Mereka tertawa pelan, tapi langsung bungkam waktu suara sepatu formal bergema dari arah koridor. Gilang keluar dari ruangannya, jas hitamnya rapi, wajahnya dingin seperti biasa. Semua orang spontan berdiri. Tatapannya menyapu ruangan, lalu berhenti tepat di meja Knessa. “Muncul juga kamu,” ucapnya datar tapi suaranya dalam, cukup bikin jantung Knessa berdebar. Knessa buru-buru berdiri. “Maaf, Mas, maksud saya, Pak Gilang, tadi-” Gilang mengangkat tangan ringan, menghentikan kalimatnya. “Sudah. Masuk ke ruanganku setelah ini.” Kemudian dia berjalan pergi tanpa ekspresi. Begitu pintu ruang presdir tertutup, semua orang langsung berbisik. “Lihat kan? Aura galaknya balik lagi.” “Tapi gak kayak kemarin, hari ini agak… beda ya?” “Iya, soalnya Nona Knessa udah balik. Si bucin akhirnya

