Episode 6

1188 Words
Melisa menatap Gilang, tampak ingin memastikan. “Mas sempat ke Pulau?” Gilang hanya mengangguk pelan tanpa menjelaskan. “Sekalian kerja,” jawabnya datar. “Oh…” Melisa menatapku lagi. “Beruntung banget ya kamu dijemput langsung.” Aku tersenyum lembut. “Dari dulu Mas Gilang selalu sigap kalau urusanku.” Aku menatap Gilang sebentar, lalu kembali meneguk tehku. Ibu tertawa kecil. “Ya, dia memang begitu. Gilang itu selalu melindungi kamu dari kecil, Kness. Papa dan Ibu juga sering heran, kok bisa segitu perhatiannya.” Pak Arman ikut tertawa. “Sampai dulu waktu Kness jatuh dari sepeda, Gilang yang panik duluan, bukan Ibunya.” Melisa tersenyum, tapi senyum itu makin kaku. Ia berusaha tampak tenang, padahal dari cara ia menggenggam cangkir, aku tahu hatinya tak sepenuhnya tenang. Aku menyandarkan tubuh ke kursi. “Dulu, sampai sekarang juga gitu, Pa.” Lalu mataku berpindah ke Gilang, yang hanya menatapku singkat lalu menurunkan pandangan. Ia tidak menyangkal. Tidak juga mengiyakan. Seperti biasa — tenang, tapi membuatku semakin tidak bisa berhenti memperhatikannya. "Tapi syukurlah kamu jadi kebetulan ketemu Gilang," ucap Ibuku. "Ajaib bisa ketemu padahal Kness gak ada kabar selama itu." Melisa terlihat menyidik Gilang. Gilang mengangguk singkat. “Kebetulan ada urusan kerjaan juga di sana. Sekalian aku temuin Kness.” Aku tersenyum simpul, mengangkat alis sedikit. “Iya, kebetulan banget. Padahal dia yang paling tahu aku nggak mau dijemput siapa pun selain dia.” Nada suaraku ringan, tapi ada ujung tajam yang kubiarkan meluncur begitu saja. Melisa menatapku dengan tatapan bingung — tersenyum kecil, tapi jelas tidak nyaman. “Oh, kalian memang dekat banget, ya…” gumamnya pelan. “Jelas,” sahut Pak Arman sambil tertawa. “Mereka saudara. Dari kecil bareng terus. Gilang dulu bahkan suka marah kalau Kness main sama anak laki-laki lain.” Semua tertawa kecil, termasuk Ibu. Tapi Gilang diam. Tatapannya ke arahku makin tajam — semacam peringatan halus agar aku berhenti di situ. Aku menatapnya balik, menahan senyum. “Ya, Mas Gilang memang paling tahu aku. Mau aku di mana, ngapain, bahkan apa yang aku suka.” Aku sengaja menekankan nada akhir kalimat itu, pelan tapi menggantung. Melisa tertegun. Matanya menatap antara aku dan Gilang bergantian, seolah mencoba memahami sesuatu yang samar. “Oh? Sampai sedetail itu, ya?” ucapnya, tersenyum tapi jelas mulai canggung. Aku berpura-pura tidak sadar dan meneguk tehku lagi. “Tentu. Mas Gilang orangnya perhatian. Kadang aku sendiri suka heran, kok bisa dia ingat semua hal kecil tentang aku.” “Dulu Kness itu anaknya manja banget,” tambah Ibu, mencoba mencairkan suasana. “Kalau nggak ada Gilang, bisa nangis seharian.” Aku menoleh ke Ibu sambil tersenyum. “Iya, Bu. Soalnya cuma Mas Gilang yang bisa nenangin aku. Dari dulu kayaknya cuma dia yang ngerti cara menghadapi aku.” Mataku melirik sekilas ke arah Melisa. Senyumku tidak hilang, tapi ada sesuatu yang jelas di sana — semacam kemenangan kecil. Gilang menghela napas pendek, lalu bicara dengan suara tenang tapi kaku. “Kness, kamu istirahat aja dulu. Capek perjalanan jauh.” “Ah, Mas, aku nggak capek kok,” sahutku cepat, menatapnya lama sebelum menambahkan dengan nada lembut, “aku justru senang akhirnya bisa pulang… ketemu semua orang.” Melisa mengalihkan pandangan ke arah cangkirnya. Tangannya gemetar sedikit saat menaruh sendok. Pak Arman masih tertawa santai, tak menyadari ketegangan tipis yang mulai merayap di antara kami. “Senangnya lihat kalian akur begini,” katanya. “Keluarga ini memang nggak lengkap tanpa Kness.” Aku menatap Gilang lagi — lama, cukup lama untuk membuatnya akhirnya menunduk, pura-pura memeriksa ponselnya. Aku tahu dia sedang menahan sesuatu. Dan di sisi lain