《4》Sampai Kapan?

1142 Words
Hari ketiga Nasya menginjakkan kakinya di SMA 2 Nusantara, hari ini seperti yang sudah dibicarakan kemarin oleh Sely, akan ada demo ekskul. Nasya sebenarnya tidak terlalu berminat mengikuti acara tersebut. Namun, karena Sely mengatakan bahwa Sakha mengikuti demo ekskul tersebut, Nasya kahirnya memutuskan untuk mengikuti acara tersebut. Kini semua perserta MPLS sudah berada di lapangan untuk melihat semua ekskul yang ada disekolah ini. Semuanya berjalan lancar sampai tiba saatnya ekskul pecinta alam yang mulai memperkenalkan ekskul mereka. Benar kata Sely, ternyata Sakha mengikuti ekskul ini. Dan lagi-lagi, Nasya merasakan jantungnya memompa lebih cepat dan kedua telapak tangannya dingin, padahal saat ini panas terik matahari menyoroti mereka semua yang sedang berada di lapangan. "Ya Allah ... gantengnya overdosis ..." Nasya membatin. Nasya terus menatap ke arah Sakha, padahal di sana bukan hanya Sakha yang mempromosikan ekskul tersebut, tapi entah mengapa kedua manik mata Nasya hanya berpusat pada satu titik, yaitu Sakha. Nasya sepertinya benar-benar jatuh hati pada pandangan pertama, mungkin bisa dibilang begitu. Karena, sebelumnya Nasya tidak pernah merasakan hal aneh yang terjadi pada dirinya seperti saat ini. Setelah demo ekskul selesai, semua murid pun kembali ke kelasnya masing-masing. Seperti biasa, Nasya, Qiana, Qilla dan Sely selalu bersamaan. Tapi, setelah sampai setengah jalan menuju kelas, Nasya tiba-tiba ingin buang air kecil. "Eh, gua mau ke toilet dulu, ya!" pamit Nasya kepada tiga temannya. "Mau ditemenin ngga, Sya?" tawar Sely pada Nasya. "Ngga usah, kalian duluan aja!" ucap Nasya, kemudian ia setengah berlari menuju toilet. *** Setelah Nasya membuang air kecilnya, ia langsung bergegas menuju kelasnya dengan berlari karena bel masuk sudah berbunyi. Nasya tidak ingin masuk kelas dengan terlambat, karena mau bagaimanapun alasannya dia pasti akan dihukum. Selain itu, tadi Nasya tidak izin terlebih dahulu dengan Kakak pembimbingnya sebelum pergi ke toilet. Alhasil, Nasya harus berlari dengan terburu-buru sampai ia tidak sadar jika tali sepatunya terlepas. Sepersekian detik Nasya tersandung tali sepatunya sendiri dan Nasya tahu bahwa dirinya akan terjatuh. Maka dari, itu Nasya segera menutup kedua matanya. Namun, ada yang aneh dengan dirinya, Nasya tidak merasakan bahwa ia terjatuh. Nasya merasa ia seperti ditahan seseorang. Saat Nasya membuka kedua matanya, ia langsung membulatkan kedua matanya, terlalu terkejut tetapi senang juga bisa berada sedekat ini dengan orang yang sudah membuat perasaannya aneh setiap Nasya melihatnya. "Jangan ngeliatin terus, gua pegel. Mau dilepas atau mau gua jatuhin?" Nasya akhirnya tersadar, lalu dia segera melepaskan dirinya dari dekapan orang yang telah menyelamatkannya tersebut. Nasya benar-benar seperti orang bodoh. Bukannya segera mengucapkan terima kasih lalu pergi, Nasya malah diam sambil terus menatap orang yang ada dihadapannya saat ini. "Malah bengong? Ngga mau ngucapin terima kasih?" tanya orang tersebut. "Eh? Umm ... ma-makasih Kakak gan- eh? Ma- maksudnya makasih Kak Sakha, saya duluan ya Kak, udah telat soalnya." Nasya langsung buru-buru meninggalkan Sakha. Namun, lengannya ditahan, Nasya langsung membalikan badannya lagi. "Ke-kenapa, Kak?" tanya Nasya gugup. "Iket dulu tali sepatu lu. Lagian gue ini Kakak pembimbing lu. Gua masih disini, ngga usah buru-buru." ucapnya dengan tegas. Nasya mengikat tali sepatunya dengan asal. Dia pun langsung pergi meninggalkan Sakha sendiri disana, Sakha menatap kepergian Nasya dengan bingung. "Emang gua serem, ya? Kok dia ngomong sama gue sampe gugup begitu?" tanya Sakha pada dirinya sendiri. Setelah Nasya sampai di kelas, ia langsung duduk disamping Qiana dengan napas yang masih terengah-engah. Qiana yang heran mengapa Nasya bisa sampai begitu akhirnya menanyakan keadaan Nasya. "Sya, are you okay?" Bukannya langsung menjawab, Nasya malah menyengir tidak jelas. "Iya gua ngga apa-apa. Tapi, kayaknya jantung gua yang bermasalah..." "HAH?! LO PUNYA PENYAKIT JANTUNG?" tanya Qiana panik, saking paniknya Qiana sampai berteriak. "Astaga Qia!" Nasya menepuk jidatnya, karena lagi-lagi perhatian seluruh siswa di kelas tertuju padanya. "Ada masalah Annasya? Qiana?" tanya Sakha yang baru saja memasuki kelas. "Ini Kak, kata Nasya jantungnya bermasalah." jawab Qiana terlalu polos dan jujur. Dan seketika semua yang ada di dalam kelas menjadi ricuh, mereka mengira bahwa Nasya mempunyai kelainan jantung, padahal nyatanya kan tidak. Belum sempat Nasya berbicara, Rania sudah menghampirinya. "Kamu sakit, Annasya?" tanyanya dengan lembut. "Ngga kak, alhamdulillah aku baik baik aja kok. Emang Qiananya aja,  kalo ngomomg suka ngga nyambung gitu." jawab Nasya lalu tersenyum. Qiana yang berada di sebelah Nasya, langsung memelototi Nasya hingga kedua bola matanya ingin lepas dari tempatnya, ih serem juga ya Qiana? "Lah, lu ngapain malah nyalahin gue?" tanya Qiana tidak terima. "Ya lagian lu emang ngga nyambung, Qi. Gua ngomong apa lu jawab apa." Nasya memutar bola matanya malas. "Sudah, sudah, kalian jangan ribut lagi. Annasya kalau kamu sakit ke UKS aja ya?" kata Rania sambil tersenyum ramah. Dan setelah Rania menenangkan mereka berdua, kelaspun kembali sepi dan hanya ada suara Kakak pembimbing yang terus mengoceh dari tadi tanpa henti. "Eh Sya, Kak Sakha beruntung banget ya bisa punya pacar kayak Kak Rania. Udah cantik, baik, ramah, sopan. Duh idaman banget emang!" cerocos Qiana tanpa sadar sudah membuat Nasya mengubah ekspresinya. Nasya hanya tersenyum singkat, lalu Nasya menganggukan kepalanya tanda bahwa Nasya setuju. Ya ... memang kenyataannya seperti itu, Nasya bisa apa? *** Bel pulang akhirnya berbunyi dan untuk kedua kalinya Dathan tidak bisa menjemput Nasya. Dengan berat hati akhirnya Nasya menunggu taksi lagi. Masih seperti sebelumnya, taksi yang Nasya tunggu tak kunjung datang. Sampai akhirnya, ada satu motor yang sudah berada tepat dihadapannya. "Kak Arsen?" tanya Nasya. Arsen tersenyum dibalik helmnya, "Belum pulang Sya?" Nasya hanya menggeleng sebagai jawaban. "Kenapa?" tanya Aresen lagi. "Lagi nunggu taksi." jawab Nasya jujur. "Lo nunggu taksi jam segini? Ngga bakal ada, Sya, soalnya jarang banget ada taksi lewat sini. Mau gua antar?" tawar Arsen akhirnya. "Ha? Ngga usah deh Kak, Nasya nunggu aja."  tolak Nasya. "Ngga apa-apa, Sya, ayok gue anter!" Arsen masih berusaha. "Ngga usah Kak, takut ngerepotin Kakak." Nasya tersenyum canggung. Sebenarnya Nasya tidak ingin pulang bersama Arsen karena Nasya baru mengenal Arsen kemarin. Bukannya tidak percaya pada Arsen atau bagaimana. Nasya hanya berjaga-jaga saja. "Yaudah deh, padahal gua ngga ngerasa di repotin sama sekali lho. Kalau gitu gua duluan ya, bye!" Arsen kemudian melajukan motornya pergi meninggalkan Nasya. Dan sebuah mobil kini sudah berhenti dihadapan Nasya, Nasya sangat senang karena Darrel mau pulang bersama Nasya lagi. Tanpa ba-bi-bu lagi, Nasya langsung masuk ke dalam mobil. Setelah Nasya masuk, Darrel langsung melajukan mobilnya. Di tengah perjalanan, Darrel akhirnya membuka suara  yang membuat Nasya ingin menangis rasanya, karena ini pertama kalinya setelah 3 tahun lamanya Darrel mengajaknya bicara lagi. Walau hanya satu kata yang mengharuskan Nasya berpikir terlebih dahulu sebelum menjawab. "Arsen?" tanya Darrel. "Maksudnya?" tanya Nasya bingung. Darrel tidak menjawab lagi, dia hanya memfokuskan pandangannya ke depan untuk menyetir. Setelah Nasya berfikir, mungkin Darrel menanyakan apa yang dia lakukan bersama Arsen tadi. Itu artinya, Darrel memperhatikan Nasya? Oh, betapa bahagianya Nasya hari ini karena Darrel memperhatikannya. "Umm ... itu tadi Kak Arsen ngajakin Nasya pulang bareng, tapi Nasya ngga mau." Nasya mengatakan itu dengan jelas. Namun, respon Darrel tetap sama, tetap diam. Akhirnya mereka sampai dirumah dan sebelum turun Darrel mengatakan sesuatu yang membuat Nasya ingin menangis sejadi-jadinya. "Jangan deketin temen gue, Arsen. Nanti dia mati!" Setelah Darrel mengatakan hal tersebut, ia langsung turun dari mobil, tanpa peduli dengan perasaan Nasya yang sungguh hancur. Ternyata Nasya salah bila menganggap Darrel peduli padanya. Kenyataannya, Darrel masih dan mungkin akan selalu membenci Nasya setelah kejadian waktu itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD