Satu jam yang lalu.
“Re, tolong anterin aku ke rumah sakit ya soalnya aku ngerasa lemes banget karena sejak semalam aku demam, aku enggak tahu harus minta bantuan siapa selain sama kamu.”
Pesan itu berhasil membuat Rehan khawatir dengan keadaan Ratu saat ini. Apalagi di kota ini tidak ada yang wanita itu kenal selain dirinya atau Natalie.
Pria itu terlihat sedang mempertimbangkan untuk membantu Ratu atau tidak. Rehan takut jika bantuannya malah membuat kekasihnya salah paham padahal pria itu sudah berniat memperbaiki semuanya.
“Tapi, bagaimana jika Ratu memang sedang sakit dan tidak ada yang membantunya?”
Di sisi lain, Rehan masih menaruh perasaan spesial untuk wanita itu sehingga ada rasa khawatir yang memang tidak dapat pria itu ditahan atau pun bersikap acuh.
***
Kini Rehan sedang menunggu Ratu yang saat ini sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan selang infus di tangannya.
Beruntung pria itu mengambil keputusan yang tepat karena sesampainya di apartemen milik Ratu, wanita ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Ratu tidak berbohong saat mengatakan kalau dirinya sedang demam hingga mengalami dehidrasi kata dokter yang memeriksanya tadi.
Selain itu, dokter juga menyampaikan kalau penyebab lainnya Ratu demam tinggi salah satunya adalah stres berlebih. Tentu hal itu membuat Rehan merasa sangat bersalah.
Ya, pria itu berpikir penyebab stres Ratu karena hubungan mereka yang kandas secara sepihak hingga membuat Rehan kini dihantui dilema. Apalagi setelah melihat kondisi wanita itu yang kini sangat lemah.
“Apa aku sudah mengambil keputusan yang salah dengan meninggalkanmu?”
Rehan mengusap lembut puncak kepala wanita yang masih terpejam tersebut. Bohong rasanya kalau selama beberapa bulan menjalin hubungan terlarang dengan Ratu, Rehan tidak memiliki perasaan apa pun. Ditambah dirinya ada di rumah sakit untuk menemani wanita itu tanpa sepengetahuan kekasihnya.
“Aku benar-benar tidak bisa memilih antara Natalie dan juga Ratu karena aku masih mencintai keduanya dan mereka seolah punya tempat spesial di hatiku.”
Rehan mengepalkan tangannya yang lain untuk meredam emosinya yang sedang kesal dengan dirinya sendiri. Pria itu merasa terjebak dengan hubungan yang terjalin secara tidak sengaja tersebut. Andai waktu dapat diputar kembali, Rehan mungkin akan menjaga hatinya hanya untuk Natalie saja.
“Re–Rehan,” panggil Ratu dengan suaranya yang terdengar lirih.
“Kamu butuh sesuatu? Atau mau minum dulu? Biar aku ambilkan.”
Wanita itu tersenyum dengan tangannya yang berusaha menyentuh pipi Rehan. “Terima kasih karena sudah datang dan membawaku ke sini.”
“Sama-sama tapi sebaiknya habis ini ka—”
“Re, apakah tidak ada kesempatan buat kita kembali seperti dulu? Aku masih sayang sama kamu,” potong Ratu dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya.
Hati Rehan semakin terenyuh sehingga tidak tega jika harus menolak ajakan wanita itu untuk kembali bersama.
“Aku juga sayang sama kamu jadi kamu harus makan terus minum obat supaya cepat sembuh,” balas Rehan sambil meremas lembut tangan Ratu yang masih memegang wajahnya.
Wanita itu menganggukkan kepala lalu Rehan membantu wanita itu untuk duduk bahkan menyuapinya dengan penuh kasih sayang. Pria itu berharap setelah ini Ratu akan segera sembuh.
“Rehan berjanjilah kalau kamu tidak akan meninggalkan aku ya,” kata Ratu dengan tangannya memegang tangan pria itu ketika hendak menyuapinya.
“Tentu, aku akan terus bersamamu tapi bisakah kita lebih berhati-hati kali ini?” Pertanyaan Rehan langsung dijawab anggukan kepala oleh wanita itu sambil tersenyum.
Wanita itu merasa senang karena pada akhirnya mereka bisa kembali bersama. Jujur saja kehilangan Rehan membuat wanita itu terpukul dan tidak sengaja menyakiti dirinya hingga harus dirawat di rumah sakit.
Pukul enam sore Ratu baru saja sampai di apartemen miliknya dengan matanya yang sembab akibat menangis sepanjang perjalanan pulang. Wanita itu sempat melirik ke arah ponselnya ketika mendapatkan notifikasi pesan.
Ratu sempat tersenyum kala melihat nama Rehan tertera di layar ponsel miliknya. Tapi dalam sekejap senyum itu memudar digantikan dengan air mata yang lagi-lagi membasahi wajahnya.
“Ratu, aku mohon dalam dua minggu ini kamu segera keluar dari apartemen itu dan mulai besok kamu tidak usah lagi bekerja di cafe karena aku tidak ingin Natalie marah. Tapi kamu tenang saja nanti akan aku kirimkan uang pesangon untukmu.”
Ratu baru saja kehilangan kekasihnya satu jam yang lalu tapi kini wanita itu harus kehilangan tempat tinggal dan juga pekerjaannya. Wanita itu tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya selanjutnya, apalagi sebelumnya Ratu sulit sekali mendapatkan pekerjaan.
Wanita itu melemparkan ponsel miliknya di atas sofa begitu saja lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Setelah itu, Ratu menangis sambil berteriak di bawah kucuran air shower yang sudah membasahi wajahnya.
“Kenapa semua ini terjadi kepadaku? Kenapa semuanya menghilang dalam sekejap?”
Ratu merasa dunia tidak ada adil padanya karena dirinya harus kembali hidup susah, rasanya baru sebentar wanita itu menikmati semua hal yang sudah Rehan berikan kepadanya.
“Apakah lebih baik aku mati saja daripada harus kembali hidup seperti itu? Apalagi aku masih mencintainya....
Tanpa sadar wanita itu berada di bawah dinginnya air shower hingga dua jam lamanya. Ditambah wanita itu tidak mengisi perutnya dengan makanan atau minuman sampai malam berganti pagi.
“Sayang, tunggu sebentar ya Natalie telepon.”
Setelah Ratu menganggukkan kepalanya pria itu menjawab panggilan dari kekasihnya sambil meletakkan di atas meja secara perlahan. “Halo Sayang, ada apa? Kamu sudah sampai di kantor, ‘kan?”
“Udah dari tadi sih, kamu sendiri udah sampai cafe?”
“Udah kok, Sayang.”
“Ya udah aku cuma mastiin aja kalau kamu memang udah sampai di cafe dan enggak....”
“Ya ampun Sayang, aku beneran udah di cafe mau aku kirimin fotonya?” potong Rehan yang tidak ingin dicurigai oleh kekasihnya.
Memang sejak kemarin sikap Natalie berubah jadi lebih protektif kepada pria itu seolah tidak ingin kejadian yang sudah menimpanya terulang kembali.
“Iya boleh, coba sekarang ganti panggilannya jadi video call,” tantang Natalie.
Rehan mulai terlihat panik karena Natalie meminta bukti dengan panggilan video. Ratu yang sedari tadi memperhatikan pria itu mengobrol dengan mantan sahabatnya tersebut.
“Ada apa?” tanya Ratu tanpa suara dan pria itu bisa mengetahuinya dengan gerakan bibirnya.
Rehan menutup rapat-rapat lubang suara lalu menjauhkan ponselnya. “Natalie meminta bukti kalau aku sudah ada di cafe,” bisiknya.
“Kamu pergi ke kamar mandi sekarang,” titah Natalie sambil berbisik dengan menunjuk ke arah kamar mandi.
“Halo Rehan, kamu masih di situ, ‘kan?”
“Iya Sayang sebentar,” balas Rehan yang sudah mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya sambil melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Setelah itu Rehan duduk di atas kloset dan mengganti panggilan itu menjadi panggilan video. Di saat itu Natalie langsung mengernyitkan dahinya.
“Itu kamu lagi di mana?”
“Aku sebenernya lagi di kamar mandi karena aku....”
“Oke sekarang aku percaya jadi lebih baik kamu terusin kegiatan kamu,” potong Natalie yang langsung mematikan sambungan video call tersebut.
Rehan hanya bisa terkekeh setelah melihat ekspresi kekasihnya yang terlihat malu karena untuk pertama kali mendapati dirinya sedang di kamar mandi.
“Syukurlah kali ini aku beruntung,” gumam Rehan sambil melangkahkan kakinya ke luar kamar mandi.