meja, Melisa masih diam, matanya tak lagi tersenyum. “Yaudah, Kness pasti lelah. Sana, istirahat dulu di kamar, ya,” ucap Ibu sambil menepuk tanganku. Senyumnya hangat, tapi sorot matanya masih menyimpan sedikit rasa khawatir. “Bener,” sambung Papa. “Istirahat dulu, nanti malam kita makan bareng. Papa sama Ibu mau keluar sebentar.” Aku menatapnya. “Kemana, Pa?” “Ada urusan di rumah Kakek. Cuma sebentar kok, Nak.” Aku mengangguk pelan. “Nanti besok pas acara ulang tahun Kakek, baru kamu ikut, ya,” tambah Papa lagi, suaranya penuh kasih seperti biasa. “Sekarang istirahat dulu, biar besok segar.” “Baik, Pa.” “Bi Marni,” panggil Ibu lembut. Dari arah dapur, Bi Marni muncul sambil menyeka tangannya di celemek. “Iya, Bu?” “Antarkan Non Kness ke kamar, ya. Kamar lamanya sudah dibersihkan.” Aku buru-buru berdiri. “Bu, aku bisa sendiri kok.” Ibu tersenyum tipis, nadanya tak bisa ditolak. “Udah, biar Bi Marni bantuin kamu beresin barang. Kamu pasti capek, kan?” Aku mengangguk pelan, menyerah. “Iya, Bu.” Bi Marni mendekat, mengambil koperku dengan tangan tuanya yang cekatan. “Ayo, Neng Kness. Kamar Neng masih wangi melati kayak dulu.” Aku tersenyum kecil. “Masih suka nyimpen bunga di vas itu, Bi?” “Masih. Biar nggak kaku suasananya,” jawabnya sambil berjalan di depanku. Sebelum melangkah pergi, aku sempat melirik ke arah ruang tamu. Ibu dan Papa sudah berbincang dengan Melisa, tertawa pelan membicarakan acara besok. Melisa ikut tertawa sopan, tangannya sesekali menyentuh lengan Ibu — terlihat begitu akrab. Sementara itu, Gilang duduk bersandar di sofa dengan kaki disilangkan, memainkan cincin di jarinya. Ia tidak menatapku sama sekali. Bahkan ketika aku melewati ruang itu, ia hanya mengangkat pandangan sekilas, lalu kembali menunduk pada ponselnya. Aku tersenyum tipis. Begitulah dia — di depan semua orang, dingin dan tak tersentuh. Saat pintu kamar terbuka, aroma familiar langsung menyambutku — wangi melati yang lembut, bercampur dengan debu kenangan yang tak benar-benar hilang. Cahaya sore menembus jendela, menyorot rak buku kecil dan tirai yang masih sama seperti enam bulan lalu. Tapi entah kenapa, ruangan itu terasa asing di mataku. Lalu sekelebat bayangan melintas di benak — aku, remaja yang dulu sering bersembunyi di sini karena takut petir, dan Gilang yang datang membawa segelas s**u hangat, memelukku sambil berkata semuanya akan baik-baik saja. Aku menutup mata. Waktu berlalu, dan pelukan yang dulu menenangkan itu kini berubah makna. Dari dekap seorang kakak menjadi genggaman seorang lelaki yang tak ingin kehilangan. Dari belaian di kepala menjadi sentuhan yang menyulut gejolak yang tak pernah kami rencanakan. Di kamar ini… aku pernah tertawa, menangis, dan menyerahkan seluruh hatiku padanya — lelaki yang seharusnya hanya kupanggil kakak. Aku menatap tempat tidur yang rapi dengan seprai baru, tapi bayangan masa lalu masih jelas di sana. Begitu banyak malam aku menunggunya pulang, membuatkan kopi, menata baju kerjanya, seolah aku ini… istrinya. Senyum miris terbit di bibirku. Lucu, betapa aku dulu merasa lengkap di kamar ini — padahal sebenarnya aku sedang kehilangan diriku sendiri sedikit demi sedikit. Kreeet— Aku berbalik spontan. Kupikir Bi Marni yang menutup pintu. Tapi ternyata, sosok itu berdiri di ambang, dengan wajah tegas dan mata yang tak pernah bisa kutebak. “Mas Gilang…” suaraku tercekat. Dia tak menjawab. Dalam satu langkah panjang, ia sudah di depanku. Tangannya menarik pergelangan tanganku, kuat, dan sebelum sempat aku menghindar, bibirnya sudah menempel di bibirku. Hangat. Cepat. Tapi juga penuh amarah yang ditahan terlalu lama. Aku refleks mendorong dadanya, napasku berantakan. “Mas! Apa yang kamu lakukan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD