bab 8

524 Words
meskipun saat memasuki restoran itu hanya Jumi yang di perhatikan, bagi Ari , bisa makan di tempat yang mewah sudah cukup baginya. " ini hanya sekedar perkenalan kita di awal kamu bekerja, lain kali aku akan membawa kamu makan di cafe bintang lima" kata Jumi yang melihat ekspresi Ari sangat senang, " aku baru bekerja tetapi sudah di suguhkan dengan tempat mewah, jika seperti ini terus aku bisa tak memiliki uang nanti," jawab Ari sambil menunggu pesanan, Jumi hanya tersenyum mendengar jawaban Ari, dia tahu bahwa pria ini mungkin bukanlah tipe pria yang terlalu rakus jika di suguhkan dengan sedikit kekayaan, tapi bisa juga di artikan hanya karena baru pertama kali menginjakkan kaki di kota besar,hingga sebegitu terkejutnya, " kamu baru pertama kami ke kota tentu belum terbiasa, jika nanti sudah beberapa lama tinggal dan berbaur dengan orang-orang di sini tentu akan membuat kamu terbiasa" kata Jumi dengan tak melepaskan pandangannya pada Ari, lelaki ini, dari sudut manapun dia terlihat tampan meskipun menggunakan pakaian biasa. - selesai mereka makan, Ari di tunjukkan ke arah tempat proyek papa Jumi yang baru di kerjakan, sebenarnya Jumi menolak untuk menjadi pengawas di tempat itu, tapi sekarang dia menerima dengan senang hati itu karena ada Ari yang menemaninya. " nona, kita sudah sampai" kata Ari membuyarkan lamunan Jumi, entah apa yang ada di pikiran Jumi saat ini, " oh benarkah? aku bahkan merasa hanya duduk sebentar di dalam mobil" kata Jumi kemudian keluar dari mobil. " lain kali Ar, kalau kita sedang tidak di depan ayahku, kamu tidak perlu memanggil aku dengan sebutan nona, panggil Jumi saja, aku jadi tidak senang" Kata Jumi yang menunggu Ari membawa tas berisi dokumen tempat ia mengawas. " iya, nona, ..ah maaf, saya hanya merasa tidak sopan dengan memanggil anda dengan nama sendiri, taku t jika nanti tiba-tiba kita sedang di depan direktur, kemudian aku berbicara dengan memanggil nama kamu karena sudah biasa,? aku tak ingin di anggap munafik oleh beliau, mohon nona bisa mengerti." Ari menjawab dengan setulus hatinya, dia tidak ingin orang lain menganggap dia seseorang yang bermuka dua, tetapi aslinya adalah hanya karena uang. " yah Terserah kamu lah Ari, aku hanya beranggapan saja, aku tidak ingin kamu merasa aku adalah wanita yang sulit karena memiliki banyak uang" kata Jumi dengan sedikit cemberut, Ari hanya tersenyum dan tidak menjawab hanya mengikuti Jumi di belakangnya. "selamat pagi nona Jumi, saya Raffi dari departemen sosial, apakah anda pengawas baru di proyek pak Surya"? tanya seorang lelaki yang dari tadi sudah duduk di dalam kantor. " iya, saya Jumi Surya ningrat,anak dari pak Surya ningrat, pengawas di proyek ini, bapak ada keperluan atau?" tanya Jumi, Raffi hanya tersenyum dan menjawab " iya ,saya juga sebagai mandor di tempat ini, dan kemarin pak Surya sudah menghubungi saya, saya harap nona Jumi bisa bekerja sama dengan kami." Raffi berkata sambil melirik Jumi dan juga Ari, Jumi hanya mengangguk dan berkata " baiklah,anda boleh kelapangan sekarang ,nanti kami akan menyusul " hanya Ari saja yang terlihat bingung, dia tidak punya kemampuan tentang proyektor atau apapun, Ari pernah membantu pamannya untuk bekerja menjadi buruh di kampung, tapi karena terlalu berat pekerjaan, dia memutuskan untuk kekota saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD