"Lagi, Sya?" tanya Qiana pada Nasya yang baru saja duduk disampingnya.
Nasya mengangguk sambil tersenyum senang. "Ngga ketahuan, keren kan gue?" ucapnya bangga sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
"Iye, iye, terserah lu deh. By the way, emang lu ngga takut bakalan ketahuan? Ya ... pasti kan tuh orang juga penasaran, jadi dia bakal nyari tau siapa pelakunya."
Nasya mendorong wajah Qiana hingga gadis itu sedikit terhuyung ke belakang.
"Nasya b**o!" kesal Qiana karena wajahnya didorong, Nasya memang semakin tidak jelas.
"Astagfirullah Qiana, ucapanmu kasar sekali Nak, tidak boleh berucap seperti itu Nak Qiana, kamu akan berdosa!" ucap Nasya seperti mamah dedeh.
"Bacot lo ah!" Wajah Qiana menjadi merah karena kesal.
"Huuw ngambek ceritanya? Yaelah ... alay amat!" cibir Nasya.
Qiana menatap Nasya dengan sinis, "Eh lo! Kalau nanti ketahuan gue ngga ikut-ikutan ya." Qiana menunjuk wajah Nasya.
Nasya mencebikkan bibir nya, "Ih Qiana mah gitu. Ngga temen nih?"
"Yaudah, lo kan emang bukan temen gue! Hahaha." tawa jahat Qiana terdengar begitu menyeramkan.
"Iya, nih, nih gue serius sekarang. Gua tahu cepat atau lambat dia pasti bakal nyari tau siapa yang suka naruh s**u plus surat di lokernya, ya tapi gue usahain supaya ngga bakal ketahuan." Nasya menyengir tanpa dosa.
"Lagian kok lo nekat amat si? Kalau ketahuan cewenya, mati aje lo!"
"Ya mana gua tau, gua aja bingung kenapa gua ngelakuin ini haha." Nasya menertawakan dirinya sendiri.
"Dasar aneh!"
"Ish, udah dong jangan ngatain gue terus. Ini gimana supaya gua ngga bakal ketahuan??"
"Lagian lu kaya anak alay tahu ngga? Suka sama orang tapi diem-diem gitu, kan-"
"Ihh aduh Qiana, Nasya tuh baru pertama kali suka sama orang, jadi Nasya juga bingung harus gimana. Nasya mana tahu kalau Nasya bakalan suka sama orang yang udah punya pacar." Nasya memotong ucapan Qiana begitu saja, hingga membuat Qiana menyentil hidung Nasya.
"Lo tuh ya! Kebiasaan. Orang belom selesai ngomong main dipotong aja."
"Ya abisnya Qiana ngatain Nasya terus, kan Nasya juga ngga tahu ini harus gimana...." ucap Nasya dengan suara yang sedikit bergetar.
Qiana menatap mata Nasya yang sudah berkaca-kaca, Qiana menghembuskan nafasnya lalu ia memeluk Nasya. "Maafin gua ya, lagian lo si ah suka sama orang yang udah punya pacar, kan ribet, Sya." Qiana melepaskan pelukannya.
Nasya hanya diam.
"Kalau emang ini cinta pertama lo, perjuangin aja, gua selalu dukung lo kok. Tenang aja, tapi jangan sampe perjuangan lo ini malah jadi ngerusak hubungan orang. Lo boleh berjuang, tapi ya sewajarnya, jangan memaksakan kalo emang dia bukan untuk lo. Oke?"
Nasya mengangguk, lalu Nasya memeluk Qiana. "Makasih Qiana, walaupun lo suka ngatain gue, tapi gue sayang," ucap Nasya yang masih memeluk Qiana.
Qiana melepaskan pelukan mereka. "Apasih? Jijay banget dah. Gua ngga mau ya di bilang lesbi sama lo, gara-gara sayang-sayangan sama lo!" Qiana bergidik ngeri.
"Hihi ... unchh bebeb Qiana! sini-sini peyuk acu lagi dong beb!" ucap Nasya dengan nada yang terdengar begitu manja.
"Hih! Amit-amit. Udah ah gua mau nyalin pr MTK dulu. Bhay!"
Setelah Qiana meninggalkan Nasya untuk menyalin pr mtk, Nasya malah cekikikan.
"BEBEB QIANA!! TUNGGU AKU BEB!!" panggil Nasya dengan berteriak.
"JIJIK, SYA! JAUH-JAUH LO AH DARI GUE!!!" balas Qiana berteriak juga.
***
Sakha memasuki kelasnya dan ia langsung menghampiri Rania lalu duduk di sebelah gadis tersebut. "Pagi!" sapa Sakha.
Rania menoleh lalu tersenyum hangat, "Pagi juga!"
"Aku mau tanya boleh?" tanya Sakha.
"Tanya apa? Boleh aja kok."
"Kamu yang ngasih s**u ini buat aku?" Sakha menunjukkan satu kotak s**u putih yang Sakha dapatkan di loker kepada Rania.
Rania mengernyitkan kening nya, "s**u? Aku ngga ngasih kamu s**u kok."
"Masa sih?"
"Beneran, ngapain juga aku bohong?"
"Yakin??"
"Iya sayang ..."
"Terus kalo bukan kamu, siapa yang naruh s**u ini di loker aku?"
"Penggemar rahasia kali."
"Penggemar rahasia? Ada-ada aja. Ngga mungkin lah."
"Ngga ada yang ngga mungkin Arsakha, siapa tahu memang ada yang suka sama kamu, tapi dia malu dan akhirnya dia diem-diem naruh s**u itu di loker kamu, tapi yang pasti itu bukan dari aku."
"Kenapa bukan kamu?"
"Ngapain juga aku naruh sesuatu di loker kamu, aku megang kuncinya juga ngga, lagian kan aku bisa ngasih langsung ke kamu, jadi buat apa aku harus diem-diem kayak gitu?" jawab Rania dengan nada bicara yang terdengar kesal.
Sakha tersenyum melihat tingkah Rania, "Kamu cemburu?"
Rania hanya menatap Sakha dengan sinis tanpa menjawab apa-apa.
"Hey aku nanya, kok malah ngeliatin? Aku tahu aku ganteng."
"Makanya ngga usah ganteng-ganteng, biar ngga banyak yang suka sama kamu."
"Lho, nanti kalo aku ngga ganteng, kamu ngga bakal suka aku dong?"
"Tau ah!" Rania merajuk.
Sakha mengenggam erat tangan Rania. "Kamu ngga usah cemburu, mau sebanyak apapun yang suka sama aku, aku akan tetap dan akan selalu mencintai kamu, Rania." ucap Sakha dengan sangat tulus.
"Dih kamu kok pede banget sih, Ar? Kamu tau ngga? Aku tuh ngga bakal kenyang kalau pagi-pagi di kasihnya gombalan kamu, mending kita ke kantin yuk, aku laper belum sarapan." ajak Rania akhirnya.
Sakha tertawa mendengar jawaban Rania, "Bisa aja Tuan Putri." ucap Sakha seraya mengacak rambut Rania.
"Berantakan, Ar, rambut aku ... "
"Ngga apa-apa, kamu tetap yang paling cantik bagi aku."
"Ih di bilang aku tuh ngga akan kenyang kalau di kasih sarapan gombal dari kamu, udah ah ayok ke kantin!"
"Ayok!" Sakha mengalungkan tangannya di pundak Rania dan akhirnya mereka pergi ke kantin bersama.
***