BAB 1 : Penantian yang Berakhir Duka
Kediaman Eyang Kakung
Di meja makan
Suasana sarapan di kediaman Eyang Kakung terasa hangat, tapi ada yang kurang. Eyang Putri melirik ke sekeliling meja.
"Loh, Fal, istrimu Alia mana?" tanya Eyang Putri, tatapannya mencari-cari.
Bu Titah, dengan kerutan di dahi, ikut menimpali, "Iya, Dik, mana? Semuanya sudah kumpul loh ini."
Seketika, suara Bu Rahayu terdengar sinis, "Hmmph, perempuan itu lagi, kenapa perempuan itu lagi yang selalu ditanya oleh keluargaku?"
Bu Titah menoleh, bingung, "Kamu kenapa, Dik?"
Bu Rahayu sedikit menghela napas, mencoba mengendalikan diri. "Enggak kenapa-kenapa kok, Mbak. Fal, ayo cepat panggil istrimu," perintahnya, nada suaranya tak bisa menyembunyikan kekesalan.
"Nggih, Ma..." jawab Naufal patuh, bangkit dari kursinya.
Di kamar Naufal dan Istri
Naufal masuk ke kamar yang hening. "Loh kok nggak ada? Sayang...." Naufal memanggil.
Terdengar suara lemah dari kamar mandi, "Iya, Sayang... huwek..." Alia membalas, disusul suara muntah.
Naufal segera menghampiri, panik, "Sayang, kamu kenapa?"
Alia keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat, menyeka bibirnya. "Nggak kenapa-kenapa kok, Sayang, cuma agak pusing dan mual saja."
Mata Naufal membesar, sebuah pikiran melintas. "Oh ya, apa jangan-jangan kamu..."
"Apa iya, Sayang?" tanya Alia ragu, tatapannya penuh harap bercampur cemas.
"Tunggu sebentar..." pinta Naufal. Ia cepat-cepat membuka laci di samping tempat tidur, mengambil sesuatu, lalu kembali lagi ke kamar mandi.
"Ini, Sayang, coba kamu tes dulu pakai ini," Naufal memberikan sebuah tespack.
"Tapi, Sayang..." kata Alia ragu, tangannya gemetar.
"Sudah, kamu pakai saja dulu ya. Aku tunggu di luar," Naufal mencoba meyakinkan, mengusap lembut bahu istrinya.
Sementara itu, di meja makan, semua orang mulai gelisah.
"Haduh..." keluh Eyang Putri, tidak sabar.
"Kenapa, Bu?" tanya Bu Titah.
"Dua ponakanmu kok lama sekali ya, Nduk?" Eyang Putri kembali bertanya.
"Sabar, Bu. Kamil!" panggil Bu Titah kepada putra pertamanya.
"Nggih, Bu, ada apa?" sahut Kamil.
"Kamu susul Mas-mu gih ke kamarnya. Bilang kalau kita sudah menunggu untuk sarapan bersama," pinta Bu Titah.
"Oh, nggih, Bu. Nyuwun sewu," kata Kamil patuh, segera beranjak.
Tak berapa lama kemudian, di dalam kamar, Alia akhirnya mengetahui hasilnya. Sebuah senyum merekah di wajahnya, bercampur haru. Ya, Alia hamil.
Sudah lima tahun Alia dan Naufal menikah. Selama itu, Bu Rahayu, ibu Naufal, tak henti-hentinya menuntut cucu. Tekanan itu bahkan sampai pada titik di mana ia mendesak Naufal untuk menikah lagi. Namun, Naufal selalu menolak. Ia mencintai Alia sepenuh hati dan tak pernah sekalipun berpikir untuk berpoligami selama istrinya masih hidup. Baginya, belum dikaruniai anak bukanlah masalah besar; ia ingin menghabiskan sisa hidupnya berdua saja dengan Alia.
Naufal yang menunggu di luar kamar mandi dengan gelisah, mendengar isakan pelan. Ia segera masuk. "Bagaimana, Sayang? Gimana hasilnya?" tanyanya, cemas.
Alia menatap Naufal dengan mata berkaca-kaca, "Belum tahu, Sayang, aku belum lihat."
"Oke kalau begitu, sekarang kita lihat ya," pinta Naufal, mendekat.
"Iya, Sayang," kata Alia patuh, menyerahkan tespack itu.
Tiba-tiba, terdengar ketukan pintu. Tok... Tok... Tok...
"Siapa?" tanya Naufal, sedikit terkejut.
"Aku, Kamil," jawab suara dari luar.
"Oh, Mas Kamil, masuk, Mas," Naufal mempersilakan adiknya.
Kamil membuka pintu. "Maaf, Mbak, Mas. Ditunggu sama Uti untuk sarapan bersama," katanya, sedikit sungkan.
"Oh iya, nanti saya dan istri akan ke meja makan," sambung Naufal.
"Ya sudah kalau begitu, saya pamit nggih, Mas," pamit Kamil.
"Nggih..." kata Naufal dan Alia bersamaan.
Setelah Kamil pergi, Naufal kembali fokus pada Alia dan tespack di tangannya.
"Alhamdulillah, Sayang, aku positif hamil!" kata Alia, kemudian memeluk suaminya erat-erat, menangis bahagia di d**a Naufal.
"Haaaa.... Yang benar, Sayang? Coba aku lihat!" pinta Naufal, tak percaya.
"Ini, Sayang..." Alia memberikan tespack itu, menunjukkan dua garis merah yang jelas.
"Alhamdulillah... Terima kasih ya Allah, Engkau telah mengabulkan doaku dan doa istriku!" kata Naufal terharu, mencium kening Alia berkali-kali. Doa mereka dan doa Eyang Putri telah terkabul. Bu Rahayu akhirnya akan mendapatkan cucu yang selama ini ia dambakan.
"Mama harus tahu, Sayang," sambung Alia, tak sabar.
"Iya, Sayang, yuk sekarang kita turun dan kita beritahu Mama dan yang lainnya!" Naufal mengajak Alia keluar dari kamar, senyum lebar menghiasi wajah mereka berdua.
*
*
*
*
Di meja makan
Tak lama kemudian, Naufal dan Alia akhirnya muncul di ambang pintu ruang makan. Suasana tegang seketika.
"Assalamu'alaikum," Naufal memberi salam, diikuti oleh Alia yang tersenyum canggung.
"Wa'alaikumsalam," Eyang Kakung menjawab, tatapannya menyiratkan kelegaan.
Namun, Bu Rahayu segera menyambar. "Hmmph... Kalian ini lama sekali! Alia, kamu ini ya, manja banget sih jadi istri!" suaranya penuh sindiran.
Alia menunduk, hendak bicara, "Maaf, Ma, aku..."
"Kamu ini kenapa sih, Dik?!" Eyang Putri langsung memotong, nada suaranya tegas. "Ini menantumu loh, kok kamu begitu ya! Ibu dan Bapak tidak mengajarkan kamu begitu loh!"
Bu Rahayu sedikit mengernyit. "Bukan begitu, Bu. Aku hanya kasihan saja dengan semua orang yang ada di meja makan ini pasti sudah lama menunggunya dan juga pastinya sudah lapar, kan."
"Ya tapi nggak harus begitu juga, Dik!" Eyang Putri tak menyerah. "Alia menantu di rumah ini! Menantumu, hargailah dia, hargailah perasaannya juga! Ibu perhatikan ya, dari pertama kali Naufal mengenalkannya sebagai pacar, kamu tidak menyukainya. Sekarang sudah menikah dengan Naufal pun kamu tidak menyukainya. Sekarang Ibu tanya sama kamu ya, kalau kamu berada di posisi Alia sekarang, bagaimana?!"
Bu Rahayu terdiam, tak mampu menjawab. Tatapannya beralih pada Alia yang berdiri di samping Naufal, yang kini sedikit tersenyum tipis, memegang sesuatu.
Bu Titah, kakak Bu Rahayu, yang duduk di seberang, menyadari gestur Alia. Ia mengerutkan dahi, mencoba menebak apa yang digenggam Alia.
Itu apa ya yang digenggam oleh Alia? pikir Bu Titah.
Pak Fitroh, suami Bu Titah, menyadari kebingungan istrinya. "Kenapa, Bu?" tanyanya lembut.
"Itu loh, Bi, Abi lihat tidak? Tangan Alia seperti menggenggam sesuatu," jawab Bu Titah, berbisik.
"Coba Ibu tanya saja dengan Alia," pinta Pak Fitroh.
"Oh ya, Alia..." panggil Bu Titah, menarik perhatian.
"Iya, Budhe?" sahut Alia.
"Itu apa? Boleh Budhe lihat?" tanya Bu Titah penasaran.
"Boleh, Budhe. Ini!" Alia mengulurkan tangan, menyerahkan tespack yang digenggamnya sejak tadi.
Mata Bu Titah membelalak melihat dua garis merah yang jelas. "Positif! Alhamdulillah, kamu hamil, Nduk?!" tanyanya, suaranya naik satu oktaf, penuh haru.
"Inggih, Budhe..." jawab Alia tanpa ragu, senyumnya kini mengembang sepenuhnya.
"Tunggu sebentar, Budhe pinjam dulu ya sebentar," pinta Bu Titah, tak sabar.
"Inggih, Budhe..." jawab Alia patuh.
Bu Titah langsung berbalik ke arah Eyang Kakung. "Pak, Bapak!" panggilnya, tak bisa menyembunyikan kegembiraan.
"Nggih, Nduk, menapa ta?" tanya Eyang Kakung, sedikit terkejut dengan ekspresi Bu Titah.
"Niki loh, Pak!" Bu Titah menyodorkan tespack itu.
Eyang Kakung mengernyit, melihat benda di tangannya. "Niki panjenengan, Nduk?" tanyanya, mengira itu milik Bu Titah.
"Mboten Kawula, Pak. Nanging niku estrine Naufal, Alia sing mbobot," jelas Bu Titah, bahasa Jawanya fasih. (Bukan saya, Pak. Tapi itu istrinya Naufal, Alia yang hamil.)
Senyum perlahan mengembang di wajah Eyang Kakung. "Oh nggih. Sampun, serahkan sedanten sami Bapak, nggih, Nduk," katanya, penuh makna. (Oh iya, serahkan semuanya pada Bapak saja, ya, Nduk.)
"Nggih, Pak..." sambung Bu Titah, menatap Bu Rahayu dengan tatapan penuh arti.
Kemudian, Eyang Kakung berdehem keras, menarik perhatian semua orang, terutama Bu Rahayu yang masih terdiam setelah dimarahi Eyang Putri.
"Ehem..." Eyang Kakung menoleh pada Bu Rahayu. "Sudah, ini, Wi," katanya sambil memberikan tespack itu kepada Bu Rahayu.
Bu Rahayu mengambilnya dengan bingung. "Apa ini, Pak? Tespack?! Mbak..." Ia menatap kakaknya, Bu Titah.
"Nggih, Dik," sambut Bu Titah, tersenyum lebar.
"Mbak hamil lagi?" tanya Bu Rahayu, masih belum mengerti.
"Bukan. Tapi tespack itu punya seorang anak perempuan orang yang masuk ke dalam keluarga ini dan sekaligus istri dari anakmu Naufal," jawab Bu Titah, suaranya sedikit meninggi agar jelas.
"Maksudnya? Alia..." Bu Rahayu menoleh pada Alia.
"Iya, Ma..." jawab Alia lembut, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Ini tespack kamu?" tanya Bu Rahayu, memastikan.
"Iya, Ma, itu tespack Alia..." Naufal akhirnya ikut bicara, mendekat, merangkul Alia.
Bu Rahayu menatap tespack di tangannya, lalu ke wajah Alia, lalu ke Naufal. Sebuah senyum tak terduga perlahan merekah di wajahnya. "Alhamdulillah... Akhirnya aku punya cucu dari putraku!" Matanya ikut berkaca-kaca.
"Tadinya aku dan istriku mau memberikan Mama dan semuanya kejutan. Eh, tapi malah Mama begitu," kata Naufal, tersenyum tipis, menyindir.
"Maaf, Sayang, Mama..." Bu Rahayu sudah tidak bisa berkata-kata lagi, rasa bersalah dan bahagia bercampur aduk.
"Teteh sama Dede senang, Abang sekarang akan punya anak!" seru Fitri, kakak Naufal, dengan gembira.
"Selamat ya, Bang!" sambung Alya, adik Naufal, ikut memeluk Alia dan Naufal.
"Terima kasih..." jawab Naufal dan Alia bersamaan.
"Naufal, Mama minta maaf ya," Bu Rahayu kembali meminta maaf, kali ini dengan tulus.
"Sudah begini saja baru kamu minta maaf!" protes Eyang Putri, masih kesal.
"Sudah, sudah! Mau sampai kapan ini? Sudah lapar nih! Sudah, ayo makan dulu!" protes Eyang Kakung, melerai.
Akhirnya, semua sarapan bersama di meja makan, dengan suasana yang jauh lebih hangat dan penuh kebahagiaan.
Beberapa jam kemudian...
Ketika para suami di rumah hendak pergi ke kantor, suasana ceria itu mendadak buyar. Alia yang sedang mengantar Naufal ke depan, tiba-tiba memekik pelan.
"Aduh!" Alia memegang perutnya. Wajahnya pias.
"Sayang, kamu kenapa?!" Naufal panik.
Alia tak bisa menjawab. Ia hanya bisa menunjuk ke bawah, di mana bercak darah merah mulai membasahi lantai.
Semua orang yang melihat sontak panik dan cemas. Tanpa buang waktu, Naufal dan yang lain segera membawa Alia ke rumah sakit.
Dan ya... Berita duka itu akhirnya datang. Alia mengalami keguguran. Ternyata, kandungan Alia memang lemah. Mimpi indah itu sirna begitu saja.
Di Rumah Sakit
Di UGD (Unit Gawat Darurat)
Suasana di depan ruang UGD mencekam. Naufal terlihat sangat gelisah, mondar-mandir. Wajah Alia yang pucat dan bercak darah di pakaiannya masih terbayang di benaknya.
"Maaf, Bapak, mohon tunggu di sini. Biar dokter memeriksanya," kata seorang perawat, menahan Naufal agar tidak masuk ke dalam.
Bu Rahayu duduk di kursi tunggu, wajahnya tegang. Ia meremas tangannya sendiri, bibirnya berkomat-kamit. "Semoga tidak terjadi apa-apa dengan calon cucuku, ya Allah," doanya, kali ini terdengar tulus.
Bu Titah menepuk pelan bahu adiknya. "Sabar, Dik. Doa saja semoga menantu dan calon cucumu selamat, sehat, dan tidak terjadi apa-apa pada kandungan Alia, menantumu," ujarnya, ikut menengadahkan tangan.
"Aamiin... Terima kasih, Budhe..." Naufal bersuara, suaranya serak menahan tangis.
Tak lama kemudian, seorang dokter muda dengan langkah cepat berjalan menuju UGD.
"Di mana Sus pasiennya?" tanya Dokter Reva, suaranya tegas.
"Sudah di UGD, Dok..." jawab perawat itu.
"Oh, oke..." Reva mengangguk, lalu masuk ke dalam ruang UGD.
Bu Rahayu menatap punggung dokter itu, merasa ada sesuatu yang familiar. Wajahnya tidak asing, tapi siapa ya? batinnya, mencoba mengingat.
PT. Nano's Grup
Di ruangan Afif
Di kantor yang berbeda, suasana bisnis tetap berjalan. Pak Fitroh, dengan setelan rapi, memasuki ruangan Afif.
"Fif..." sapa Pak Fitroh.
"Iya, Pakdhe?" jawab Afif, mendongak dari layar komputernya.
"Alfi mana?" tanya Pak Fitroh.
"Loh, memangnya di ruangannya nggak ada ya, Pakdhe?" tanya Afif balik, sedikit terkejut.
"Tadi Pakdhe sudah cek ke ruangannya, nggak ada," jawab Pak Fitroh.
Tepat saat itu, terdengar suara salam dari ambang pintu. "Assalamu'alaikum..." Alfi muncul.
"Wa'alaikumsalam..." Afif dan Pak Fitroh menjawab serempak.
"Itu, Pakdhe, Alfinya," kata Afif, menunjuk Alfi.
"Ya..." Pak Fitroh tersenyum kecil.
"Kenapa, Pakdhe?" tanya Alfi, menghampiri mereka.
"Hari ini, kan, nggak ada meeting. Gimana kalau kita makan siangnya di luar saja? Terus habis itu kita ke rumah sakit, ya," ajak Pak Fitroh.
Afif dan Alfi saling pandang, sedikit bingung. "Oh, iya, Pakdhe..." jawab mereka bersamaan, masih bertanya-tanya ada apa sebenarnya.