“Mas, aku beneran pengen kerja,” ucapku pelan.
Dia menatapku lama, lalu bertanya datar, “Butuh uang berapa?”
Aku mendesah kecil. “Bukan soal uang, Mas. Aku cuma… bosan di sini.”
“Uang yang aku kasih kurang?” tanyanya lagi.
Aku menggeleng. Jelas tidak. Bahkan terlalu banyak. Aku bisa beli apa pun kalau mau — Liam, sekretarisnya, selalu memastikan semua kebutuhanku terpenuhi. Tapi rasanya hampa. Aku ingin sesuatu yang nyata, sesuatu yang bisa kulakukan sendiri.
“Aku cuma pengen kerja, itu aja. Aku janji gak macem-macem.”
Aku tersenyum manja, mencoba melunakkan suaranya.
Tapi jawabannya tetap sama. “Enggak.”
Singkat, padat, jelas.
“Mas…” Aku menarik napas dalam, mencoba bersabar. “Kamu sendiri yang bilang bakal nurutin semua keinginanku.”
Dia menatapku tajam, lalu menarikku lebih dekat.
“Kalau kamu mau kerja, cuma boleh di kantor. Selain itu, gak usah.”
Aku menatapnya lekat. “Kantor yang sama waktu dulu?”
Dia mengangguk pelan.
Aku langsung menggeleng cepat. “Enggak mau.”
“Kalau gitu, gak usah kerja sama sekali.”
Sederhana. Begitu saja dia mematahkan semangatku.
Aku menghela napas panjang, lalu melepaskan pelukannya. “Mas, jangan janji kalau akhirnya gak bisa nepatin.”
Dia diam, hanya mengikuti langkahku dengan tatapan yang sulit ditebak saat aku berbalik menuju kamar mandi.
Aku bahkan gak ingat sudah berapa kali mandi hari ini — setiap kali kami berakhir di pelukannya, aku selalu merasa harus membersihkan diri, seolah air bisa menghapus semua kebingungan yang tersisa.
“Ngambek?” tanyanya, nada suaranya lembut tapi penuh siasat.
Aku diam. Tidak menoleh, tidak juga menjawab.
“Sayang…” panggilnya lagi.
Aku mendengus pelan. Kata itu dulu bisa membuatku luluh, tapi sekarang hanya terasa hambar—seperti rayuan yang diulang tanpa makna.
“Ness.” Suaranya lebih dalam kali ini.
Aku tak menggubris. Langkahku mantap menuju kamar mandi, menutup pintu, lalu menguncinya rapat. Aku butuh jarak. Butuh tenang.
Air yang mengalir di tubuhku tak benar-benar menenangkan. Tapi setidaknya, suara derasnya bisa menenggelamkan pikiranku sejenak.
Ketika aku keluar, dia masih di sana. Duduk di ujung ranjang, menatapku tanpa berkata-kata.
“Kalau kamu mau kerja,” akhirnya dia bicara, “kamu harus pulang.”
Aku menatapnya heran. “Aku bisa tinggal di sini. Sesekali pulang ke rumah, jenguk Ayah dan Ibu juga, kan bisa. Gak harus tinggal di sana.”
“Knessa.”
Nada suaranya berubah tegas.
“Pulang.”
Satu kata, tapi cukup membuat jantungku menegang. Aku tahu, itu bukan ajakan—itu perintah.
Dia memberiku pilihan, tapi sama saja: kalau ingin bekerja, aku harus meninggalkan dia.
“Kamu mau nyiksa aku, Mas? Mau aku lihat kamu sama istrimu lagi?” tanyaku lirih.
Dia menatapku, seolah kata-kataku terlalu rumit baginya. “Kamu terlalu banyak berpikir.”
Aku mendengus, menahan kesal.
“Jangan kerja,” ucapnya lagi, lebih pelan, tapi nadanya tajam.
Entah kapan dia sudah berdiri di belakangku. Aku hanya bisa memutar badan perlahan, menatap wajah yang dulu selalu membuatku merasa aman. Sekarang, justru membuatku sesak.
“Terserah kamu aja, Mas,” jawabku akhirnya.
Dia tersenyum samar, langkahnya mendekat, lalu menarikku dalam pelukannya. Bibirnya menyentuh keningku sebentar—hangat tapi terasa seperti perpisahan yang ditunda.
“Aku akan pergi sebentar,” katanya.
Aku menatapnya tajam. “Kalau kamu pergi, aku juga pergi.”
Dia menggeleng. “Gak boleh. Aku cuma ketemu orang, gak lama.”
Aku tak menjawab, hanya membiarkan diam menggantung di antara kami.
Dia menciumku sekali lagi, seolah ingin menghapus semua amarah yang tersisa, lalu berlalu meninggalkan ruangan.
Dan seperti biasa, hanya keheningan yang tersisa setelahnya.
Tidak ada yang bisa kulakukan tanpa dia.
Setelah Mas Gilang pergi, rumah ini terasa terlalu sunyi—terlalu luas untuk kutinggali sendirian.
Aku akhirnya mengambil ponsel dan mulai menggulir layar, mencari apa saja yang bisa mengalihkan pikiranku.
Beberapa pesan dari grup teman muncul. Obrolan ringan, candaan, dan gosip kecil membuatku ikut tertawa sebentar. Tapi setelah itu, hening lagi.
Lucu ya—tadi pagi aku begitu sibuk. Bisa lima sampai enam kali “permainan” kami lakukan, dan sekarang aku malah merasa kosong. Seolah jiwaku ditinggalkan begitu saja di kamar ini.
Saat jariku terus menggulir layar, mataku berhenti pada satu unggahan.
Sebuah foto kue tart cantik.
Nama akunnya—Melisa
Istri Mas Gilang.
Aku menatap lama.
“Dia ulang tahun?” batinku bertanya, tapi setelah k****a caption-nya, ternyata bukan.
‘Belajar bikin kue buat suami.’
Senyum tipis muncul di bibirku—bukan senyum yang manis, tapi getir.
Setahuku, Mas Gilang tidak suka manis. Tapi mungkin sekarang dia berubah.
Mungkin sekarang, dia suka apa pun yang membuat Melisa bahagia.
Tanpa sadar aku membuka profilnya, menelusuri setiap unggahannya seperti yang sudah sering kulakukan.
Akunku memang tampak seperti akun penguntit—aku bahkan sengaja tidak memakai foto wajahku.
Entah sejak kapan, aku jadi seperti ini. Mengikuti setiap langkahnya, setiap cerita yang dia bagikan, hanya untuk memastikan… Mas Gilang benar-benar di mana.
Dan setelah setengah setahun mereka menikah, hanya ada satu foto suaminya di sana—foto pernikahan mereka.
Hanya itu.
Aku terdiam.
Kalau begitu… apa hubungan mereka benar-benar baik-baik saja?
Atau… hanya terlihat tenang dari luar, seperti kue itu—rapi, manis, tapi mungkin kosong di dalamnya?
Tanpa sadar aku tertidur.
Ketika membuka mata, aroma tubuh Mas Gilang sudah begitu dekat—dia mencium keningku pelan, membangunkanku dengan cara yang selalu sama.
“Kapan balik, Mas?” tanyaku masih setengah sadar.
“Baru aja,” jawabnya dengan suara renyah, lalu menambahkan, “Aku lapar.”
Nada merengeknya membuatku tersenyum.
Aku bangun dan menuju dapur, menyiapkan makanan kesukaannya seperti biasa. Gilang memang pemilih, tapi aku hafal betul apa yang ia mau.
Di sela-sela menyiapkan bumbu, pikiranku tiba-tiba melayang pada foto kue yang dibuat istrinya tadi pagi. Melisa.
Entah kenapa, tanpa pikir panjang aku memesan kue serupa secara online. Aku ingin tahu… apakah dia akan menyukainya, atau tetap menolak seperti biasanya?
“Sudah selesai?” tanya Gilang, melihatku tersenyum sambil memegang ponsel.
“Bentar lagi, Mas,” jawabku cepat.
Dia mendekat dan melongok ke arah layar.
“Aku pesan kue,” jelasku, seolah itu hal biasa.
Dia hanya mengangguk, lalu memelukku dari belakang. Aku tidak menolak—membiarkannya menempel di punggungku, menghangatkan kulitku dengan napasnya selama aku memasak.
“Mas, tolong ambilin kuenya ya,” pintaku saat bel notifikasi pesanan berbunyi.
“Hmm.” Dia mengangguk dan pergi sebentar.
Beberapa menit kemudian, dia kembali dengan kotak kue di tangan, meletakkannya di meja makan.
Aku sudah menata hidangan di hadapannya.
“Kamu nggak makan?” tanyanya.
“Enggak, aku mau makan kuenya. Kamu mau, Mas?” tawarku sambil membuka kotak itu.
Dia menatapku sejenak, pandangannya datar.
“Apa kamu lupa apa yang aku suka dan enggak?” tanyanya tenang, tapi ada nada tegas di sana.
Aku menarik napas pelan. “Ya kali aja udah berubah. Udah lama nggak ketemu, mungkin sekarang suka manis,” sahutku ringan, menahan nada getir di d**a.
Dia diam. Hanya meneruskan makannya dengan lahap seperti biasa.
Aku menatapnya dalam diam sambil memotong sepotong kue, menaruhnya di piring sendiri.
Dulu aku bangga karena paling tahu dirinya—apa yang ia suka, apa yang membuatnya marah, bahkan apa yang membuatnya diam.
Tapi sekarang, aku tak yakin lagi.
Manusia memang mudah berubah… hanya saja aku tak tahu apakah aku masih termasuk di dalam perubahan itu.
"Mas." panggilku.
Dia menatapku dengan mulut penuh makanan.
"Aku mau pulang."