Kau Bermain Dengan Api

1277 Words
Nave berjalan dengan tergesa-gesa menuju rumah sakit tempat papa dan dadnya tinggal, hanya untuk melihat keributan besar yang terjadi di sana. “Nave! Ke mana saja kamu selama ini!” Brit yang pertama menyadari keberadaan Nave segera berlari untuk memeluk keponakannya yang masih dilanda kebingungan. Nave tahu satu fakta lain saat ini, dadnya sudah sadar namun terlihat berusah payah ditahan oleh beberapa bodyguardnya agar tidak bangkit dahulu dari tempat tidur. Mata Nave menyusuri satu per satu keluarganya yang ada di sana. Namun aneh, saat tidak menemukan sang papa tercinta. “Bibi, di mana Papaku?” tanya Nave datar. Lagi-lagi tidak ada yang menjawab, merupakan sinyal yang benar-benar bahaya baginya. “Bibi di mana Papaku?!” Kali ini ia bertanya dengan sedikit tidak sabaran, berbarengan dengan Steve yang berhasil keluar dari kamar rawatnya. “b******n itu berhasil menjebak kita. Alku bersamanya sekarang, lagi, karena ketidakmampuanku. Jadi kalian semua sekarang sebaiknya jangan menghalangi jalanku atau aku akan menghancurkan kalian semua!” bentakan Steve diakhir kalimat menghentikan para bodyguard yang berusaha untuk membawanya kembali masuk. Mata Steve berkilat terang seperti mata Nave, perpaduan duo ayah dan anak yang sedang kehilangan pegangan mereka. “Jangan ada yang menghentikanku. Atau jangan salahkan aku karena bertindak kejam pada kalian,” ancam Nave yang membuka mulut pada akhirnya. ***** “Lihatlah wajahnya Fian..... Kamu menakutinya! Ouwh kelinci yang malang..... Kamu ketakutan ya?” ejek Mark sambil sedikit mencolek dagu Al yang memeluk lututnya sendiri. Tangisnya bahkan belum reda sedari tadi, namun kembali membesar saking takutnya dia bersama kedua penculiknya ini. Plak “JANGAN MENANGIS AL! AKU BENCI MENDENGAR TANGISAN BUAYAMU ITU!” bentak Fian tiba-tiba sambil menampar Al sekali. Tidak ada lagi jejak kelembutan di matanya, hanya ada keberingasan yang semua tertuju pada Al seorang. Pipi itu berubah warna menjadi merah terang, namun Al malah semakin takut untuk menatap lurus walaupun terlihat jelas bahwa dia berusaha menahan tangisannya kini. Fian tersenyum senang, mengapit dagu Al agar memandang lurus ke arahnya dengan benar. “PANDANG AKU DENGAN BENAR AL!” bentak Fian sekali lagi saat Al berusaha menghindari kontak mata dengannya. Dengan rasa takut yang menyelimuti, Al berusaha mendongkak walaupun tubuhnya berubah semakin lemas saking takutnya. “Kamu melukai perasaanku Al. Kamu memberiku harapan yang begitu besar namun menghempaskanku begitu saja pada akhirnya. Kamu melukai mentalku, kamu mengambil segalanya dariku saat aku bersedia memberikan segalanya untukmu. Aku bahkan tidak berani melukai anak sialan itu dan berharap agar aku bisa menjadi ayah yang baik menggantikan si sialan itu. Aku merawatmu, menyayangimu dengan sepenuh hati namun apa balasanmu?” Fian memandang Al dengan nanar. Suaranya terdengar menyedihkan di akhir kalimat. “Akh!” “BALASANNYA KAMU MEMBUNUH PUTRAKU YANG HIDUP DALAM KANDUNGANMU SIALAN! KELUARGAMU MENYERAHKANKU PADA b******n-b******n GILA UNTUK DIPERKOSA SETIAP HARINYA. MEMBERIKU RACUN AGAR AKU CEPAT MATI DAN LIHAT WAJAHKU AL! AKU BURUK RUPA SEKARANG!” Fian menghempaskan tubuh Al kasar, sangat kasar sampai kepala Al terbentur oleh sesuatu. “Tidak bisakah keluargamu menerimaku sebagai menantu yang cocok untukmu? Aku mencintaimu Al, aku akan menjagamu lebih dari nyawaku sendiri. Apa kurangnya aku dari si sialan itu huh? TIDAK ADA AL! TIDAK ADA! JIKA MARK TIDAK MENYELAMATKANKU WAKTU ITU AKU MUNGKIN SUDAH MATI DISIKSA KELUARGAMU AL!” Mark memeluk Fian dari belakang, menepuk pundak Al yang semakin kesulitan bernafas lalu mencium bau Al c***l. “Sshhh..... Tenang Sayang. Dia bisa mati kehabisan nafas jika tetap ketakutan begini. Kau ingin balas dendam kan? Lakukanlah secara perlahan Sayang, aku akan menjadi penonton setiamu.” Fian tersenyum jahat, mencoba menenangkan nafasnya yang masih terengah lalu memandang Al dalam. “Kamu akan menyukai ini Al.” Al menggeleng kuat, menjerit keras saat wajah Fian semakin dekat dengan lehernya. Terus mendekat, semakin dekat sampai Al dapat merasakan rasa perih sekaligus panas pada tekuknya. Dia telah ditandai ulang, oleh Alpha yang menjadi awal dari mimpi buruknya. Tubuhnya perlahan memanas, reaksi normal seorang Omega jika baru saja ditandai ulang. Al heat, dan baik Mark maupun Fian malah menjauh dan tertawa begitu bengis melihat Al menangis sambil menggeliat kesusahan di lantai. “Aku akan membuatmu menggila sampai kehilangan akalmu Al, sama sepertiku sekarang. Sampai kau akan tahu apa yang disebut dengan sakitnya dikhianati,” ujar Fian sambil tersenyum puas. ***** “Akh!” Steve memegang dadanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Jatungnya berdetak cepat, dan keringat dingin membasahi keningnya. “Ada apa Dad?” tanya Nave khawatir. Mereka tengah berbicara dengan kepala kepolisian saat Steve tiba-tiba saja berlutut sambil memegangi dadanya. Mata Steve terlihat kosong, dan perlahan air mata mulai menetes untuk pertama kalinya dengan disaksikan oleh banyak orang. Tangan Steve bergetar keras, membuat Nave menjadi jauh lebih khawatir lagi. “Nave....” Suara Steve hampir tidak terdengar. Kepalanya tertunduk lemah, jauh sekali dengan imagenya sebagai seorang Alpha elit. “Seseorang telah memutuskan ikatan antara aku dan papamu,” lirih Steve kosong. “ARRGGHHH!” Untuk pertama kalinya dalam hidup, Steve berubah sangat murka sampai bernafas pun rsanya sulit untuk saat ini. Kepala polisi yang tengah berbicara dengannya melangkah mundur. Feromone Steve menyebar ke mana-mana, cukup kuat untuk membuat semua orang yang berada didekatnya mengalami kesulitan bernafas. Steve memukul lantai sampai lengannya berdarah, terus dan terus sambil meraung layaknya anak kecil. Nave pun tidak jauh berbeda. Anak berwajah datar itu terjatuh ke lantai dan menjadi patung sesaat setelah mendengar pengakuan dadnya. Air matanya perlahan keluar, namun berusaha dia hapus dengan tergesa-gesa. Nave tidak cukup bodoh untuk tidak mengerti apa arti perkataan dadnya. Jika ikatan mate terputus, maka hanya ada satu jawaban untuk pertanyaan itu. Papanya telah ditandai ulang oleh orang lain. Oleh Alpha lain selain Dadnya. Nave merasa tidak berguna sekarang. Untuk apa semua kerja kerasnya hah? Apa hanya untuk berpura-pura kuat sementara untuk melidungi papanya saja Nave tidak bisa? Apa ini hanya untuk kesenangan sebentar? Nave melihat Steve yang bertulut sebari menangis dengan keras. Pencarian akan lebih sulit jika ikatan mereka telah hilang. Mereka tanpa arah sekarang, tanpa kabar atau petunjuk sedikipun dari Al. Brit, Ryan, Lylo dan Rod yang menunggu di luar segera merangsek masuk saat menemukan keadaan hancur ini. Steve membanting barang apa pun yang ada di ruangannya, sementara kepala polisi itu telah Brit minta keluar untuk sementara. “SUDAH CUKUP STEVE! KAU PIKIR INI BISA MENYELESAIKAN MASALAH HAH?!” bentak Rod kasar. Steve menghempaskan tangan Rod dengan berani. Menatap mereka semua dengan tatapan yang nyalang. “INI SEMUA SALAH KALIAN! KENAPA KALIAN TIDAK BECUS DALAM MENJAGA AL HAH?! KENAPA KEJADIAN INI BISA TERULANG LAGI?!” PLAK “KAMU PIKIR KAMI MAU INI SEMUA TERJADI?! TENANGKAN DULU KEPALAMU ANAK BODOH!” Rod menampar pipi Steve dengan emosi, membuat anak itu perlahan menangis kembali seperti anak kecil. July masuk ke dalam, berwajah bengkak karena terlalu lama menangis sebelumnya. Dia semakin sedih melihat anaknya yang selalu kuat sekarang juga ikut menangis. Nave menangis ditutupi oleh Brit, sementara Ryan mengusap wajahnya kasar dengan mata berkaca-kaca. Semua kebahagiaan mereka hancur, lagi dan lagi. Steve memeluk July erat, menangis sejadi-jadinya di pelukan ibunya itu. “Aku gagal melindungi Al lagi, dan bahkan kali ini lebih buruk Mom. Bagaimana jika b******n itu menyakiti Al? Dia menandainya Mom. Al menjadi matenya sekarang. Mom tahu reaksi macam apa yang akan terjadi pada tubuhnya bukan?” July menepuk punggung anaknya lembut. Ditandai ulang merupakan mimpi terburuk bagi seorang Omega. Mereka akan bertindak seperti hewan yang haus akan sentuhan, terus sampai nafsunya diredakan oleh Alpha baru yang mengigitnya. July mengigit bibirnya gelisah. Bagaimana jika Gena mendengar kabar ini? Dia bisa kehilangan akalnya jika begini. “Kita akan menemukan Al, Steve. Percayalah pada Tuhan yang mempertemukan kalian bersama. Kami pasti akan mencari jalan, kami akan mengeluarkan semua kemampuan kami untuk membunuh b******n itu. Percayalah pada kami sekali lagi Steve,” ujar July berusaha menenangkan. To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD