episode 1
Seorang pria muda yang menggunakan seragam putih abu-abu mengendarai motor kawasaki ninja, pria berseragam SMA itu berhenti di depan sebuah rumah mewah dan segera turun dari motornya. Pria itu membuka helemnya menampilkan rambutnya yang acak-acakan tapi malah terlihat tampan dan cool, kemudian menghampiri satpam yang sedang berjaga.
“Kenzo? Ada perlu apa?” tanya Satpam kepada pria berseragam SMA yang yang ternyata bernama Kenzo.
“Pak, Siskanya ada?”
Satpam itu mengerutkan keningnya tanpak bingung mendengar pertanyaan Kenzo. “Kamu nggak tahu ya, kalau Neng Siska dan keluarganya nggak tinggal di rumah ini lagi?”
“Maksudnya Siska udah pindah? Kenapa dan kemana?”
“wah kalau soal itu aku juga nggak tahu, sebagai Satpam aku hanya bertugas menjaga rumah ini hingga pemilik barunya datang, setau aku rumah ini sudah dijual Pak Broto sebelum mereka pindah.”
Tubuh kenzo melemas setelah mendengar ucapan Pak Satpam dengan langkah lunglai Kenzo kembali menuju motornya dan mengendarai motor itu ke sekolah. Setelah tiba pada salah satu sekolah suwasta di Jakarta, Kenzo tidak masuk ke kelasnya melainkan ke ruang guru untuk menemui walikelas-Siska, Kenzo ingin mempertanyakan kehadiran Siska-adik kelas sekaligus kekasih Kenzo yang dua hari belakangan tidak masuk sekolah dan ponselnya tidak dapat dihubungi. Kenzo berharap dengan menemui walikelas-Siska, Kenzo bisa mendapat informasi tentang keberadaan Siska. Namun sayangnya walikelas-Siska mengatakan bahwa hanya memberi surat pindah sekolah kepada Ayah-Siska tanpa mengetahui di mana sekolah baru Siska.
Sementara itu, pada sebuah sekolah SMA yang berada di X salah satu kota kecil di Indonesia, siswa-siswi kelas dua masih asik bercanda walau sudah berada di dalam kelas karena guru yang akan mengajar belum hadir. Seorang siswi dengan pedenya berlenggak-lenggok di depan kelas bak peragawati yang sedang tampil di atas catwalk mendapat tepuk tangan dari teman-temannya. Siswi itu adalah Elina-gadis Cantik idola sekolah, tapi memiliki sikap yang bar-bar. Elina masih asik berlenggak-lenggok walau semua temanya sudah duduk di bangku mereka masing-masing dan dudduk dengan tenang. Elina berpikir teman-temannya sedang menikmati penampilannya, hingga Elina dikagetkan dengan suara orang berdehem dibelakangnya, Elina membalikkan badannya dan kaget mendapati Bu Santi-walikelasnya yang berdiri seraya berkacak pinggang dan seorang siswi yang menampilkan tatapan datar.
“Elina, sana kembali ke tempat dudukmu.” Perintah Bu Santi.
Elina menuju meja dengan dua kursi kosong tepat didepan meja guru, awalnya dia ingin duduk di kursinya yang paling pojok namun tempat duduknya itu sudah di duduki siswa yang lain karena tadi mereka asal duduk saat Bu Santi masuk ke kelas itu.
“anak-anak kenalkan ini teman baru kalian, Silahkan perkenalkan dirimu kepada teman-teman.”
“Hai teman-teman perkenalkan namaku Prasiska Wardoyo, kalian bisa memanggilku Siska. Aku pindahan dari sekolah X di Jakarta, hobyku melukis. Aku harap bisa menjadi teman baik buat kalian, terima kasih.” Ucap Siska seraya tersenyum membuat paras Ayunya terlihat semakin menawan.
“Siska, silahkan duduk di samping Elina.” Ucap Bu Santi lagi.
Setelah Siska duduk bu Santi kembali berucap. “anak-anak ibu lihat tempat duduk kalian selalu berpindah-pindah, mulai hari ini semua duduk sesuai dengan tempat duduk kalian saat ini. Jika ada yang merubah maka akan ibu beri hukuman. Kalian mengerti?”
“iya buguru...” jawab para siswa serempak.
Setelah Bu Santi pergi para siswa pria segera mengerumuni meja Elina dan Siska. Bagaimana tidak, saat ini mereka berdua menjadi wanita tercantik di sekolah itu.
”Hai Siska, perkenalkan namaku Haikal. Aku adalah ketua kelas jadi kalau kamu butuh sesuatu jangan sungkan untuk minta tolong sama aku.” Ucap Haikal yang sebenarnya menyukai Elina sejak kelas 1, Haikal sengaja mendekati Siska untuk membuat Elina cemburu. Karena selama ini Haikal selalu berusaha mendekati Elina namun Elina tampak tidak tertarik pada haikal walau Haikal termaksud siswa populer di Sekolah itu, bahkan bukan saja Haikal ada beberapa siswa pria dan juga kakak kelas mereka yang terang-terangan menyatakan cinta kepada Elina dan semuanya ditolak. Eliana memang sengaja tidak ingin menjalin hubungan spesial dengan pria, Elina merasa semua pria sama saja, sama-sama berngsek seperti ayahnya.
“terimakasih.” Jawab Siska singkat dengan senyum tipis.
Ketika jam istirahat Elina ke kantin bersama ketiga sahabat segengnya, Sani, Yayu, dan Loly. Mereka bukannya makan malah memperhatikan Siska yang sedang dikeremuni para siswa pria. “wah murid baru itu sok kecakepan banget sih.” Ucap Loly
“iya benar tadi aku lihat dia main mata sama Haikal. Elina, kamu kudu hati-hati sama teman sebangku kamu. Bisa jadi dia ngerebut Haikal dari kamu.” Timpal Sani, yang sebenarnya selalu merasa iri kepada Elina dan diam-diam menyukai Haikal.
“ngerebut gimana? Aku saja nggak punya hubungan sama Haikal. Daripada ngurusin si Siska mending kita bolos yuk, aku dengar di lapangan Nusantara lagi ada Artis ibu kota yang manggung.” Ucap Elina, yang disetujui oleh teman segengnya.
Sebulan sudah Siska bersekolah di sekolah barunya ini, siska mulai memiliki teman baru walau kebanyakan dari mereka adalah pria kalaupun ada teman wanita pada dasarnya mereka siswi culun. Karena kebanyakan siswi tidak menyukai Siska yang mereka anggap sebagai penggoda hingga tidak ingin berteman dengan Siska begitupun dengan Elina dan Gengnya yang tidak menyukai Siska. Haikal sekarang berteman dengan Siska, Haikal berharap jika kedekatannya dengan Siska bisa membuat Elina cemburu dan sadar bahwa Elina memiliki perasaan terhadap Haikal. Namun Haikal salah karena kedekatannya dengan Siska bukan membuat Elina cemburu melainkan Sani yang merasa cemburu dan berusaha memanas-manasi Elina agar mau mengerjai Siska.
“Siska itu sok lugu, kebanyakan perembuan yang sok lugu lebih berbahaya. Contohnya kaya ibu tiri Elina, iyakan?” ucap Sani
“iya betul.” Jawab Loly dan Yayu.
Elina hanya diam dan mengingat kembali nasip ibunya yang meninggal 2 tahun lalu setelah ayahnya-Pak Andi menikah lagi dengan perawat-ibunya yang bernama Lusi. Lusi merupakan perawat yang disewa Pak Andi untuk menjaga ibu-Elina yang saat itu sedang sakit, Sikap lemah-lembut yang diperlihatkan Lusi membaut Elina dan ibunya menyukai Lusi, bahkan Elina menganggap Lusi seperti kakaknya Sendiri karena usia mereka yang terpaut 8 tahun. Namun tanpa mereka ketahui Lusi memiliki hubungan terlarang dengan Pak Andi, hinngga Lusi mengandung. Akhirnya Pak Andi dan lusi menikah, sedang Elina dan ibunya pindah ke rumah kakek dan nenek-Elina. Diam-diam Elina sering melihat ibunya menangis, setelah beberapa bulan tinggal bersama kakek dan neneknya, ibu-Elina meninggal. Elina membenci ayahnya apalagi setelah menikah, Pak Andi tidak lagi memberikan perhatian kepada Elina, hingga Elina sering membuat ulah di sekolah agar ayahnya dipanggil pihak sekolah dan Elina bisa bertemu dengan ayahnya walau harus dimarahi sang ayah.
“Elina, gimana kalau kita kerjai saja si Siska itu.” Saran Yayu, membuat Elina tersadar dari lamunannya.
Karena terhasut dengan omongan teman-temannya dan karena merasa Siska seperti Lusi, Elina menyetujui saran teman-temannya. Saat pulang sekolah Elina mengajak Siska ke ruang Seni dengan alasan ingin Siska melukis wajahnya, Siska tanpa curiga menuruti permintaan Elina. Teman-teman Ellina sudah menunggu dan membuat persiapan untuk mengerjai Siska, mereka mengoles lem super rekat pada kursi yang akan diduduki Siska, dengan tujuan agar rok seragam Siska sobek atau tidak bisa di lepas hingga hingga Siska hanya akan menggunakan celana dalam dan mereka berniat merekam Siska. Sesuai rencana saat Elina dan Siska diba di ruang seni, Loly, Sani dan Yayu segera bersembunyi kemudian Elina meminta siska duduk di kursi yang sudah mereka siapkan dan Elina duduk di depan Siska. Setelah beberapa saat Siska melukis, Siska meminta Elina mengambilkan bubuk conte berwarna coklat, untuk mewarnai mata pada lukisan wajah Elina.
“ini silahkan Ambil.” Ucap Elina yang berdiri didepan Siska, Elina sengaja memegang bubuk conte lebih tinggi. Siska berdiri untuk mengambilnya hingga rok Siska sobek dan Elina malah menumpahkan bubuk conte itu tepat di wajah Siska kemudian Elina dan teman-temannya yang telah keluar dari persembunyian mereka tertawa seraya merekam Siska.
Saat mereka masih asik tertawa Siska terduduk lemas seraya memegang dadanya, Siska mengalami sesak nafas dan terdengar suara mencicit ketika Siska bernafas. Elina yang melihat Siska kesulitan bernafas menjadi panik karena Siska terlihat seperti ibu-Elina yang menderita penyakit paru emfisema.
“Siska kamu kenapa?” tanya Elina panik. “ teman-teman sepertinya Siska sesak nafas, ayo kita bawa dia ke rumah sakit.” Pinta Elina kepada ketiga temannya itu.
“alaahh.. paling juga dia lagi akting, mendingan kita tinggalin aja dia di sini. Nanti juga dia pulang Sendiri.” Ucap Sani seraya menarik tangan Loly dan Yayu.
“Elina, Ayo buruan..” teriak Yayu.
“teman-teman jangan tinggalin dia, tampaknya Siska kesulitan nafas ni.”
“terserah kalau kamu mau nolongin Siska. Kalau kita sih ogah. Paling juga Siksa lagi akting.” Ketiga sahabatnya segera pergi meninggalkan Siska dan Elina.
Elina mencoba lebih tenang, menelpon Haikal untuk meminta bantuan karena tadi sebelum ke ruang seni Siska sempat lihat Haikal masih di sekolah sedang bermain basket, Haikal yang mendapat telepon dari Elina segera memanggil angkot sesuai permintaan Elina kemudian ke ruang seni menemui Elina. Sebelum masuk ke ruang seni Haikal bertemu Elina yang sedang memapah Siska yang tampak lemas dan kesulitan bernafas. Tampa banyak bertanya Haikal menggendong Siska ala bridal style, untungnya Elina sudah menngikat taplak meja di pinggang Siska untuk menutupi roknya yang sobek.
“Bang, tolong cepat antar kita ke rumah sakit.” Pinta Elina kepada Supir angkot setelah mereka bertiga berada di dalam angkot.
2 tahun kemudian.
Seorang wanita yang berstatus mahasiswa baru atau maba, sedang dikerjai oleh beberapa senior wanita. Dia didandani bukan untuk tampil cantik melaikan agar terlihat seperti badut, namun kecantikannya tidak dapat tertutupi apalagi dengan tubuhnya yang semampai tetap menjadi pesona bagi para pria yang ada di situ.
“siapa namamu?” tanya salah satu senior wanita yang sedang mengerjai maba itu.
“namaku Elina kak.” Jawab maba yang ternyata Elina.
“wajah kamu sudah cantik, sekarang penampilan kamu juga harus diubah. Dina, ambilkan aku gunting.” Pinta senior itu, kepada sahabatnya Dina yang segera memberikan gunting kepada senior itu.
“kakak mau ngapain? Kakak jangan kelewatan ya.. aku nggak bakalan diam lagi.” Ucap Elina seraya memegang tangan seniornya yang sudah memegang gunting dan sepertinya ingin menggunting rok Elena.
“kamu berani ya.. ngelawan senior? Cari mati kamu?” bentak senior itu, seraya berusaha menarik tanganya dari genggaman Elina.
“aku nggak ta..” ucapan Elina terputus saat seorang senior pria datang menghampiri mereka dan berbicara dengan nada tinggi.
“Clara...!! ada apa ini?” senior pria yang baru datang itu, menegur Clara-senior wanita yang memegang gunting.
“Kenzo, ini si maba berani ngelawan aku.” Jawab Clara, kepada senior pria itu yang ternyata adalah Kenzo.
“tapi kak, aku nggak salah. Aku hanya mencoba membela harga diriku.” Ucap Elina, membela diri tanpa melepas tangan Clara.
Cukup lama Kenzo memandangi wajah Elina yang sudah dicoret-coret oleh Clara dan beberapa senior wanita yang lain. Kenzo menatap tanpa berkedip, membuat jantung Elina tiba-tiba berdetak kencang, Elina membalas tatapan Kenzo dan merasa seolah-olah ada kupu-kupu terbang di perutnya. Hingga Elina tak sadar Clara telah menarik tangannya dari genggapan Elina.