Saat ini Nasya dan Sakha sudah berada di sebuah restoran cepat saji. Sepanjang perjalanan menuju restoran, mereka berdua sama-sama diam dan tidak ada yang membuka pembicaraan. Setelah seorang pelayan datang, Sakha langsung memesan makanan. Karena dia memang sangat lapar saat ini. Sakha menatap Nasya yang hanya diam memandang ke luar jendela dengan tangan yang digunakan untuk menopang dagunya.
"Eh, lo ngga mau pesen makan?" tanya Sakha sambil menyenggol lengan Nasya sekilas.
"Hm ... ngga deh Kak, pesen minum aja. Mba oranye juice satu ya, terima kasih." Ucap Nasya sopan kepada pelayan tersebut.
"Baik, ditunggu sebentar ya mas, mba pesanannya." Pelayan itu pun pergi meninggalkan tempat Nasya dan Sakha.
Sakha merasakan sesuatu yang bergetar dibalik jaketnya, ternyata itu hp nya, Sakha pun langsung mengambil benda tersebut dan segera membaca nama yang tertera disana.
Rania's❤ is calling...
Setelah mengetahui siapa yang menelponnya, Sakha langsung mengangkatnya dengan senang hati.
"Hallo?"
"...."
"Iya aku lagi direstoran tempat biasa, kamu kesini aja."
"..."
"Aku sama adik kelas kita, kebetulan tadi aku ketemu dia di toko buku, karena aku laper dan ngga ada yang nemenin, aku ajak dia aja deh. Hehe ..."
"..."
"Iya, iya, ngga."
"..."
"Yaudah aku tunggu, hati-hati."
"..."
Setelah Sakha memutuskan panggilan tersebut, Sakha melirik ke arah Nasya yang masih melihat ke arah jendela.
"Liatin apaan si? Daritadi liatnya ke jendela terus?"
Nasya menoleh, lalu tersenyum dan menjawab. "Ngga liatin apa apa"
"Oh.." Sakha hanya ber-oh ria, dan setelah itu pesanan mereka pun datang. Sakha mengatakan sesuatu kepada Nasya sebelum Sakha makan.
"Annasya?"
"I-iya?"
"Rania lagi di jalan mau kesini. Jadi nanti terserah lo aja, mau tetep disini atau mau pulang."
"Oh.. gitu ya? Yaudah nanti gue pu-"
Belum sempat Nasya menyelesaikan ucapannya, seseorang memanggil namanya.
"NASYAA!!"
Nasya dan Sakha langsung melihat ke orang tersebut dan ternyata dia adalah,
"Kak Arsen?" tanya Nasya.
"Hallo, Sya! Hallo, Ar!" sapa Arsen kepada Nasya dan Sakha.
"Eh Arsen! tumben banget lo kesini bro!" ucap Sakha sambil bersalaman dengan Arsen.
"Iya nih, gua laper dan kebetulan lewat sini, yaudah mampir aja."
"Oh gitu." jawab Sakha.
"Eh iya? Kenapa kalian bisa bareng di sini? Wah-wah! Sakha parah lo! Jangan bilang lo selingkuhin Rania, ya? Gila aja lo, cewek secantik, sebaik, dan sepinter Rania lo selingkuhin. Gila, gila, gila. Kalau tau lo bakalan kaya gini Ar, mendingan Rania sama gu-"
Belum sempat Arsen menyelesaikan pidatonya, Sakha menyumpal mulut Arsen dengan tissu. "Heh! Itu mulut nyerocos aja kayak cabe-cabean! Siapa juga yang selingkuh? Gua tuh tadi ketemu sama dia di toko buku deket sekolah, terus gua laper dan gua ngga ada temen. Yaudah gua ajak dia."
"Kan kirain gitu, Ar. Lagian gua aneh aja, lo kan kalo kemana-mana ngga pernah sama cewek lain selain Rania, lah sekarang lo malah sama Nasya? Ya gimana gua ngga mikir yang ngga-ngga."
"Makan paya, iya, iya." jawab Sakha sambil menganggukan kepalanya.
Nasya terkikik geli mendengar jawaban Sakha. Sedangkan Arsen malah menoyor kepala Sakha hingga membuat sang pemilik sedikit meringis.
"Sakit pea!" kata Sakha sambil mengusap kepalanya.
"Alay banget si Ar, ya ampun kok Rania betah sih sama lo?" tanya Arsen sambil cekikikan.
"Ya betah lah, gua kan ganteng." Sakha lalu menyisir jambulnya ke belakang menggunakan tangannya.
"Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?" batin Nasya.
Tanpa sadar Nasya malah terus memerhatikan Sakha.
"Sya?"
Panggilan itu membuat Nasya akhirnya tersadar. Nasya langsung menoleh kepada orang yang memanggilnya tersebut.
"Eh iya, kenapa Kak Arsen?"
"Liatinnya biasa aja." Arsen lalu terkekeh pelan.
"Ha? Apaan? Liatin apa Kak? Gue ngga liatin apa-apa." tanya Nasya dan berpura-pura tidak tahu, padahal Nasya tahu bahwa Nasya sudah ketahuan Arsen sedang memerhatikan Sakha tadi.
Tanpa diduga, Arsen malah mengacak rambut Nasya hingga rambut Nasya menjadi sedikit berantakan. "Lucu banget si, Sya!"
Nasya hanya membalas dengan senyuman yang terlihat sedikit di paksakan.
"Yaelah, mau mesra-mesraan jangan di depan gua kek. Udah tau Rania belum dateng, kan gua kayak jadi nyamuk lo berdua kalau gini caranya." ucap Sakha sebal.
Bertepatan setelah berakhirnya kalimat Sakha, orang yang dari tadi ditunggu oleh Sakha akhirnya datang. "Ar, maaf ya aku lama, tadi soalnya macet." kata Rania yang masih berdiri disamping Sakha.
Sakha tersenyum, lalu menarik bangku di sebelahnya agar Rania bisa duduk.
"Kapan gue di tarikin bangku gitu sama Kak Sakha, ya? Eh apaan si, Sya? Lo mikirnya jauh amat hahaha." batin Nasya lagi.
"Sini duduk dulu masa ngomong sambil berdiri, sih?"
Rania pun segera melaksanakan apa yang Sakha bilang.
"Ngga apa-apa, kok. Kan biasanya aku yang suka telat." kata Sakha lalu menarik hidung Rania.
"Ih sakit tau Ar, kamu tuh kebiasaan banget sih main narik hidung aku aja!" kini Rania yang menarik hidung Sakha.
"Aduh! Aku kan tadi nariknya pelan kok kamu malah kenceng sih? Sakit..." kata Sakha dengan tampang yang memelas.
"Eh emang kenceng banget,ya? Maaf.." Rania lalu mengusap hidung Sakha dengan lembut, sangat terlihat sorot khawatir dan rasa bersalah dari kedua matanya.
"Hehe ngga kok, tadi pelan banget malah. Tapi kalau aku ngga bilang gitu, pasti kamu sekarang ngga bakal ngelus hidung aku kaya gini." ucap Sakha lalu tersenyum.
Rania langsung mendorong kening Sakha ke belakang. "Modus banget ih. Tau ah!" Rania langsung membuang muka.
"Ngambek?"
Rania tak menjawab.
"Jangan ngambek, maaf deh..."
"Ada syaratnya." Akhirnya Rania menjawab
"Apa?"
"Traktir cokelat sama es krim. Okay?"
"Iya, iya. Kebiasaan mintanya cokelat sama es krim. Nanti gendut lho!" ucap Sakha lalu mengacak rambut Rania.
"Biarin, kan yang gendut aku bukan kamu." Rania menjulurkan lidahnya kepada Sakha.
"Iyain aja deh. Yaudah mau kapan beli es krimnya? Sekarang? Besok? Atau tahun depan?"
Rania berpikir sebentar. Lalu ia tersenyum kepada Sakha. "Sekarang aja yuk?"
"Oke!" Sakha mengangkat jempolnya.
"Gua duluan ye, Bye!" pamit Sakha kepada Nasya dan Arsen.
"Eh gua sampe ngga nyadar lho kalau kalian ada di sini. Hehe sorry ya, abisnya Sakha mengalihkan dunia gua banget sih, haha..." ucap Rania kemudian ia tertawa.
"Belajar gombal dari mana kamu?" tanya Sakha curiga.
"Dari mana aja boleh. Udah ah kalau ngomong terus kapan perginya sih? Nasya, Arsen aku duluan ya!" pamit Rania akhirnya.
Sakha dan Rania pun pergi meninggalkan restoran tersebut, menyisakan Arsen dan Nasya berdua. Nasya menatap kepergian Sakha dan Rania dengan perasaan iri.
"Mungkin ngga ya suatu saat nanti bisa ada di posisi Kak Rania? Aminin aja deh, kan kata Qiana kalau jodoh ngga kemana. Haha..." batin Nasya lagi.
***