Bab 19: Tak Ada Jalan Untuk Lari

1188 Words

Jam delapan malam. Kami semua sudah duduk bersama untuk bersiap-siap menyantap daging sapi yang baru saja aku, Alano, dan Tuan Krisbiantoro panggang. Di meja panjang ini, semua terlihat menikmati hidangan apa saja yang tersaji. Kecuali, Tuan dan Nyonya Krisbiantoro. Walaupun sedari tadi senyum mereka tercetak di wajah, itu tidak menunjukkan mereka bersenang-senang malam ini. Mereka terlihat bingung. Mengapa putra semata wayangnya tak kunjung kembali? Aku menatap Alano di samping kursiku. Kemudian, menatap wajah Tuan dan Nyonya. Kebetulan sekali mereka juga sedang menatapku. Dalam diam, mereka berbisik dari kejauhan. Ke mana Rio? Aku menggeleng-geleng pelan. Aku tidak tahu. Kamu yakin sudah menghubunginya? Yakin sekali. Dia sedang dalam perjalanan. Ya Tuhan. Percakapan dalam diam ka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD