Guncangan pelan terasa di sekitar lenganku. Sontak aku membuka mata dan mendongak. Menatap sekeliling. Masih di ruanganku. Aku menghela napas panjang. Mimpi itu lagi. Selalu hadir ketika mataku terpejam. Ini benar-benar aneh. Jika terus seperti ini aku bisa gila. Haruskah aku mengunjungi psikolog?
“Kamu lelah, Van?” tanya Mita sudah masuk di ruangan kerjaku.
Aku menggeleng pelan. Mengusap wajahku.
“Yakin? Kalau kamu lelah, aku bisa meminta yang lainnya untuk menemaniku.” Mita menatapku khawatir. Ia terus mengusap lenganku.
Aku menggeleng lagi. Lantas berdiri dan bersiap-siap untuk keluar bersama Mita. “Nggak apa-apa,” senyumku.
Awalnya Mita ragu, apalagi saat melihat wajahku sedikit pucat. Namun, karena aku terus berkata aku baik-baik saja, akhirnya dia mengalah. Kami berdua kemudian memasuki mobil Mita. Ia mengendarai mobil menuju Gramedia Expo di Jalan Basuki Rahmat, Surabaya.
Tak berapa lama, kami sampai. Pegawai di sekitar Gramedia menyambut kami. Beruntung, kami bertemu dengan manajer Gramedia. Sedikit bercakap-cakap mengenai penerbit kami. Rupanya, pembaca menyukai semua buku terbitan penerbit kami. Itu sebuah penghargaan untuk kami. Usaha kami untuk memajukan penerbit kami ternyata tidak sia-sia. Memang, naskah yang masuk harus diseleksi secara ketat. Harus memenuhi semua kriteria yang telah kami sepakati.
Kami bertiga melangkah memasuki toko buku. Di jejeran depan, dekat dengan pintu masuk, terpampang jelas buku-buku new arrival, termasuk dua buku kami yang kini total tinggal satu buku tersisa. Hendak aku mengambilnya, seorang gadis remaja telah terlebih dulu mengambilnya. Aku tersenyum puas. Dia adalah pembeli terakhir buku kami hari ini.
“Van, Van! Kita butuh pasokan ketiga untuk Gramedia ini. Gila! Ini hari ketiga penjualan, dan dalam satu hari kita terus mengirimkan pasokan baru.” Mita berbisik senang di telingaku. Dia melingkari lengannya di lenganku.
“Iya, Mit. Sukses besar!” Aku ikut tersenyum bahagia. Mataku melihat sekeliling, berusaha mencari buku karyaku. Sayangnya… tidak ada? Atau sudah dipindahkan ke gudang?
“Mbak, buku-buku karya Vania Sesya, kok, nggak ada? Sudah ditaruh di gudang, ya?” tanyaku kepada salah satu karyawannya. Ditemani Mita. Ia mengikuti ke mana aku pergi.
“Vania Sesya? Belum digudangkan, kok, Mbak. Buku-bukunya, kan, baru sampai,” kata karyawan cantik tersebut. Ia tidak mengetahui bahwa aku adalah penulisnya. Termasuk manajer yang sedang berdiri di dekat meja kasir sambil mengusap-usap dagunya. Wajahnya bahagia melihat toko bukunya penuh pengunjung.
“Buku karya Vania Sesya berada di satu rak ini, Mbak,” tunjuk karyawan tersebut kepada satu rak khusus buku-bukuku. Bahkan raknya saja terpampang besar namaku.
VANIA SESYA.
Tetapi… mengapa rak ini kosong?
“Lah, kok, kosong, Mbak?” Aku terkejut.
Karyawan tersebut menggaruk tengkuknya. Kemudian berjalan ke arah monitor di sekitar situ. Mengecek bagaimana kabar buku-bukuku.
“Ah, ternyata sudah sold out semua, Mbak. Baru saja, sepuluh menit yang lalu.” Karyawan tersebut tampak bersalah. “Kalau mau pesan, Mbaknya bisa beri nomor telepon ke saya. Nanti kalau bukunya sudah datang lagi, Mbak saya hubungi.”
Mita tertawa kecil. Aku justru melongo. Tak henti-hentinya aku mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan. Tak kusangka pembaca begitu menyukai buku karyaku. Ini di luar ekspektasi!
“Nggak usah, deh, Mbak. Kapan-kapan saya kemari lagi,” jawabku.
Mita berkata pelan kepada karyawan ramah tersebut. “Dia penulisnya, Mbak. Nggak minta tanda tangan?”
Mata karyawan tersebut berbinar seketika. Ia melihatku tak percaya. Senyuman lebar terpampang lebar di wajahnya.
“Mbak ini Vania Sesya?” tanyanya sekali lagi. Masih merasa penasaran.
Aku mengangguk kecil sambil tersenyum.
“Mbak, tunggu sini sebentar, ya. Ya Allah… saya penggemar berat buku-buku, Mbak. Sebentar, Mbak, saya mau ambil buku-buku saya dulu.” Karyawan itu seketika heboh sendiri melihatku. Aku menyikut lengan Mita begitu karyawan itu melenggang pergi sejenak.
“Apaan, deh, Mit?”
“Apanya?”
“Kenapa kamu kasih tahu? Kan, niat kita ke sini untuk melihat perkembangan buku penerbit kita.”
Mita terkekeh melihatku protes. Bukan protes, sih, hanya saja aku terlalu senang.
“Suka-suka aku,” jawab Mita enteng.
Karyawan itu kembali dengan membawa lima bukuku. Aku melongo. Yang benar saja.
“Ini, Mbak Vania. Bisa tolong ditanda-tangani?” pintanya penuh harap.
“Iya, Mbak.” Aku menanda-tangani semua buku-buku tersebut. Tak lupa, memberi kesempatan untuknya foto bersamaku.
“Makasih banyak, Mbak. Akhirnya dapat kesempatan juga. Saya kira Mbak Vania pergi lagi ke Italia. Saya dengar desas-desusnya,” kata karyawan tersebut.
Aku terkejut dalam diam. Mita spontan menatapku. Tubuhku mendadak tegang. Tenggorokanku terasa kering. Napasku tercekat. Ya Tuhan, mengapa aku harus mendengar nama itu lagi? Tidak cukupkah aku setiap harinya dipermainkan oleh bayangan-bayangan itu?
“Nggak, kok, Mbak. Sudah, ya, kami mau melihat-lihat yang lainnya.” Mita tersenyum kepada karyawan itu dan menarikku menjauh.
Aku masih terdiam. Sedangkan Mita berusaha menenangkanku. Ia paham betul saat ini mood-ku hancur berantakan. Hanya perkara satu nama saja membuat tubuhku menegang. Pikiranku berkelebat.
“Lo nggak apa-apa?” Mita mengusap pundakku.
Aku menggeleng lemah. Kami tengah berdiri di dekat buku-buku Tere Liye. Mita masih menungguku berkata sesuatu. Bibirku terkunci rapat. Tidak ada satu kata pun bersedia keluar. Masih sibuk memutar-mutar di kepala. Menolak berbagai kenangan agar tidak kembali terbayangkan.
“Van, dia beli buku lo. Tuh, lihat. Sepertinya dia pembeli buku lo yang terakhir hari ini.” Mita menyenggol lenganku untuk melihat seseorang di depanku. “Lo harus berterima kasih sama dia, Van. Hahaha…”
Aku mendongak. Menatap ke mana tatapan mata Mita. Alangkah kagetnya diriku saat melihat seorang laki-laki berdiri tak jauh di depanku. Dia sedang meneliti setiap judul buku Tere Liye di ujung sana. Di tangannya, terdapat salah satu bukuku. Segera saja aku menarik tangan Mita untuk pergi sejauh mungkin. Kalau bisa ke ujung lautan.
“Loh, loh, Van? Kok…?”
Aku tak segera menjawab pertanyaan bingung dari Mita. Yang kami lakukan sekarang adalah berjalan cepat memasuki mobil. Di dalam mobil, kami berdua terdiam. Aku sibuk menetralkan degup jantungku. Itu semua layaknya sebuah mimpi. Kedua telapak tanganku basah akan keringat dingin. Aku masih menatap kaca depan mobil tanpa ada niatan bercerita pada Mita. Aku hanya ingin segera pergi dari sini.
“Van… lo nggak apa-apa?” tanya Mita setelah lengang beberapa menit.
“Ayo kita pergi dari sini, Mit. Please. Bawa gue ke mana saja, asalkan jangan ke tempat ini lagi. Ayo, Mit!” desakku saat melihat dia juga berada di area parkir. Mita masih belum menyadari karena dia sendiri tidak tahu wajahnya.
Mobil kami segera melaju cepat, meninggalkan dia di belakang. Aku menutup kedua wajahku dengan telapak tangan. Air mataku mengucur deras. Aku sudah tidak tahan lagi. Semua bayangan ini membuatku mati perlahan. Seolah takdir sedang mempermainkanku dengan memaksaku untuk merasakan tiap sayatan di hati. Sampai kapan?
***
“Topi lo ke mana?” tanya Mita.
“Topi apa?” Aku kebingungan sambil berjalan masuk ke gerbang sekolah.
“Hari ini kan upacara. Lupa lo?”
Aku semakin bingung saja dibuatnya. “Bukannya ini Senin genap ya? Kita upacara kan setiap Senin ganjil.”
Mendengar itu Mita langsung menoyor kepalaku. “Ini Senin ganjil, Vaniaaa! Hari ini jadwal kita upacara. Lo bisa disuruh lari keliling lapangan sepuluh kali kalau nggak pake atribut lengkap.”
Aku langsung panik dan mencengkeram lengan Mita kuat-kuat. “Sial, gue lupa! Gimana, dooong?”
“Lo, sih, jadi cewek pikun amat. Gue nggak punya topi cadangan,” balas Mita. “Ya udah, terima aja hukumannya.”
“Kok lo tega amat?” Aku melemaskan kedua pundakku dan hampir menangis.
Dasar ceroboh! Kenapa bisa-bisanya aku lupa jadwal upacara? Tak bisa kubayangkan betapa menakutkannya wajah Pak Edi—guru tata tertib kami yang terkenal killer sekali—saat tak segan-segan mempermalukan muridnya di depan murid-murid lainnya. Aku tak sanggup menahan malu untuk berdiri di depan tiang bendera dan ditatap seluruh peserta upacara lantaran lupa memakai topi.
Jantungku berdegup kencang dan keringat dingin sudah membahasi telapak tanganku. Rasanya aku ingin lari dan pulang ke rumah, menangis sesenggukkan di pangkuan ibu. Tapi beliau pasti akan kecewa padaku jika aku membolos sekolah dan tak menerima konsekuensi dari kesalahanku sendiri.
Melihat ibu sedih dan kecewa padaku adalah hal yang paling kuhindari.
Jadi ... aku harus bagaimana? Melangkah masuk dan siap dipermalukan oleh Pak Edi?
Aku menarik napas panjang dan mencoba untuk menerima konsekuensinya. Sudah kuputuskan bahwa aku harus siap berdiri di depan tiang bendera selama upacara berlangsung dan setelahnya harus lari keliling lapangan sepuluh kali.
Oke, semangat, Vania!
Tiba-tiba saja, seseorang mencantolkan topi upacaranya ke kepalaku. Aku terkejut dan menoleh ke belakang.
“Erza?”
Dia menatapku dingin. “Lain kali jangan ceroboh.” Kemudian dia berjalan masuk, meninggalkanku sendiri yang terbengong-bengong.
“What ... was that?” Mita menarik tubuhku mendekat padanya. “Erza, si wakil ketua OSIS, rela dapet hukuman demi lo?”
Aku masih terpaku di tempat.
“Erza, Van, Erza! Cowok paling pinter dan keren di sekolah kita!” Mita mengguncang-guncangkan tubuhku. “Ada hubungan apa lo sama dia?”
“Gue nggak kenal dia ... maksud gue ... gue nggak pernah ngobrol sama dia. Cuma liat dari jauh aja,” ucapku lirih. “Ini beneran topinya gue pake? Dia kena hukuman, dong? Dia kan waketos, apa nggak bikin heboh nanti?”
Sial, aku mulai khawatir lagi.
“Ih, beruntung banget lo bisa dapet perhatian dari Erza!”
Bukannya menjawab pertanyaanku, dia justru heboh sendiri. Dasar Mita!
Tak sempat kurespons lagi, bel sekolah berbunyi dan upacara akan segera dimulai.
Dari barisanku, aku mampu melihat Erza berdiri di depan tiang bendera di bawah teriknya matahari. Tak hanya itu, Pak Edi yang kebetulan mendapat kesempatan untuk menjadi pembina upacara hari ini pun tak ketinggalan untuk mengkritik kedisiplinan wakil ketua OSIS habis-habisan.
Melihat itu, aku merasa sangat bersalah dan berhutang budi padanya. Gara-gara keteledoranku, Erza jadi kena imbasnya.
Jadi, usai upacara aku langsung menghampiri Erza yang sedang bersiap-siap lari keliling lapangan sepuluh kali. Wajahnya memerah akibat terkena panasnya matahari.
Aku menyodorkan sebuah botol air mineral dingin padanya. Ia mendongak, menatapku datar. “Kenapa?”
“Buat lo,” kataku pelan. “Maaf ... karena gue lo jadi kena hukuman.”
Dia menerima botol pemberianku. “Makasih. Nama lo siapa?”
“Vania. Gue Vania, dari kelas 11 IPA 3.”
Erza mengangguk. “Oke.” Lalu dia mulai berlari keliling lapangan tanpa memerdulikanku lagi.