Di rumah ayah Ferdi,
Di ruang tamu..
"Loh kok Lesti menjewer telinga Rizky, kenapa ya, samperin ah..", kata mami Titah yang melihat bunda Lesti sedang menjewer telinga papa Rizky.
Di teras depan rumah ayah Ferdi lagi..
"Teh hayang kamana ?", tanya bunda Lesti.
"Teteh ka dieu hayang taros dina anjeun, eta kunaon kok rizky di jewer ceuli na, pan karunnya atuh si Rizky, dik ?", tanya mami Titah.
"Ieu loh teh, salaki abdi menggoda Siska deui tadi, ayeuna asup ditu ke dalam", jawab bunda Titah.
Setelah mendengarkan jawaban dari bunda Lesti, mami Titah langsung berfikiran negatif pada papi Afgan, lalu mami Titah langsung mencari papi Afgan yang rupanya sedang menelepon abi Rian.
Masih di teras depan rumah ayah Ferdi..
"Hati-hati pade laki awak ya tah", kata ayah Ferdi yang memanas-manasi mami Titah.
"Papi awas ya, ya sudah kalau begitu saya cari mas Afgan dulu ya", kata mami Titah yang langsung berfikiran negatif pada papi Afgan dengan hasutan dari ayah Ferdi.
"Iya teh ati-ati, asup dede nyarios asup nya asup kakak", kata bunda Lesti yang masih menjewer telinga papa Rizky.
Di teras samping rumah ayah Ferdi..
"Oh gitu ya sudah cepat ya Rian, kita semua sudah lama menunggu nih", kata papi Afgan sedang menelepon abi Rian.
"Oh disini rupanya kamu, mas, mas, mas Afgan", kata Titah yang menemukan papi Afgan sedang menelepon abi Rian.
"Iyo, eh sayang, ado a kok sayang di siko, loh bukannya sedang kumpua bersama Aurel jo Lesti ya didalam ?", tanya papi Afgan.
"Denai mencari suami denai, soalnya tadi Lesti menjewer talingo Rizky, lalu kemudian denai tanyo kanapa Rizky di jewer talingo nyo, eh ternyata sedang menggoda Siska, terus tadi denai juga di panas-panasin Ferdi, katanya hati-hati uda Afgan juga akan menggoda Siska", jawab mami Titah.
"Oh begitu, indak mungkin urangrumah den sayang, uda Afgan alah berjanji kapatang indak akan mengulanginya lai jo ciek lai sayang", kata papi Afgan.
"A tu uda ?", tanya mami Titah.
"Aku ini susis, suami sayang istri, hati setia walau mata kemana, hehe", jawab papi Afgan.
"Ih papi kaya lirik lagu", kata mami Titah.
"Emang hehe, satu lagi mi, mami pasti suka, ini lagu yang sering mami dengar", sambung papi Afgan.
"Apa itu pi ?", tanya mami Titah.
"Dengar ya papi mau nyanyi untuk mami", jawab papi Afgan.
"Oke..", seru mami Titah.
**
Afgan - Saranghaeyo (bagian reff).
Saranghaeyo
Aku cinta padamu
Saranghaeyo
Aku sayang padamu
Saranghaeyo
Abdi bogoh ka sarea
Saranghaeyo
Kulo tresno siramu
Oh my darling kamsahida
**
Di teras depan rumah ayah Ferdi lagi..
"So sweet Titah and Afgan", kata ibu Aurel.
"Romantis banget, beda sama kakak", sambung bunda Lesti.
"Tau, contoh tuh Titah dan Afgan", kata ibu Aurel lagi.
"I love you honey", kata papi Afgan yang mencium kening Titah.
"I love you too my husband", kata mami Titah yang mencium pipi papi Afgan.
"Haduh..", keluh Citra.
"Drama Korea lagi dan masih berlanjut ternyata, hem..", sambung Kamil.
"Bukan drama Korea mil, kalau seperti itu", kata Naufal.
"Terus apa fal ?", tanya Kamil.
"Kalau seperti itu namanya", jawab Fitri.
"Sinema Bollywood", jawab Naufal juga.
"Oh iya ya, ada lagunya soalnya", kata Citra.
"Hehe..", Kamil, Naufal, Fitri, dan Citra tertawa.
Di rumah abi Rian,
Di mobil abi Rian..
"Sudah masuk kedalam mobil semua kan mi, tidak ada yang ketinggalan ?", tanya abi Rian.
"Sudah bi, tidak ada bi", jawab umi Okta.
"Pintu rumah sudah dikunci belum mi ?", tanya Alya.
"Nah benar apa yang dibilang anakmu Okta, pintu rumah sudah dikunci belum ?", tanya pak Aan.
"Sudah kok pak, bi, tapi eh..", jawab umi Okta lagi yang mengingat kembali.
"Yang benar dong mi, sudah atau belum ?", tanya abi Rian lagi.
"Beneran bi, sudah umi kunci kok pintunya", jawab umi Okta.
"Ya sudah begini saja deh, Astuti", kata pak Aan.
"Inggih pak Aan", sambung Astuti.
"Sekarang kamu cek pintu rumah sudah dikunci atau belum ya, kalau sudah kamu kembali ke mobil dan kita berangkat, kalau belum dikunci pintunya tolong kamu kunci ya pintunya", kata pak Aan lagi.
"Inggih pak Aan", sambung Astuti lagi.
Satu menit kemudian..
Di mobil abi Rian lagi..
"Bagaimana Astuti, sudah istri saya kunci belum pintu rumahnya ?", tanya Abi Rian.
"Sampun pak Rian", jawab Astuti.
"Ya sudah kamu masuk kedalam mobil dan kita langsung berangkat ya, bi aba-aba bi", kata umi Okta yang memberikan kode pada abi Rian.
"Oh iya mi, hampir saja abi lupa, eh tapi umi saja deh yang memberikan aba-aba, abi kan nyetir mi", sambung abi Rian.
"Oh oke, mana hpnya abi ?", tanya umi Okta.
"Ini mi", jawab abi Rian.
**
Percakapan bapak-bapak komplek lewat w******p.
"Sudah bisa meluncur sekarang, ditunggu didepan komplek ya", kata abi Rian.
**
Di rumah ayah Ferdi,
Masih di teras depan rumah ayah Ferdi..
"Sudah ada aba-aba nih dari Rian yuk kita berangkat", kata papi Afgan yang membaca pesan grup w******p.
"Oke yuk jalan, anak-anak sama mang Daus ya, satu mobil", kata papa Rizky.
"Oke..", sorak Kamil, Citra, Naufal, dan Fitri.
Bapak-bapak pun berangkat menuju ke tempat tujuan yaitu Bali, anak-anak pun senang diajak berlibur ke Bali.
Sesampainya di Bali, papi Afgan berencana untuk memberikan kejutan untuk mami Titah, papa Rizky, papa Raihan, ayah Ferdi, dan abi Rian ingin membantu papi Afgan juga.
Sedangkan mami Titah ingin memberikan kejutan untuk papi Afgan yaitu makan malam romantis berdua.
Karena tepat di hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mami Titah dan papi Afgan yang ke delapan belas tahun.
Bali - Hotel
Di lobby Hotel..
"Ini kunci kamar masing-masing ya", kata abi Rian memberikan kunci kamar hotel.
"Oke bos", kata papa Rizky.
"Ya sudah yuk masuk ke kamar", kata papa Raihan.
"Em, tunggu dulu, yang masuk ke kamar adalah istri kita, mertua kita, anak-anak kita, dan abdi dalem kita, bapak-bapak mau rapat dulu", kata papi Afgan.
"Ha rapat, emangnya mau rapat ya Rian ?", tanya ayah Ferdi heran.
"Tidak tau, tunggu sebentar, gan rapat apaan perasaan..", jawab abi Rian yang terpotong karena kakinya diajak oleh papi Afgan.
"Em.., rasain..", kata Afgan yang memotong perkataan abi Rian dan menginjak kaki abi Rian.
"Aw..", kata abi Rian yang kesakitan karena kakinya diajak oleh papi Afgan.
"Loh bi kenapa ?", tanya Alya saat melihat abi Rian kesakitan.
"Diinjak..", jawab abi Rian masih dengan kesakitan.
"Ha.., em oh Afgan..", kata kanjeng ibu yang melihat papi Afgan menginjak kaki abi Rian.
"Iya eh maaf ya Rian, sini deh saya mau ngomong sebentar", kata papi Afgan yang berbisik pada abi Rian.
"Apaan ?", tanya abi Rian yang berbisik pada papi Afgan.
"Kalau saya bilang ada rapat, ya bilang saja ada rapat gitu, ada yang mau saya obrolin dengan kalian semua, dan ini penting tau", jawab papi Afgan yang berbisik pada abi Rian.
"Em..", kata kanjeng ibu dengan rasa curiga pada papi Afgan.
"Punapa diajeng ?", tanya kanjeng romo yang melihat kanjeng ibu mencurigai papi Afgan.
"Suspicious kang mas", jawab kanjeng ibu yang masih mencurigai papi Afgan.
"Ha maksudnya diajeng ?", tanya kanjeng romo lagi.
"Gelagat Afgan itu loh kang mas", jawab kanjeng ibu lagi.
"Loh memangnya Afgan kenapa diajeng ?", tanya kanjeng romo lagi.
"Gelagatnya itu sangat mencurigakan kang mas", jawab kanjeng ibu lagi.
"Oh, Afgan..", kata kanjeng romo.
"Inggih kanjeng romo", sambung papi Afgan.
"Kok kamu bisik-bisik sih, kenapa, ada yang sedang kamu rahasiakan dari kami ya ?", tanya kanjeng ibu penuh rasa curiga.
"Tidak kok kanjeng ibu, saya hanya mengingatkan Rian kembali kalau kita ada rapat, ya kan Rian ?", tanya papi Afgan yang menginjak kaki abi Rian lagi.
"Ti.., benar..", jawab abi Rian yang diinjak lagi kakinya oleh papi Afgan.
"Loh kamu kenapa Rian ?", tanya pak Aan.
"Kaki saya diinjak Afgan lagi pak", jawab abi Rian.
"Oh, makannya taruh kaki itu yang sopan dong..", kata kanjeng romo.
"Loh kamu kenapa Rian kok begitu ?", tanya pak Agus.
"Loh tadi kata kanjeng romo disuruh taruh kaki yang sopan ya begini ini taruh kaki yang sopan pak Agus", jawab abi Rian.
"Haduh menantuku, Afgan Syah Reza", kata pak Aan.
"Iya pak Aan, ada apa ?", tanya papi Afgan.
"Tolong saya injak kakinya Rian lagi", jawab pak Aan.
"Siap pak Aan", jawab papi Afgan.
"Maaf ya Rian, saya hanya mengikuti perintah saja dari mertuamu, em..", kata papi Afgan yang berpura-pura menginjak kaki abi Rian.
"Iya, aw..", kata abi Rian yang berpura-pura kesakitan.
Akhirnya semua keluarga pun masuk, sedangkan bapak-bapak menunggu papi Afgan untuk membicarakan hal penting.
Papi Afgan pun bercerita pada bapak-bapak lainnya soal papi Afgan yang akan memberikan sebuah tas sebagai kado ulang tahun pernikahan mereka yang ke delapan belas tahun.
Di restoran..
"Ada apa sih kok kita dikumpulkan disini ?", tanya papa Rizky.
"Entah..", jawab papa Raihan.
"Sama saya juga tidak tau, coba tanya Rian saja", jawab ayah Ferdi.
"Rian kan tadi yang bisik-bisik sama Afgan kamu kan ya, ada apa sih kok kita di kumpulkan disini ?", tanya papa Rizky lagi.
"Tidak tau, tunggu Afgan saja", jawab abi Rian.
"Nah itu Afgan datang", kata ayah Ferdi.
"Gan mau tanya dong", sambung papa Raihan.
"Tidak usah kamu tanyakan, saya akan menjawabnya, jadi seperti ini saya mau minta tolong sama kalian untuk mencari pendapat soal tas yang mau saya beli untuk istri saya, karena hari ini adalah anniversary pernikahan kami yang ke depan belas, selain tas mahal kira-kira hadiah apa lagi ya yang akan saya berikan untuk istri saya ?", tanya papi Afgan.
"Tunggu sebentar, mari kita pikirkan sama-sama", jawab ayah Ferdi.
"Oke..", seru papa Raihan.
"Mari kita pikirkan bersama", kata abi Rian.
Lima belas menit kemudian..
Masih di restoran..
"Aha, saya tau..", kata papa Rizky yang menemukan sebuah ide.
"Ha, apa itu ky ?", tanya papi Afgan.
"Bagaimana cincin berlian gan", jawab papa Rizky.
"Cincin berlian, ide bagus, ya sudah yuk kita cari", kata papi Afgan yang setuju dengan ide dari papa Rizky.