Pertemuan

863 Words
Selamat pagi duniaku. Menikmati tarian mas Haris sepanjang malam, Sunguh membuatku tertidur lelap. Siraman airnya dikamar mandi saja, bahkan jadi musik alami tersendiri. Masuk dan keluar kamar mandi, sambil memegangi perutnya yang entah serasa apa. Melihatnya lemas, bahkan untuk sekedar memegang Hp pun dia tak sempat. Kasihan suamiku! Tapi hidup memang selucu ini. Lelaki yang semenjak menikah kujaga kualitas hidupnya, makannya, bahkan vitamin dan kesehatannya. kini kubuat tak sangup lagi bercinta online, dengan gundiknya itu. Aku bangun lebih pagi. menyiapkan sarapan. membuatkanya bubur hangat dan beberapa lauk untuk menyambut tamu-tamu istimewaku nanti. Aku harus berperan menjadi istri terbaik untuk suamiku! Semangat Dina! Setelah semua siap, Mas Haris terlihat lemas berjalan menuruni tangga dan melempar tubuhnya ke sofa "Din, lihat HP mas? "Dikamar. Kenapa?" " Yasudah. Nanti saja." Ucapnya masih mengusap perutnya yang terlihat lebih ramping. "Bagaimana perutmu mas?" Ucapku dari dapur. Rumah kami tak terlalu luas, ruang tengah dan dapur terhubung tanpa sekat. "Sudah mendingan din, kamu baik-baik saja?" Mas Haris nampak mendongak kearahku. "Aku baik, makan kenyang dan tidur sangat nyenyak" Ucapku masih sibuk menyiapkan sarapan mas haris. "Suamimu diambang sekarat, kau bisa tidur din?" "Lalu harus apa mas? menemanimu ke kamar mandi? minta kuceboki?" Mual sendiri aku mengucap kalimat terakhir! "Yaa tidak, setidaknya ikut prihatin lah din" "Aku prihatin mas, tapi aku masih marah mas bilang makananku penyebabnya. Siapa yang tau mas 'Jajan' sembarangan diluar selama ini" Ucapku penuh penekanan. Kulihat Mas Haris sudah tidak menangapi. Tubuhnya kembali direbahkan ke sofa. Aku berjalan mendekat, membawa secangkir teh hangat dengan sepiring bubur. Kali ini makananya aman. Tak baik terus menerus membuat suami sendiri tersiksa. "Aku menunggu permintaan maaf" Ucapku meletakkan makanan dimeja. Kulihat Mas Haris mengerutkan alisnya. Dengan sisa tenaga dia berusaha duduk. Kubantu tentu, kubatu dia duduk. Aku istri idaman kan? "Maaf apa?" "Menuduh makananku penyebabnya sakit perutmu! " Seperti engan berdebat, mas Haris memitar matanya. "Baiklah, Mas minta maaf. Sepertinya memang mas salah makan dikantor" Ucapnya memegang tanganku. Kukibaskan segera, mengingat tangan itu bekerja apa semalam. Aku tak ingin membayangkan lebih. oh, Cukup Tuhan. "Masih tetap akan berangkat keluar kota?"Tanyaku basa basi. Tentu saja dia akan tetap berangkat menemui J*lang kecilnya itu. "Iya lah, apa kata dia nanti, Semalaman saja aku sudah tak ada kabar!" "Dia mas?" Aku mengulang kalimatnya " Maksud mas, mereka em, teman kerja mas. Semalam harusnya mas keluar kan? Tapi tak jadi karena sakit perut" Aku hannya mengangguk lalu kembali kedapur. 'Dia' tadi Mas Haris bilang? Sudah hampir mati dehidrasi masih memikirkan selakangan batu kali. Aku ambil sepiring bubur dan memakanya tanpa bicara. Menahan emosi ternyata menghabiskan banyak tenaga. Apa lagi harus berakting manis didepan suami tak berakhlak sepertinya. Sungguh menghabiskan tenaga dan rasaku. Pantas saja pemeran sinetron itu mahal. akting memang butuh banyak bersabar. Kulap manis bibirku. Berakting kembali menjadi perempuan lugu dan istri terbaik Haris Gunawan. Aku mencuci bekas piring kotor dan berjalan kedepan menyiram tanaman kami yang subur dan hijau Tak berapa lama aku menyiram tanaman, Mas Haris nampak keluar dengan pakaian rapi. Wanginya bahkan menusuk hidungku. Meski sudah membersihkan diri, wajah pucatnya masih kentara. "Din, mas pergi ya?" " Sudah bawa obat?" Aku mendekat pada mas Haris. melihat caranya berpakaian. Sunguh seperti anak muda jaman sekarang. Kulihat mas Haris mengeleng pelan. Sambil berulang kali dia mengusap layar Hpnya. Aku tersenyum melihatnya tengah pusing sendiri. pasti j*lang kecil itu tengah mengamuknya. "Aku ambilkan obat dulu mas. Bisa diminum nanti disana" Aku berlari masuk menuju kotak obat. mengambil obat diare dan memgatakannya kekoper depan. Seketika wajahnya pucat. Seperti mengingat sesuatu. "Din, kemana plastik dikoper ini?" "Oh, aku buang mas. Kenapa memang?" " Betul kamu buang? Kamu ngak nemu apa begitu ?" Mas Haris kembali bertanya, nampak kegusaran dari caranya menatapku. " Iya, aku buang. Ada permen aku lihat sekilas. Tapi sudah ikut kubuang mas. Sampahnya juga sudah diangkut pagi tadi" Ucapku menjelaskan. "oh.. Yasudah" "memang kenapa mas? " "Tak apa, mas fikir ada kuwitansi atau apa terselip" Aku tersenyum menganggukan kepalaku. Owalah mas... mas.. Memangnya aku tak tau, kau sedang mencari sarung keramatmu itu ! "Mas Berangkat ya Din, Jaga rumah. Jangan keluyuran. Ingat ya, kalau pergi pamit dulu" Aku hanya memganggukkan kepala. Mencium takzim tangan mas Haris. Sesaat kemudian mobil itu telah melesat entah kemana. "Pergi pamit katamu! Huu Barangmu cari lubang lain saja kau tak permisi padaku" Teriakku sambil kukepal satu tanganku kearah mobilnya memghilang. Sudah gila aku bicara sendiri! Segera kulempar selang air, mematikan kran dan bersiap menuju tempatku dan yang lain bertemu. Memasukkan semua makanan masakanku pagi ini kedalam wadah, Semua masih utuh. Mas Haris hanya memakan buburnya. Tentu saja utuh, sebab yang lain kumasak dengan sambal Ekstra. Setelah berganti pakaian, aku berkaca sebentar. Gamis marun dengan renda putih di tengahnya. Aku nampak Berbinar, meski hatiku remuk redam. Aku masuk kedalam mobil, melajukannya perlahan, membelah jalan yang mulai ramai dijam sesibuk ini. Dua puluh menit aku sudan sampai di tempat tujuanku. Kunyalakan klakson dan gerbang besar itu terbuka. Dua mobil yang tak asing bagiku terparkir digarasi rumah. Aku keluar saat pak Salim berlari mendekat. "Sudah ada yang datang pak?" "Sudah bu. didalam" Aku melangkah memasuki rumah besar ini. Ya, rumah yang kami beli dari hasil 'bekerja' selama ini. Rumah ini tak pernah dipakai. kecuali hanya untuk bertemu seperti ini. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD