Mereka cukup terdiam beberapa saat di dalam mobil. Hingga pada akhirnya Raka membuka suara.
“Ra, kamu ga sendiri. Aku juga sedih kehilangan papa” Tangan raka terulur menggenggam tangan Alira untuk menenangkan.
“Rasanya ini semua masih nggak nyata Rak. Bahkan senyum papa kemarin ke aku masih terasa banget” Alira mulai mengalirkan air matanya perlahan sambil menunduk. Rambut panjangnya menjuntai menutupi wajah cantiknya. Ia melanjutkan “Entah akan seperti apa situasi di rumah setelah ini tanpa papa” ujar Alira.
Raka mencoba menenangkan kembali “Kita hadapi ini sama-sama Ra”
Tak ada sahutan lagi. Alira masih menunduk, mengingat setiap detik kebersamaannya bersama Maliq.
Raka kembali memecah keheningan itu “Ra….”
Alira mengangkat kepalanya dan menoleh pada Raka. Kebersamaan itu membuat mereka hanyut. Raka menautkan bibirnya pada bibir Alira, seolah ingin menyampaikan bahwa ia ingin memberi ketenangan pada Alira.
Alira sempat tersentak kaget, namun ia tidak menolak. Tubuhnya terasa hangat dan nyaman. Hanya beberapa saat, namun dapat membuat jantung mereka berdetak lebih cepat.
Keduanya menikmati momen hangat itu dengan diliputi rasa bersalah yang juga dilakukan di tempat yang salah. Tetapi tidak ada keinginan satupun diantara mereka untuk menyudahinya.
Tanpa mereka sadari, dari arah sebrang mobil mereka, seorang pria menyaksikan adegan itu dari dalam mobilnya. Dia adalah Rey, anak istri pertama, Nadine. Matanya memerah melihat pemandangan di sebrangnya. Pikirannya membuncah dan penuh dengan kekesalan melihat kedua adik tirinya melakukan hal yang tidak pantas seperti itu, terlebih di area pemakaman sang ayah yang baru saja dikuburkan.
Beberapa saat momen berjalan, Alira melepaskan tautannya “Ini salah Rak. Kita ga boleh seperti ini”
“Ra, aku ga bisa bohong sama perasaan aku. Aku sayang sama kamu Ra, lebih dari sekedar kakak beradik”
“Tapi kita ga boleh kayak gini Rak. Ini salah banget”
Raka merasa frustasi, tangannya memegang pelipisnya. Ia menahan rasa gejolak di hatinya yang selama ini sudah ia tahan sekeras mungkin.
Alira kemudian mencoba duduk bersandar pada jok mobil dan menyadarkan dirinya dari situasi yang baru saja terjadi.dengan menarik nafas dalam. Ia mencoba menenangkan dirinya.
“Lebih baik kita pulang sekarang Rak” ujar Alira sambil memejamkan matanya.
Raka tidak membalas ucapan Alira, ia perlahan menyalakan mesin mobilnya dan mengendarai mobilnya keluar dari area pemakaman.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Raka fokus dengan jalanan di depannya. Ia berusaha tidak menoleh pada Alira. Alira masih berusaha melupakan kejadian di parkiran tadi. Dia mencoba mengalihkan pandangannya ke sisi kiri jalan. Pikirannya berkecamuk, bercampur aduk antara teringat mediang sang ayah, sentuhan Raka di parkiran yang baru saja terjadi dan cinta terlarang. Namun ia tidak dapat membohongi dirinya, bahwa di lubuk hatinya yang paling dalam, ia juga memiliki perasaan yang sama pada Raka. Sejak dulu, Raka memang selalu berada di sisi Alira, di tengah kehidupan keluarga Harjadinata yang penuh dengan politik dan intrik keluarga.
Mobil memasuki halaman kediaman nan megah itu dan Raka menghentikan mobilnya tepat di dekat pintu utama rumah untuk menurunkan Alira.
“Ra, maafin aku” Alira yang hendak membuka pintu mobil tersentak sejenak. Dia hanya mengangguk tanpa menoleh pada Raka. Lalu ia keluar dari mobil. Raka menatap punggung Alira yang terus berjalan masuk ke dalam rumah hingga bayangannya menghilang. Raka kembali melajukan mobilnya ke area parkir.
Ketika sudah masuk ke dalam rumah, Alira bergegas naik menuju kamarnya. Ia langsung menutup pintu kamar dan menelungkupkan diri di atas tempat tidurnya. Pikirannya melayang jauh ke masa saat pertama kali ia dekat dengan kakak tirinya, Raka.
***
Sekitar 3 tahun yang lalu, saat usianya 18 tahun, Maliq meminta Ayunda dan dirinya untuk pindah ke kediaman utama. Maliq ingin semua istrinya tinggal di kediamannya agar ia dapat mengawasi pergerakan semua istrinya dengan mudah. Semula, Ayunda memang mengasingkan diri dari hiruk pikuk kediaman utama karena ia tidak ingin terlibat intrik keluarga yang begitu kental. Mereka hanya berkumpul sesekali apabila ada acara keluarga. Saat itu, Ayunda dan Alira menetap di kediaman orang tua Ayunda yang terletak di sebuah kota yang terbilang cukup besar dengan pusat perekonomian yang cukup baik.
Karena Maliq sangat menekan Ayunda saat itu, akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke kediaman utama bersama Alira setelah Alira dinyatakan lulus dari SMA.
Alira yang baru saja pindah ke kediaman utama, saat itu merasa kurang nyaman dengan istri-istri Maliq yang lain, terutama Nadine, yang selalu memegang kendali di dalam rumah itu, tatapannya begitu sinis pada Alira. Nadine memang tidak begitu menyukai Alira karena perlakuan Maliq yang selalu menganak emaskan Alira. Mariana, tidak jauh berbeda dengan Nadine, Selin cukup netral, namun juga tidak menunjukkan keakraban padanya. Viona, dia termasuk berada di barisan Nadine, namun lebih condong mengabaikan.
Sementara para anak-anak Maliq dari para istri, Rey yang selalu merasa menjadi nomor satu diantara yang lain karena usianya paling tua, terlihat tertarik dengan kecantikan dan keanggunan Alira. Namun ia tetap menjaga wibawanya.
Gio tidak menghiraukan kehadiran Alira, dia merasa Alira bukanlah saingannya, karena ia wanita.
Kenan, paling terkenal sopan diantara yang lain, ia cukup ramah menyambut kehadiran Alira, begitupun sang adik kecil, Kirana.
Dino, menyambut Alira cukup baik, namun membatasi dirinya.
Raka, dialah satu-satunya yang membuat Alira merasa nyaman di kediaman megah itu. Usia mereka terpaut 4 tahun. Raka saat itu baru saja pulang dari luar negri setelah menyelesaikan kuliahnya.
Di suatu akhir pekan, Raka mengajak Alira pergi keluar untuk sekedar menjauhkan diri sejenak dari suasana intrik Harjadinata. Mereka menghabiskan sore bersama di sebuah kafe.
“Ra, kalo kamu ada yang merasa kurang nyaman, cerita sama aku aja ya. Aku siap dengerin dan bantu kamu” Raka mencoba membuka percakapan kala itu sambil meminum es kopi nya.
“Makasih ya kak Raka” Jawab Alira sambil tersenyum.
“Santai aja Ra. Aku ngerti kok, kamu pasti butuh waktu untuk adaptasi. Apalagi, lingkungan keluarga kita ini sedikit berbeda dari keluarga pada umumnya” Raka menjelaskan sambil menatap mata Alira.
Obrolan beralih ke topik lain.
“Oh ya, habis ini rencana kamu mau kuliah dimana Ra?”
“Aku sih yang pasti bakal kuliah di Jakarta aja, mau ambil bisnis dan sambil buka toko dessert”
“Wah, keren banget kamu. Cantik, muda, mandiri dan punya semangat merintis. Nggak seperti kakak-kakakmu yang sibuk rebutan jatah saham dari papa, termasuk aku” Raka berargumen.
Alira mukanya memerah karena pujian Raka.
Raka sungguh-sungguh mengagumi Alira, bukan hanya kecantikan parasnya saja, tetapi dari cara Alira berpikir ia sangat kagum. Alira adalah tipe ideal Raka.
Sejak saat itu, mereka menjadi sangat dekat. Raka selalu menjadi tempat diskusi Alira. Mereka sering bertukar pendapat. Kedekatan itu semakin lama menjadi api pemantik yang menjadi penyebab terlanggarnya norma.
***
Kembali ke masa kini. Alira terbangun dari lamunan panjangnya ke masa awal kedekatannya dengan Raka karena suara ketukan pintu kamarnya yang ternyata diketuk oleh ibunya, Ayunda.
Tok. Tok. Tok.
“Alira, boleh mama masuk?”
“Masuk aja ma, ga dikunci”
Ayunda membuka pintu kamar Alira setelah mendengar sahutan dari dalam, lalu ia masuk ke dalam.
Alira saat itu baru saja terduduk di tepi ranjang.
“Loh Ra, kamu belum bersih-bersih dan ganti baju?” Ayunda bertanya dengan dahi berkerut.
“Belum ma, tadi Alira capek banget”
Ayunda hanya menghela napas pendek dan melangkah duduk di sebelah putrinya.
“Ra, tadi kamu pulang bareng Raka?” Pertanyaan itu cukup membuat jantung Alira langsung berdegup. Lehernya seketika langsung panas dingin, teringat kejadian di mobil Raka beberapa jam lalu. Dengan nada yang sedikit bergetar ia menjawab “Iya mah, kenapa emangnya ma?”
Ayunda mendesah pelan “Ra, mama mau kamu jaga sikap. kita ini bukan keluarga biasa. Segala gerak gerik kita diawasi. Bukan hanya oleh rekan bisnis dan media, tapi juga yang paling penting, oleh sesama anggota keluarga kita yang lain” Ayunda menegaskan perintahnya.
“Mama tau kamu dan Raka sejak dulu memang dekat. Tapi sekarang kondisinya berbeda Ra. Papa sudah tidak ada. Tidak akan ada yang membela kamu kalau kamu melakukan satu kesalahan saja. Mama harap kamu lebih bijak Ra”
“Dan jangan lupa, nanti malam ada pengajian.” Ayunda bangun dari duduknya lalu menepuk pundak Alira.
Alira meresponnya dengan anggukan.
Belum sampai Ayunda keluar, Alira tiba-tiba membuka suaranya “Ma, apa kita kembali ke rumah orangtua mama aja?”
Ayunda berhenti melangkah dan menoleh pada Alira “Jangan minta yang aneh-aneh kamu”
“Kenapa ma? Apa mama juga mengejar warisan seperti yang lain, makanya mama mau bertahan di rumah ini?”
“Jaga mulut kamu Alira! Lebih baik kamu fokus dengan bisnis dessert kamu. Nggak usah minta yang aneh-aneh”
“Nggak aneh kok ma. Alira kan cuma pengen kita kembali ke tempat tinggal kita yang dulu. Apalagi di sana ada eyang kan? Lagipula, mama minta aku untuk jaga sikap sama Raka. Dengan kita keluar dari rumah ini, semuanya akan lebih mudah kan ma”
“Alira!” Ayunda sudah hampir habis kesabaran meladeni permintaan anaknya. Alira hanya diam menatap ibunya yang melangkah keluar tanpa menanggapinya.
Pintu tertutup rapat.
To be continued