Bab 11 - Bicara “Lan.” “Iya, kenapa?” Dia bertanya dengan nada antusias yang sangat berlebihan sembari mendekatkan wajahnya, yang langsung gue dorong. Karena jaraknya yang terlalu dekat. “Enggak usah cari-cari kesempatan ya!” Gue mendelik tajam ke arahnya. Dia malah tertawa, yang membuat gue semakin dongkol karena tingkahnya. Saat ini, kami berdua sedang duduk bersebelahan di atas bangku yang terdapat di halaman depan rumah. “Jangan cemberut gitu dong,” ujarnya sok manis, dan gue langsung mencibir. Kemudian raut wajahnya berubah secara perlahan-lahan, dan menjadi lebih serius dari sebelumnya. “Kamu mau bilang sesuatu?” Nice question. “Mulai besok, lo enggak usah antar-jemput gue lagi. Gue bisa pergi ke toko sendiri.” Dia hanya manggut-manggut tanpa memberikan balasan apa-apa.

