Kemuning 46

1107 Words

“Ibu Kemuning sendiri kira-kira setuju tidak aku duduk di sini?” Kemuning langsung tersentak mendapatkan tanya itu. Dia yang semula enggan melihat wajah Kemuning, terpaksa menoleh pada pria itu. Tidak mungkin bukan dia harus memalingkan wajahnya terus menerus? Ya kalau Hamid hanya sebentar, bagaimana kalau pria itu duduk lama? Bukankah Hamid datang ke kantin untuk makan siang? Aneh jika ke kantin hanya untuk menumpang duduk saja. Kemuning memaksakan senyum, padahal hatinya ini sangat tidak ikhlas. “Eee… aku tidak keberatan kok.” Hamid bersorak dalam hati. Ternyata di momen-momen seperti ini Kemuning tidak bisa menghindarinya dan terpaksa harus menerima kehadirannya. Dia sangat mengenal Kemuning sehingga tahu sesungguhnya wanita itu mengiyakan dengan berat hati. Bisa jadi juga tertekan.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD