Seketika ruangan terasa membeku. Tatapan Gilang yang semula tajam berubah gelap. Ia mendekat perlahan, langkahnya tenang tapi mengancam. “Ulangi,” suaranya pelan, tapi nadanya membuat udara serasa menipis. Knessa menegakkan badan. “Aku tanya, kalau aku beneran nikah sama Tristan, Mas mau apa?” Rahang Gilang menegang, jemarinya mengepal. Ia menunduk sedikit, menatap lurus ke mata Knessa. “Kamu pikir aku bakal diem lihat kamu jadi milik orang lain?” Knessa tersenyum miris. “Mas udah punya istri.” “Dan kamu tahu, itu nggak pernah mengubah apa pun,” sahut Gilang cepat. “Aku masih pengen kamu. Masih butuh kamu.” “Mas, dunia Mas nggak cuma aku.” “Kalau gitu kenapa kamu masih biarin aku di sini?” Suara Gilang makin pelan, tapi tekanannya jelas. Tangannya terulur, menyentuh dagu Knessa, me

