Penghianat

540 Words
"Din, Siapkan baju-bajuku. Besok ada tugas luar kota" Aku mengambil tas kerja ditangan Mas Haris. Meletakkan sepatunya dirak dekat pintu dan mengikutinya kekamar. "Berapa hari mas?" "dua hari. Minggu malam aku sudah pulang" "Kenapa setiap libur selalu ada tugas sih mas?" "Mau bagaimana, aku kan bawahan! Memangnya kamu ngak tau, aku kerja juga buat menghidupi kamu!" Ucapnya penuh penekanan lalu berjalan engambil handuk kering dirak ujung kamar, Mas Haris masuk kekamar mandi. Aku hanya mendengus kesal. ku ambil koper kecil disudut kamar. Mulai kutata beberapa kemeja dan celana kain, pakaian dalam dan baju santai. aku mengambil tas perlengkapan mandi diatas lemari. Aku masukkan koper bagian depan. Saat mencoba memasukkannya, tas kecil yang kubawa tak juga mau masuk. seperti ada sesuatu didalam. Aku merogohkan tangan kedalam koper. Merasakan plastik mengumpul disana. Kutarik semua keluar. Mas Haris mengumpulkan banyak plastik, entah bekas apa saja. Kuambil semuanya dan kutata tas mandi kedalam koper. Setalah kurasa selesai, aku letakkan koper di dekat pintu. Aku mulai mengumpulkan buntalan plastil dilantai. Saat hendak berdiri, Beberapa benda jatuh kelantai. Aku mengambil bungkus yang kufikir permen, namun saat kulihat lagi, ini Kond*m. Ku bongkar semua plastik didepanku, aku terduduk lemas, enam kondom kutemukan diantara banyaknya plastik, Bahkan dua di antaranya sudah terpakai. Rasanya jantungku lolos dari tempanya, lantai tempatku berpijak seolah goyah, ada desir nyeri didadaku. Bahkan mataku mulai memanas, bersama otakku yang terus berputar mencari jawaban atas prasangkaku sendiri. Sementara gemericik air masih kudengar dari dalam kamar mandi. Aku berusaha menapakki kesadaranku kembali. Aku punggut semua plastik dan membawanya kedapur. kondom yang kutemukam kuletakkan di bawah tempat tidur. Aku berjalan mendekati HP Mas Haris diatas tempat tidur. Namun saat hendak mengambilnya, terdengar hendel pintu dibuka. Segera kuberalih kedepan lemari. Mengambil beberapa pakaian mas Haris lalu meletakkanya di atas tempat tidur, tepat ketika HP Mas Haris menyala. Tertera jelas nama "Mayangku" dilayarnya. Aku meremas ujung daster, keluar segera dari kamar. Menuju dapur, aku mengatur nafasku sendiri. "Ada apa ini mas? Apakah ada perempuan lain?" Ucapku geram didapur. Rasanya ingin memberondong suamiku itu dengan seribu tanya yang berputar diotakku. Tapi masih kutahan, Jika memang lelaki yang menikahiku enam bulan lalu ini bermain api, maka aku akan memjadi magma yang menelannya hidup-hidup. Aku atur nafas perlahan, mencoba tetap menjadi istri yang baik. Kubuatkan Mas Haris secangkir kopi, seperti kesukaannya. Aku berjalan keruang tengah. Suamiku sedang memberi makan ikan kami taman kecil samping rumah. Kulerakkan kopo dimeja dekat pintu. Masih menghela nafas aku mendekati Mas Haris. "Kopinya sudah dimeja mas" Ucapku dengan senyum mengusap lengannya perlahan. " Terimakasih yaa Din, kamu memang istri sempura" Ucapnya sembari mengusap pipiku. Aku tersenyum getir mendengarnya. "Sempurna untuk kau tipu dengan manis sikapmu mas" Ucapku dalam hati. Aku lepas tanganya dari pipiku. Kutarik dia masuk dan duduk di sofa. "Diminum dulu, nanti keburu dingin. Mas kan ngak suka kopi dingin" Aku sodorkan secangkir kopi padanya. Mas Haris tersenyum lekat memandangku. " Terimakasih yaa" Ucapnya lalu menyesap ujung cangkir. Terdengar nikmat kopi itu lolos ke krongkongannya. Aku duduk manis didepannya, melihatnya gelisah, berpindah posisi beberapa kali. Dan... BRUKK!! Mas Haris ambruk tak sadarkan diri. Kupastikan tubuhnya benar -benar tak sadar. Senyumku mengembang melihat lelakiku ini terkulai diatas sofa. "Baiklah mas, istri sempurnamu ini akan memastikan dulu, kamu kearah siapa" Ucapku mulai membuka HP Mas Haris. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD