“Kakak, aku ingin bertemu dengan Steve.”
Suara Al terdengar datar. Lagi-lagi anak manis itu menolak makan, saat sadar anak tersayangnya tidak ada di sampingnya. Brit berbohong dengan mengatakan bahwa Nave harus ke kantor karena pekerjaannya yang menumpuk. Lussac belum berhasil melacak keberadaan Nave. Ponselnya ditemukan didalam mobilnya yang kosong di pinggir jalan, menguatkan dugaan Brit bahwa sesuatu terjadi pada keponakannya itu. Semua keluarga bergerak untuk mencari Nave sekarang. Secara diam-diam tentunya, tidak ada yang mau Al sadar dan memperburuk kondisinya yang sekarang.
Setiap orang bergantian untuk merawatnya, dan hari ini adalah giliran Brit.
“Okay. Sista akan mengantarmu ya?”
Al tidak membalas apa pun. Hanya menatap kosong saat Brit dengan perlahan memindahkannya ke kursi roda.
Sebenarnya wanita itu merasa ada yang aneh dengan Al semenjak dia mengamuk waktu itu. Anak itu terlihat kosong, tidak menanyakan keberadaan Nave satu kali pun semenjak Brit terakhir kali berbohong. Brit selalu berpikir Al masih berkabung melihat keadaan suaminya. Pasti begitu.
“Aku ingin berdua dengan Steve,” ucap Al pelan. Tentu saja Brit menggeleng tidak setuju, namun teriakan Al menghentikan segalanya.
“TINGGALKAN AKU KAKAK! AKU HANYA INGIN BERDUA DENGAN STEVE!”
Brit pikir Al hanya frustasi saat ini. Jadi dengan berat hati Brit hanya berdiam didepan pintu dan membiarkan Al masuk sendiri. Pintu keluar hanya satu, tidak ada yang mungkin terjadi kan?
Tapi, whoa. Brit terlampau lupa bahwa ini adalah rumah sakit properti milik keluarga Tritas. Yang mendesainnya adalah Ryan sendiri, dan Al sering melihat blue printnya saat kecil dulu.
Al tahu ada jalan rahasia di ruang ICU tempat Steve berada kini. Menuju ke parkiran langsung yang dibuat untuk berjaga-jaga jika ada suatu hal yang mendesak terjadi pada keluarganya. Al memastikan terlebih dahulu tidak ada yang melihatnya, sebelum menekan pintu rahasia dan menyelinap begitu saja. Al tidak lagi menggunakan kursi roda, walaupun kakinya masih bergetar hebat untuk saat ini.
“Nave anakmu akan kucingcang jika kamu tidak datang pada diriku sayang... Malaikat pelindungmu hanyalah permulaan, kamu tahu benar aku bisa berbuat lebih untuk menghukum pendosa sepertimu. Taman kota jam 11, atau tubuhnya akan kuhancurkan sampai tidak tersisa.”
Ucapan Fian yang waktu itu terdengar dari telepon terngiang dengan jelas di telinga Al. Lagi, monster itu berusaha mengancamnya lagi menggunakan Nave. Dan Al tidak punya pilihan selain mengulang kesalahan yang sama. Tubuhnya bergetar hebat, tahu benar apa yang akan terjadi jika dia kembali bertemu dengan orang itu.
Air mata turun semakin deras saat Al telah berada di parkiran mobil gedung rumah sakit itu. Ada satu mobil mewah yang terpajang disana, mobil yang disediakan Ryan untuk dipakai keluarganya disaat-saat tertentu. Mobil itu menggunakan sistem sidik jari, sehingga Al tidak perlu repot-repot mencuri kunci.
“Jalankan ke taman kota.”
Suara bergetar Al terbaca di sistem autopilot mobil. Tangan Al sibuk mengelap air matanya, sesekali ingusnya layaknya anak kecil. Tidak dapat dipungkiri bahwa tangan Al bergetar hebat saat ini. Tapi, setakut dan selemah apa pun dia, Al tidak akan mau keluarganya berada dalam masalah karena masalahnya. Ini dosa yang harus dia tanggung sendiri, bukan salah siapa pun apalagi anaknya Nave.
Mobil terhenti. Tangisnya semakin menjadi ketik melihat pria hitam bertopi yang tersenyum, ah tidak. Lebih tepatnya menyeringai begitu mobil mewah Al berhenti di taman kota. Si pria tersebut dengan seenaknya menarik Al keluar, tidak ada yang sadar karena pusat kota sedang ramai oleh festival. Pria tersebut mendorong Al masuk kedalam mobil tanpa plat, menguncinya lalu membuka topinya saat mobil mulai melaju.
Wajah yang dulu putih bersih dan tampan kini penuh dengan bekas luka. Salah satu matanya bergerak dengan kaku, mata buatan yang menatap tajam kearah Al yang nafasnya seakan terhenti saat itu juga. Bibir itu menyeringai, menarik rambut Al kasar agar mendongkak kearahnya.
“Kita bertemu lagi, Alku sayang………” bisiknya senang sambil tersenyum.
*****
“Ughhh.”
Samar-samar Nave mendengar suara orang dan bunyi yang sangat berisik di sekitarnya. Ruangan itu gelap, hal pertama yang ditangkap Nave begitu mata biru terangnya terbuka dengan sempurna.
Nave tebak, setidaknya dia berada di tempat penyimpanan barang kini. Orang-orang sibuk mengangkuti barang-barang sementara dirinya terbaring lemah di salah satu pojok ruangan. Seingatnya, terakhir kali anak itu sadar adalah ketika dia tengah berkendara menuju Masion Tritas bersama dengan Keva, kepala pelayan di rumahnya. Keva tiba-tiba berhenti di tengah jalan dan.....
Holy s**t. Sejak kapan kepala pelayan itu berkhianat padanya?
Nave segera bangkit berdiri. Darah Alpha dominannya mendorong obat bius itu untuk menghilangkan efeknya lebih cepat. Orang-orang memandangnya bingung, namun terlalu takut untuk bertanya melihat mata biru terang itu memancarkan kemarahan.
Untung kapal besar itu belum berangkat. Keva sepertinya tidak tahu bahwa diam-diam Nave dilatih oleh bibinya untuk lebih tahan terhadap beberapa obat bius bahkan racun. Obat dosis tinggi itu hanya akan menidurkannya sebentar, walaupun pada waktu seperti ini efeknya akan sangat fatal menurut Nave. Nave takut terjadi sesuatu pada papanya selama dia pergi.
Nave turun dari kapal itu dengan cepat, mengerutkan keningnya saat sadar bahwa ia tidak mengenal tanah yang dipijakinya sekarang.
Nave berjalan cepat ke salah satu pedagang di sana. Semoga saja perkiraannya salah. Pasti salah, yakinnya terus-menerus.
“Ada di mana aku sekarang?” tanya Nave cepat pada seorang pedagang yang berjualan di dekatnya. Pedagang itu nampak ragu sejenak, membuat perasaan Nave semakin buruk saja.
“Where am I now?” tanya Nave menggunakan bahasa Internasional. Para pedagang disekitar pelabuhan biasanya paham bahasa ini, dan benar saja. Si pedagang itu melotot seakan mendapat pencerahan lalu menjawab.
“You're in North, Sir.”
North. Utara. Sebenarnya berapa lama ia ada di kapal tersebut? Jangan bilang dosis sebenarnya yang dipakai......
Sial! Nave kembali naik ke kapal tersebut dan benar saja, menemukan Keva yang tampak panik tengah mencarinya kini.
Bugh
“INIKAH CARAMU MEMBALAS KEBAIKAN KELUARGAKU KEVA!” bentak Nave frustasi. Dari luar dia mungkin tampak seperti lelaki berusia enam belas tahun, namun sebagai Alpha yang hebat, kekuatannya jauh diatas Keva yang telah mendapat pengalaman bertahun-tahun sekalipun.
Nave ingin memukul laki-laki itu lagi, namun urung merasa ada yang aneh di sana. Keva, tidak melawan pukulannya sedikit pun. Dan seorang wanita dan anak kecil yang menangis mencoba menolong Keva bangkit dari jatuhnya kini.
Mata Nave perlahan kembali, amarahnya mulai mereda. Nave ingat mereka, itu keluarga kecil Keva.
“Tu-tuan Muda, tolong dengarkan penjelasan Saya terlebih dahulu.”
Bahkan di tengah ringgisannya, Keva masih berusaha untuk sopan pada Si Tuan Muda. Nave melunak melihat keluarga itu, walaupun hawa dingin masih sangat terasa di sekitarnya.
“Bicara,” singkat Nave. Keva membawanya turun dari kapal, mengajak Nave untuk duduk di salah satu bangku di sekitar dermaga.
“Sejak setahun yang lalu, seorang Alpha menahan istri dan anakku sebagai jaminan agar aku mengkhianati keluarga Lebora. Mereka memintaku untuk..... Untuk menculik da-dan membunuh Tuan Muda Nave saat waktunya tiba. Saya tidak tega, jadi Saya memutuskan untuk membius Tuan Muda dan membawa Tuan Muda ke negara lain untuk menghindari kecurigaan mereka. Maafkan saya Tuan Muda Nave. Tuan boleh siksa atau bunuh Saya dengan kejam setelah ini. Tapi tolong jangan lukai istri dan anak Saya. Mereka sudah cukup tersiksa selama setahun ini disekap oleh mereka.”
Suara Keva terdengar bergetar. Saat ini pelayan itu tengah berlutut di kaki Nave dengan sungguh-sungguh, tidak peduli mereka sedang di tempat umum sekalipun.
Nave juga tidak menemukan jejak kebohongan dalam ucapan itu. Perlahan meminta Keva bangkit dari sujudnya. Nave belum sekejam itu untuk menghukum orang tidak bersalah. Keva juga dapat dikategorikan sebagai korban mereka di sini.
“Bangunlah, Dad memiliki rumah di negara ini. Kita akan kesana terlebih dahulu. Kamu akan menetap sementara di sana sampai masalah ini selesai. Kalian akan aman di sana,” jelas Nave singkat. Keva mengangguk penuh syukur, walaupun tidak ayal hatinya merasa sedih telah mengkhianati keluarga Alpha yang begitu dia hormati itu.
Nave memimpin jalan saat mereka sampai di masion besar Lebora di Utara. Matanya memancarkan aura membunuh yang sangat terlihat, membuat para pelayan disana hanya mampu menunduk dan berkeringat dingin dibuatnya. Nave memiliki aura yang lebih seram daripada Steve, itu benar sekali.
“Siapkan jet pribadi untuk perjalanan kembaliku ke rumah utama. Aku akan pulang saat ini juga,” tegas Nave yang segera ditaati oleh kepala pelayan di sana. Anak itu tergesa-gesa dalam memasuki jet yang telah hidup, tidak sabar untuk melihat keadaan keluarganya.
Bajingan itu, tidak akan kumaafkan jika berani menyentuh keluargaku. Tekad Nave dengan sungguh-sungguh.
To be continued