“Tapi wajah kamu bilang lain.” Knessa tersenyum kecil, menatap ke arah secangkir cokelat yang sudah dingin di meja. “Dia cuma… ngingetin aku, kalau Mas suaminya.” Gilang mendecak pelan, rahangnya menegang. “Melisa memang gak tahu tempatnya.” “Mas,” potong Knessa cepat, suaranya lembut tapi tegas. “Jangan salahin dia. Kalau aku di posisinya, aku juga mungkin bakal curiga.” Gilang menatapnya lama sekali, seolah menimbang sesuatu yang berat. Lalu dia melangkah mendekat, berhenti di depan Knessa dan berjongkok. “Harusnya aku yang minta maaf. Karena udah bikin kamu di posisi kayak gini.” Knessa menunduk, berusaha menahan tatapan matanya. “Gak apa-apa, Mas. Aku udah biasa disalahpahami.” Gilang menyentuh pergelangan tangannya pelan, membuat Knessa mendongak. "Buat aku gak biasa.” Sua

