“Al baby, lihat. Kamu suka es krim kan? Aku khusus loh membelikannya untukmu kemarin.”
Al tidak bereaksi, sampai dengan kesal Fian menjejalkan dengan paksa es krim tersebut ke mulut Al, membuat lelaki itu tersedak keras.
“Hei, hei Fian sabar sedikit Sayang…… Perlahan, dia bisa mati tersedak jika kau memberinya makan begitu.”
Fian mendengus, membuang sisa es krim yang ada lalu menatap Al lagi.
“Hei, apa kamu tidak bosan diam terus? Mari kita bicara seperti dulu lagi Al,” bujuk Fian lembut. Al tentu saja tidak merespon, hanya menatap kosong Fian yang lagi-lagi mendengus keras.
“KAMU ADALAH MATEKU SEKARANG AL! BICARALAH! AKU BOSAN MENUNGGUMU BICARA SELAMA SETAHUN INI!”
Duak
Dengan kesal Fian membenturkan kepala Al ke meja. Al tidak bereaksi, sementara Mark hanya tertawa kecil melihat pertengkaran tersebut.
Darah mulai keluar dari kening Al, menambah luka lain yang kini bersarang dalam tubuh mungilnya.
“Hei, kamu melukai wajahnya sekarang,” peringat Mark. Fian menyeringai, mengubah sikapnya, kini malah mengusap pipi Al dengan lembut.
“Tidak apa-apa. Dia masih cantik kok walau begini,” ucap Fian santai.
Pip
Mata keduanya teralihkan pada CCTV yang mereka pasang diluar rumah mereka. Ada gerombolan manusia disana. Diantara itu semua, mereka kenal dua orang diantara mereka.
Fian tertawa keras, lalu memainkam rambut Al dengan lembut.
“Lihatlah Babe. Pahlawanmu akhirnya datang setelah sekian lama. Mari katakan hai padanya.”
Fian mendekatkan diri pada microfon, yang tersambung dengan speaker diluar ruangan.
“Tes,tes, kalian mendengarku?” suara Fian terdengar begitu senang, tengah dipeluk erat oleh Mark di belakangnya.
Langkah semua orang di luar berhenti. Wajah Steve semakin menggelap, segera mereload pistolnya untuk bersiaga.
Steve kenal suara b******n itu. Dia tidak akan pernah lupa, sampai kapan pun juga.
Sedangkan untuk Nave, melihat ekspresi dadnya, Nave tahu bahwa mereka tidak salah sasaran. Orang yang bicara dibalik microfon itu adalah tikus yang berani menyentuh papanya selama ini.
“Wow tenang kawan. Tidak apa, aku tahu kau merindukan Al-mu.” Fian menjeda, menggunakan nada yang pura-pura terkejut sambil tersenyum geli.
“Oh! Aku lupa. Dia AL-KU sekarang,” sambung Fian santai sambil tertawa kencang. Keduanya dapat melihat dengan jelas rombongan Steve kembali maju dengan cepat, melewati labirin lorong yang mereka buat selama ini.
“Aku tahu cepat atau lambat kamu akan datang f*****g Steve. Oleh karena itu, aku menyiapkan hadiah yang spesial untukmu pada hari ini.”
Fian melirik Mark yang dengan tenang menumpahkan bensin di sekeliling mereka. Keduanya tersenyum, seakan yang mereka lakukan bukanlah apa-apa.
“Aku akan mempersilahkan kalian bertemu dengan Al-ku. Aku juga sudah bosan bermain dengannya. Dia seperti boneka saat ini, tidak menyenangkan lagi.”
Api mulai menyala dari korek yang dinyalakan Mark. Lelaki itu melemparnya ke lantai, menciptakan kobaran api yang segera menyebar ke segala sisi.
“Aku tahu kamu telah mengepung tempat ini. Tidak masalah. Kamu tetap bisa bertemu dengannya, tapi ya.... Di dalam neraka sedang bercinta denganku dan Mark mungkin.”
Fian tertawa keras, membuat Steve segera berlari keras dan membuat pengawalnya menyebar ke segala sisi.
Di dalam ruangan, terlepas dari kepanikan yang terjadi di luar, Mark dan Fian asik berciuman berdua. Mengabaikan Al yang bahkan tidak bergerak sedikit pun saat api berkobar ganas di sekitarnya.
“Yah, setidaknya ini lebih baik daripada diperkosa lagi kan?” canda Fian ringan, lalu meraih pistol yang selama ini dia sembunyikan di lacinya.
“Baby Al, kamu terbakarlah sendirian ya? Anggap ini bayaran atas siksaan yang dilakukan keluargamu padaku,” ucap Fian ringan.
Dor
Dor
Keduanya tergeletak di lantai, meninggalkam Al yang masih terdiam di dalamnya. Telanjang, kosong, tak bergerak sedikipun.
“Tuan! Kami menemukan pintu yang mencurigakan!”
Suara di earphone milik Steve dan Nave membuat keduanya segera berlari dengan cepat ke koordinat yang dikirim salah satu bawahannya. Mereka tengah berusaha membuka pintu besi yang terkunci dari dalam, di mana dari sana keluar asap hitam yang segera membuat panik baik Steve maupun Nave.
Keduanya dengan cepat segera menyingkirkan para bodyguard itu dan menendang pintu dengan paksa, yang segera hancur begitu keduanya menendang dengan kekuatan penuh. Steve yang pertama kali masuk, mencium bau yang kini sangat ia hafal dan membuat perasaannya berubah semakin buruk. Siapa peduli tentang api sekarang? Steve harus segera menemukan Al ditengah kobaran api ini.
“Dad!”
Steve berbalik, memasuki ruangan yang sama dengan ruangan yang ditemukan Nave untuk melihat mayat dua orang pria yang begitu ingin dia siksa telah bunuh diri di sana. Al berbaring tidak jauh dari mereka, bernafas, namun tidak dapat dikatakan hidup untuk seutuhnya sekarang.
Tubuhnya penuh bekas luka, dengan bekas terbakar di bagian tekuknya. Pandangannya kosong maksimal, dan bibirnya membiru akibat kekurangan oksigen.
Nanun tetap. Al tidak menangis, bicara, atau bahkan menunjukan sedikit pun emosinya saat melihat Steve dan Nave kembali. Tubuhnya sangat kurus dan penuh bekas luka, pasrah saja saat diangkat cepat oleh Nave.
Ini bukan waktu bagi mereka untuk memikirkan hal itu. Nave segera melepas jas yang dia pakai untuk menutupi tubuh Papanya dan menggendong Al keluar. Pikirannya sangat buruk kali ini, apalagi saat tahu objek balas dendam mereka telah mati begitu saja.
Nave mungkin masih bisa mengandalkan akalnya dan segera keluar dari tempat itu. Namun tidak dengan Steve, lelaki itu mengepalkan tangannya marah sampai darah keluar dari tangannya yang terkepal. Alpha itu lagi-lagi menangis, melihat keadaan hancur matenya yang gagal ia lindungi.
“b******n! BANGUN KALIAN CEPAT! KAU HARUS MEMBAYAR UNTUK APA YANG KAU LAKUKAN SIALAN!”
Kaki Steve dengan kejam terus menginjak-nginjak mayat yang tergeletak di bawah kakinya itu. Beberapa bunyi patahan tulang terdengar, beserta darah yang terciprat di mana-mana.
Steve belum puas. Kakinya yang dibalut sepatu mahal terus menginjak mayat kedua penjahat itu dengan brutal, seakan mereka bisa hidup lagi jika Steve terus melakukan hal itu.
Mereka tidak pantas mati sekarang. Mereka harus tersiksa terlebih dahulu sebagai harga yang harus mereka bayar untuk menyiksa Al.
Nave yang sadar dadnya belum keluar segera masuk kembali ke ruangan itu. Mengabaikan panggilan bawahannya yang panik memangggil namanya, Nave kembali masuk untuk menyeret dadnya yang tengah murka keluar dari tempat tertutup tersebut.
“Lepaskan Dad Nave! Mereka belum pantas mati! Mereka belum membayar atas apa yang mereka lakukan pada Papamu!”
“Dad...”
“Mereka-”
“MEREKA SUDAH MATI DAD! SEKARANG KELUARLAH! KITA HARUS MENEMANI PAPA KE RUMAH SAKIT KARENA KEADAANNYA BURUK SEKALI! AKU TIDAK INGIN PAPA MENGHILANG LAGI DAD!” bentak Nave kasar, yang kali ini berhasil menyadarkan Steve. Lelaki yang lebih tua itu berteriak frustasi, sebelum bergegas keluar dan menarik salah satu bawahannya untuk bicara dengan dingin.
“Ambil mayat itu sekarang juga. Beri makan pada anjing liar, dan kirim videonya padaku. Cepat lakukan!” bentaknya kasar. Bodyguard itu mengangguk cepat, kembali bertindak sementara Steve dengan kacau masuk ke mobilnya yang dikemudikan oleh supir, mengikuti mobil ambulan yang membawa Al dari belakang. Anaknya Nave ada di sana juga sekarang, memastikan Al tidak hilang lagi sementara dia mencoba menenangkan emosinya yang meletup dengan hebat saat ini. Steve menjambak rambutnya kasar, mencoba membuat akal sehatnya kembali perlahan-lahan.
Rumah sakit besar yang mereka tuju segera membawa Al ke UGD untuk pertolongan pertama. Keduanya menunggu dengan khawatir, walaupun Steve hanya diam karena belum juga bisa menenangkan emosinya yang meledak.
Nave mengusap wajahnya kasar, matanya segera cerah begitu banyak dokter keluar dari ruangan papanya.
Dokter tersebut menunduk, terlalu takut untuk bicara pada godfather yang terkenal kejam beberapa tahun ini.
Dengan mengumpulkan keberanian, seseorang yang merupakan pemimpin dokter tersebut mulai bicara. Menarik nafas dan memulai laporannya.
“Pasien mengalami sesak nafas karena terlalu banyak menghirup asap namun telah berhasil kami tangani. Tidak ada luka fisik yang mengkhawatirkan untuk sekarang, selain beberapa bekas luka yang tidak mampu hilang dari tubuhnya dan mungkin akan menimbulkan trauma. Saya akan menyarankan ahli psikologi terbaik untuk menanganinya. Pasien kemungkinan akan sadar beberapa jam lagi, namun Saya tidak yakin ia bisa menerima segalanya dengan mudah setelah ini. Beri pasien dukungan dan perasaan nyanan adalah yang terpenting sekarang. Kami akan memindahkannya ke ruang rawat saat ini juga.”
DUAK
Steve memukul tembok rumah sakit deegan keras, menyebabkan para dokter lainnya bernafas gugup melihat kemarahan salah satu pria yang sedari tadi duduk dan hanya diam mematung. Nave mendekati lelaki tersebut, menepuk telapak tangannya dan menarik Steve agar melihat Al yang dibakut masker oksigen tengah dipindahkan oleh beberapa perawat.
“Kita harus selalu menemani Papa mulai sekarang Dad. Ayo, jangan tinggalkan Papa sekali lagi,” ujar Nave sambil menuntun Steve yang hancur mengikuti Al yang dibawa ke ruang rawat.
To be continued