《5》Takdir Apakah Ini?

924 Words
Hari senin, hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Nasya. Setelah satu minggu penuh menjalani MPLS, akhirnya hari ini Nasya sudah resmi mengenakan seragam putih abu-abunya. Hubungan dengan para sahabat barunya kian hari semakin dekat. Nasya sangat bersyukur karena Tuhan mempertemukan Nasya dengan teman-teman yang sangat baik seperti Qiana,Qilla dan Sely. Jangan lupakan ketigat cowok tampan yang waktu itu mendatangi Nasya dan kawan-kawannya di kantin. Yap! karena sekarang mereka bertujuh sudah menjadi teman baik. Nasya tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan berteman dengan Kakak kelas yang ketampanannya melebihi rata-rata itu. Nasya dan yang lainnya merasa bahwa salah satu dari mereka ada yang kurang, pasti tidak akan seru. Dari hal kecil yang tidak penting, mereka akan membahasnya menjadi sebuah obrolan yang sangat menyenangkan. Bagaimana dengan Darrel? Abang Nasya yang satu itu tidak pernah menganggap Nasya ada. Setiap kali mereka bertemu atau berpapasan di sekolah, Darrel tidak melirik Nasya sedikit pun. Nasya bingung, sampai kapan abangnya yang satu itu akan terus salah paham dengan Nasya? Kapan abangnya itu mau mendengarkan penjelasan Nasya? Nasya menghela napas lelah, Nasya lelah menunggu sampai kapan Darrel tidak mau mendengarkan semua penjelasan Nasya yang sebenarnya? Sungguh, itu semua membuat Nasya pusing. Dari pada Nasya terus memikirkan hal itu, akhirnya Nasya menghentikan aktifitas melamunnya, dan Nasya segera menyusul teman-temannya di kantin. *** "Itu dia Annasya! Astaga beb kemana aja, sih? Aku kangen tau!" kata Arman sambil mengercutkan bibirnya. Nasya yang baru datang langsung bergidik ngeri melihat tingkah temannya yang satu itu. "Apaan sih lo, Man, najisin banget!" Nasya memutar bola mata malas lalu tertawa. Arman malah menyengir tak berdosa. "Najisin tapi sa-" Plak! Sebelum Arman melanjutkan ucapanya, sebuah tangan lebih dulu menggeplak kepalanya, "Bacot banget si lo! Sini, Sya, duduk samping gua aja, duduk di samping Arman nanti lo rabies." Itu Arsen yang berbicara. Sontak saja tawa mereka langsung terdengar, mereka memang paling senang melihat Arman yang selalu menjadi korban. "Diem lo semua! Tawa aja terus sampe gigi lo pada kering! Gue sumpahin mulut lo semua ga bisa mingkem!" Arman menghardik mereka semua dengan kesal. Mereka pun langsung menyudahi tawanya, kasihan juga Arman, jika mereka semua sedang berkumpul selalu Arman yang terkena bully. "Darimana aja, Sya, kok lama?" tanya Sely akhirnya. "Dari kelas aja kok, ngga kemana-mana." Nasya langsung memerlihatkan deretan gigi putihnya. Mereka bertujuh akhirnya menghabiskan waktu istirahat mereka dengan canda tawa bersama di kantin sampai bel masuk kembali berbunyi. **** Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Nasya tidak langsung pulang ke rumah. Nasya ingin pergi ke toko buku yang berada tidak jauh dari sekolahnya. Nasya hanya perlu menepuh waktu selama lima menit dengan berjalan kaki. Dan sekarang Nasya sudah berada di toko buku yang ia tuju. Nasya segera masuk dan mulai mencari buku yang Nasya inginkan. Ketika Nasya ingin mengambil sebuah novel horror, ada tangan lain yang ingin mengambil buku itu juga. Nasya langsung menoleh untuk mengetahui siapa orang yang ingin mengambil buku yang sama dengannya. Jantung Nasya langsung memompa lebih cepat dan kedua telapak tangannya kembali dingin. Nasya terdiam beberapa saat, sampai sebuah suara menyadarkannya. "Heh!" kata orang tersebut sambil menjentikan jarinya di depan wajah Nasya. "Eh? Em- Kakak gan- eh? Kak Sakha? Ngapain disini?" Sungguh Nasya sangat merutuki dirinya sendiri, untuk apa ia bertanya seperti itu? Jelas-jelas ini toko buku, ya pasti orang kesini untuk mencari buku. Seketika Nasya ingin menjadi pesulap yang bisa menghilangkan dirinya sendiri saat ini juga. Sakha mengangkat sebelah alisnya, Sakha sendiri bingung mengapa setiap Sakha bertemu dengan adik kelasnya yang satu ini, gadis itu selalu gugup. Lagi-lagi Sakha berpikir apakah Sakha ini menyeramkan? "Ini toko buku, ya gue nyari buku. Masa iya nyari bahan bangunan?" "I-iya juga sih, hehe..." Nasya mengangguk sambil meremas-remas roknya sendiri. "Lo ngga jadi ngambil buku yang ini?" Sakha mengangkat buku yang tadi mereka ingin ambil. "Ng- ngga jadi deh Kak. Buat Kakak aja. Saya duluan ya, Kak!" Nasya langsung memutar tubuhnya dan langsung buru-buru meninggalkan Sakha. Namun, untuk kedua kalinya pergelangan tangan Nasya ditahan oleh Sakha. "Tunggu! Dari pada lo pergi mending temenin gue." tawar Sakha setelah ia berhasil meraih tangan Nasya. "Te-temenin ke-kemana?" tanya Nasya dengan sangat gugup. "Makan." jawab Sakha dengan sangat singkat, padat dan jelas. Nasya langsung menganga tak percaya. Apakah kuping Nasya tidak salah dengar? Sakha tadi mengajaknya makan? Nasya terus saja mematung, sampai sebuah suara menyadarkannya kembali. "Ck, ayok buruan! Malah bengong disitu." Sakha yang tidak sabaran, akhirnya menggenggam dan menarik tangan Nasya. Nasya tidak bisa berkata apa-apa lagi saat tangannya berada digenggaman Sakha, Nasya mencoba mengatur detak jantungnya yang berdegup begitu cepat, tapi tidak bisa. Diam-diam Nasya menarik sudut bibirnya hingga melukiskan senyuman yang indah. Setelah sampai di luar toko buku, Sakha melepaskan lengan Nasya. "Tangan lo kok dingin banget? Lo sakit?" tanya Sakha. Sebenarnya Sakha bingung mengapa tangan Nasya sangat dingin waktu Sakha tarik tadi? "Ng-ngga kok. Ngga sakit." kata Nasya dengan terbata-bata. Sakha menyipitkan matanya curiga. "Lo kenapa dah kalo ngomong sama gue kok gugup banget gitu? Emangnya muka gue nyeremin?" Sakha menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuknya. "Eh? Ng- ngga kok. Anu- itu soalnya, emm.. ka-" belum sempat Nasya menyelesaikan ucapannya, Sakha sudah  lebih dulu memotongnya. "Daripada lo anu-anuan disini ngga jelas, mendingan kita langsung cabut aja deh. Kayanya lo kurang aqua." Sakha berjalan menuju motornya  dan Nasya membuntuti dari belakang. Bukannya segera naik ke motor Sakha, Nasya malah melamun. "Astaga ini bocah bengong mulu, Buruan naik!" Sakha jadi gemas sendiri melihat sikap Nasya yang seperti itu. Tanpa menjawab, Nasya segera naik ke motor Sakha. Dia berpegangan di ujung jaket berwarna abu-abu yang Sakha kenakan. "Udah?" tanya Sakha dibalik helm full facenya. "U-udah." Sakha langsung melajukan motornya. Nasya sendiri bingung mengapa dirinya selalu menjadi gagu saat sedang berbicara dengan Sakha? Tapi dari pada Nasya pusing-pusing memikirkannya, Nasya lebih baik menikmati apa yang sedang terjadi sekarang. Takdir apakah yang akan diberikan Tuhan kepada Nasya? Nasya sangat berharap semoga takdir baik akan datang kepadanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD