“Pa? Papa makan ya? Buka mulutnya Pa.... Jangan hanya mengandalkan cairan bius saja.” Ini adalah kali kelimanya Nave memohon agar lelaki manis di depannya membuka mulut dan menerima sodoran bubur yang Nave pegang sedari tadi. Steve memegang tangan Al di depannya. Masih menutup mulut dan hanya beberapa kali mencium punggung tangan Al untuk memberitahu lelaki itu bahwa mereka ada di sini sekarang dan tidak ada yang perlu ditakuti lagi. “Pa..... Buka ya? Sedikit saja Pa. Papa akan semakin kurus jika terus menolak makan begini....” bujuk Nave lagi. Sudah berapa lama sejak Nave mampu mengucapkan kata-kata yang panjang setelah Papanya menghilang? Lidah Nave seakan kaku untuk saat ini. Keduanya memandang Al yang tidak merespon dengan tatapan terluka. Al tidak lagi merespon apa pun yang mereka

