Dia demam. Wajahnya memerah dan masih setengah sadar. Tapi aku tidak peduli. Setelah membaringkan tubuhnya yang lemas, aku mengambil kompres dan meletakkannya di dahi Rio. Kemudian, menarik selimut hingga ke leher. Tak lupa menaruh beberapa obat-obatan di atas meja. Baiklah, tarik kata-kataku, aku peduli. Sebenarnya tidak juga. Hanya karena dia pernah menolongku pingsan saat terkena hujan di ayunan, dan sekarang aku membalasnya. Jangan tanyakan soal ciuman itu. Itu bukan ciuman. Dia hanya menempelkannya di saat dia mabuk. Jangan tanyakan soal pernyataan cinta itu. Itu bukan pernyataan cinta. Dia hanya asal mengucapkannya di saat dia mabuk. Dan sekarang, pipiku terasa hangat. Sejenak, aku mengamatinya yang tertidur pulas. Napasnya mulai teratur, wajahnya yang tenang, tanpa ada

