Gelap

1303 Words
Berapa lama Al sudah berada di sini? Seminggu? Sebulan? Setahun? Al tidak lagi bisa menghitungnya. Tubuhnya tergeletak layaknya boneka usang di sudut kamar, menatap kosong pasangan yang tengah melakukan hubungan intim di depannya ketika dia merasa setiap hembusan nafasnya seperti hembusan nafas terakhirnya. Ranjang yang mereka tempati berderit dengan keras. Fian terikat di tempat tidur, ditunggangi oleh Mark yang membabi buta dari belakang. Wajah Fian tidak menampilkan raut kesakitan sedikit pun. Tidak, Fian malah terlihat begitu menikmatinya. Alpha itu mendesah keras, sengaja memprovokasi Al yang tidak bergerak sedikitpun walau matanya terbuka lebar. Pandangan Fian mengarah pada Al yang masih diam di pojok ruangan. Tidak bergerak, benar-benar bersikap seperti boneka. Tubuhnya kurus kering, penuh bekas luka cambukan dan luka penyiksaan lainnya sementara bagian lehernya memerah seperti luka bakar. Al selalu kesakitan saat Fian berhubungan intim dengan pria lain. Sangat sakit sampai Al tidak bisa lagi bersuara sekarang. Jiwanya seperti telah terlepas dari tubuhnya sekarang. Al hanya bergerak jika Fian memerintahkannya, persis seperti boneka. “Baby Al, ke sini Sayang,” panggil Fian lembut. Al yang tidak pernah lagi memakai pakaian sekarang, segera menghapiri Fian dengan tatapan kosong. “Kamu ingin makan Baby? Kamu pasti lapar kan? Si b******k Mark itu hanya memuaskan dirinya saja. Aku belum puas Al,” ujar Fian pura-pura merajuk. Tangannya digunakan untuk menopang dagu Al, meneliti wajah Al yang masih terlihat baik bahkan setelah disiksa sekali pun. Fian tidak menyentuh mukanya. Al cantik, tidak cukup hati baginya dan Mark untuk menghancurkan mahakarya seperti yang tersaji didepan mereka. Apalagi, Al sangat penurut sekarang. “Hei Bicth, tapi kamu suka permainanku kan?” ejek Mark sambil menekan bagian tubuh Fian yang belum terpuaskan. Bibirnya tersenyum jahil, sementara Fian malah memutar bola matanya bosan. “Ya, ya. Aku pecandu seks sekarang. Kamu puas? Nah sekarang Al, makan makananmu ya?” Al memandang s**********n Fian lemah. Lalu menggumamkan kata-kata dari mulut kecilnya lirih. “Ma.....kan.” Fian tersenyum saat Al mulai mengulum penisnya perlahan. Rasanya selalu enak jika Al yang melakukannya. Setelah sedikit 'latihan', Al memang hebat dalam hal ini. Apa Steve tidak pernah mengajarinya setelah enam belas tahun menikah? Senaif apa pria itu sebenarnya? “Akh, pelan-pelan sialan,” desis Fian saat Al melakukannya secara tergesa-gesa. Al tidak merespon hinaan itu sedikit pun. Dia asik dengan urusannya sendiri seakan semuanya tidak lagi masalah. “Kamu semakin jalang ya Al? Sama persis seperti Alphamu, Aku.” Fian berucap dengan bangga, sesekali menjenggut rambut Al untuk menyalurkan rasa nikmat. “Ya, kau memang lebih cantik begini Al. Submissif sekali,” puji Fian senang. Al masih diam, syaraf otaknya mati seperti dipaksa mati semakin lama Al berada di tempat ini. Al hanya merespon pada kesenangan yang diajarkan Fian saja sekarang. Otaknya mati. Al bahkan tidak lagi bisa mengenal siapa dia sebenarnya. ***** “Apa Nave baik-baik saja Steve? Kami sudah memeriksa seluruh tempat di distrik barat. Tidak ada tanda-tanda b******n itu di sini.” Steve diam, hanya melirik anaknya yang tengah berbicara dengan beberapa preman sekarang. Anak itu sungguh terlihat dewasa, mirip sekali dengan Steve. Hanya saja, hidung dan kulitnya itu Al sekali. Menciptakan perpaduan yang membuat Nave begitu sedap untuk dilihat. Steve bahkan tidak repot-repot bicara saat mematikan telepon. Semua orang mulai terbiasa sekarang. Duo ayah dan anak itu memang seperti memiliki dunia sendiri sekarang, terobsesi untuk mencari serpihan mereka yang telah lama hilang. Keduanya terlihat tidak terawat, namun tidak menghilangkan kesannya sebagai seorang Alpha kelas elit. Steve bahkan memiliki janggut sekarang, padahal Al selalu melarangnya untuk menumbuhkan rambut halus itu di dagunya. Al...... Steve dan Nave seperti orang gila yang terus-menerus mengerahkan semua kesatuan untuk mencari Al saat ini. Mulai dari yakuza, polisi, detektif, agen, mafia, siapa pun yang mau bekerja dengannya. Keduanya kini menguasai dunia hitam maupun putih dengan kuat. Tidak ada yang bisa mendepak mereka. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka. Baik keluarga Tritas maupun Lebora, bahkan tidak lagi bisa mengetuk hati pasangan ayah anak ini. Keduanya dingin seperti dinding es, rela membunuh jika itu demi kekuasaan baru. Hati mereka selalu merasa bersalah akan hilangnya kesayangan mereka. Mereka tumbuh semakin kuat, namun kesepian di saat bersamaan. Keduanya tidak pernah bicara lagi sekarang. Kecuali untuk memberi perintah kepada bawahannya. Keduanya tidak punya hati. Hati mereka membeku disaat Al menghilang dari kehidupan mereka. Keduanya tidak memiliki mate sekarang. Hilang, terus menjelajah dan memperluas wilayah kekuasaan mereka. Sekarang, hanya orang gila yang tidak tahu siapa itu Nave dan Steve. Keduanya raja, yang telah kehilangan hati mereka. “Mereka menemukan lorong bawah tanah di gorong-gorong rahasia Dad. Mereka bersumpah dengan hidup mereka bahwa mereka pernah melihat seorang Alpha bertopeng dan rekannya masuk kedalam sana,” lapor Nave. Matanya kosong menatap sang dad, sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan oleh bocah berusia tujuh belas tahun. Melewati masa dewasanya, Nave bahkan semkain tidak mengatakan apapun yang baginya tidak terlalu penting. Tidak ada lagi senyum untuk anggota keluarganya, atau bahkan pada kakek neneknya sekalipun. Jika ditanya siapa yang paling kecewa dengan hilangnya Al, maka itu adalah Nave. Hatinya yang keras semakin membatu sekarang. Dia kecewa para kepala pelayan yang selalu ia percaya. Dia kecewa pada keluarganya yang bisa-bisanya melemahkan penjagaan terhadap papanya. Dia kecewa pada bawahannya yang sampai sekarang belum juga berhasil menemukan papanya. Intinya, Nave hampir membenci semua orang sekarang. Tatapannya selalu bengis, membuat siapa pun yang bicara padanya tidak mampu menahan diri untuk tidak bergetar. Namun jika ditanya siapa yang paling dia benci di dunia ini, tentu saja dia akan menjawab itu adalah dirinya sendiri. Dia merasa begitu tidak berguna karena tidak mampu melindungi seseorang yang begitu dia sayangi. Dia melarikan diri dengan cara menyalahkan semua orang. Pada akhirnya Nave tetaplah seorang remaja yang baru dewasa, yang tidak mengerti harus bagaimana dia untuk mengembalikan keluarganya yang telah lama hilang. Nave bahkan membunuh siapapun yang mengatakan kebohongan kepadanya. Kesalahannya yang terlalu polos mau mempercayai seseorang menjadi bayangan gelap yang menghantuinya di setiap malam. Jadi untuk kali ini, Nave benar-benar tidak akan mempercayai siapapun kecuali dadnya sendiri. Karena Steve, juga menanggung penderitaan yang sama dengannya. Keduanya mati, dalam hal mempercayai seseorang. Hari dimana keduanya menangis saat itu, adalah awal dari semua ini. Steve dan Nave bahkan tidak pernah lagi kembali ke rumahnya, masion dimana banyak kenangan tentang Al tercetak dengan jelas di sana. Terlalu sakit, mereka tidak bisa menahan diri mencium sisa bau Al dalam masion itu. “Kita akan ke sana,” final Steve datar. Dia yang bahkan tidak pernah merokok kini mengapit batangan berasap itu di mulutnya. Al pasti akan memarahinya untuk ini, namun itulah yang Steve harapkan selama ini. Dia lebih suka Al yang selalu mengomel bersamanya, bukan kekosongan yang dia rasakan saat ini. Keduanya masuk ke mobil Mercedez hitam mereka yang terparkir di luar gang. Steve meminta salah satu pengawalnya untuk mendekat, lalu mengucapkan perintah tanpa bisa dibantah. “Beri mereka uang yang banyak jika informasi itu benar. Namun, bunuh mereka jika ternyata informasi itu salah,” titahnya dingin. Keduanya masuk ke mobil, memejamkan mata sejenak lalu memperhatikan dengan benar pistol yang terkunci rapat di koper kecil dalam mobil mereka. “Setahun dua puluh tiga hari, kita menunggunya selama itu Nave,” gumam Steve pelan. Lelaki itu dengan hati-hati mengusap pistolnya yang kemudian dimasukan ke tempat pistol yang ada di badannya. Benda yang menemaninya selama setahun lebih ini. Benda yang membuatnya berubah menjadi iblis yang siap membasmi siapa pun yang melawan perintahnya. “Aku pastikan akan membunuh keduanya dengan benar kali ini. Tidak akan kupercayakan mereka pada siapa pun. Aku akan memberikan kematian terbaik yang bisa mereka bayangkan sebagai balasan,” janji Steve serius. Nave melirik sang dad yang memancarkan aura membunuh yang besar saat ini. Jika memang benar itu tempat mereka bersembunyi selama ini, maka Nave harus mengalah sepertinya. Dadnya lebih tersakiti daripada siapapun juga akibat penculikan ini. “Serahkan Papa padaku Dad. Kau harus pastikan mereka membayar harga yang benar untuk berani menyentuh Papa,” balas Nave sama dinginnya. To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD