip dari balik pohon-pohon. Lunetta hampir menyerah dan menangis histris, tetapi dia menahannya karena tak ingin merepotkan teman-temannya. Hingga matanya menangkap sebongkah batu kecil berwarna biru menyala di sela-sela akar pohon tua. Karena penasaran, Lunetta memungut dan mengantonginya. Ajaibnya, begitu batu itu ada di genggamannya, semua sosok mengerikan di hutan itu mendadak menyingkir, seolah takut pada aura batu tersebut. Lunetta menganggap batu itu adalah jimat keberuntungan. Sialnya, jimat itu terbawa pulang sampai ke rumah. Tepat di depan pintu pagar, Lunetta mendadak roboh dan pingsan tak sadarkan diri. Keluarganya mengira dia hanya kelelahan. Namun hingga tiga hari tiga malam, Lunetta tak kunjung sadar di ruang ICU hospital. Dokter kebingungan karena semua organ tubuhnya dinyatakan normal, tetapi kesadarannya terkunci rapat. Beberapa orang pintar dan paranormal didatangkan, dan semuanya menggelengkan kepala seraya menyuruh orang tuanya untuk pasrah. Namun orang tua Lunetta menolak menyerah. Di samping ranjang rumah sakit, ibunya terus menangis dan berdoa, berjanji bahwa apa pun konsekuensinya nanti, yang penting putri bungsunya bisa kembali membuka mata. Tepat di hari ketiga, Lunetta terbangun. Dia tidak ingat apa yang terjadi di alam bawah sadarnya, tetapi hal pertama yang dilihatnya saat membuka mata adalah sosok makhluk hitam tinggi besar berwajah mengerikan yang berdiri tepat di atas kepala dokter! Lunetta menjerit histeris hingga kejang-kejang. Melihat temannya ketakutan tanpa alasan jelas, sahabat Lunetta mendadak menyodorkan sebuah gantungan kunci boneka kucing berbulu lembut untuk menangkannya. Lunetta meremas boneka itu kuat-kuat sambil memejamkan mata. Ajaibnya, makhluk hitam besar itu perlahan menyusut, mengubah bentuknya, lalu menyerap wujud boneka kucing tersebut hingga berubah menjadi makhluk berbulu pelangi yang imut! Makhluk itu berbisik lembut di telinganya, 'Saya ubah wujud jadi boneka ini ya, biar kamu tidak jerit-jerit lagi tiap kali melihat saya.' Sejak hari itu, makhluk yang kemudian dinamai Cupid tersebut menjadi pendamping abadi Lunetta. Cupid tidak pernah cerita dari mana asalnya atau apa tugas utamanya. Satu hal yang pasti, semenjak hari itu, Lunetta bisa melihat benang takdir di kepala semua orang, sementara benang merahnya sendiri justru bertindak aneh. "Woy, Net! Buruan dipanggil Mama! Lu kalau kelamaan kaga keluar diserok pakai pengki baru tahu rasa lu!" Pintu kamar mendadak terdorong kasar. Rigel, kakak laki-laki Lunetta yang tahun ini berusia 28 tahun, berdiri di ambang pintu sambil menatap tajam sang adik. Sama seperti nama Lunetta yang diambil dari bahasa Latin bermakna bulan kecil, nama Rigel juga berbau benda langit, yaitu bintang paling terang di rasi Orion. Rigel selalu bersyukur setengah mati ibunya memberi nama itu, bukan 'Rigen', atau dia bakal habis di-bully kawan-kawannya karena disangka kembaran pelawak komika. "Sabar napa, Bang! Ini juga mau jalan!" sungut Lunetta sambil mengibas-ibaskan tangannya menepis Cupid yang asyik bergelayutan di pundaknya. Lunetta melangkah keluar kamar menuju ruang makan yang tak seberapa luas. Rumah mereka memang jauh dari kata mewah, tetapi kehangatannya selalu terasa, meski harus dibumbui dengan celotehan dan omelan bermuatan lokal khas Betawi pinggiran dari kedua orang tuanya. Namun, begitu Lunetta menarik kursi kayu di meja makan, langkahnya mendadak terhenti dan membeku. Mata gadis itu melotot menatap sosok di depannya. Di sebelah ayahnya yang sedang mengunyah kerupuk, duduk seorang pria asing berkemeja hitam rapi. Pria itu memiliki wajah tampan yang sangat tajam, berwibawa, tetapi tubuhnya memancarkan hawa dingin yang tak alami. Dan yang paling membuat jantung Lunetta serasa melompat keluar. Di atas kepala pria asing itu, terdapat benang merah tebal berwarna pekat. Ujung benang itu tidak melayang ke udara, melainkan terikat kuat … tepat di pergelangan tangan kiri Lunetta! Cupid yang melayang di samping telinga Lunetta mendadak membelalakkan mata pelangi-nya, lalu berbisik dengan suara gemetar yang belum pernah Lunetta dengar sebelumnya, "Lun ... bahaya. Pria itu ... benang merah lu terhubung sama dia, tapi dia bukan manusia!" ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

BINAL [Menggoda Sopir Pribadiku]

read
10.5K
bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.7K
bc

Tentang Cinta Kita

read
230.8K
bc

HASRAT MEMBARA KAKAK SEPUPU

read
97.2K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
213.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook