Dering ponselku sibuk mengumandangkan lagu Miley Cyrus Party In The USA. Dengan mata masih setengah mengantuk, aku mengambil ponsel yang tergelak di atas nakas samping ranjangku.
Erza is calling…
Erza, pacarku, menelepon. Sudah beberapa hari ini aku tidak menghubungi Erza via telepon, hanya melalui pesan chat. Aku merindukan suara hangat nan lembutnya itu.
“Iya, halo?” Suaraku terdengar parau karena masih mengantuk.
“Halo, Vania. Bangun tidur?” Suara Erza membuatku tersenyum.
“Iya. Di sana jam berapa, Za?” tanyaku. Pandanganku masih belum begitu jelas untuk melihat jam beker. Dan, sejujurnya, aku malas memutar tubuh untuk melihat jam beker.
Erza terdiam sejenak. “Jam satu malam.”
Aku terperanjat. “Hah? Kok kamu belum tidur?”
“Aku ada shift malam di rumah sakit. Memangnya di sana jam berapa, Van? Aku asal saja meneleponmu, hehe…” kata Erza.
Yeah, pada akhirnya aku juga akan tetap melihat jam beker. Susah payah aku memaksakan tubuhku untuk memutar dan melihat jam.
“Jam tujuh malam. Saatnya makan malam.”
“Wah!” sahut Erza. “Pasti kamu dilakukan bak seorang puteri, ya?”
Aku tertawa kecil. “Ya begitulah. Apa kamu nggak apa-apa meneleponku di saat ada shift?” tegurku.
Erza menggumam. Sepertinya dia memang diam-diam meneleponku. Setahuku, rumah sakit tempat di mana Erza praktik kedokteran memiliki peraturan yang ketat. Seperti tidak boleh menggunakan ponsel pada saat ada shift.
“Baiklah. Sepertinya aku akan kembali bekerja. Kamu baik-baik di sana, ya, Van. I love you.”
Pipiku bersemu merah. Sudah lama aku tidak mendengar laki-laki itu mengucapkan kata sayangnya padaku semenjak aku pergi ke Roma.
“I love you too, Za,” ucapku.
Tepat pada saat telepon mati, pintu kamarku diketuk. Itu pasti Patty yang membangunkanku untuk makan malam.
“Mi scusi, Signorina. Saatnya makan malam,” kata Patty sembari mengetuk pintu kamarku pelan.
“Vero, Patty. Tunggu sebentar.” Aku beranjak dari kasur, kemudian merapikan penampilanku sementara ini. Untung saja pakaianku masih berupa pakaian kasual tadi pagi yang belum kuganti. Setidaknya, aku belum mengenakan piama.
Pintu terbuka. Wajah Patty tersenyum.
“Apa aku perlu mandi terlebih dahulu, Patty?” tanyaku sambil memandang penampilanku.
Patty menggeleng. “Itu terserah Nona.”
“Kalau begitu, lebih baik aku mandi dulu. Aku akan ke sana sekitar sepuluh menit lagi, Patty.”
Patty mengangguk. “Vero, Signorina.” Pintu kembali tertutup.
***
Makan malam ini sama seperti saat sarapan. Meja panjang ini tampak kosong. Hanya ada aku dan beberapa pengurus rumah yang sibuk mondar-mandir mengambilkanku makanan serta minuman. Kali ini juga, tidak ada Rio. Aku heran, apakah dia memang tidak pernah keluar dari kamarnya? Ataukah dia memiliki dapur tersendiri di kamarnya?
Sepertinya tidak.
Karena rasa penasaran yang tak bisa kupendam lagi, akhirnya keluar dengan mulus dari bibirku. “Apakah Rio tidak makan malam?”
Pia mendongak dan menatap pintu kamar Rio. “Biasanya, Tuan Muda Rio akan kemari. Tetapi, sepertinya, kali ini tidak.”
“Apa kalian sudah memberitahunya?” tanyaku.
Pia mengangguk. “Sudah, Signorina. Tetapi Tuan Muda Rio tidak menjawab apa-apa. Mungkin sedang tertidur.”
“Tuan Muda Rio tidak pernah tertidur hingga begini larutnya.” Kini Patty meyahut perkataan Pia.
Aku terdiam. Aku merasa tidak enak. Sungkan melanda lagi di hatiku. Ini adalah rumah Rio, namun mengapa justru dia tidak melakukan apa pun? Dia tidak sarapan, bahkan tidak datang makan malam. Seharusnya, aku tidak makan malam jika sang tuan rumah tidak makan malam. Aku tidak sopan.
“Pia, Patty, biasanya Rio makan malam dengan apa?” Aku mengangkat kedua alisku.
“Sup dan omelet. Kemudian makanan penutupnya keju dan buah semangka. Untuk minumnya, Tuan Muda Rio suka dengan caffee espresso,” jelas Pia.
Aku mengangguk dan mulai mengambil makanan yang disukai Rio. Patty hendak menyegahku untuk mengambil makanan sendiri, namun, sepertinya Pia jauh lebih hapal denganku. Gadis itu justru menyegah Patty dan membiarkanku mengambilkan makanan untuk Rio.
Setelah satu nampan terisi dengan makanan dan minuman kesukaan Rio, aku berjalan melewati beberapa pengurus lainnya yang menatapku dengan dahi berkerut. Mungkin, hal yang kulakukan saat ini adalah hal baru di mata mereka. Aku tertawa dalam hati. Kebiasaan dari Indonesia kubawa hingga ke Negeri Roma.
Sampai di depan pintu kamar Rio, aku bergeming. Membayangkan kemungkinan buruk yang akan aku dapatkan darinya. Satu, penolakan. Kedua, ditatap tajam. Ketiga, pintu tidak akan dibukanya. Ah, dasar manusia batu bertanduk dua.
“Rio?” sapaku sambil mengetuk pintu kamarnya.
Tidak ada jawaban. Hening. Aku menempelkan telingaku di pintunya. Tidak ada bunyi apa-apa. Sepertinya dia sedang tidak melakukan aktivitas apa pun. Jangan-jangan benar apa kata Pia. Dia sedang tertidur. Tetapi, kata Patty, dia tidak pernah tertidur hingga begini larutnya. Kataku? Entahlah. Aku baru beberapa hari tinggal di sini. Namun, otakku terus memaksa untuk mengetuk pintunya hingga terbuka.
“Rio Krisbiantoro… tolong buka pintunya,” ucapku mulai lelah. Tanganku terasa kram karena harus mengangkat nampan untuk Rio. Kalau saja dia bukan tuan rumahku, sudah kupastikan aku tidak akan melakukan hal ini. Untungnya, Tuan dan Nyonya Krisbiantoro sangat baik padaku, sehingga dengan inilah aku membalas kebaikannya.
“Riooo… buka pin—“
Ceklek. Pintu terbuka sebelum kalimatku terselesaikan. Tubuh tinggi dan aroma parfum khasnya itu sudah menyambutku. Perlahan, aku mendongak untuk menatap mata elang Rio. Dia menatapku dengan dahi berkerut. Seakan sedang berkata, ngapain lo di sini?
Nampan berisi makanan kesukaannya itu terangkat hingga berada persis di depan wajahnya. Satu alis Rio terangkat.
“Makan dulu, Ri—“
“Nggak laper.” Rio hendak menutup lagi pintunya, namun secepat kilat aku cegah dengan kakiku. Dia menatapku tajam.
“Laper nggak laper makan dulu!” entakku membuatnya kaget. Aku sudah benar-benar lelah.
Wait? Baru saja aku menyentak tuan rumah sekaligus putra dari Tuan dan Nyonya Krisbiantoro yang terhormat? Ya, Tuhan. Cari mati ini namanya. Aduh! Ini gawat! Bisa-bisa aku dipulangkan ke Indonesia sebelum tanggalnya. Bagaimana ini?
“Ma-maaf, gue nggak bermaksud. Tadi gue—“
Rio menerima nampan tersebut dari tanganku. Sejenak, dia mengamati nampan yang sudah berada di tangannya. Kemudian dia menatap wajahku yang melongo.
“Ini lo yang ngambil?” tanyanya datar.
Aku mengangguk kikuk. “Kok tahu?”
“Karena mereka nggak menata makanannya seperti ini.” Tangan kanan Rio memindahkan buah semangka dan keju ke sisi kiri nampan, kemudian sup dan omelet di tengah, dan secangkir kopi hangat di sebelah kanan. Peralatan makan seperti sendok dan garpu berada di depan piring omelet dan mangkuk sup.
Aku menyengir kuda. Aku tidak tahu-menahu soal tatanan makanan. Rumah ini begitu sempurna untuk kutinggali.
Rio terdiam sejenak. Kemudian dia kembali menatapku, tetapi, kali ini tatapannya berbeda. Tajam namun… lembut di saat yang bersamaan. Membuat jantungku berpacu lima kali lebih cepat. Ini kali pertamanya bagiku melihatnya menatap seperti itu. Anehnya lagi, mengapa mataku justru terpaku di tatapannya yang seperti itu?
“Lo udah makan?” Akhirnya ia memutuskan kontak matanya denganku. Membuatku dapat bernapas lega. Tadi itu benar-benar menghipnotis.
Aku menggeleng pelan.
“Ya sudah, ayo makan di meja makan.” Rio menutup pintu kamarnya.
Akhirnya! Sudah sekian lama aku mengharapkan agar sang tuan rumah mau makan bersama denganku. Selama tinggal di rumah ini, aku belum pernah melihatnya makan di meja makan. Aku selalu makan sendirian, bersama pengurus rumah lainnya. Bahkan dengan Tuan dan Nyonya Krisbiantoro saja tidak pernah. Mereka belum pulang dari Milan.
“Giovane Maestro. Saya sudah mencoba untuk membangunkan Tuan Muda Rio, tetapi Tuan—“
“Tidak apa,” sahut Rio cepat. Patty bungkam.
Rio meletakkan nampannya di atas meja. Memindahkan makanan dan minuman di atas nampan ke atas meja. Sedangkan aku kembali duduk di hadapan Rio dengan makananku yang tadi sudah tersaji namun belum kusentuh.
“Buon appetito,” ucap semua pengurus rumah yang berada di sekitar kami, kemudian mereka meninggalkan kami berdua. Hanya berdua saja.
Lagi-lagi rasa canggung memenuhi otakku. Di depanku, tampak Rio dengan wajah datarnya melahap supnya. Sedangkan aku masih diam dengan sendok di tangan kananku.
“Kenapa?” tanya Rio di sela-sela makannya.
Aku sedikit terkejut mendengar suara berat Rio. Secepat mungkin aku menetralkan diriku agar tidak terlalu terlihat kaku. Aku ingin mengenal tuan rumahku lebih dalam. Karena merekalah yang akan jadi keluarga sementaraku sampai beberapa tahun ke depan.
“Nggak. Nggak apa-apa,” jawabku.
Percakapan kembali hening. Membuat rasa canggung tambah berkali-kali lipat. Manusia di depanku benar-benar dingin. Cueknya kelewat ampun. Tapi itu justru nilai plus di dirinya. Buktinya, walaupun sikapnya begitu, banyak juga yang menyukainya. Aku jadi ingin tahu, dari semua wanita yang menyukainya, adakah yang dipilih Rio?