“Knessa…” panggilnya lirih.
Aku mengalihkan pandangan, berpura-pura tidak mendengar.
“Mas minta maaf,” ucapnya, kali ini lebih lembut, lalu tangannya kembali meraih tanganku.
Aku menatapnya tanpa kata.
“Mau ya… pulang sama aku,” bisiknya.
Aku masih diam, hanya menatap.
“Darimana Mas tahu aku di sini? Sengaja buntutin aku?” tanyaku akhirnya.
Dia menarik napas panjang.
“Kamu pakai kartu kredit yang aku kasih,” ucapnya tenang.
Aku menelan ludah, menunduk. Malu. Aku pikir kartu itu sudah tidak bisa dipakai. Tapi nyatanya… justru itu yang membawanya menemuiku lagi.
“Aku akan kasih apa pun, Nes. Asal kamu mau kembali,” ucapnya lagi, suaranya mulai berat.
Aku diam.
“Pikirkan hubungan keluarga kita,” sambungnya.
Aku menatapnya, tersenyum getir.
“Setelah semua yang kita lakukan selama ini, Mas masih mikir aku saudaramu?” tanyaku pelan.
Dia memejamkan mata.
“Berapa banyak malam yang kita habiskan, Mas? Berapa banyak janji yang kamu buat?” suaraku bergetar. “Aku nurut semua aturannya, gak boleh ini, gak boleh itu… tapi nyatanya kamu bisa melakukan apa pun sama wanita lain. Sama istri kamu, Mas!”
Dia membuka matanya perlahan. Tatapannya penuh sesal.
“Maaf…” katanya singkat.
“Sudahlah, Mas. Aku gak butuh apa pun dari kamu. Aku bisa sendiri,” ucapku, berusaha membuka pintu mobil.
Namun dia menahan tanganku.
“Knessa, tunggu—”
Sebelum sempat aku menolak, dia menarikku. Sekejap, jarak di antara kami lenyap. Bibirnya menempel pada bibirku, menahan semua kata yang seharusnya aku lontarkan.
“Mas!” aku berusaha mendorongnya, tapi dia menarikku lagi, lebih erat.
Aku tahu aku seharusnya menolak, tapi detik itu juga… semua pertahananku runtuh. Ciuman itu—yang selama ini aku rindukan—membuatku kembali lemah di hadapannya.
“Aku mencintaimu, Nes.”
Napasnya memburu, bersahutan dengan napasku yang juga tak beraturan.
“Hanya kamu,” ucapnya lagi, suaranya parau namun jujur.
Tangisku pecah seketika. Aku jatuh dalam pelukannya yang hangat namun menyakitkan di saat bersamaan.
“Pulang ya…” pintanya lirih. “Aku mohon.”
Aku menggeleng, air mataku semakin deras.
“Mas… aku gak bisa.”
Ia terdiam.
“Mana bisa aku lihat kamu bersama wanita lain?” isakku di dadanya.
Tangannya terangkat, mengusap rambutku lembut, turun ke punggungku.
“Kalau kamu mau apa pun, Mas turutin. Asal kamu pulang,” katanya perlahan.
Aku menarik diriku dari pelukannya, menatap wajah itu — wajah yang dulu jadi rumahku.
“Mas… hubungan kita gak akan pernah sama. Kalaupun aku pulang, itu cuma akan menyiksaku.”
Dia mendekat, menempelkan keningnya pada keningku.
“Kalau kamu mau kita seperti dulu…” suaranya pelan, nyaris seperti doa. “Mas gak akan nolak.”
Aku terpaku. Di matanya, tidak ada kebohongan. Hanya rindu yang belum sempat padam.
“Apapun yang kamu mau, Mas turuti,” ucapnya lagi, membelai pipiku sebelum bibirnya menyentuh bibirku sekali lagi.
Aku terdiam — antara ingin pergi atau tetap di sana.
Perasaanku kacau. Logika dan kenangan saling bertarung dalam dadaku.
“Nes…” bisiknya lembut. “Mau ya?”
Aku menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh lagi.
Perlahan, tanpa suara, aku mengangguk.
Hotel ini terlalu mewah untukku.
Tanpa Mas Gilang, aku tak mungkin bisa melangkah sejauh lobi, apalagi berdiri di kamar paling mahal di lantai atas seperti sekarang. Pemandangan malam dari balik kaca begitu indah, lampu-lampu kota berkelip seperti bintang jatuh.
Aku sendirian. Mas Gilang pergi sebentar karena ada urusan mendadak.
Aku memandangi bayangan diriku sendiri di kaca, perempuan yang akhirnya menyerah pada rasa yang tak bisa ia bunuh. Aku ikut dia walau tahu aku takkan pernah jadi yang utama. Aku hanya orang ketiga — bayangan di balik kebahagiaan rumah tangga orang lain.
Aku bertanya dalam hati, berapa lama semua ini bisa bertahan?
Kriet—
Pintu terbuka. Mas Gilang masuk, melepaskan jasnya. Aku spontan memalingkan wajah, lalu menatapnya lagi karena kebiasaannya selalu sama seperti dulu. Jantungku berdegup, kenangan lama berhamburan.
“Udah mandi?” tanyanya.
Aku belum sempat menjawab; ponselnya berdering.
Detik berikutnya ia melihat layar, lalu membuang ponsel itu ke sofa. Aku sempat membaca nama yang tertera: Melisa. Istrinya.
Aku berbalik, menarik napas panjang.
“Ada apa?” tanyanya memelukku dari belakang.
“Kalau aku minta kamu ceraikan dia, kamu mau?” tanyaku pelan.
Tangannya mengelus lenganku.
“Cerai gak semudah itu,” jawabnya datar.
“Kenapa?”
“Dia… istri yang baik,” katanya lirih.
Kalimat itu menusukku lebih dalam dari yang kuduga.
“Jadi menurut Mas aku gak baik? Sampai Mas milih nikah sama dia?”
Dia tersenyum kecil. “Adikku ini beda…” ucapnya, menunduk mencium leherku.
“Mas.” Aku mendorongnya, lebih keras dari biasanya.
Ia terlihat kaget.
“Aku bukan adikmu.”
“Oke,” sahutnya sambil melirik ke arah nakas.
Ponselku berbunyi. Nama Dewa muncul di layar.
“Siapa dia?” tanya Mas Gilang, mendekat.
“Teman,” jawabku datar.
“Teman?” nadanya tajam.
Dia menunduk sehingga wajahnya tepat di depanku.
“Mas punya istri. Jadi aku juga boleh dong punya teman.”
Brak!
Ponselku dihempaskannya ke lantai, pecah seketika.
“Mas! Apa-apaan?” aku membungkuk meraih pecahan ponsel.
Grep—
Tanganku ditariknya hingga aku berdiri lagi.
“Dia lebih penting dari aku?” tanyanya dingin.
“Mas… kamu pecahin ponselku,” suaraku bergetar.
“Aku bisa beli pabriknya sekalian kalau kamu mau!” tegasnya, genggamannya makin kuat.
Aku gemetar. Dia jarang marah, tapi dia selalu posesif, protektif, cemburuan.
“Mas, dia cuma teman,” ucapku lirih.
“Berapa kali kamu tidur sama dia?”
Plak!
Tanganku refleks menamparnya.
“Mas…” aku berbisik, air mata jatuh.
Dia menatapku lama, raut wajahnya berubah.
“Seumur hidupku… cuma kamu, Mas,” suaraku hampir tak terdengar, tanganku bergetar karena sakit.
Untuk pertama kalinya, tatapan Mas Gilang bukan lagi dingin. Ada penyesalan yang samar.
Aku akhirnya menangis, dan dia berkali-kali meminta maaf.
“Aku janji gak gitu lagi… aku cuma cemburu,” ucapnya lirih.
Lihatlah—lelaki ini. Di depan orang lain dia bisa terlihat begitu dingin dan menyeramkan, tapi di depanku… dia hanya seorang laki-laki biasa, yang rapuh dan takut kehilangan.
“Kamu juga punya istri, Mas. Mungkin kamu udah sering bersamanya,” ucapku pelan. “Aku gak mempermasalahkan itu.”
Aku menghapus air mataku, sementara pelukannya kembali mengurungku, erat, seolah takut aku lenyap lagi dari hidupnya.
Dia diam.
Aku pun ikut diam.
Hanya ada detak jantung kami yang beradu dalam keheningan panjang.
“Mas, aku ngantuk,” kataku akhirnya.
Dia melepaskan pelukannya perlahan, menatapku lama.
“Aku masih rindu,” bisiknya, jemarinya terangkat menyentuh daguku, mengangkat wajahku agar menatapnya.
Aku tak bisa berpaling.
Dan ketika bibirnya menyentuh bibirku, semua rasa rindu yang kutahan selama ini seolah pecah begitu saja.
Malam itu kami kembali tenggelam dalam kehangatan yang pernah hilang.
Tanpa banyak kata, kami hanya saling mencari — bukan sekadar tubuh, tapi rasa yang dulu sempat kami kubur hidup-hidup.
Aku tahu ini salah. Aku tahu semuanya tak lagi sama.
Tapi di antara pelukan dan desah napas yang tenang, aku tetap menikmati setiap detiknya…
karena untuk sesaat, aku merasa dimiliki lagi.
"Aku merindukanmu Knessa!"