“Steve, kamu tidak membuat Nave bekerja terlalu berat di sini kan?” tanya Al curiga setelah berjam-jam dia habiskan waktunya untuk membantu Steve sedikit-sedikit. Sampai sekarang pun Steve masih sibuk dengan tumpukan kertasnya, membuat Al khawatir anak semata wayangnya juga mendapatkan perlakuan yang sama seperti suaminya.
“Kamu tahu, dia masih enam belas tahun Steve. Jangan bebankan dia terlalu banyak pekerjaan,” omel Al pelan sambil menatap suaminya. Al naik ke atas paha Steve untuk duduk disana. Tubuhnya bersandar nyaman di d**a bidang Steve, yang tidak pernah berubah setelah lama mereka menikah.
“Aku tidak mungkin membebaninya Al. Aku juga diam-diam meminta staf untuk meringankan pekerjaannya agar ia dapat sedikit bersantai. Nave itu anak kita, mana mungkin aku tega menyiksanya bukan?” balas Steve lembut. Tangan besarnya tidak pernah bosan untuk membelai rambut mate nya. Al mengangguk senang, cukup puas mendengar jawaban dari suaminya.
Di tengah suasana yang tenang tersebut, wajah Al tiba-tiba berubah dan dia mulai menggeliat dalam pelukan Steve.
“Steve.... Aku rindu Mommy dan Daddy,” lirih Al pelan. Semenjak ketakutannya semakin membesar, Al memang lebih membatasi hubungannya dengan orang lain. Bukan karena apa, namun dirinya merasa tidak pantas berada di antara mereka, ataupun sekedar bertingkah seperti dulu lagi.
Namun itu tidak membuat Al lupa akan keluarganya. Dia hanya terlalu malu, merasa tidak pantas dan memendam rasa rindunya terhadap keluarga.
Al berusaha terlihat dewasa, namun itu malah menyakiti dirinya sendiri baik secara fisik maupun mental.
Steve tidak tahan melihat mata berkaca-kaca tersebut, perlahan mengangkat tubuh Al dalam gendongan hangatnya lalu melangkah keluar dari ruang kantornya.
“Ayo beri kejutan pada mereka,” final Steve sambil mencuri satu ciuman singkat bibir Al, yang sontak membuat wajah putih itu memerah dengan mata menatap lucu. Steve menelfon Nave agar ikut bersama mereka, namun ditolak mengingat jika Steve pergi, maka dialah yang harus menggantikan dadnya untuk menemui klien atau sekedar membantu kerja kakeknya.
Mata Al memicing curiga saat sadar bahwa rumahnya sedikit aneh dari yang terakhir ia lihat. Al segera melangkah turun, dan menemukan bahwa semua keluarganya tengah berada di rumah karena suatu hal.
“Mo-”
Tenggorokan Al terasa tercekat melihat keadaan Gena yang sekarang. Mommy kesayangannya tengah diinfus dan menggunakan alat bantu oksigen di kamarnya dengan Ryan. Daddy Al ada disana, terlihat terkejut melihat kedatangan putra bungsunya yang mendadak tersebut.
“Mommy!!”
Seperti yang Steve duga, Al segera menangis kencang dan duduk di dekat mommynya. Ryan segera memeluk Al untuk menenangkan anak bungsunya itu, membujuknya agar tidak terlalu panik karena Gena hanya kelelahan. Al mudah kalut sekarang, jadi dia hanya menggeleng pelan lalu meraih tangan mommynya lembut.
Al menyesal tidak dapat selalu berada di samping mommynya seperti dulu. Al menyusahkan, dia takut keluar atau bertemu dengan orang asing jika Steve tidak ada bersamanya. Al takut jika seseorang menatapnya terlalu lama. Dia bahkan kadang mencurigai semua orang saat berada dalam kondisi terburuknya.
Al takut, seseorang tahu bahwa dirinya adalah Omega yang pernah-
“Baby tidak apa Sayang.... Ini bukan salahmu, Dokter Ares sudah bilang bahwa Mom Gena baik-baik saja kan? Tenanglah Sayang.... Tidak ada yang menyalahkanmu di sini.”
Steve sadar bahwa Al mulai bergetar tak karuan lagi saat melihat keadaan mommynya. Steve memeluk Al sayang, sementara Ryan mengusap pelan kepala Al memberitahu anak bungsunya itu bahwa semua akan baik-baik saja.
Al tetap menangis sampai dia tertidur, menolak untuk bangun dari duduknya hingga Ryan memindahkannya di samping Gena saat istrinya itu sadar dan terkejut melihat mata Al yang membengkak akibat menangis terlalu lama.
“Al mengkhawatirkanmu Sayang.... Biarkan dia tidur di sebelahmu, dia akan merasa aman dengan begitu.”
Gena menggeser posisi tidurnya, sementara Ryan dan Steve membenahi tidur Al dan Gena agar merasa nyaman.
Lagi, Steve harus membolos dari kantornya gara-gara hal ini. Steve memang harus merelakan waktu bekerjanya semenjak Al berubah. Dia bertekad akan terus berada di samping Al, menjaganya, dan menyembuhkannya dari trauma itu secara perlahan.
Hari sudah malam saat Al terbangun dan mendapati mommynya tengah mengelus rambutnya lembut sambil tersenyum kecil. Lagi-lagi Al menangis sambil memeluk mommynya. Menyesal, karena tidak bisa berada di sana saat keluarganya membutuhkan.
“Sayangku Al…... Anak Mommy yang paling hebat tidak boleh menangis lagi seperti ini. Kau kan sudah berumur 33 tahun manis, apa Al tidak malu pada anakmu jika melihatmu seperti ini? Berhentilah menangis oke?” bujuk Gena lembut. Al mengangguk perlahan, menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan sang mommy.
“Al, aku akan pulang dan mengambil pakaianmu sambil membawa Nave kemari. Tidak masalah kau kutinggal sebentar kan?” tanya Steve memastikan. Al mengangguk perlahan, memanjukan tubuhnya untuk mencium bibir Steve sekilas.
Steve tersenyum hangat, ah kenapa keimutan istrinya tidak pernah hilang sih?
Eh, jangan hilang juga sih.
“Aku mencintaimu Al.”
Al mengangguk. “Aku juga Steve,” balasnya kecil. Steve pamit pada Gena dan Ryan sebelum keluar ruangan. Steve bertaruh Lussac dan Lylo pasti sedang di kantor dan belum tahu mengenai kabar ini, dia tidak melihat keduanya sedari tadi.
Steve membuka ponselnya, mencari kontak seseorang sambil menunggu panggilannya diangkat.
“Dad?”
“Bisa kamu pulang sekarang Nave? Nenekmu sakit dan papamu ingin menginap disana. Besok kita libur kan? Kita akan menginap di rumah keluarga Tritas untuk menjaga papamu. Dad akan menunggu di rumah,” ujar Steve memberitahu.
“Baiklah Dad. Tunggu aku menyelesaikan berkasku,” balas Nave sebelum mematikan panggilan. Setelah panggilan dimatikan, Steve mulai menjalankan mobilnya secara perlahan.
Di perjalanan, sesekali Steve tersenyum melihat foto keluarganya di figura kecil yang di simpan di dashboard mobil. Di sana Al sedang tersenyum lebar, memeluk Nave yang seperti biasa berwajah datar dan Steve yang merangkul keduanya dari belakang. Sekalipun mereka hanya berfoto di depan masion, ketiganya terlihat sangat bahagia. Tentu saja, karena Al terlihat sangat bahagia di sana.
Tidak lama kemudian Steve menghela nafas berat, mengingat wajah Al yang sering murung sekarang. Ingin rasanya ia menghapus ingatan buruk Al untuk mengembalikan senyuman yang banyak hilang dari wajah istrinya. Jika saja dia bisa, dan mampu untuk melakukannya.
Entah kenapa Steve tiba-tiba merindukan Al, Nave, dan seluruh keluarganya padahal belum lama ini mereka bertemu. Hatinya tergerak gelisah, sebelum sesuatu benar-benar terjadi pada Steve di saat berikutnya.
Duar
Mobil Mercedes Benz keluaran terbaru itu terguling begitu saja setelah ledakan tiba-tiba terjadi di bagian bawah mobilnya. Jalanan yang mulanya sepi kini ramai dihuni orang-orang yang panik melihat mobil tersebut terbakar. Wajah pengemudi di dalamnya berlumuran darah, berbaring antara sadar dan tidak melihat foto keluarganya yang terciprat darahnya sendiri.
Al.....
Duar
Suara teriakan menyertai meledaknya mobil mewah tersebut. Pecahan-pecahan kaca mobil memenuhi jalanan, sementara darah kini menggenang di mana-mana. Semua orang menutup mulutnya, terlalu terkejut melihat kejadian naas yang baru saja mereka saksikan secara langsung tersebut.
*****
Nave sekali lagi mengerutkan keningnya sambil melihat jam tangan mahalnya yang terus berjalan. Sudah lebih dari satu jam semenjak dia kembali dan Steve belum juga datang ke masionnya. Nave bergerak semakin gelisah, sedikit khawatir dengan keterlambatan Dadnya itu.
Di tengah kegelisahan itu, suara ponselnya tiba-tiba berdering yang segera diangkat dengan gemas oleh yang punya ponsel. Tidak ada suara untuk beberapa saat, sebelum suara isakan kecil terdengar dari si pemanggil.
“Nave sayang.”
Kening Nave berkerut semakin dalam lagi. Tidak biasanya bibinya yang selalu hyperaktif berubah menjadi sesendu ini. Ada sesuatu yang salah di sini, Nave dapat merasakannya dengan jelas.
“Dadmu Nave, Steve kecelakaan,” ujar Brit yang berhasil mengguncang emosi tenang milik Nave.
To be continued