《9》 Bersamamu

1373 Words
"Ar ..." seseorang memanggil Sakha sambil menepuk pundaknya, Sakha menoleh dan langsung tersenyum kepada orang tersebut. "Kenapa, Ran?" "Umm ... hari ini aku dijemput lagi, jadi ngga bisa balik bareng sama kamu. Ngga apa-apa kan?" tanya Rania dengan sedikit ragu.. "Iya ngga apa-apa," Sakha tersenyum hangat, "dijemput sama siapa?" tanyanya. "Biasa kok, sama supir aku." Rania tersenyum lebar. "Oh yaudah, hati-hati." Sakha mengelus puncak kepala Rania dengan lembut. "Kalau gitu aku pulang dulu ya, Ar. Sampai ketemu lagi besok!" ucap Rania lalu memberikan senyum termanisnya untuk Sakha. Sakha mengangguk, lalu Rania segera pergi meninggalkan Sakha untuk menuju parkiran. Akhir-akhir ini, Rania memang sering dijemput jika pulang sekolah oleh supirnya. Namun, Sakha tidak pernah melihat langsung apakah Rania benar-benar pulang bersama supir atau dengan orang lain. Sakha menarik nafasnya, dengan langkah pasti Sakha pun berjalan mengikuti Rania yang sudah lumayan jauh berjalan di depan Sakha. Setelah melihat Rania sudah sampai diparkiran, Sakha bersembunyi dibalik pohon besar yang berada di dekat tempat parkiran. Sakha menyipitkan matanya untuk memperjelas apa yang sedang ia lihat, Sakha mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahang Sakha langsung mengeras dan ia menggertakan giginya dengan kesal. Bagaimana tidak? Yang Sakha lihat saat ini adalah ... Rania sedang berada disamping sebuah mobil dengan seorang laki-laki yang mengenakan seragam sekolah berbeda dengannya, mereka terlihat begitu dekat. Lelaki itu mengacak- acak rambut Rania, lalu membukakan pintu mobil untuk Rania. Setelah itu, mobil yang dinaiki oleh Rania dan laki-laki tersebut pergi meninggalkan parkiran SMA 2 Nusantara. Tangan Sakha yang masih mengepal langsung meninju pohon yang berada di dekatnya. Sakha sangat kecewa dengan Rania, bagaimana bisa Rania tega membohongi Sakha seperti ini? Rania bilang ia akan dijemput oleh supir, apakah ada seorang supir yang memakai seragam sekolah? Sungguh, kali ini Sakha benar benar kecewa. "s****n!" Sakha menggeram kesal. Dengan cepat, Sakha langsung menuju motornya dan pergi untuk mengikuti mobil yang tadi membawa Rania. Setelah sekitar dua puluh menit, akhirnya mobil tersebut berhenti di sebuah cafe. Setelah melihat Rania dan lelaki tersebut turun dari mobil, Sakha membuka helmnya dan langsung menyusul mereka ke dalam cafe. Rania dan lelaki tersebut duduk di meja yang berada dekat jendela, sedangkan Sakha duduk di tiga meja setelah meja Rania dan lelaki tersebut. Untung saja hari ini Sakha membawa topi dan kacamata hitam yang terselip didalam tas sekolahnya. Sakha pun segera menhenakan kacamata hitam dan topi tersebut agar Rania tidak melihatnya. Sakha semakin geram saat melihat mereka berdua yang begitu dekat. Mereka bercanda tawa bersama, saling melemparkan senyum dan tatapan penuh sayang. Sekali lagi, kali ini Sakha benar benar kecewa. Sakha merasakan sesak yang sangat teramat ketika melihat Rania, kekasihnya bercanda tawa dengan lelaki lain. Tapi, Sakha tidak boleh gegabah mengambil kesimpulan. Siapa tahu itu hanya saudara Rania yang kebetulan hari ini menjemputnya? Sakha menarik nafas nya lagi. "Semoga kamu ngga bikin aku kecewa, Rania." batin Sakha. Setelah itu, Sakha pergi meninggalkan cafe tersebut ditemani rasa sesak yang tiada terkira. *** Nasya terus berlari ditengah mendungnya awan malam, keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya, rambutnya sudah sangat berantakan dan nafasnya begitu memburu. Nasya melihat ada sebuah cahaya, Nasya yakin bahwa itu adalah lampu kendaraan. Dengan sisa tenaga yang ada, Nasya segera memberhentikan kendaraan tersebut sambil merentangkan kedua tangannya. Tinn! Suara klakson motor itu terus berbunyi saat Nasya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Akhirnya si pengemudi mengerem motornya dan berhenti tepat dihadapan Nasya. "Gila lo ya?! Mau mati lo?!" omel orang tersebut yang sudah membuka kaca helm yang ia kenakan. Nasya tidak memerdulikan omelan tersebut, Nasya tidak peduli siapa orang yang saat ini telah Nasya hentikan. Yang Nasya inginkan sekarang hanyalah pergi sejauh-jauhnya dari tempat itu dan kembali pulang kerumah. "Please ... Siapapun elo, bantuin gue. Bawa pergi gue dari sini ... " ucap Nasya memohon sambil menundukan wajahnya. Orang tersebut berdecak, lalu menyuruh Nasya naik. "yaudah cepetan naik." suruh orang tersebut. Nasya segera naik ke motor tersebut dan motor pun mulai melaju meninggalkan tempat tersebut. Dalam diam, Nasya menarik nafas lega. Nasya bersyukur bahwa Nasya bisa menemukan seseorang yang menolongnya saat ini. Jika tidak ada orang ini, Nasya tidak tahu akan menjadi seperti apa nasibnya. Setelah cukup jauh, akhirnya orang tersebut menghentikan motornya di sebuah taman yang dipenuhi oleh banyak lampu, tapi tidak terlalu ramai. Nasya segera turun dari motor tersebut dan betapa terkejutnya Nasya ketika Nasya mengetahui siapa orang yang sekarang sedang bersamanya. "K-kak Sakha?" cicit Nasya tapi masih bisa didengar oleh Sakha. Sakha hanya melihat sekilas, lalu pergi meninggalkan Nasya. Kemudian, Sakha menuju sebuah bangku panjang yang ada disana. Dengan ragu, Nasya pun menyusul langkah Sakha dan akhirnya duduk disamping Sakha. Hanya hening yang tercipta antara Sakha dan Nasya selama dua menit dan pada menit ketiga Sakha pun membuka pembicaraan. "Kenapa?" tanya Sakha. Nasya kemudian menoleh, lalu tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. Sakha mengangkat kedua alisnya, dia tidak percaya bahwa Nasya sedang tidak apa apa sekarang. "Kalau mau cerita, ya cerita aja," kata Sakha. Nasya menarik nafasnya, lalu ia mulai bercerita. Walaupun awalnya ragu, tapi entah mengapa Nasya ingin menceritakan apa yang sedang terjadi pada dirinya tadi kepada Sakha. "Umm, anu Kak... itu tadi gue, g-gue.. gue di--" "Ck, kebiasaan banget sih kalau ngomong sama gue gugup gitu. Santai aja kali, gua kan manusia bukan setan!" Sakha memotong ucapan Nasya. Nasya menggaruk rambutnya yang tidak gatal dan tersenyum kikuk. Dengan jantung yang berdebar, Nasya pun mulai bercerita. "Tadi tuh gue dikejar-kejar sama orang-orang yang badannya gede, terus rambutnya botak, banyak tatonya, udah gitu item, Kan serem ..." Sakha berusaha menahan tawanya saat Nasya sedang menceritakan ciri-ciri orang yang baru saja mengejarnya. Sakha menahan tawanya bukan karena membayangkan preman tersebut, Sakha menahan tawanya karena Nasya menceritakan dengan ekspresi wajah yang sangat lucu, jadilah Sakha menahan tawanya. "Kok bisa?" tanya Sakha lagi. "Tadi tuh lagi nunggu Abang yang mau jemput, tapi udah nunggu dua jam dia ngga datang-datang. Yaudah, akhirnya gue pergi aja ke halte deket sekolah. Eh tiba-tiba orang yang serem itu datang. Dia nanya-nanya dan hampir mau ngajak gue ngga tahu kemana, gue takut lah. Makanya gue lari-lari dan taunya orang serem itu ngejar. Waktu gue lari udah lumayan jauh, gue lihat ada kendaraan lewat, yaudah gue berhentiin dan ngga taunya ternyata itu Kakak." Cerita Nasya panjang lebar. "Kenapa ngga coba hubungin Abang lo lagi?" "Itu masalahnya,  ponselnya lowbat." Sakha menggelengkan kepalanya, "Makanya sebelum sekolah ponsel lo charger dulu, untung tadi gue lewat. Kalo ngga gimana coba jadinya?" "Hehe iya ... soalnya tadi kesiangan, jadi lupa di charger,  makanya jadi lowbat deh. Umm ... makasih ya udah mau nolongin Nasya." Sakha tersenyum, lalu mengangguk. Sakha tidak tahu, seberapa kencang detak jantung Nasya sekarang akibat senyuman yang diberikan Sakha kepada Nasya. Jantung Nasya berdetak sangat kencang tidak karuan, belum lagi kedua telapak tangan Nasya yang dingin ditambah udara malam yang dingin, membuat sekujur tubuh Nasya jadi menggigil. Nasya mengusapkan kedua tangannya untuk mengurangi rasa dingin yang menyerangnya saat ini. Sakha yang melihat Nasya seperti itu, membuka jaket yang ia kenakan dan memberikannya pada Nasya. "Nih," kata Sakha sambil menyodorkan jaket tersebut kepada Nasya. "Eh? Buat siapa?" "Buat lo lah." "Kok buat gue?" tanya Nasya kebingungan. "Kedinginan kan?" Nasya mengangguk. "Yaudah pake." "Kakak gimana?" "Gua kan cowo, udah biasa kena angin malem gini. Lo kan cewe, udah gitu sekarang lo kedinginan. Lo lebih membutuhkan jaket ini sekarang dibanding gue. Udah nih cepet ambil. Nanti lo pingsan gara-gara kedinginan di sini kan ngga lucu," Nasya pun mengambil jaket tersebut dan langsung memakai nya. "Makasih, Kak." "Hm."   "Kak?" panggil Nasya. "Hm?" "Boleh minta tolong sekali lagi ngga?" "Apa?" "Boleh pinjam ponsel, Kakak?" "Untuk?" "Untuk bilang ke Bunda, kalo gue baik-baik aja. Gue yakin pasti orang rumah sekarang khawatir." Sakha membuka tasnya dan mengambil ponselnya, lalu memberikannya pada Nasya. Nasya menerimanya dengan gugup, lalu Nasya segera menghubungi Andyra. Setelah menghubungi Andyra, Nasya langsung mengembalikan ponsel tersebut pada sang pemilik. "Nih kak, sekali lagi makasih banyak." "Iya, santai aja. Lo makasih mulu ah dari tadi." Sakha menyentil hidung Nasya karena merasa gemas dengan tingkah Nasya. Nasya membeku karena sedikit sentuhan yang diberikan oleh Sakha, tapi Nasya segera tersadar dan memalingkan wajahnya dari Sakha. Nasya berniat untuk pergi meninggalkan Sakha, karena Nasya yakin bahwa wajahnya sudah sangat merah karena malu bercampur senang. Namun, belum sempat Nasya melangkah, Sakha sudah meraih pergelangan tangan Nasya terlebih dahulu dan mau tidak mau Nasya akhirnya kembali menoleh ke arah Sakha. "Mau kemana lo?" tanya Sakha. "Pu-pulang," jawab Nasya terbata-bata. "Sendiri?" "I-iya," "Ngga takut digangguin lagi emang?" Sakha mengangkat sebelah alisnya. Nasya bergeming. Ia tak tahu harus menjawab apa. "Yaudah kalau gitu gue antar aja." "Eh? Se-serius?" "Ngga bercanda," Sakha memutar kedua bola matanya dengan malas, "ya serius lah, lagian ini juga udah malam. Gua antar, oke?" Dengan ragu akhirnya Nasya mengangguk. "Yaudah ayo, nanti tambah malam." Nasya pun akhirnya mengikuti langkah Sakha untuk segera pergi meninggalkan taman tersebut. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD