“Dhir, mau ga suatu saat nanti jadi istri Aku?” tanya Exel menerawang ke masa depan yang indah mungkin.
“Em? Apaan deh Kita aja baru SMA, halu mulu ini pacar Gue,” jawab Adhira seadanya. Ia tipe orang yang tak ingin berharap banyak, cukup menjalani dan menekuni setiap jalan saat ini pun sudah cukup bagi Adhira.
“Bukannya halu Sayang, tapi bercita-cita untuk masa depan gitu,” jelas Exel, sambil mencubit hidung bangir Adhira. Adhira hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Mau?” tanya Exel lagi,
“Emangnya Kamu mau sama Aku Xel?” Adhira tak menjawab pertanyaan Exel, ia malah bertanya balik kepada Exel.
“Mau lah, Aku pengen banget nikahin Kamu, pengeen..” jawab Exel cepat dan yakin. Tak lupa ia menggoda Adhira dengan tidak melanjutkan perkataannya. Adhira yang mengerti jalan pikiran m***m Exel pun langsung menggeplak bahu Exel.
“Dasar m***m!” ujar Adhira sinis dengan mata yang melotot.
“Hehe, ya enggak atuh, Aku mah sayang banget sama Adhira,” Exel mempererat pelukannya.
“Uh sayang jugaa,” Adhira ikut mempererat pelukannya.
“Jawab pertanyaanku tadi Dhir,” desak Exel, pasalnya ia sangat ingin mendengar jawaban dari bibir Adhira sendiri. Karena Exel akan benar-benar berjuang mulai hari ini.
“Em, gimana ya? Mau ga ya? Gimana nih netijen Adhira jawab mau atau enggak ya?” jawab Adhira sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu. Exel geram sendiri melihat Adhira yang tidaj serius itu.
“Adhira!” tegur Exel,
“ Mau kok, mau banget kalo jodoh tapi hehe,” jawab Adhira sambil tersentum manis.
“Kok kalo jodoh sih Dhir? Jodoh insyaAllah gitu dong,” nampaknya Exel kurang setuju dengan jawaban Adhira. Adhira merasa geli dengan Exel yang seperti itu.
“Ya kan jodoh ga ada yang tau sayangnya Akoh, siapa tau jodoh Aku Mas jaemin? Atau Mas Lucas? Duuuh,” ucap Adhira sambil membayangkan dokter tampan yang ia temui tadi pagi. Ah, Mas reino namanya. Adhira senyum-senyum tidak jelas. Exel yang mendengar penuturan Adhira pun merasa tak setuju.
“Apaan deh Dhir, mereka itu gak bakal bisa Kamu gapai. Udah deh, jelas-jelas ada Aku yang tampan ini,” Exel menyombongkan diri. Tidak dipungkiri wajah Exel memang di atas rata-rata, sangat tampan.
“Kamu memang tampan tapi Mereka lebih menawan sayang, haaha,” Adhira membelai wajah Exel kemudian tertawa setelah mengatakan hal tersebut. Exel yang sudah di bawa jauh terbang melayang pun harus rela sakit karena terjatuh. Adhira puas sekali meledek kekasihnya itu.
“Iya deh terserah,” Exel menyerah jika harus berdebat dengan Adhira. Adhira tersenyum puas melihat mimik wajah Exel.
“Nanti insyaAllah Kita jodoh kan ya, ntar Aku bakal bikinin Kamu rumah yang kayak Kamu impikan deh, kayak apa itu Yang? Yanf dulu Kamu pernah bilang ke Aku?” Exel bertanya kepada Adhira, ia bahkan sudah memikirkan hal jauh ke depan, tentunya bersama Adhira.
“Kayak mini malis tapi elegan gitu,” jawab Adhira antusias. Ia sangat kagum dengan pemikiran Exel, bahkan Exel selalu memikirkannya, di waktu yang mungkin saja mereka sudah tak bersama. Entah kenapa Adhira berpikir seperti itu, mungkin karena sikap Ayahnya yang sangat-sangat tak menyukai kekasihnya. Adhira menjadi sangat takut, takut masa ini akan cepat berlalu.
“Nah iya gitu, tapi nanti Aku mau bikin yang agak besaran rumahnya. Soalnya, Aku mau punya Anak banyak dari Kamu hehe,” ucap Exel sambil mengelus perut rata Adhira. Namun Adhira langsung mencubit punggung tangan Exel.
“Belajar dulu yang bener, ntar baru mikirin gituan,” ucap Adhira,
“Astagfirullah Dhir, ga nyangka Aku, ternyata Kamu udah mikirin gituan coba. Parah nih anak Pak ruslan,” ucap Exel tak menyangka. Memang perkataan Adhira barusan terdengar ambigu, jadi tidak heran jika otak m***m Exel langsung menangkap sinyal m***m pula. Adhira yang mendengar respons Exel pun berpikir sejenak, apakah ada yang salah dengan perkataannya tadi? Setelah beberapa detik loading, akhirnya Dhira tahu maksud kekasihnya itu.
“Exel punya Aku.. Kamu banyakin tobat. Astaga, Kamu nih m***m banget dah. Aku jadi bertanya-tanya, apa semua isi kepala laki-laki itu sama kayak Kamu? “ tanya Adhira penasaran. Sepertinya pertanyaan seperti ini juga muncul di kepala kaum hawa, namunbtidak semuanya berani untuk menanyakannya secara langsung kepada kaum adam. Atau tidak bisa menanyakannya, karena tak mempunyai pasangan? Seperti penulisnya hehe.
“hem, rata-rata ya m***m. Kalo ga msum ga punya anak hehe,” jawab Exel dengan quotes andalan kaum laki-laki.
“Oh ya?” Adhira mencoba memastikan jawaban Exel.
“Iya Adhiraku sayang, orang gila aha masih punya hasrat, lah apa daya Kami yang normal? Mangkanya, Aku larang Kamu pake terbuka karena Aku tau apa isi otak Mereka,” ucap Exel memberi tahu Adhira.
“Iya iya, tapi Aku ga pernah ya pake baju terbuka. Dari dulu Ayah juga udah nasehati Adhira gitu,” ucap Adhira kepada Exel. Exel kagum dengan Ayah adhira, meski terlihat sangar dan galak tapi beliau sangat perhatian kepada putrinya.
“Bagus dong sayang, itu tandanya Ayah Kamu sayang banget sama Kamu. Mangkanya Kamunya juga jangan bandel, jangan berantem terus sama Ayah Kamu. Durhaka loh Dhir,” Exel menasihati kekasihnya itu. Pasalnya, setiap Adhira bertengkar dengan ayahnya, ia akan menceritakan semuanya kepada Exel. Exel pun tau Adhira sangat menyayangi ayahnya, namun karena ke tidak saling mengerti satu sama lain akhirnya berujung pada pertikaian. Exel pun tak bisa banyak membantu, karena ia sendiri tak ingin memperkeruh suasana antara anakbdan ayah tersebut.
“Iya iya, enggak lagi kok. Lagian Aku mah nurut banget kok sayang. Ayah mau Aku peringkat satu, Aku dapet peringkat satu, Ayah mau Aku bisa jaga diri, Aku dapet lebih yaitu Aku jago beladiri. Ah, pokoknya tuh intinya i want it, i get it,” Adhira membanggakan dirinya.
Exel menatap jengah kekasihnya itu, penyakit sombong Adhira kambuh lagi. Tolong siapa pun berikan obat untuk Adhira. Namun tak dipungkiri, jika semua perkataan Adhira benar. Ia adalah murid yang berprestasi di banyak bidang sekaligus. Hebat sekali pacar Exel ini.