Tiga bulan berlalu sejak malam itu—malam di mana aku bertemu dengannya lagi.
Aku pulang, tapi bukan ke rumah keluarga kami. Sejak itu aku tinggal di apartemen miliknya. Setiap hari dia datang, kadang menginap, membuatku nyaris tak pernah kesepian. Seperti semalam… dia juga menginap.
Sinar pagi menyelinap lewat tirai tipis, menyentuh kulitku yang dingin oleh udara kamar yang terlalu sepi. Aku membuka mata perlahan. Di sebelahku, Mas Gilang masih tertidur dengan napas teratur; wajahnya tampak begitu tenang, jauh dari malam tadi yang penuh emosi dan kata-kata yang seharusnya tak pernah diucapkan.
Tangannya masih melingkar di pinggangku, hangat dan berat, seolah takut aku akan menghilang lagi.
Aku menatap wajahnya lama, mempelajari setiap lekuk yang dulu begitu aku hafal: alisnya yang tegas, garis rahang yang selalu muncul saat ia menahan emosi, dan bibirnya yang kini tampak begitu damai.
Aku tersenyum getir.
Andai saja semua ini sederhana.
Perlahan aku melepaskan diri dari pelukannya, duduk di tepi ranjang sambil menarik selimut hingga menutupi bahuku.
Di cermin besar seberang tempat tidur, aku melihat bayangan diriku—kusut, mata bengkak, tapi ada sesuatu di sana… ketenangan yang aneh, bercampur rasa bersalah.
“Udah bangun?”
Suara berat itu memecah keheningan.
Aku menoleh. Mas Gilang sudah menatapku dari tempatnya berbaring, senyumnya tipis tapi hangat.
“Udah,” jawabku pelan, berusaha tersenyum balik.
Dia bangun perlahan, duduk di sampingku, lalu menyentuh pundakku. Sentuhannya ringan, tapi cukup untuk membuat dadaku bergetar.
“Aku pikir kamu bakal kabur lagi,” katanya lirih.
Aku tertawa kecil, pahit. “Kalau aku kabur, Mas pasti nyari aku lagi.”
Dia ikut tersenyum. “Benar…”
Lalu hening lagi. Hanya ada suara AC dan detak jantungku yang terasa terlalu cepat.
“Ness,” suaranya pelan tapi serius, “kamu gak mau pulang aja? Ibu terus minta aku nyari kamu. Ayah juga masih nunggu kabar dari orang-orangnya.”
Aku menatapnya lama. “Enggak,” sahutku pendek.
Dia menarik napas dalam-dalam. “Aku cuma khawatir.”
Aku memalingkan wajah, suaraku bergetar tapi jujur.
“Aku bisa mati gantung diri lihat Mas setiap hari sama istri Mas,” ucapku tanpa peduli lagi. Aku lebih jujur sekarang, tak seperti dulu yang selalu menurut.
Mas Gilang diam.
Tatapannya jatuh ke lantai, lalu ke wajahku, seolah berusaha mencari celah untuk bicara. Tangannya sempat terulur, lalu terhenti di udara.
Aku berdiri di depan cermin kamar mandi. Bayangan diriku di sana tetap sama seperti setiap pagi: kulitku penuh tanda—jejak kepemilikan Mas Gilang. Aku menyentuh salah satu bekasnya dengan ujung jari. Pedihnya samar, tapi rasanya jauh lebih dalam dari yang terlihat.
Aku tahu, setelah ini dia akan menyusul. Dan benar saja, pintu terbuka pelan.
“Moodmu buruk sejak pagi. Itu gak bagus,” suaranya berat, hangat, sebelum aku sempat berkata apa-apa. Tangannya sudah melingkari pinggangku dari belakang.
“Bilang aja ada maunya…” sahutku pelan.
Dia hanya terkekeh, lalu bibirnya menyentuh tengkukku, turun ke pundak, lalu punggungku. Sentuhan yang selalu berhasil membuatku gemetar.
“Mas udah biasa mandi sama kamu,” ucapnya ringan.
Aku menarik napas dalam. “Kalau di rumah… Mas juga mandi sama istri Mas?” tanyaku setengah sinis.
Dia diam.
Seperti biasa, setiap kali aku menyebut istrinya, dia membisu.
Aku menatap cermin, melihat matanya di pantulan kaca.
“Jangan dibahas,” ucapnya akhirnya. Tangannya menarikku sedikit lebih dekat.
Aku berbalik, menatap wajahnya yang tampan—wajah yang terlalu mudah disukai banyak orang.
“Kalau kita berdua, jangan bahas siapa pun. Biar dia jadi urusan Mas. Kita… kita saja.”
Aku tidak lagi membantah. Aku hanya menarik lehernya dan mencium bibirnya.
Sejujurnya, aku memang wanita dengan hasrat tinggi. Tanpa Mas Gilang, aku benar-benar kesepian, bahkan tubuhku rasanya sakit. Jadi setiap kali dia ada di depan mata, aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
“Mas…” panggilku, menarik diri setelah cukup lama.
Dia masih menuntut bibirku, tapi aku menahannya.
“Apa?” tanyanya, masih dekat.
“Aku mau jalan-jalan.”
Dia menatapku. Diam.
“Aku bosan di sini terus.”
“Kemana?” tanyanya akhirnya.
“Bertemu sama teman,” jawabku.
Dia tetap diam.
“Amel sama Vera, Mas…” aku menambahkan, mengingatkan nama teman-temanku.
Dia mengangkat alis. “Sama mereka kamu gosipin cowok terus…” nadanya separuh bercanda, separuh serius.
Aku tersenyum tipis. “Ya namanya juga perempuan, Mas.”
Dia mendongak menatapku tajam. “Kamu udah punya aku.”
Aku hanya diam, mengangguk kecil.
“Boleh ya…” ucapku pelan.
Dia menatapku lama, lalu menghela napas, bibirnya kembali menemukan bibirku. Kali ini lebih dalam.
Aku tahu, aku tidak akan mendapat izin kalau dia belum berkata ya.
Jadi pagi ini, aku mengikuti semua keinginannya—tanpa banyak bertanya.
Entah itu menuruti ajakannya bermain di kamar mandi, kembali ke kamar, atau sekadar menemaninya saat aku memasak. Aku menurut saja, sampai-sampai lupa di mana aku meletakkan bajuku tadi.
Hari ini dia tidak bekerja. Artinya, seharian penuh dia akan di sini, bersamaku.
Entah apa alasan yang dia berikan pada istrinya di rumah—aku tidak mau tahu.
Aku hanya ingin menikmati hari ini, satu-satunya hal yang terasa benar, meski aku tahu semuanya salah.
“Ness.”
Aku menoleh.
Aku selalu menyukai caranya memanggil namaku.
Ada sesuatu dalam nadanya—lembut tapi menuntut—yang membuatku sulit menolak.
Tadi kami hanya menonton drama di ruang TV.
Tapi entah sejak kapan jarak kami menghilang.
Kini aku menyadari betapa dekatnya kami… terlalu dekat.
Sampai aku bisa mendengar napasnya, merasakan panas kulitnya, dan tahu persis apa yang akan terjadi bahkan sebelum ia menyentuhku.
“Mas, aku boleh ya ketemu teman?” tanyaku pelan setelah kami selesai.
Dia menoleh, masih setengah berbaring, lalu menyentuh rambutku. “Besok saja. Sekarang kamu milikku,” ucapnya dengan nada yang lembut tapi tegas.
Aku tersenyum tipis, lalu menciumnya ringan.
“Aku juga pengen belanja, Mas…” ucapku manja sambil menatapnya dari bawah bulu mata.
“Iya,” sahutnya singkat.
“Selain itu—”
Belum sempat aku melanjutkan, bibirnya sudah menutup bibirku lagi.
Aku tidak menolak. Ciuman itu terasa lebih dalam, lebih hangat, seperti mencoba menghapus jarak yang pernah ada di antara kami.
Kami akhirnya terbaring bersama di atas karpet ruang TV. Nafas kami sama-sama memburu setelah “permainan” yang panjang tadi — permainan tanpa kata-kata, hanya sentuhan dan tatapan yang bicara. Kulit kami masih terasa hangat, dan aku bisa mendengar detak jantungnya yang cepat di antara keheningan ruangan.
Aku menatap langit-langit, lalu menggeser pandangan ke arah wajahnya.
Mas Gilang masih menatapku seperti dulu, seolah dunia di luar ruangan itu tidak ada.
Entah kenapa, meski aku tahu posisiku hanya “orang ketiga”, di momen seperti ini aku selalu merasa seperti satu-satunya orang yang dia lihat.
"Mas aku juga pengen balik kerja."