“Waktu Kakek ngelamar Nenek, gimana? Seromantis apa?” Anandya yang kini duduk di bangku kelas tiga SMP bertanya. Di tangannya, ada sebuah bukuku yang berjudul “Shackled by The Past”. Sudah beberapa hari ini, dia masih menanyakan kelanjutan cerita kami. Vero, kakak Anandya yang sudah menginjak kelas tiga, masih memakai seragam SMA-nya. Dia ikut mengunjungi kediaman kami menemani Adiknya. “Kamu masih kecil, Nan. Masa tanya lamaran-lamaran? Cinta juga masih belum tau,” sahut Vero menjitak kepala Anandya. “Emang Kak Vero tau?” Vero mendecak. “Plis, sebentar lagi aku kuliah. Masa gitu aja nggak tau?” Rio tersenyum. “Mungkin terlihat sepele, tetapi percayalah kalau cinta itu rumit.” Dia melirik ke arahku. Aku ikut tersenyum. Vero terdiam. Anandya mengisi kekosongan ini dengan minta kelan

