Knessa menelan ludah, sedikit gugup tapi berusaha tidak menunjukkan rasa bersalah. “Tristan cuma nganter, Mas. Papa sama Mama juga tahu.” Gilang tertawa kecil, tapi bukan tawa yang hangat — lebih seperti ejekan halus. “Cuma nganter?” ia melangkah mendekat perlahan, tiap langkahnya terdengar berat di lantai kayu. “Kamu pikir aku nggak tahu cara dia mandang kamu?” Knessa menunduk, tak menjawab. Ia bisa mencium aroma parfum Gilang yang khas saat pria itu kini berdiri sangat dekat. “Aku capek, Mas,” katanya pelan, mencoba mengakhiri topik itu. Tapi Gilang justru mengangkat dagunya dengan satu jari, memaksanya menatap. Tatapannya tajam, tapi ada bayangan luka di dalamnya. “Capek karena makan malam sama dia, atau capek pura-pura nggak peduli sama aku?” Knessa menepis tangannya perlahan. “M

