Episode 35

1007 Words

Melisa menatap Knessa lama, ekspresinya campur aduk antara lega dan bersalah. Gilang, di sisi lain, mengepalkan tangan. Matanya menatap Knessa penuh peringatan tapi juga rasa bersalah yang dalam. “Kamu gak perlu pergi,” ucap Gilang dingin, tapi nadanya berat. Knessa menatapnya sekilas. “Justru karena aku di sini, semuanya makin hancur, Mas.” Papa akhirnya menghela napas panjang. “Baik. Kalau memang itu yang kamu mau, Knessa, Papa gak bisa menahan. Tapi ingat, kamu tetap anak Papa. Rumah ini selalu bisa kamu datangi kapan pun.” Knessa menunduk, tersenyum tipis meski matanya berkaca-kaca. Sementara Melisa menggenggam tangannya sendiri, menahan perasaan campur antara kemenangan dan ketakutan. Dan Gilang hanya bisa duduk diam. Wajahnya tak menampakkan emosi, tapi dari caranya mengepal

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD