Dokter Amed memandang wajah Kia di belakangnya terlihat Yilla dengan senyuman manis, sepertinya gadis kecil sedang mengantarkan sumber gosip panas yang menjadi topik serta pusat perhatian bulan ini keruang kerjanya.
Yah, semua orang di seluruh rumah sakit sedang penasaran dengan satu orang gadis yang berhasil menjinakkan serta merubah sikap dan kelakuan dokter yang di juluki Setan Operasi Psycho Daiki, menjadi pribadi yang lebih kalem dan murah senyum.
"Kia, sudah saya bilang sebelum masuk ketuk pintunya dulu." Tegur dokter Amed yang berwajah campuran.
"ok"
Kia langsung menarik Yilla keluar lalu menutup pintu ruangan.
Tok..tok..tok..
"Ya, masuk" dokter Amed berusaha untuk tidak gemas. Sumpah, dia ingin sekali menjewer Kia.
"Misi dokter..boleh masuk..?"
"kan saya tadi udah izinin masuk. Kia kalau kamu mau kesini cuma untuk menganggu mending minggat sana, kerjaan saya masih banyak.." usir Amed sambil mengecek satu persatu data rekap kesehatan pasien.
"Aduh, kak...jangan sok-soan jadi kulkas ya. Pria dingin nggak cocok buat image dokter seperti kakak.." ejek Kia melangkah mendekati kursi tepat duduk di hadapan meja Amed. "Kak Yilla, sini.." ucapnya meminta Yilla untuk duduk bersebelahan di sampingnya.
"Cepat katakan maumu lalu. Pergi.."
"Cih, kakak kasar sekali.." keluh Kia sembari menatap Amed yang masih serius denga kertasnya.
"Kia, ini bukan saatnya kamu jalan-jalan santai. Apa kamu sudah melakukan persiapan untuk operasimu nanti?" tanya Amed memperhatikan Kia yang sibuk bermain dengan hiasan di atas meja kerjanya.
"Hmm.." angguk Kia membuat mau tak mau Amed berhenti fokus dan kini akhirnya jadi memandang kedua gadis di hadapannya.
"Baiklah, kalian berhasil mendapatkan perhatianku. Jadi apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Amed dengan intonasi sopan membuat Kia langsung memandang Amed dan memulai pembicaraan.
"Kak, perkenalkan ini Yilla.."
Amed mengangguk demi kesopanan begitu-pun Yilla yang membalas salam tersebut.
"Dia anak salah satu pasien yang di rawat di rumah sakit ini, keperluannya kesini mau konsultasi kak... Hm, dia pengen operasi seperti Kia.." lanjut Kia singkat.
Suasana hening terdengar suara kecil dari penyemprot ruangan yang menyebarkan aroma lavender, Dokter Amed memperhatikan Yilla seolah sedang menilai serta mencari sesuatu yang kurang pada diri Yilla.
"Aku lihat tidak ada yang perlu di perbaiki..! "Sindir Dokter Amed.
"Ada." sahut Yilla cepat.
Dokter Amed menaikkan alisnya sebelah menunggu jawaban detail dari kedua gadis di hadapannya. Pasalnya mereka berdua nampak ragu, Kia mengangguk memberi semangat pada gadis cantik di sebelahnnya seolah sedang memberi dukungan.
Kadang dokter Amed kesal oleh sikap para kaum hawa padahal mereka sudah terlahir dengan wajah sempurna tapi, masih saja merasa serba kurang.
Yah, kurang..
Kurang bersyukur..?!
Ingin wajah tiruslah, ingin bibir sexy, ingin tambah cantik, malah ada yang lebih parah..
Ingin ganti kodrat..
Ya tuhan, padahal setiap orang sudah di lahirkan dengan ketentuan laki-laki serta perempuan, yang membuat dokter Amed benci adalah saat dia menemukan pasien yang ingin merubah jati dirinya menjadi lawan jenis. Dia selalu menolak pasien apa-pun masalahnya bahkan dia meminta teman atau doker lain untuk mengurusnya.
Dokter Amed kembali fokus pada Kia yang mengatakan kalimat dukungan..
"Tidak apa kak..kasih liat aja.."
Yilla dengan perlahan membalikan tubuh lalu mengangkat rambut panjangnya, membuat muka dokter Amed mendadak serius, lalu saat Kia membantu membuka resleting baju perlahan terlihat kulit yang terkelupas serta rusak parah di seluruh punggungnya. Dokter Amed terdiam.
"Apa bisa Dokter menghilangkan ini, saya juga ingin hidup normal..?" tanya Yilla
Yilla kemudian menurunkan rambutnya merasa malu, Kia juga langsung menaikkan resleting bajunya.
"Tunggu.."
Dokter Amed langsung berdiri mendekati kursi Yilla lalu menghentikan tangan Kia yang akan mengunci baju itu sepenuhnya.
"Apa seluruh punggung hingga sampai ke..?" tanya dokter Amed meminta penjelasan sembari menyentuh permukaan kulit yang rusak parah.
"Ya, sampai ke bagian paha atas.." lanjut Yilla menjauh dari sentuhan tangan, membuat sang dokter mengangguk mengerti lalu bangkit dan berpikir.
"Bagaimana..?" tanya Kia membantu Yilla merapikan bajunya. "Bagaimana kak, apa kak Yilla bisa di operasi seperti Kia..??"
Dokter Amed mundur perlahan lalu kembali duduk di kursi kebesarannya menatap Kia dan Yilla bergantian. "Sebaiknya kau fokus dulu untuk jadwal Operasimu lusa ini, persiapkan dirimu sendiri dulu baru orang lain.." omel dokter Amed.
"Buuuuhhh...." olok Kia sebel.
"Yilla, saya akan berusaha membantu anda?! Besok pagi anda bisa melakukan beberapa pemeriksaan lebih lanjut, kami tidak bisa langsung mengoperasi. Harus beberapa kali di cek serta di periksa bagian mana serta seberapa parah jaringan kulit yang rusak dan kulit mana yang bisa diperbaiki tapi, kita harus melakukannya dengan sabar.." terang dokter Amed.
"Yeaaaa..., kak Yilla. Tuh kan apa kataku kalau nggak di coba kita nggak akan tau. Ayoo...berjuang bersama-sama..!!!" teriak Kia girang.
"Kia..." tegur Dokter Amed memandang Kia tajam.
"Ayo, berjuang bersama..." pekiknya dengan suara pelan sambil mengangkat tangan.
"Tapi, biayanya...?"
"Untuk hal itu kak, jangan sedih dulu. Ya kan kak...konsultasi aja dulu..."
" Maaf, di sini siapa dokternya ya?"
" Kak...hehehe.." tawa Kia.
Yilla tertawa melihat kelakuan Kia yang lebih antusias dari pada dirinya, lalu mereka berdua berpelukkan di dalam ruangan sang dokter. Sementara, Amed terus memperhatikan Kia dan ikut tersenyum kecil melihat kelakuan gadis pujaannya.
Ya, Amed terus Kagum oleh perjuangan Kia yang bisa sampai pada titik ini, gadis biasa yang tak ingin mengecewakan orang tuanya. Putus sekolah oleh bullying serta wajah rusaknya membuat dia sering mendapat perlakuan kasar tapi, gadis itu tidak pernah menyerah. Mulai dari pendanaan sponsor demi operasi hingga, beberapa rumah sakit yang menolak mengoperasi karena, memang kerusakan pada wajahnya sangat parah. Amed yang memperjuangkan gadis itu membawanya kerumah sakit besar di sini karena, memang fasilitas di tempat inilah yang paling lengkap.
Tak terasa waktu berlalu sangat lama, awal dimana Amed masuk kedalam rasa kagum, lama kelamaan menjadi suka dan kini makin bekembang mejadi lebih parah. Dia tersenyum senang serta ikut bahagia, memang yang namanya bersabar itu selalu membuahkan hasil. Kehadiran Yilla memberi alasan untuk Amed menarik Daiki.
Amed tak menyangka Kia menarik dewi penyelamat kepihaknya. Daiki adalah dokter yang sangat mood-moodan, terkadang bisa mendadak baik...baik sekali..terkadang bisa kejam serta sadis tapi, ada kalanya dia menjadi kaku serta dingin.
Amed sampai di buat binggung dia itu dokter atau bunglon.
Sebenarnya Amed ingin meminta tolong Daiki untuk ikut operasi bedah plastik Kia karena, dia memang butuh dokter penyakit dalam untuk membedah area sekitar mata Kia. Ada jaringan pada saraf mata yang harus di perbaiki, sudah beberapa kali dia mengirim email serta pesan untuk meminta tolong pada dokter Daiki namun, tak kunjung di respon.
Sampai dokter Amed memutuskan untuk mengganti dokter Daiki dengan dokter lain karena, surat atau email yang dia kirim belum menerima balasan. Hingga, di malam itu seluruh dokter bedah senior spesialis penyakit dalam di panggil untuk mengoperasi seorang wanita.
Dokter Amed memang akan berbicara langsung soal Kia pada dokter Daiki yang kebetulan ikut di panggil oleh pihak rumah sakit sebagai penanggung jawab besar pada Operasi malam itu, dia takut Daiki akan kembali kerumah sakit cabang. Tapi, setelah mendengar gosip kalau sang dokter kepincut oleh salah satu anak pasien rumah sakit membuat Amed yakin sang dokter akan dinas lama di rumah sakit ini.
Kia yang membawa bahan untuk kesembuhannya membuat dokter Amed tak perlu mencari alasan untuk memulai pembicaraan pada dokter yang terkenal psycho itu.
"Kalau begitu kami pamit dulu, makasih banyak kak.." ucap Kia
"Permisi dokter.."
"ya, hati-hati. Kia jaga kesehatanmu jangan makan sembarangan.." ucap sang dokter saat Kia ingin menutup pintu ruangannya.
Sebentar lagi...
Ya, sebentar lagi. Dia akan melihat gadisnya yang dulu hanyalah ulat kecil yang terus berjuang dan pantang menyerah..
Perlahan..
Perlahan menjadi kepompong, yah..sebentar lagi dia akan berubah menjadi kupu-kupu yang cantik.
Ya sebentar lagi..
Dokter Amed menekan nomor sambungan telpon dokter Daiki..
"Ya, hallo.."
"Bisa sambungkan ke dokter Daiki.."
"Baik dokter.." jawab suster yang langsung menekan nomor ruangan dokter Daiki.
Kring...kring..
"Hallo.." suara berat menyambut indra pendengar Amed.
"Hallo dokter Daiki, perkenalkan saya Amed dokter spesialis bedah plastik"
"Apa?" singkat Daiki membuat Amed terdiam.
"Ini soal salah satu anak pasien yang anda tangani namanya nona Yilla..?"
"Ada apa dengan dia?" suara Daiki terlihat khawatir serta makin keras seolah menuntut meminta penjelasan.
"Bagaimana kalau saya kerua.."
"Nggak perlu, saya menuju ruangan anda sekarang?" jawab Daiki langsung mematikan sambungan.
Tak..
"wow.." heran Amed tak menyangka sebucin-bucinnya dia ada yang bucinnya tingkat akut dan lebih parah.
(Bucin=b***k cinta)
***
Sebagai dokter yang di panggil mendadak Daiki orang yang sangat tidak ada kerjaan, beberapa dokter senior sudah kembali ke rumah sakit cabang. Sebenarnya dia sudah dapat panggilan dari rumah sakit cabang untuk meminta mereka pulang karena, memang mereka adalah dokter andalan. Maka dari itu, Daiki meminta Luca untuk pulang menggantikan dirinya walau nanti dia harus merelakan jadwal cuti demi lembur.
Luca sempat menanyakan mau pesan makanan apa, selama dia berjalan mencari oleh-oleh untuk keluarga yang ada di Indonesia. Dia hanya minta segelas kopi Starbucks. Tadi Daiki sudah membantu jadwal shif pagi serta menyelesaikan dua operasi berturut-turut, kini dia sedang membenarkan pinggang pada kursi pijat yang memang di sediakan rumah sakit khusus di ruang kerjanya.
Daiki memang sengaja sok sibuk dan berkeliaran di sekitar ruangan Yasmin. Kali aja dia berpapasan dengan pujaan hatinya tapi, sayangnya dari pagi hingga, sekarang Daiki tak melihat sosok Yilla keluar dari ruangan itu.
Kringg..
"Hallo" ucap Daiki malas, dia yakin akan di panggil entah keruang operasi mana lagi.
Suara dokter Amed yang memperkenalkan diri dari bagian bedah plastik membuat Daiki tak terlalu berminat.
"Apa?" jawab Daiki singkat.
"Ini soal salah satu anak pasien yang anda tangani namanya nona Yilla..?"
Deg..
"Ada apa dengan dia?" tanya Daiki tak bisa menutupi rasa paniknya.
"Bagaimana kalau saya kerua.." tawar dokter Amed namun, Daiki langsung memotong ucapannya.
"Nggak perlu, saya menuju ruangan anda sekarang?" jawab Daiki langsung menaruh telpon dan mengambil jas putihnya bergegas menuju departemen bedah plastik.
Sepanjang perjalanan Daiki selalu menerima sapaan serta sambutan dari seluruh pegawai rumah sakit.Dia adalah salah satu dokter berpengaruh di rumah sakit ini, belum lagi statusnya yang masih belum beristri membuat para suster serta perempuan single berlomba untuk mendapatkan perhatiannya.
Percuma saja mau mereka membuat drama serta telenovela, seujung kuku-pun Daiki tak tertarik, bau mereka saja kadang membuat Daiki ingin muntah.
Yup, Daiki mempunyai penciuman yang tajam..
Dia seolah dapat mengetahui isi hati seseorang dari aroma tubuh. Yah, bisa di bilang itu salah satu kelebihan Daiki, makanya saat pertama bertemu Yilla-pun dia berjuang mati-matian agar tak lepas kendali.
Papan rumah sakit menampilkan seluruh area departemen serta bagian rumah sakit dari ujung ke ujung, Daiki langsung menuju Lift saat melihat lantai berapa yang akan dia tuju.
Saat masuk kedalam beberapa suster serta pengunjung ikut masuk kedalam Lift yang dia masuki, Daiki agak kurang suka karena jelas terlihat mereka menekan lift dengan tidak jelas.
"Dokter Daiki, anda mau kemana?" tanya salah satu suster membuat Daiki mau tak mau menjawab.
"Departemen bedah plastic, kalian tidak turun.." saat pintu Lift terbuka meminta para suster untuk keluar dari Lift karena, tujuan mereka telah sampai namun tak ada satu-pun dari mereka bergerak untuk keluar.
"Ahh, yahhhh.."
Para suster keluar dengan perasaan tak rela saat pintu Lift kembali tertutup dan sosok tampan Dokter Daiki menghilang.
Bukk...
"Maaf, dokter.."
"Ya" sahut Daiki dingin saat tubuhnya sengaja di senggol oleh beberapa gadis, mereka turun di area yang sama. Daiki menghentikan langkah merasa masih di buntuti oleh para gadis yang tak dia kenal.
"Kalian ingin operasi plastik" tanya Daiki pada para gadis yang pura-pura sibuk.
"Ahhh, ya dokter nomor Hp saya..+6585116.."
"Bukan nomor hp maksud saya kalian mau operasi.."
"Ya, dokter operasi hati. Masalahnya hati saya sudah dokter curi.."
"Ohh..bagus juga. Jadi kalian semua mau menjadi pendonor hati..? Bagaimana kalau saya antar keruang saya kita urus berkasnya, hati manusia kalau nggak salah sekarang nilainya $157.000 dollar atau lebih dengan uang sebanyak itu kalian bisa langsung membeli rumah mewah dan tak repot cari uang lo, hehehe.." tawa jahat Daiki mendadak membuat suasana berubah menjadi kisah Killer.
Ketiga gadis yang tadinya senyum-senyum mendadak diam lalu saling toleh menoleh satu sama lain.
"Bagaimana? Jarang lo ada kesempatan seperti ini, lumayan bisa menikmati hidup saat muda.." tawar Daiki membuat mereka mundur perlahan.
"Makasih, dokter. Kayaknya kami semua masih mau hidup.." ucap salah satu gadis langsung masuk kembali kedalam Lift di susul teman-temannya.
"Hehehe..." Daiki tertawa saat Lift tertutup tapi, itu cukup membuat para gadis mimpi buruk.
***
Tok..tok..tok...
Ketukan tiga kali membuat Dokter Amed langsung bangkit membuka pintu, tentu sebagai tanda dia menghormati dokter Daiki.
"Silahkan masuk Dokter.." ucap dokter Amed sopan mengarahkan Daiki untuk duduk di kursi santai.
Saat Daiki duduk barulah Amed duduk untuk menjaga kesopanan pada dokter yang lebih tua tapi, jujur Daiki malah terlihat lebih muda di banding dengan wajah Amed yang boros.
"Panggil saja Daiki.."
"Baik, dokter.."
Daiki hanya menghela napas, Amed lalu memberikan berkas serta hasil kesehatan Kia namun, sang dokter sama sekali tak menyentuh data yang di berikan Amed.
"Salah satu pasien saya yang bernama Askia purnama sari mengalami kerusakan total pada wajah, saya sudah mengecek semua serta memeriksa kondisinya dan lusa ini kami akan melakukan operasi pertama tapi, kami punya masalah yaitu saraf pada bagian retina mata. Saya ingin meminta dokter secara langsung untuk ikut dalam operasi ini.."
"Stop, aku kesini bukan untuk mengetahui data pasien kesayanganmu.." skak Daiki membuat Amed diam.
Tentu saja Daiki tau, seorang dokter berbicara langsung meminta bantuan Dokter lain merupakan kejadian yang jarang dan kalau ada berarti pasien itu mendapat perhatian lebih oleh sang dokter.
"Tadi Kia datang bersama seorang teman, dia memperkenalkan diri dan memberi tahu kalau dirinya adalah salah satu anak pasien di rumah sakit ini. Namanya Yilla lalu dia meminta untuk melakukan konsultasi tentang luka bakar yang ada di sekujur..."
BUAKKKKK...
Amed merasa sesuatu menghantam pipinya, rasa linu langsung memenuhi muka sebelah kirinya. Mimpi apa dia semalam hingga, mendapat tonjokan tepat pada wajah..
"Kau melihat tubuhnya kan, jawab??"
Sumpah, demi apapun. Saat ini Amed sangat ketakutan seolah suara Daiki akan menelan seluruh tubuhnya utuh.
"Lebih tepatnya Punggung. Dia hanya memperlihatkan bagian atas lalu memberitahu soal luka yang ada di sekujur tubuhnya, dia meminta untuk di operasi katanya dia juga ingin hidup normal.." teriak Amed saat Daiki hampir menonjoknya untuk kedua kali.
"Apa kau menyentuhnya?"
"Ya, kulitnya yang terbakar untuk memastikan seberapa besar keru.."
PLAKKK...
"ASTAGA dokter...." Teriak Amed saat bekas tonjokannya malah di tampar membuat rasa sakitnya menjadi dua kali lipat. Bahkan terlihat darah di sela bibirnya.
"Itu untuk melihat dan itu untuk menyentuh. Aku sudah cukup bersabar.." jelas Daiki dengan murka.
Amed mengambil air minum dan memberikan pada Daiki yang langsung meminumnya, dia harus menjadi orang waras atau mereka akan adu gelut di tempat.
"glek...hah..jadi..Yilla datang kesini untuk meminta anda mengoperasi seluruh bekas luka yang ada di punggungnya.." menaruh gelas di meja.
"Y-ya tapi, saya sepertinya harus berpikir ulang dokter.."
"Daiki...sudah aku bilang kan panggil Daiki.."
"Maksud s.s-aya Daiki, Astaga...sabar Daiki...sabar.., saya ini mau nawarin anda win win solution. Bukannya sparring..."
Daiki hanya diam namun, tangannya masih terkepal.
"Lihat punggung saja sudah di hajar, menyentuh malah di gampar, Bagaimana nanti saya setelah selesai mengoperasi nona Yilla bisa-bisa nyawa saya ilang.." ucap Amed
"Nggak sih, saya masih takut penjara. Paling dua bola mata anda saya congkel setelahnya.."
Psycho parah..
Amed bangkit mengambil Tissue dan melap darah di sela bibirnya lalu mengambil air, menuangnya dalam gelas dan meminumnya hingga tandas.
"Saya cuma mau anda membantu saya untuk Operasi Kia lusa ini dan saya akan membantu Yilla untuk meperbaiki luka pada kulitnya." terang Amed kembali duduk di hadapan Daiki.
Daiki berusaha meredakan amarah, masalahnya dia sebagai calon sama sekali belum pernah melihat punggung pujaan hatinya. Bagaiman biasa Amed yang bukan siapa-siapa melangkahi dia duluan..?
Untuk pertama kali Daiki merasa tittlenya sebagai dokter spesialis dalam tak berguna, kenapa kemarin dia nggak sekalian ambil spesalis bedah plastik?
"Besok pagi saat Nona Yilla kesini. Saya akan membatalkan semuanya..anda tidak perlu khawatir.."
"Lusa kan jadwal operasi Kia..?" tanya Daiki membuat Amed tertawa mengejek. "Kirim copy recap hasil medis juga data lainnya, setelah itu atur jadwal konsultasi Yilla setelahnya dan berikan semua datanya keruangan saya. Oh ya, saat Yilla konsul nanti pastikan anda menghubungi saya lebih dulu.."
"Hah..setelah yang anda lakukan pada saya.." kesal Amed ikut terbawa emosi.
"Penjepitan saraf pada retina mata presentasi keberhasilan 30% , itu kan yang membuat anda takut melakukan operasi Kia selama ini. Saya bisa membuatnya menjadi 50% untuk itu beri waktu satu hari untuk mempelajari data medisnya." Jelas Daiki.
Amed yang tak bisa berkutik mengangguk.
"Apa luka bakar yang di alaminya sangat parah?"
"Sebagian jaringan kulitnya rusak parah, yang terlihat leher serta bagian lengan atas untuk daerah punggung sampai paha atas itu dia yang bilang.." jawab Amed menambahkan kalimat Yilla yang bilang agar tak di bogem mentah lagi.
"Apa bisa hilang?" Daiki menatap Amed berusaha menilai kemampuannya.
"Tentu saja bisa. saya dokter spesialis terbaik di kelas bedah plastik. Mungkin akan di adakan beberapa kali sesi serta pemeriksaan berkala saya akan kabari anda selanjutnya.." ucap Amed.
"Kalau begitu saya bisa ikut saat operasi Yilla nanti.." Amed berusaha mencerna maksud Daiki. "Saya bisa menjadi asisten anda dan Luca bisa menjadi asisten kedua. Makin minim orang makin bagus, makin saya tidak punya niat untuk membuat tragedi pembunuhan massal"
Amed diam lalu mengangguk setuju. Jelas dia kalah..
Fix, jelas dia kalah debat dan kalah gila..
"Tolong nanti siapkan saya buku atau catatan menjadi asisten dokter bedah plastik karena setau saya ada beberapa alat medis yang berbeda." Ucap Daiki lagi.
Amed kembali mengangguk. Turutin aja dulu kalau masih sayang nyawa.
"Baiklah, kalau bergitu pembicaraan kita cukup sampai di sini dokter Am.."
"Amedias panggil saja Amed.." ucap Amed memberikan tangan sebagai tanda kerjasama penuh drama urat saraf.
"Ok, kalau begitu saya tunggu datanya di ruang kerja saya. Amed." menyambut jabat tangan lalu tersenyum formalitas.
"Baik, Daiki secepatnya saya akan kirim.."
"Oh ya, soal pukulan dan tamparan saya tadi. Jangan terlalu di masukkan kedalam hati. Anggap saja sebagai salam perkenalan" kata Daiki ringan.
"Nampaknya Daiki juga tak ada niatan mau minta maaf gitu..?" kesal Amed.
"Di sini yang jelas salah saudara Amed, saya saja yang lebih berhak tak pernah melihat punggung calon saya.."
"Terus, bagaimana saya bisa membantu kalau tak melihat luka pada tubuhnya.."
"Seharusnya anda meminta izin dulu kepada saya.."
"Ya tuhan, mana saya tahu kalau harus meminta izin. Memang ada tulisannya ya.. minta izin dulu sama dokter Daiki.."
"Pokoknya anda salah, Amed. Kenapa anda menjadi seorang dokter spesialis Bedah plastik..?!"
"eh..iya-ya. Kenapa saya menjadi dokter spesialis bedah plastik ya?"
"Jadi, siapa yang salah"
"saya"
Amed langsung diam. Tunggu dulu, kok kayaknya ada yang salah..?! Apa dokter Daiki sedang mencuci otaknya..?
***
Happy reading...
Jangan lupa follow, love dan tunggu cerita selanjutnya..
By. Violina melody.