[o, Md]-- 6. File

3104 Words
Srakk.. Ardi melempar berkas berisi foto serta file tentang informasi keberadaan Yilla tepat di wajah seorang detektif yang dia sewa membuat semua terbang dan berserak di lantai. "Kenapa kau tak membawanya, menculik, menyeret atau membawa paksa dirinya. Aku akan membayar dirimu lebih mahal dari pada sekedar foto atau info sampah seperti ini..!!!!" "Maaf tuan, anda membayar saya hanya untuk mencari keberadaan istri anda. Kalau anda ingin melakukan hal yang bertentangan dengan pekerjaan saya, carilah orang yang lebih ahli di bidang yang anda sebut tadi..?!" jelas sang detektif menolak tegas. Ardi berdiri dari kursi kerjanya menatap nyalang sang detektif yang seolah tak takut oleh intimidasi tatapan pembunuh. Detektif itu mungkin pernah merasakan hal yang lebih buruk, sehingga tak takut oleh apa-pun. Dari dulu Ardi sangat membenci Yilla dan hal itu tak pernah dia tutupi, semua orang tau hal itu termaksud kedua orang tuanya. Gadis yang selalu merebut perhatian kedua orang tuanya, gadis yang hanya seorang rakyat jelata, gadis yang tampangnya terlihat rupawan karena asal usul bapak bule yang tak jelas membuat Ardi berasumsi Yasmin seorang wanita nakal yang di angkat derajatnya oleh murni, mamanya. Kenapa jadi seperti ini? Kenapa orang tuanya tak memberi tahu asal usul Yasmin serta Yilla? Kenapa mesti di rahasiakan, apa mereka takut Ardi akan membocorkan status mereka. Apa yang Ardi lewatkan, dia harus mencari keberadaan mamanya dan meminta penjelasan. Dua buah foto.. Dari sekian banyak foto yang di ambil oleh orang suruhannya, ada dua buah foto dari banyak foto yang langsung membuat hati Ardi terbakar hebat, sosok Yilla yang bergandengan tangan dengan seorang dokter sambil tersenyum bahagia. Senyum yang bahkan tak pernah Ardi lihat, senyum yang entah mengapa membuat hati Ardi seolah sakit. Dia lebih senang melihat sosok rapuh itu berlinang air mata, kini pasti Yilla sedang mengolok dirinya yang sedang di ambang kehancuran, menari bahagia oleh kesedihan Ardi yang hampir kehilangan kemewah serta kedamai setelah kepergiannya. "Sialll...!!" maki Ardi menahan geram membayangkan sosok Yilla berpelukkan dengan pria berjas putih sambil memandang dirinya rendah. "Sabrina..!!!" teriak Ardi membuat kuping sang detektif hampir pecah, suara pintu yang tergesa di buka lalu sosok gadis cantik berlari dengan wajah pucat. "Jam berapa janji temu dengan Tuan Leo?" tanya Ardi yang kini hanya bisa berharap pada teman sebisnis yang berjanji menanam modal pada perusahaannya. "Maaf Tuan Ardi, sekertaris Tuan Leo..ba-baru s.aja menelpon tentang janji ya.yang.." Suara Sabriba terputus, dia tak sanggup melanjutkan kalimat yang akan membawa dirinya pada petaka. Dalam keadaan baik saja Ardi selalu menyiksanya apalagi sekarang dalam keadaan murka, melirik wajah detektif meminta bantuan namun, sang detektif hanya menatapnya dengan pandangan iba. BRAKKK... "YANG APAAAA ??" bentak Ardi marah. "Yang membatalkan kerjasama.. Katanya Tuan Leo telah membeli Aset lain hingga uang untuk menanamkan modal untuk perusahaan kita sudah terpakai habis..?!" "Lalu ??" "??" "Kau Tidak punya cara lain. Untuk bertemu langsung dengan tuan Leo??" Sabrina tak mengerti oleh ucapan Ardi yang menatapnya remeh, seolah dia harus bertanggung jawab penuh oleh janji temu investor yang batal. "Apa gunanya tubuhmu?" Lanjutnya jengkel. "Ma-maksud anda Tuan ??" otak Sabrina seolah buntu mendengar ucapan Ardi. Sabrina berusaha mundur saat dengan cepat Ardi menarik paksa tangannya, membuat tubuhnya limbung dan langsung terduduk di atas pangkuan Ardi. "Apa gunanya tubuhmu ? Sabrina, kau adalah bawahanku paling setia, kenapa kau tak jual tubuh bagian bawahmu demi kelancaran perusahaan kita.. ?" bisik Ardi tepat di samping telinga Sabrina yang berontak ingin lepas. "Ehem..." Suara sang detektif yang berusaha memberi sinyal pada Ardi tentang dirinya yang masih ada di situ, menagih sisa pembayaran yang Ardi janjikan. "Tuan Ardi, kapan anda membayar sisa uang yang anda janjikan?" tanyannya tak sabar dan kuat menyaksikan kelakuan Ardi berusaha cepat pergi dari tempat itu dan tentu saja sang detektif harus menebalkan muka meminta sisa pembayaran. Menjadi ini sebagai pembelajaran bagi dirinya kedepan agar memilah Klien terlebih dulu. "Detektif J, apa permintaan saya kurang jelas..? Kalau begitu akan saya jelaskan dengan perlahan.." ucap Ardi merobek stoking Sabrina paksa lalu mengangkat rok yang berusaha di pertahankan oleh wanita yang kini sudah banjir air mata. "Tapi.." "Tapi, apa? Cari keberadaan gadis sialan bernama Yilla...!!!! Tapi, kau hanya membawa beberapa foto tanpa sosok yang aku pinta.." Detektif J mulai merasa dia mendapat Klien gila, memperhatikan bagaimana Ardi melampiaskan kekesalannya pada sang sekertaris. "Apa kau masih pantas meminta uang sementara pekerjaan yang kau lakukan hanya selesai setengah..?!" lanjutnya menggerakkan tangan dengan kuat membuat sabrina mau tak mau menahan tubuhnya dengan kedua tangan yang berpegangan pada meja. "Maaf kalau begitu, berarti pekerjaan saya cukup sampai disini.." ucap detektif J singkat bergegas pergi. "Apa kau mau makanan makan kudapan terlebih dulu.ehmmm...!!!" tawar Ardi saat dia merubah tangannya dan kini memasuki Sabrina dengan kasar lalu memamerkannya pada Detektif J. "Tidak, terima kasih." tolak Detektif J melihat sosok Sabrina yang memandangnya meminta tolong. Saat Detektif J melangkah menuju pintu itu lalu tertutup Sabrina tau kini harapannya sudah putus, Ardi membalik tubuhnya mengatur agar akses lebih luas, membuatnya makin ketagihan masuk lagi dan lagi. Dia harus membuat wanita ini terbiasa melayani nafsunya, tentu saja setelah itu dia bisa memanfaatkan tubuh Sabrina untuk kerjasama sesama pebisnis lain, bukan hal tabu bagi para bos yang sama-sama penyuka serta menyukai wanita muda seperti sekertarisnya. Dari awal saat sabrina masuk keperusahaan, dia telah melihat potensi lebih yang ada di dalam diri Sabrina, membuat jebakan agar wanita ini tak bisa lepas dari sarang lengket serta genggaman yang dia buat. "Aku mohon....cukup....ahh..." "Buka mulutmu, wanita murahan...." jerit Ardi saat dirinya memeluk Sabrina dari belakang lalu memutar kepala sabrina kasar kesebelah kanan, menarik dagunya agar mulut dengan bibir berlipstik merah itu terbuka. "Cuihhh....ahhh....ah...telan...!!!" Ludah Ardi tepat kedalam mulut sabrina yang kini wajahnya basah oleh air mata dan keringat. Suhu Ac tak membuat tubuh mereka stabil malah keduanya makin panas saat Ardi melepas dengan kasar. " Sial,..Plakkkk..." Ardi memukul Sabrina yang seolah limbung kalau tak memegang meja dengan kuat, dia hampir terjatuh saat pinggangnya dengan cepat di angkat oleh Ardi yang melakukannya dengan berdiri. Sabrina memejamkan mata tak ingin melihat wajah Ardi serta kemarahannya, seperti biasa Ardi yang tak puas langsung melepas pegangannya pada paha sabrina membuat tubuh itu langsung jatuh kelantai berkarpet kasar. Sabrina yang tak punya tenaga membiarkan tubuhnya tak bergerak berharap Ardi cukup puas menyentuhnya. Ardi tersenyum saat melihat sosok panas itu tergeletak oleh ulahnya. Set.. Bayangan wajah Yilla muncul sesaat di wajah Sabrina dengan tubuh panas mengoda serta napas tak beraturan lalu tangan putih itu terangkat seolah mengajak serta menginginkannya lalu tertawa mengejek. "SIALAN...!!!!" jerit Ardi mengangkat tubuh Sabrina yang seperti kapas, membantingnya tubuhnya keatas sofa membalik tubuhnya dari belakang kembali melakukannya dengan kasar membuat Sabrina menjerit kesakitan. "Sialan, perempuan terkutuk. Sialan, wanita terkutuk...anjing...!!!! Rasakan kau anjing..!!!" "Berhenti...akh....kumohon....tuan...akhhhhh, sakit....s.ak.it...akhhh...tuan Ardi...cukup..." Saat suara geraman marah itu perlahan surut lalu tekanan yang makin kedalam mulai memudar. Sabrina hanya tau kalau pandangan matanya sudah gelap, dia tak bisa merasakan apa-apa lagi. "Tunggu aku wanita sialan, aku akan menghancurkan dirimu hingga, kau tak bisa lagi menganggu hidupku.." ikrar Ardi melepas Sabrina setelah puas. Dia mengambil headphone menghubungi salah satu anak teman mamanya, " Hallo, Brian..ini Ardi.." "Yo, bro.." sahut suara di ujung sana. "Yo, aku ingin tanya. kamu tau kan lokasi para Nyonya berlibur..?" tanyanya pada Brian. "Bali, yang aku dengar para nyonya akan sambung liburan ke luar negeri. Hei..bagaimana kau kita juga lakukan pesta di laut, berlayar dengan wanita sexy berpakaian bikini..? Yah, pesta setiap hari.." tawar Brian sang pengila pesta. "Thanks, Bri. Aku masih banyak perkerjaan.." tolak Ardi, dia tak mau berurusan dengan anak mami yang merepotkan. Yah, Brian sang penyuka pesta yang suka menghamburkan uang keluarga, sang pembuat onar dan kadang menyeret teman-temannya dalam masalah, terkadang malah beberapa menjadi korban oleh kenakalannya. Ardi harus menjauhi Brian untuk sementara, apalagi soal masalah perusahaan serta keuangannya yang terjadi padanya baru-baru ini, dia tak mau ketahuan sedang mempunyai masalah finansial. "Hei, untuk apa kau banyak bekerja..hidup Cuma sekali, nikmatilah sebelum mati.." ejek Brian lalu tertawa senang. Ardi dapat mendengar beberapa lantunan music DJ suara teriakan beberapa anak muda yang bermain di pinggir kolam. Pesta basah rupannya.. "Kau bisa kemari..anak-anak sedang ngumpul di rumah..polos tanpa pakaian, brooo.." tawar Brian berani karena, mamanya sedang berlibur bersama grup sosialita membuat dirinya menyulap rumah menjadi tempat hiburan. "Tidak Bri, nanti malam aku akan bergabung bersama kalian. Yo.." salam Ardi memutuskan sambungan sembari mulai berpikir bagaimana agar bisa bertemu mamanya..? Ctek... "Fuh...." janji Ardi sambil menyesap rokok dalam lalu menghembuskannya sembari mengucap akan membuat Yilla sensara, kembali melihat wajah Sabrina yang kini terlelap lalu tertawa oleh keliarannya sendiri. *** Yilla menatap wajah Yasmin dengan harapan sang Ibu membuka mata cantiknya. Walau hubungan dengan Dokter Daiki beberapa hari ini membuatnya lupa diri tapi, Yilla tetap mengutamakan Yasmin di atas segalanya. Farhat yang terlihat kurang setuju dengan hubungan mereka tak membuat Yilla ambil pusing. Toh, selama ini hidupnya selalu di atur, teratur dan patuh. Jadi dia tak mau lagi menjadi penurut bahkan pada orang yang mencap dirinya sebagai Ayah. Yilla kali ini ingin egois, dia akan mempertahankan cinta yang mungkin baru beberapa hari dia yakini dan kalau Yasmin terbangun lalu menolak Daiki maka, Yilla tentu akan menurut sambil mengubur cinta yang belum terlalu dalam. "Istirahatlah, biar aku yang jaga ibumu..?!" Yilla berdiri dari kursi menuju sofa panjang, tempat dia bisa menyandarkan tubuh dan bahkan tertidur nyaman. Sebenarnya Farhat kurang suka dengan ruangan yang di siapkan oleh pihak rumah sakit, dia menginginkan tempat nyaman agar anak gadisnya tak lagi menolak untuk tidur di atas ranjang. Farhat bahkan sudah meminta Yilla agar pindah ruangan sakit tapi, dengan keras kepala dia hanya meminta tetap berada di rumah sakit ini bahkan meminta untuk pindah keruangan yang lebih sederhana dengan peralatan yang lengkap. Ibu yang sakit, jadi tak perlu berlebihan. Aku takut tak sanggup untuk mengganti semuanya nanti.., ucap Yilla membuat Farhat marah dalam hati namun tak sampai kemulut. Farhat kadang memandang Yilla yang selalu terlihat waspada di sekitarnya. Apa karena lingkungan serta kelakuan Ardi padanya membuat seolah Yilla tak mempercayai siapa-pun, Bahkan barang serta apapun yang di belikan Farhat untuknya kadang tak tersentuh seolah apa yang dia ambil harus dia ganti nantinya. Apa ardi sepelit itu pada yilla? Apa selama ini uang yang di berikannya kepada Murni untuk istri dan anaknya, sedikitpun tak pernah sampai? Farhat sudah meminta Ryu untuk mencari keberadaan Murni yang menurut info terpercaya malah sedang menikmati liburan panjang. Enak sekali hidupnya, bukannya mencari keberadaan Yasmin dan Yilla malah asik pergi liburan.. Dasar wanita tua sialan..!!! Makinya dalam hati. Tok..tok..tok.. Suara ketukan perlahan membuat Farhat memperhatikan pintu saat sosok Ryu masuk sambil menundukkan kepala sebagai salam hormat, dia bergerak sepelan mungkin saat melihat sosok nona Yilla yang tertidur sambil membawa sebuah berkas. "Kami sudah tau lokasi wanita itu, Tuan. Tinggal tunggu perintah untuk bergerak..?" Farhat melirik Yilla yang masih terlelap, "laksanakan, tangkap wanita tua itu..!" "Baik, Tuan..!!" "Oh ya.. Ryu, soal data kemarin. Apa sudah kau dapatkan ??" "Sudah tuan, ini silahkan..?! Semua yang anda minta ada di dalam berkas itu.." "Bagus, pergilah berjaga di luar. Biar nanti aku panggil bila ada hal lain yang aku butuhkan..." perintah Farhat yang langsung di laksanakan Ryu. Farhat bergerak menuju meja kerja yang sengaja dia siapkan agar semua urusan serta perkerjaan bisa dia kerjakan sambil menjaga Yasmin. Menumpuk berkas itu menjadi satu dengan Map kerja lain, agar Yilla tak mengetahui apa yang sedang Farhat selidiki. Sebagai Ayah, dia harus extra menjaga karena tak mau Yilla kembali mendapatkan pria yang salah, cukup sekali anak gadisnya merasakan sakit dan Farhat harap itu adalah yang terakhir. "Yasmin, bangun sayang.." ucap Farhat dengan suara lembut sambil mengelus tangan yang dingin agar menghangat sambil kembali duduk setia menunggu mata sang istri terbuka. Yilla yang dari tadi tak bisa tidur membuka mata perlahan, melihat Farhat yang dengan tulus mengenggam tangan ibunya. Merasakan getaran aneh saat mendengar pembicaraan Farhat serta Ryu tentang wanita tua serta sebuah berkas yang di selipkan kedalam tumpukan secara acak. Rasa penasaran mengelitik hatinya namun, yilla tak berani untuk mencampuri urusan Ayahnya, salah - salah nanti dia di pecat sebagai anak terus siapa yang akan menanggung biaya rumah sakit yang harganya mencapai angka langit. Walau seperti itu Yilla sudah berjanji akan membayar seluruh biaya yang Farhat keluarkan, dia tak mau berhutang pada siapa-pun lagi. Yilla bangun saat Farhat ingin mengerjakan tugas paginya yaitu memandikan Yasmin.. "Tidak usah, Tuan. Biar saya saja.." "Tidurlah lagi, Yilla. Biar aku yang mengerjakan tugasmu.." Yilla diam memperhatikan Farhat perlahan melap tubuh Yasmin dengan handuk basah. "Yilla" "Ya.." "Apa langkahmu selanjutnya kalau Yasmin siuman dan sembuh..?" "Saya akan berkerja, Tuan.." "Bekerja apa?" "Apa saja..asal jangan menjual diri." Jawabnya tegas. "Ijazah kamu sampai mana?" "hm..SMA, tuan." Jawab Yilla ragu. Farhat sedih juga binggung, kemana semua uang yang dia berikan pada Murni untuk pendidikanYilla? Farhat yakin dia memberi uang lebih dari cukup khusus untuk pendidikan Yilla dari awal dia sekolah. "Kamu tidak ingin melanjutkan kuliah?" "Tidak perlu, Tuan.." "Bagaimana kalau begini saja, aku memerlukan seseorang asisten yang mengatur jadwal pertemuan serta janji temu dengan beberapa klien. Pagi kamu bisa membantu merapikan berkas serta mengatur jadwal sementara malam kamu bisa ambi beberapa mata kuliah.." "Tidak, tuan. Saya tak mau..Kuliah merepotkan.." "Kamu melakukan pekerjaan sebagai asisten untuk sekalian menebus semua biaya rumah sakit Yasmin, setengah gajimu akan di bayarkan juga untuk uang pendaftaran dan biaya masuk kuliah. Kamu bisa membayar saya dengan cara bekerja dan bisa melanjutkan kuliah untuk mencari ilmu serta pengalaman dan Ijazah tinggi. Agar bisa melamar di tempat yang kamu mau nanti.." Saran Farhat membuat Yilla berpikir ulang. Yilla tau ini adalah kesempatan yang tak datang untuk kedua kali, semua ucapan Farhat benar kalau hanya mengandalkan pengetahuannya yang tak seberapa. Entah sampai kapan hutangnya dengan Farhat akan lunas, dia juga tak ingin membuat ibunya kesusahan dan kembali bekerja. "Baik tuan, saya terima tawaran anda. Tapi, saya tunggu Ibu siuman dulu.." ucap Yilla. "Kau bisa mulai bertanya pada Ryu, dia akan mengarahkan serta mengajari semua hal. Kalau kau kesulitan jangan sungkan untuk bertanya pada saya.." jelas Farhat saat di rasa kerjaan membersihkan Yasmin selesai dan Yilla datang untuk membereskan sisanya. "Baik, Tuan.." ucap Yilla lagi. "Satu lagi, jangan panggil aku, Tuan. Panggil aku mulai sekarang.. Ayah." pinta Farhat tak menerima bantahan. Yilla mengangguk setuju walau terasa enggan. Dia bangkit dan bersiap mandi meninggalkan Farhat yang masih menjaga Yasmin. Setelah dia merapikan diri, dia bergegas membersihkan kamar seperti biasa, melipat selimut, serta membungkus baju kotor untuk di-laundry. Merasa taka da lagi yang dapat dia kerjakan Yilla mendekati meja kerja Farhat, mulai merapikan berkas serta map yang menumpuk berserakan. Berkas yang tanpa nama membuat Yilla penasaran, bukankah ini berkas yang di berikan oleh Ryu tadi yang sengaja di selipkan di antara berkas lainnya. Yilla membuka berkas itu dan terkejut ketika melihat foto Dokter Hayato Daiki di dalamnya. Satu berkas full berisi tentang info serta riwayat dokter Daiki membuat Yilla tercengang, ini kah yang di sembunyikan Farhat tapi, untuk apa sampai harus mencari tahu sampai seperti ini. Yilla memperhatikan semua yang ada di dalam map dari foto masa kecil Daiki hingga, data lainnya. Clekk.. Pintu kamar rumah sakit terbuka, Yilla dengan cepat menutup file dan menumpuk dengan berkas lainnya lalu berusah bersikap natural. "Yilla, kamu sedang apa?" tanya Farhat memperhatikan Yilla yang sedang merapikan meja kerja. "Oh, aku cuma merapikan kertas yang berserakan. Seperti ini terlihat rapikan, yah.." jawab Yilla agak gugup. "Apa..?" "Apa maksudnya?" "Apa kata terakhir yang kau bilang tadi?" "Yah, A-ayah.." ulang Yilla canggung. "Terima kasih.."ucap Farhat senang sambil tersenyum tipis membuat Yilla makin canggung. Saat Farhat berbalik Yilla langsung bernafas lega sepertinya Farhat tak mengetahui kalau Yilla sempat membuka berkas yang berisi data tentang dokter Daiki. "Kerjaan Yilla sudah beres, kalau boleh saya izin cari angin dulu.." ucap Yilla kabur dari dalam ruangan yang makin membuat dia binggung. *** Seorang gadis berwajah hancur tersenyum gembira sepanjang koridor rumah sakit membuat siapa-pun merasa penasaran. Apa gerangan yang membuat sang gadis yang usianya lebih muda nampak sangat bahagia ? "Hai.." sapa gadis itu berani tanpa rasa takut. "H-hai.." balas Yilla canggung. Gadis itu kembali berjalan sambil bersenandung. Tak sengaja Yilla mengikuti sosok gadis yang kini menyapa hampir seluruh perawat serta para dokter, dari bajunya terlihat kalau dia memang salah satu pasien dari rumah sakit ini. Tap..tap..tap.. Sosok itu langsung berbalik saat merasa dirinya sedang di buntuti, Yilla langsung tersenyum saat gadis itu menatapnya penuh selidik. "Ada apa, kak ?" ucapnya girang memancarkan aura persahabatan. "Aku melihatmu sangat gembira, tanpa sadar aku mengikutimu..??" akui Yilla jujur. "Hehe, bagaimana aku tak gembira..?! Dokter Amed bilang wajahku akan berubah, aku sudah tak sabar, jadwal operasiku akan di lakukan lusa ini.." terangnya sambil tertawa seolah bebannya menghilang. Yilla ikut merasakan kegembiraan yang di tularkan oleh sang gadis membuatnya ikut tersenyum senang. "Oh ya, perkenalkan Yilla.." "Askia, panggil saja Kia.." meyambut tangan saling berjabat, gadis itu duduk lalu mempersilahkan Yilla ikut duduk di kursi lorong rumah saki,t sesekali para perawat lewat sambil menyapa tak sedikit ada yang berlari menjauh saat melihat wajah Kia. "Aku senang sama kak Yilla, kakak itu orang pertama yang tak takut melihat wajahku. Dulu aku tak pernah sekalipun berani melepas topeng wajah yang di belikan oleh ibu. Bahkan saat di kelas seluruh anak menangis serta menjerit lalu mengatai diriku seorang Monster. Bertahun-tahun aku menutup diri dari dunia luar, berusaha menjaga zona aman tak terlihat sambil terus menggurung diri dalam kamar, sampai di satu titik ibu memaksaku untuk berobat kerumah sakit mencari berbagai macam cara, serta sponsor untuk menyembuhkan wajah serta mentalku yang terpuruk dan di sinilah aku sekarang.." menatap dinding rumah sakit putih membuat Yilla ikut hanyut dalam kisah masa lalu Kia yang singkat namun, percayalah untuk sampai di tempat ini dia telah menjalani lebih banyak hinaan serta cobaan silih berganti. "Aku bahkan pernah mencoba untuk bunuh diri.." Yilla menutup mulutnya, Kia kembali menatap mata Yilla seolah masa yang berat itu telah lewat. "Ibu menamparku berusaha menguatkan serta menyadarkanku agar terus berjuang. Kalau-pun apa yang kami usahakan tak berhasil pasti Tuhan memberikan jalan terbaik untuk diriku dan ibuku. Kak, sekarang aku tak takut untuk memperlihatkan diriku. Aku berusaha menghapus kenangan masa lalu membuka lembaran putih baru yang berisi keceriaan, aku nggak ingin membuat ibu kecewa lagi hiks..hiks.." Yilla langsung memeluk tubuh Kia merasakan sakit yang dia rasakan, gadis belia yang harus menanggung cobaan besar namun, dia tetap berusaha tegar. Padahal mereka baru saja tadi bertemu tapi, Kia seolah langsung percaya dan tak sungkan mengungkapkan masalah tentang dirinya. "Oh ya, kakak sudah menikah ??" tanya Kia spontan. Yilla mengangguk, dia tak bisa berbohong. "Kak, sudah punya anak berapa ?" tanya Kia lagi saat Yilla tak kunjung menjawab pertanyaannya. "Hah, dia mungkin jijik melihat wajah. Apalagi tubuhku.." Membuat Kia terdiam, Yilla berbalik membuka sedikit baju belakangnya, memperlihatkan luka bakar yang merusak seluruh punggungnya. "Apa Dokter Amed bisa menghapus ini. Aku juga ingin membuka lembaran baru..?!" Tanya Yilla berbalik kebelakang melihat ekspresi terkejut Kia. *** Next readers.. Jangan lupa follow dan lovenya ya, terima kasih... ??❤️ By, violina melody
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD