Hari ini semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Lima dari puluhan naskah telah terpilih untuk memasuki langkah penerbitan. Kami, sebagai juru editor, menghela napas lega. Saling pandang bahagia dan berjabat tangan begitu kami semua berkumpul di ruang rapat bersama Mita, membahas perkembangan naskah-naskah penulis yang masuk.
Proses editing kemudian pencetakan beberapa naskah novel sebelumnya pun sudah selesai. Beberapa hari yang lalu, kami sudah mendistribusikan dua novel dengan berbeda penulis ke seluruh toko buku di penjuru Indonesia.
Setelah semua orang keluar dari ruangan rapat, Mita berjalan mendekati kursi rapatku. Wajahnya berseri-seri seperti biasanya. Sepertinya hari ini akan banyak kejutan membahagiakan.
“Selamat atas masa selesainya seleksi, Vania.” Mita berjabat tangan denganku.
Aku mengangguk tersenyum.
“Berbicara mengenai dua novel yang sudah kita distribusikan ke seluruh toko buku di Indonesia, maukah kamu menemaniku untuk melihat perkembangannya di beberapa tempat di kota ini?” tawar Mita.
“Tentu saja. Walaupun tugas ini sebenarnya bukan domainku, tapi tidak masalah. Aku juga ingin melihat dan mengetahui bagaimana perkembangannya.” Aku mengangguk setuju.
Mita mengacungkan jempolnya. “Baiklah, kita berangkat setengah jam lagi. Kamu bisa kembali ke ruanganmu dan menyelesaikan naskah novelmu. Hahaha…”
Aku menyikut lengan Mita. Melotot tajam ke arahnya. Baiklah, dia memang atasanku, tetapi, terkadang jika sedang bekerja, aku sering menatapnya sebagai sahabatku. Dia juga tidak keberatan.
“Ngomong-ngomong, kenapa, sih, novelmu tidak kamu terbitkan di sini saja? Bukannya peluang diterbitkannya akan jauh lebih besar?” kata Mita. Mengungkit lagi pembahasan yang sudah sempat kami bahas.
“Justru itu.” Kami berdua memasuki lift bersama-sama. Aku menyandar pada dinding lift. “Aku tidak ingin naskahku dipandang sebagai salah satu naskah dari editor di sini. Sehingga proses penyaringannya mudah, atau bahkan langsung pada proses penyetakan. Aku ingin, naskahku benar-benar dipandang sebagai naskah yang bagus dan memang layak untuk diterbitkan,” jelasku.
Mita termanggut-manggut. “Tidak salah aku memilihmu.”
Napasku tercekat. Tubuhku sempat tegang beberapa saat. Mataku melebar. Tidak salah aku memilihmu? Kalimat itu! Haruskah aku mendengarnya lagi?
Pikiranku kembali melayang kejadian beberapa tahun silam di Roma. Sebuah kenangan yang justru ingin aku hapus dari memoriku. Di mana orang ingin selalu mengabadikan kenangan di luar negeri, aku justru ingin melenyapkannya.
“Van? Vaniaaaa?”
Aku tersentak. Mita memandangku dengan tatapan bertanya-tanya. Mengembuskan napas panjang, mataku memandang Mita dengan tatapan bertanya-tanya pula.
“Kamu melamun lagi, Vania? Pasti kamu tidak mendengarkan perkataanku barusan.”
Aku menggeleng pelan. Membuat Mita terdiam dan merapatkan bibirnya hingga membentuk garis lurus. Sepertinya gadis itu tahu bahwa aku teringat kembali akan sebuah kenangan. Semenjak kepulanganku dari Roma, aku menceritakan banyak hal kepada Mita. Gadis itu tahu seluruh kisahku tanpa ada yang tertinggal sedikit pun.
Kami berpisah di depan lift. Mita menuju kantin, sedangkan aku menuju ruanganku. Pikiranku lelah. Semalam, mimpi itu hadir kembali. Sudah berapa kali aku harus menyaksikan lagi kisah yang tak ingin lagi kudengar. Sungguh, aku tidak ingin lagi mengingatnya. Ini hanya akan membuat hatiku semakin remuk.
Aku mengusap wajah dan bersandar di kursi ruanganku. Sebenarnya, apa yang salah denganku? Mengapa setiap kali aku menghindar dan ingin melupakan, kenangan itu justru mengikuti ke mana pun aku pergi? Bagaimana caraku menghadapi untuk melupakan jika rasanya sesakit ini? Apakah melupakan rasanya jauh lebih sakit daripada menghindar?
***
Suara petikan gitar terdengar lembut dari kamar Rio. Saat itu aku hendak makan siang bersama pengurus rumah lainnya. Aku berhenti melangkah dan merapatkan telingaku di pintu kamarnya. Mendengarkan setiap alunan gitar dan suaranya yang terpadu begitu cocok. Melodinya menyentuh dan menusuk hati. Membuat siapa pun yang mendengarkannya merinding.
Beberapa saat kemudian aku baru tersadar. Ternyata aku sudah berdiri di depan pintu kamarnya hingga nada itu berhenti mengalun. Membuyarkan pikiranku yang terbang ke mana-mana. Tanpa perlu berpikir lagi, aku mengetuk pintu kamar Rio.
“Rio?”
“Hm?” Suaranya terdengar serak.
“Boleh masuk?” ucapku meminta izin sebelum pintu ini aku buka.
Terdengar lengang untuk beberapa saat, kemudian dia mengiakan. Pintu kamarnya terbuka. Rio sudah tidak bersama gitarnya, melainkan kembali duduk di meja khususnya dan menggambar. Aku berjalan mendekatinya. Rupanya dia sedang mengerjakan tugas desain dari kampusnya.
“Permainan musik dan suara lo bagus.”
Rio menghentikan aktivitas menggambarnya. Dia mendongak. Menatapku tepat di manik mata. Jantungku kembali memompa sepuluh kali lebih cepat.
“Lo dengar?”
Meski jantungku sedang tidak baik, aku tetap mengangguk kaku. Matanya tidak lagi menatapku, melainkan melanjut lagi aktivitasnya. Aku masih berdiri di sampingnya sembari menatap kertas gambarnya.
“Gimana hubungan lo sama Abry?” Sialan. Pertanyaan apa ini? Aku mengutuki batinku sendiri karena ialah yang memaksaku untuk mengeluarkan pertanyaan lama yang kupendam. Aku takut jika Rio memandangku sebagai gadis aneh. Sudah jelas bahwa setiap harinya Abry selalu bercerita kepadaku tentang perkembangan hubungannya dengan Rio. Lantas, tanpa perlu bertanya pada Rio, aku sudah tahu lebih dulu.
“Baik,” jawabnya.
Aku mengangguk kecil.
“Kalo lo?”
Aku? Apanya?
“Hubungan lo sama pacar lo.” Rio memperjelas pertanyaannya.
Ah, benar. Rio sudah tahu bahwa selama ini aku memiliki pacar. Ini juga merupakan topik yang pernah aku ceritakan panjang lebar dengan Rio. Walaupun sebenarnya dia tidak ingin tahu. Kembali lagi pada niat awalku. Aku ingin membuat si manusia batu bertanduk dua itu berbicara. Jadi, apa pun topiknya, akan tetap aku bahas. Keras kepala sekali aku.
“Um, baik,” jawabku tersenyum.
Rio melirikku melalui celah-celah bulu matanya. “Oh.”
Oh? Hanya “Oh”? Irit sekali dia berbicara. Setidaknya tanya sesuatu lagi, kek. Jangan buat ruangan ini jadi lengang dan canggung tidak jelas. Ya ampun. Aku hampir lupa jika aku harus makan siang.
“Lo mau ikut makan siang di meja makan?” tanyaku. Berharap jika jawabannya adalah iya.
Rio menggeleng. Aku kecewa. Dia bangkit dari kursinya dan mengambil jaket di sampingnya. Kemudian mengambil kontak mobil. “Gue ada janji sama Abry buat makan siang.”
Oh. Dengan Abry, ya? Aku mendesah panjang. Berusaha menutupi kekecewaanku. Rasanya seperti ada yang mengimpit di d**a. Sesak setiap kali mendengar nama Rio-Abry. Dahulu, nama itu masih berupa Abry-Vania. Sekarang menjadi Rio-Abry.
“Gue anter ke meja makan.”
Aku mengangguk dan berjalan di depannya hingga ke meja makan. Seperti biasa, Patty, Pia, dan beberapa pengurus lainnya sudah menunggu. Hari ini, mereka memasak lasagna. Salah satu hidangan pasta yang paling pertama di ciptakan di Italia. Lasagna tradisional dibuat dengan meletakkan lapisan pasta di atas lapisan saus secara berselang-seling. Dibuat dengan riccota atau keju mozzarella, saus tomat, kali ini dengan daging sapi, dengan sayur zucchini.
“Buon pomeriggio, Giovane Maestro e Signorina. Makan siang telah menunggu,” kata Pia tersenyum sopan.
Aku memandang takjub pada hidangan di atas meja. Aromanya benar-benar membuat air liur tak tertahankan. Membayangkan menggingit daging lasagna dan merasakan rasanya yang meledak-ledak di mulut. Sedangkan Rio menatap datar semua hidangan seakan tidak tertarik. Yeah, dia tinggal lebih lama di Italia daripada aku.
“Yakin nggak mau makan siang di sini?” godaku menoleh pada Rio.
Cowok itu terdiam. Lalu menggelengkan kepalanya.
“Gue cabut. Lo makan yang banyak,” kata Rio sebelum melenggang pergi dari hadapanku.
Aku terdiam. Lo makan yang banyak. Lo makan yang banyak. Lo makan yang banyak. Ya Tuhan. Apa benar dia baru saja berkata seperti itu padaku? Seriuskah? Atau aku yang salah dengar? Mengapa efeknya membuat jangtungku berdebar senang?
Pia tersenyum menggoda. Baru kusadari pipiku ternyata sudah bersemu merah.
“Nona menyukai Tuan Muda Rio, eh, Signorina?” ujar Pia saat aku sudah duduk di atas kursi.
Aku menggeleng cepat. “Tidak, Pia. Aku sudah memiliki pacar. Lagipula, dia sudah bersama Abry, sahabatku.” Entah kenapa suaraku serak saat mengucapkan kata sahabatku. Apa mungkin aku sudah tidak menganggap Abry sahabatku? Tidak. Tidak mungkin. Jangan hanya karena seorang laki-laki membuat persahabatan kami hancur. Aku tidak menginginkan itu. Abry begitu baik kepadaku. Dan aku juga harus begitu padanya.
“Memangnya, jika sudah punya pacar tidak bisa menyukai orang lain lagi, eh, Signorina?” tambah Pia menahan tawanya. Patty menyikut lengan Pia, menyuruhnya untuk diam saja.
Perkataan Pia seperti menampar diriku untuk menyadari kenyataan. Aku sendiri tidak tahu apa arti jantungku yang bedegup kencang saat bersama Rio. Perasaan senang setiap kali membuka mata dan memulai hari bersamanya. Perasaan senang setiap kali melihatnya. Semuanya itu apa? Apa ini yang dinamakan… jatuh cinta lagi?