“Gak boleh?” tanyanya pelan, sambil mengusap bibirnya dengan ibu jari. Aku menatapnya tajam — separuh karena kaget, separuh karena takut. Pikiranku berkelebat, membayangkan dia akan menegurku karena ucapan-ucapanku di ruang santai keluarga tadi yang mungkin menyinggung Melisa. “Gimana kalau dia—” “Dia pergi sama Ibu dan Papa,” potongnya cepat. Aku menarik napas panjang. Lega? Entahlah. Perasaan itu terlalu campur. “Kenapa Mas gak ikut?” tanyaku akhirnya. “Harus kerja,” jawabnya singkat, tapi langkahnya justru mendekat. Aku beringsut mundur sedikit. “Kerja ya kerja sana. Aku mau istirahat.” Dia mengangkat sebelah alis, nada suaranya turun setengah oktaf. “Hem... istirahat, ya?” Aku meneguk ludah, merasa dadaku makin sesak. “Mas…” Dia hanya tersenyum tipis — senyum yang nyaris t

