Sore hari di hari pemakaman, kediaman utama Harjadinata lebih sibuk dari biasanya. Para staff pelayan bergegas merapikan ruangan dan menata kursi-kursi. Aroma wewangian ruangan telah diganti. Lampu-lampu kristal mulai dinyalakan meskipun matahari belum lenyap.
Di dapur, staff pelayan yang bertugas menyediakan konsumsi, menata beberapa snack premium dengan kotak ekslusif beserta minumannya. Makanan utama yang akan disajikan secara prasmanan oleh katering kepercayaan keluarga sudah mulai ditata.
Di ruang tengah, para istri sibuk dengan caranya masing-masing. Nadine memeriksa segala detail dekorasi, memastikan bunga-bunga terpasang sempurna, seakan menegaskan bahwa ia adalah pengatur rumah itu. Mariana duduk manis sambil mengamati. Selin menemani Kirana, anak kedua Viona yang sedang duduk memeluk boneka kesayangannya. Sementara Viona, sibuk dengan kamera ponselnya lalu menyemprotkan parfum di lehernya. Ayunda, memilih untuk duduk di taman belakang, menatap langit sore yang berwarna jingga, mengingat mediang suaminya.
Matahari semakin condong ke arah barat, bayangannya jatuh di halaman utama kediaman yang megah itu. Keluarga sudah bersiap menyambut pengajian malam hari nanti. Momen yang seharusnya khidmat itu, dipenuhi dengan kewaspadaan dan intrik tersembunyi diantara masing-masing keluarga.
Malam hari tiba. Para pemuka agama sudah berdatangan, disusul dengan kerabat dekat dan juga beberapa rekan bisnis yang sangat dekat dengan keluarga Harjadinata. Beberapa teman sosialita terdekat para istri juga berdatangan, seolah menunjukkan bahwa acara malam itu bukanlah acara sakral.
Pengajian dimulai. Sekumpulan pemuka agama telah duduk rapi di kursi-kursi yang telah disiapkan. Salah satu dari mereka memimpin untuk membaca doa-doa. Suara lantunan doa mulai menggema di ruang utama kediaman itu, menciptakan suasana khidmat. Dino dan Kenan fokus mengikuti para pemuka agama dalam melantunkan doa-doa dan ayat suci. Raka mencoba untuk konsentrasi, namun pikirannya melayang pada kejadian tadi siang, kebersamaannya dengan Alira. Rey dan Gio terlihat lebih sibuk memantau ponselnya.
Di sisi ruang lainnya, para istri duduk bersama dengan kerabat wanita. Gaun elegan dan selendang menempel pada tubuh mereka. Mereka saling berbisik-bisik membicarakan fashion dan bisnis, seolah acara yang sedang berlangsung hanyalah sekedar formalitas.
Hanya Alira dan Ayunda yang terlihat serius membaca doa mengikuti para pemuka agama yang terpampang dalam layar besar di ruangan tersebut.
Salah satu teman sosialita viona tanpa perasaan bersalah menunjukkan tas branded keluaran terbaru pada layar ponselnya lalu berbisik pelan di telinga Viona “Vi, liat deh ini, cantik banget kan modelnya”
Viona yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya ikut menoleh “Hmm, cantik sih, tapi masih lebih bagus tas inceranku”
“Nih, coba liat deh” Viona menunjukkan layar ponselnya.
“Iya, cantik” sang teman sosialita sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Alira yang sekilas mendengar percakapan para istri-istri mediang papanya hanya bisa menggeleng-geleng heran melihat tingkah laku mereka.
Beberapa saat kemudian, acara pengajian selesai. Para staff pelayan bergegas mendistribusikan kotak snack yang telah disiapkan. Para tamu dipersilakan untuk menikmati sajian prasmanan yang telah tersedia di ruangan sebelah.
Seorang pemimpin dari pemuka agama yang memimpin doa pada pengajian, duduk di dekat Dino dan Kenan setelah mengambil sajian prasmanan, sedikit membicarakan kenangan kebaikan mediang.
“Pak Maliq itu murah hati sekali. Beliau banyak berkontribusi di sekolah-sekolah terpencil. Dulu, beberapa kali saya menemani beliau ke kota-kota kecil. Beliau juga sering memberi santunan kepada orang-orang yang membutuhkan” ujarnya sambil menikmati hidangan.
“Papa memang dermawan, walaupun dari luar sangat terlihat arogan” Kenan menimpali.
Dino hanya mengangguk, mengiyakan ucapan Kenan.
Di ruangan yang terisi oleh para wanita, mereka juga turut menikmati hidangan yang disediakan. Dentingan sendok dan garpu terdengar ringan. Tiba-tiba Ayunda yang duduk di sebelah Alira berbisik “Ra, kalau nanti bagianmu menempati salah satu Perusahaan, tinggalkan saja bisnis dessertmu”
Alira seketika berhenti mengaduk makanannya dan menatap ibunya dengan malas “Ma, ternyata mama bener-bener ngejar warisan itu ya”
“Alira, itu juga hak kita” Ayunda mencoba berdalih.
“Tapi bisa nggak sih ma bahasnya nanti aja? papa juga kan baru aja dikubur siang tadi”
Ayunda tidak menggubris perkataan anaknya. Ia kembali mengunyah snack nya.
Alira yang sudah selesai makan, berdiri meninggalkan ibunya. Ia sedikit lelah menghadapi ibunya. Ternyata ibunya sama saja seperti para istri yang lain.
***
Alira berjalan ke arah tangga, melewati ruang tengah. Ia ingin segera merebahkan tubuhnya di kamar, Ketika ia menaiki tangga, Rey menatapnya dari jauh dengan tatapan menyala dan penuh emosi. Rey teringat kejadian siang tadi yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Seketika itu, Rey bergegas menaiki tangga dan mengikuti Alira. Langkahnya sedikit lebih cepat.
Setibanya di kamar, Alira yang ingin menutup pintu tersentak kaget karena Rey menahan pintunya, menerobos masuk. Rey langsung mendorong tubuh Alira ke tempat tidur. Nafas Alira tersenggal, jantungnya berdetak lebih cepat.
“Rey kamu kenapa?” Alira mencoba bersuara menutupi rasa ketakutannya.
Tanpa membalas pertanyaan Alira, Rey menjatuhkan tubuhnya di atas Alira. Dengan ganasnya ia menautkan bibirnya pada bibir Alira. Tangannya sudah menggerayangi tubuh Alira dengan kasar. Alira hendak mendorong tubuh Rey, namun ia sudah kehabisan tenaga.
Tiba-tiba “REY!”
Rey bangun dari posisinya dan menoleh pada suara yang memanggilnya dengan lantang. Pandangannya tertuju pada pria yang sedang berdiri di ambang pintu. Alira ikut menoleh pada suara itu dengan wajah yang masih shock. Sosok di ambang pintu itu adalah Raka. Raka sempat melihat Alira saat menaiki tangga dan Rey yang terlihat seperti tergesa mengikuti Alira.
Rey kembali menoleh pada Alira dengan raut wajah geram sambil menunjuk Raka.
“Kenapa dia kamu kasih?! Aku enggak! Kamu bisa ngelakuin itu sama dia, kenapa aku kamu tolak?!”
Alira hanya diam terpaku sambil menunduk dan bingung dengan pertanyaan Rey. Entah apa yang harus ia katakan.
“Rey cukup!” Raka mencoba menghentikan konfrontasi Rey.
“Kalian berdua bisa tega ya ngelakuin di area pemakaman papa” Dengan nafas yang masih memburu, Rey langsung meninggalkan kamar Alira.
Rey, sejak dulu memang menyukai Alira juga, namun ia mencoba menjaga wibawa dan reputasinya. Emosinya terpantik ketika melihat Raka dan Alira berciuman siang tadi.
Raka menutup pintu dengan pelan dan mencoba menghampiri Alira. Ia duduk di ranjang Alira, tepat di sampingnya.
Alira yang masih mencoba mencerna kejadian singkat itu perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Raka. Raka mengalirkan kehangatan melalui sentuhan tangannya pada bahu Alira. Sejenak suasana itu mereka nikmati.
Tiba-tiba Alira mengangkat kepalanya dan ia mengecup bibir Raka sekilas. Raka terkesiap dengan apa yang dilakukan Alira.
“Kamu yakin?” tanya Raka. Alira mengangguk pelan.
Kemudian Raka memberikan ciuman yang hangat padanya, hanya beberapa saat, namun cukup membuat mereka merasa hangat. Alira kembali bersandar pada bahu Raka.
Tidak ada suara lagi diantara mereka, hanya raut wajah sendu dan tatapan kosong dengan hati yang diliputi dengan rasa bersalah yang amat besar tetapi tak dapat mereka bendung lagi. Mereka benar-benar sudah kalah melawan rasa cinta yang terlarang itu yang telah tumbuh di hati mereka.
Dan di sinilah hubungan terlarang mereka dimulai.
To be continued