Sejak malam itu, kami semakin dekat. Awalnya aku terus mengajaknya untuk sarapan dan makan malam bersama, dia pun sempat menolak berkali-kali, namun pada akhirnya, takluk juga dia padaku. Selama kami bersama-sama, sebisa mungkin aku mengajaknya mengobrol seputar topik-topik menarik. Beberapa hari pertama, Rio hanya menjawab semua pertanyaanku dengan “Oh”, “Hm”, “Iya”, dan “Tidak.”, sisanya lebih banyak sebagai pendengar.
Minggu demi minggu, di mana pun kami berada, sebisa mungkin aku menyiptakan sebuah percakapan. Hingga akhirnya, aku mengetahui sesuatu. Rio hobi menggambar. Aku mengetahui hal ini tanpa sengaja. Pada saat itu, sebelum aku mengetahui bahwa dia berada di jurusan arsitektur, aku semakin penasaran dengan isi kertas gulung yang setiap hari dibawanya ke kampus. Saat Rio tak sengaja meletakkan kertas itu di ruang tamu, aku mengambilnya. Isinya hanyalah desain-desain sebuah bangunan dan beberapa macam gambaran lainnya.
Tidak salah dugaanku. Rio terlihat tertarik pada topik yang aku bahas saat makan malam bersama Tuan dan Nyonya Krisbiantoro. Tuan begitu menyukai berbagai hal yang berbau desain. Awalnya, Rio dan Nyonya hanya mendengarkanku bercakap-ria dengan Tuan Krisbiantoro. Aku berusaha untuk terus memancing Rio agar ikut membahas topik ini bersama-sama. Benar! Tak lama kemudian, Rio menimpali perkataanku mengenai jelek atau tidaknya sebuah gambar. Katanya, bagus atau pun jelek itu relatif. Tergantung dari mana posisi kita memandang. Apakah kita berada di posisi penggambar atau di posisi penikmat. Setiap gambar memiliki ceritanya masing-masing, yang terkadang si penggambar enggan untuk membiarkan para penikmat gambarnya mengetahuinya. Mungkin, itu salah satu contoh dari gambaran abstrak.
Aku melongo. Seumur-umur, ini adalah perkataan terpanjang Rio yang pernah kudengar. Mendengarnya bercakap seperti itu, aku merasa senang. Entahlah. Apa mungkin aku senang karena akhirnya aku bisa mengobrol dengan si manusia batu bertanduk dua?
Hingga beberapa tahun kemudian, aku baru menyadari sesuatu. Kedekatan kami terbilang cukup cepat. Sikap Rio terhadapku mulai mencair. Terlihat dari bagaimana cara Rio memandangku pada saat di kampus, cara Rio berbicara kepadaku mengenai teman-temanku di kelas, dan bagaimana sikap Rio kepadaku saat di kampus. Rio menyukai Abry! Begitu pun sebaliknya. Aku senang bukan main, walaupun sedikit kesal, sih. Aku senang karena pada akhirnya perasaan sahabatku tidak bertepuk sebelah tangan. Hampir setiap saat, di telepon, pesan chat, di kelas, Abry selalu bercerita panjang lebar tentang Rio. Aku hanya bisa mengangguk-angguk dan menyahuti beberarapa perkataannya.
Rio pernah berpesan padaku untuk tidak pernah memberitahu siapa pun jika aku tinggal di rumahnya. Bahkan, ia menyuruhku untuk sembunyi jika kawan-kawannya datang ke rumah. Entah apa alasannya, aku juga tidak berniat untuk memberitahukan siapa pun. Termasuk Abry.
Kesalnya, ternyata selama ini Rio mendekatiku hanya karena dia ingin tahu lebih banyak mengenai Abry, si model cantik universitasku. Bukan masalah, sih, toh, mereka juga terlihat cocok. Pangeran tampan dan putri cantik. Sedangkan aku sebagai Ibu peri, yang menyatukan dua hati tersebut.
Suatu hari, Abry datang menemuiku di kelas dengan wajah super ceria. Dia memberiku sebuah undangan, yang mana isinya aku diundang untuk interview perekrutan editor di salah satu penerbit buku bergengsi di Roma! Saat itu juga aku loncat dari bangku dan memeluk Abry erat-erat. Aku menanyakan apa alasannya sehingga mau repot-repot membantuku menjadi editor buku. Apa mungkin karena nama belakang Abry adalah Aleizha yang artinya penolong? Jawabannya cukup mengejutkan. Membuatku diam beberapa detik.
“Rio mengajakku berkencan, Van!” ucap Abry senang.
“Hah?!” Mataku membola sempurna. Mengapa Rio tidak memberitahuku? Itu sebabnya tadi malam ia mengurung dirinya lagi di kamar. Aku pikir penyakit batunya kambuh, ternyata dia sedang memikirkan cara untuk menembak Abry.
Seharusnya aku senang, tetapi faktanya, aku seperti didorong hingga jatuh ke dasar jurang yang paling dalam. Wajahku tersenyum lebar, tetapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasakan perih bagai tersayat ribuan pisau. Apa sebenarnya yang aku rasakan? Cemburukah? Atau jatuh cinta?
Saat itulah, momen di mana Rio dan Abry resmi berpacaran, menjadi salah satu momen yang paling menyakitkan bagiku.
***
Aku memiliki Erza. Aku memiliki Erza. Kalimat itu terus kubisikkan di hatiku setiap kali melihat Rio dan Abry jalan berduaan di kampus. Kini, aku lebih sering sendirian di mana pun. Dulu, Abry selalu menemaniku selama di kampus, Rio selalu mendengarkanku bercerita panjang lebar. Tak terasa, karena ulahku, momen kebersamaan kami memudar. Abry lebih sering menghabiskan waktunya bersama Rio, sedangkan Rio juga sering menghabiskan waktunya mendengarkan cerita Abry. Mereka cocok. Seharusnya aku bisa menerima itu. Aku tidak berhak merasakan cemburu atau yang namanya jatuh cinta kepada putra tunggal Krisbiantoro. Siapalah aku ini?
Benar apa kata orang. Dari mata turun ke hati. Awalnya aku tidak menyadari bahwa setiap kali pertemuanku dengan Rio menumbuhkan efek pada hatiku. Hatiku mulai bereaksi ketika melihat Rio menatap Abry dengan tatapan yang berbeda. Tatapan rasa nyaman. Saat itulah aku sadar bahwa aku telah bermain-main dengan mata dan hati.
Di tengah-tengah lamunan, ponselku bergetar. Tak lama, terdengar nada dering yang melantunkan lagu Sheryl Sheinafia Kutunggu Kau Putus. Sialan. Terakhir kali, nada dering teleponku adalah Miley Cyrus Party In The USA, tahu-tahu saja, kini berubah menjadi Sheryl Sheinafia Kutunggu Kau Putus. Apa-apaan ini? Otakku semakin tidak benar saja.
“Ciao?” Sebuah nomor Italia yang tidak kukenali muncul di layar ponsel. Maka dari itu, aku menyapa menggunakan bahasa Italia.
“Ciao, buon pomeriggio. Cio che e giusto con Vania?” Suara di ujung telepon membalas.
“Vero, saya Vania. Ada apa, ya?”
“Kami dari penerbit Roma Libro Pubblicazione ingin mengonfirmasikan jadwal wawancara dengan manajer personalia kami. Apa Anda bersedia siang ini untuk datang ke kantor kami?” tanya penelepon ramah.
Jantungku berdebar-debar. Akhirnya! Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba!
“Tentu saya bersedia. Pukul berapa saya harus tiba di sana?” Aku meremas-remas jariku senang. Senyuman di bibirku tak kunjung pudar. Impian keduaku sebentar lagi akan terwujud.
“Pukul dua siang. Anda bisa menemui saya terlebih dahulu di meja informasi. Saya dengan Akana.”
Aku mengangguk-angguk sendiri sembari mengingat nama penelepon tersebut. “Baik. Saya akan menemui Anda tepat pukul dua siang.”
“Grazie.”
***
Di sinilah aku sekarang. Berjalan dengan Akana menuju ruang manajer personalia. Di sana, seorang perempuan cantik dengan rambut pirang panjang sudah menungguku. Di atas meja, namanya terpampang cantik. Agnese Marsella.
“Buon pomeriggio. Silakan masuk, Nona Vania,” sapa Agnese begitu aku dan Akana memasuki ruangannya.
Aku menjabat tangan Agnese. “Buon pomeriggio.”
Setelah sesi berjabat tangan, Agnese menyuruhku duduk santai di kursi hadapannya. Sedangkan Akana izin kembali ke mejanya.
“Kita di sini santai saja, ya, Nona Vania. Saya tidak suka terlalu formal.” Agnese tersenyum ramah. “Panggil saja saya Signorina Agnese karena saya belum menikah.” Dia tertawa kecil.
Aku ikut tertawa kecil.
“Kemarin, sempat saya baca CV kamu. Saya sedikit terkejut, kamu berasal dari Indonesia?” tanya Agnese.
“Iya, Signorina Agnese. Saya salah satu pelajar dari Indonesia yang diterbangkan untuk belajar di Roma,” jawabku ramah.
“Wah! Itu luar biasa. Pastilah kamu orang yang pintar,” puji Agnese.
Aku hanya membalas dengan senyuman.
“Saya sempat tertegun dengan penulisan kamu. Gaya bahasa yang kamu pakai indah. Sudah sejak kapan mulai menulis?” Agnese memulai wawancaranya.
“Sejak saya masih kecil, Signorina Agnese. Sekitar umur sembilan tahun. Saya sering dibelikan buku cerita oleh ayah saya, dan sejak saat itu saya mulai mencintai buku dan menulisnya. Beberapa novel saya sempat diterbitkan di Indonesia, kemudian kontrak tersebut terputus perkara umur saya yang sudah membatasi persyaratan penerbitan buku anak-anak. Tetapi, saya tetap menulis dan masih mempublikasikannya di sekitar majalah sekolah. Jika dipikir-pikir, saya lebih merasa tertarik untuk menjadi editor buku.” Aku menjelaskan dengan detail kepada Agnese.
“Sembilan tahun sudah menulis? Wah, itu hebat sekali. Mengapa kamu tidak lagi mengirimkan novel-novelmu kepada penerbit dan mencoba mendaftar menjadi editor di Indonesia?” Agnese mulai memainkan trik-trik tesnya kepadaku.
Aku tersenyum, berusaha bersikap tenang. “Kala itu, banyak koran-koran dan majalah yang menawari saya untuk bekerja sama. Mengirim cerita pendek dengan rutin setiap minggunya. Saat itu saya menduduki bangku terakhir SMP dan akan menghadapi ujian nasional. Jadi, untuk sementara waktu, saya izin untuk tidak mengirimkan cerita pendek. Memasuki SMA, Ibu saya membuka toko kue di depan rumah, yang mana artinya, waktu saya akan tersita banyak untuk membantu Ibu, sedangkan sekolah di Indonesia sangat berat. Tugas dan ujian bertabrakan, membuat waktu saya untuk menulis benar-benar berkurang. Saya mulai memiliki waktu luang untuk menulis pada saat saya memasuki kuliah. Saya kembali mengirimkan cerita-cerita pendek kepada majalah dan koran, dan novel yang masih saya proses. Sayangnya, novel itu belum sempat saya kirim kepada penerbit. Sebagai gantinya, saya diterbangkan ke Roma karena terpilih beasiswa. Di sinilah saya sekarang.”
Agnese terkejut. “Prestasi kamu ternyata luar biasa. Masih muda dan sudah mulai berkarier. Tapi itu justru yang baik. Selagi masih muda, carilah prestasi sebanyak-banyaknya.” Calon atasanku membuka-buka lagi dokumenku. “Seandainya, kamu kami terima, apakah pekerjaan ini tidak akan mengganggu kuliahmu?”
Aku menggeleng. “Non, Signorina Agnese. Justru saya memiliki banyak waktu luang berkuliah di Roma. Yang saya bingungkan, jika masa beasiswa saya di sini habis, tetapi saya masih ingin menjadi editor di sini, apakah ada suatu keringanan?”
“Tentu saja. Jika kamu bisa membuktikan kepada kami bahwa kami tidak salah memilihmu, bisa jadi kami mengirimkan berbagai dana untuk kehidupanmu di Roma.” Agnese tersenyum.
Aku membulatkan mata. Benarkah? Ini luar biasa! Aku bisa menyukseskan diri di sini sebelum aku pulang ke Indonesia.
“Jadi, dengan pengalaman menulis seperti itu, pastinya kamu sudah tahu apa yang sangat dibutuhkan untuk menjadi editor, bukan?”
Aku mengangguk. Siap untuk memberikan jawaban lagi. “Menulis adalah langkah awal untuk menjadi seorang editor. Di mana mereka harus mengerti gaya bahasa yang ditulis oleh si penulis, dan mencari nilai-nilai seni yang terkandung di dalam naskah. Jika seorang editor tidak bisa menulis, bagaimana cara mereka menilai bagus atau tidaknya sebuah naskah? Kita sebagai penulis juga tidak rela jika tulisan kita dinilai oleh orang yang tidak bisa menulis. Menjadi seorang editor juga harus memiliki kesabaran dan ketelitian yang tinggi. Memilah mana yang harus diganti dan mana yang tidak. Jangan sampai salah mengambil langkah, karena hal itu dapat merusak citra rasa dari naskah itu sendiri.”
Agnese termanggut-manggut. “Itu benar. Editor memang harus mengetahui banyak hal. Style penulis, kemampuan berbahasa asing, menguasai bidang-bidang tertentu, sehingga naskah yang dipilih layak untuk disebarkan kepada pembaca.”
Aku tersenyum.
“Satu lagi. Apa yang membuatmu harus kami pertimbangkan?” Agnese tersenyum.
Wah, ini cukup berat. Apa, ya? “Saya orang yang bertanggung-jawab, jujur, serta pekerja keras. Sangat disiplin dan selalu tepat waktu. I’m pretty cool, you’re gonna like me.”
Agnese tertawa. “Baik, sesi wawancaranya cukup untuk hari ini. Terima kasih telah memberikan jawaban yang fantastis. Kami akan segera memprosesnya. Dalam kurun waktu tiga hari, kamu akan mendapatkan kabar dari kami.”
Kami berdua berdiri dari kursi dan saling berjabat tangan. Kemudian Agnese mempersilakanku untuk keluar ruangan.
Aku mendesah. Tadi itu benar-benar menegangkan. Tanganku berulang kali mengeluarkan keringat dingin, dan jantungku memompa cepat. Untung saja pertanyaan tadi tidak terlalu memusingkan. Aku bisa menjawabnya dengan tenang. Kini aku benar-benar berharap bahwa aku bisa tinggal lebih lama di Roma dan pulang ke Tanah Air dengan membawa berbagai kesuksesan.