Episode 5

1185 Words
Suara sendok di piring terhenti. Gilang menatapku lama — seolah memastikan kalau dia tidak salah dengar. “Pulang?” ulangnya pelan, nadanya turun setengah oktaf. Aku mengangguk, menatap kue yang mulai meleleh di ujung garpu. “Aku cuma… capek, Mas. Aku pengin ketemu Ibu.” Padahal yang ingin kukatakan sebenarnya lebih dari itu: aku ingin tahu bagaimana hubunganmu dengan istrimu sekarang. Dia menyandarkan tubuh ke kursi, menarik napas dalam. “Ada yang bikin kamu marah?” “Apa maksudnya?” balasku cepat. “Kamu tiba-tiba mau pulang setelah ratusan kali nolak,” ujarnya, nada suaranya datar tapi matanya menelisik. Aku hanya tersenyum, pura-pura santai, lalu menyuap potongan kue kecil ke mulutku. “Kalau gak boleh, ya udah. Aku juga gak pengen-pengen banget kok.” Dia diam sesaat, lalu berkata pelan, “Oke. Kita pulang besok.” Aku tidak menyahut. Tidak perlu. Setelah dia makan, Gilang kembali duduk menonton TV sementara aku mulai membereskan beberapa barang ke dalam koper. Katanya cukup bawa seperlunya saja — aku menuruti. Paginya, tubuhku masih terasa letih karena malam yang panjang. Setelah mandi, aku menyiapkan sarapan untuknya. Tak lama kemudian, dia keluar dari kamar dengan setelan jas rapi dan aroma parfumnya yang khas. Tampan sekali — seperti biasa. Aku hanya menatapnya diam-diam saat dia sibuk dengan ponselnya. “Ya?” suaranya terdengar dingin ketika menjawab panggilan itu. Dari jarak ini, samar-samar aku mendengar suara perempuan di seberang — Melisa, mungkin. “Aku sibuk. Pulang nanti,” ucapnya singkat, nadanya kaku. Aku mendekat, pura-pura tak peduli, tapi mataku menatap wajahnya yang berubah serius. Tanpa memutus panggilan, Gilang menarikku duduk di pangkuannya. Aku menunduk, mencium pipinya dengan cepat. Tangannya langsung menahan wajahku. “Baik, sampai nanti,” katanya pada lawan bicaranya, lalu menutup panggilan. Begitu telepon berakhir, bibirnya langsung mencari bibirku, menciumku lembut — seolah untuk menenangkan hatinya sendiri. Saat ciuman itu selesai, aku menatapnya, mencari sesuatu di matanya. Namun yang kutemukan justru nada tegas di suaranya. “Jangan seperti ini lagi kalau aku sedang bicara dengannya.” Kata-katanya seperti tamparan halus. Aku menelan ludah, mencoba tersenyum meski dadaku terasa sesak. Dalam diam aku sadar — seindah apapun momen kami, aku tetap hanya bayangan di balik panggilannya. Sepanjang perjalanan, aku memilih diam. Suara mesin mobil terdengar monoton, sesekali diselingi derit kecil dari jalanan yang tidak rata. Gilang di sampingku masih sibuk dengan ponselnya, jarinya bergerak cepat di layar — entah mengetik pesan untuk siapa. Dari kursi depan, Liam dan Jo berbicara pelan soal urusan pekerjaan, membuat suasana semakin terasa formal dan kaku. Aku melirik ke jendela. Langit sore mulai menguning, sinarnya menyentuh atap rumah besar yang perlahan terlihat di ujung jalan. Rumah keluarga Santoso. Rumah yang enam bulan kutinggalkan, tapi tetap kukenal setiap sudutnya. Begitu mobil berhenti di pelataran, aku menarik napas dalam-dalam. Udara di sini masih sama — wangi bunga kamboja dari taman depan, aroma tanah lembap yang menenangkan. Pintu rumah terbuka sebelum aku sempat melangkah keluar. “Kness?” suara lembut itu membuatku menunduk cepat. Ibu berdiri di ambang pintu, mengenakan gaun rumah berwarna krem, wajahnya memancar lega dan sedikit berair. Di sampingnya, Melisa — istri sah Gilang — ikut keluar sambil membawa nampan kecil berisi minuman. “Bu…” ucapku pelan. Aku langsung berjalan menghampiri dan memeluknya. Ibu membalas pelukanku erat, menepuk-nepuk punggungku dengan lembut. “Syukurlah kamu pulang juga, Nak. Enam bulan Ibu nggak dengar kabar kamu.” Aku tersenyum kecil, mencoba menahan emosi. “Maaf, Bu. Aku cuma butuh waktu buat sendiri liburan.” Melisa tersenyum lembut, matanya hangat. “Kness… aku senang banget kamu balik. Rumah ini rasanya lebih hidup kalau ada kamu.” Aku berbalik menatapnya, berusaha membalas senyum ramah itu. “Terima kasih, kak Melisa. Aku juga senang bisa pulang.” Tanganku menggenggam miliknya sebentar — hangat dan tulus, seperti yang sering Gilang katakan. Dari dalam rumah, suara berat dan tegas memecah suasana. “Si kecil akhirnya pulang juga!” Aku menoleh. Pak Arman berjalan keluar dengan langkah mantap, senyumnya lebar. Wajahnya tampak jauh lebih segar dari terakhir kali aku melihatnya. “Pak Arman,” aku menyapa sambil menunduk sedikit. Ia langsung tertawa dan menepuk bahuku. “Masih aja panggil Bapak Arman. Sudah berapa kali Papa bilang, anggap aja Papa sendiri.” Aku tersenyum malu-malu. “Hehe, iya, Pa…” Pak Arman menatapku penuh kasih sayang, seperti ayah sungguhan. “Kamu makin cantik, Kness. Gilang, lihat adikmu ini, kan? Dulu kecil, sekarang udah dewasa begini.” Gilang, yang sejak tadi berdiri di belakangku, hanya tersenyum tipis. “Iya, Pa. walaupun sempet hilang, tapi akhirnya balik juga.” Nada suaranya datar, tapi aku tahu arti di balik kalimatnya. Ibu ikut menimpali, “Sudah, jangan goda dia dulu. Biarkan Kness istirahat. Enam bulan itu bukan waktu yang sebentar.” Melisa menatapku lagi, matanya lembut tapi teliti. “Kamar kamu masih sama, ya. Aku pastikan nggak ada yang ubah. Kamu pasti kangen tempatmu sendiri.” Aku mengangguk pelan. “Terima kasih, Kak Aku… kangen banget rumah ini.” Dan tanpa sadar, mataku melirik sekilas ke arah Gilang. Dia menatapku balik — cepat, hanya sekejap — tapi tatapan itu cukup untuk membuat dadaku sesak. Tatapan yang sama seperti dulu, yang selalu kami sembunyikan di balik panggilan “kakak” dan “adik”. Pak Arman menepuk bahu Gilang. “Nanti malam makan malam bersama, ya. Udah lama kita nggak kumpul lengkap.” “Baik, Pa,” jawab Gilang singkat. Ibu menggandeng lenganku pelan. “Ayo, Kness. Ibu buatin teh jahe, kamu kelihatan capek.” Aku mengikuti langkahnya masuk ke rumah, sementara dari belakang kudengar suara Melisa berbincang lembut dengan Gilang. “Jadi…” suara berat Pak Arman memecah suasana, membuat semua orang menoleh. “Kamu di mana selama ini, Kness?” tanyanya, menatapku penuh penasaran. Aku tersenyum kecil, menatap cangkir teh di tanganku. “Pulau,” jawabku singkat. “Pulau?” seru Ibu hampir bersamaan dengan Pak Arman. “Ya ampun, Nak! Kalau cuma ke Pulau, bilang sama Papa. Kita bisa atur tempat lebih nyaman,” ucap Pak Arman dengan nada sedikit manja khasnya pada diriku. “Nggak, Pa. Cuma… pengin nyari suasana baru aja.” “Kalau nyari suasana, Papa cariin vila di manapun kamu mau,” ucapnya tertawa lebar. Aku ikut tersenyum, menatap Gilang yang kini duduk di ujung sofa. Ia diam saja, menyandarkan tubuhnya, pandangannya datar seperti biasa. Tapi Melisa duduk di sebelahnya, menuangkan teh ke cangkirnya dengan lembut. “Mas, tehnya dua sendok gula ya,” katanya pelan. “Setengah,” jawab Gilang singkat tanpa menoleh. Aku memandangi pemandangan itu. Bukan karena mereka tampak mesra — justru sebaliknya, karena Melisa tampak berusaha keras untuk membuatnya hangat, tapi Gilang tetap dingin seperti batu. Dan entah kenapa, justru itu yang membuat dadaku terasa makin sesak. Pak Arman duduk di sebelahku. “Kamu di Pulau sendirian?” Aku mengangguk. “Iya, Pa. Tapi ada beberapa teman disana.” “Dan Mas Gilang tahu kamu di sana?” tanya Ibu lembut. Aku tersenyum, menatap sekilas ke arah Gilang. “Tahu, Bu. Mas Gilang selalu tahu aku di mana.” Melisa menoleh sedikit, mungkin karena nada ucapanku terdengar terlalu tenang untuk sebuah kebetulan. “Oh, begitu ya,” gumamnya dengan senyum samar. “Dia yang jemput aku,” tambahku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD