Ari..
Jumi tak ingin jauh-jauh dari Ari, meskipun dia sederhana dan tak memiliki harta,
baginya itu bisa di perjuangkan selama orang tersebut mampu dan berkeinginan kuat untuk merubah hidupnya,
" Ari, kamu kok jadi terbengong di sana sih, ayok.." Jumi tidak membuat Ari seperti kurang pekerjaan,
" nona, proyek ini sudah banyak yang ingin mengendorsnya, tapi ayah nona yang lebih unggul, aku harap nona bisa percaya dengan kami yang menanganinya nona tidak perlu turun langsung kelapangan, saya hanya tidak ingin nona menjadi kotor" kata Raffi,
lelaki ini ternyata pandai juga bersilat lidah,
" pak Raffi, saya berani turun kelapangan karena saya sudah siap dengan keadaan, jika nanti saya kotor karena suatu yang ada di sana, kan saya bisa pulang untuk mandi, tapi bagaimana jika ternyata di lapangan masih banyak yang bermalas-malasan dalam bekerja? saya tidak ingin proyek ini tidak selesai dalam waktu yang di tentukan, aku hanya ingin membuktikan pada ayah saya jika saya juga bisa berbisnis" jawab Jumi sambil tersenyum pada Raffi dengan terpaksa.
Raffi hanya takut jika Jumi tahu dirinya terlalu santai dalam bekerja,
dia tidak pernah perduli dengan proyek itu mau selesai tepat waktu atau tidak,
yang dia harapkan adalah uang dan keuntungan,
dia selalu berfikir, jika nanti proyek belum selesai, dan pemiliknya ingin agar sudah dapat di tinggali, dia tidak akan terjadi Apa-apa hanya pak Surya yang harus mengganti rugi,tapi dengan adanya Jumi sekarang, dia jadi sedikit takut.
" astaga wanita ini, ternyata sangat pintar tidak seperti dugaan aku,ah sial,," gumam Rafi,
-
tiba di tempat yang mereka datangi, ayah Jumi sudah menelepon Jumi, setelah melihat panggilan dari hpnya, ternyata ayahnya sudah menelepon sampai 3 kali,
" halo ayah, maaf tadi Jumi masih di jalan dan juga hp aku tak memiliki nada, jadi tak mendengar panggilan dari papa, maaf ya," kata Jumi yang berbicara,
ayahnya sedikit kaget mendengar perkataan Jumi,
dia biasanya tidak pernah menelepon kembali saat ayahnya menghubunginya berkali-kali, di tambah lagi dia jadi suka meminta maaf pada ayahnya saat berbicara jika ia salah,
" tidak apa sayang, ayah mengerti, dan itu supir, supir mana dia aku ingin berbicara dengan dirinya," kata ayahnya,
melirik Ari yang sedang berdiri di samping sambil memegang tas dan dokumen, Jumi lalu berkata" ayah mau ngomong apa coba sama dia, ayah , meski di supir ayah tidak boleh merendahkan dia, aku bisa marah dengan ayah" kata Jumi yang terlihat kesal,
Ari yang sedang berdiri sebenarnya sudah mendengar percakapan Jumi dan ayahnya, dia hanya tersenyum tapi tak ingin berpikir lebih,
Ari sudah memiliki wanita yang ia cintai,jika mengingatkannya
kadang Ari bisa tersenyum sendiri.