Bab 7: Rendesvouz (2)

1442 Words
Berlian berada di ruangan Pak Munir, ketua yayasan. Dia duduk di hadapan laki-laki tua yang tampak sedang melihat layar monitor laptopnya.             “Bagus. Ini bagus. Saya setuju mekanisme acara dan mekanisme penilaian yang kamu susun ini. Kita umumkan event ini melalui sosial media, tapi itu tugas anggota panitia yang lainnya nanti.”             “Baik, Pak.” “Buat pemenangnya banyak, Berlian, budget kita masih cukup untuk menambah jumlah pemenang,” kata Pak Munir setelah melihat rancangan Berlian.             “Juara 1, 2, 3 dan sepuluh orang juara harapan. Bagaimana, Pak?”             “Tiga belas orang…” ucapan ini keluar dari mulut kepala yayasan itu. Dia kemudian diam, matanya menatap lurus ke Berlian, asisten kepercayaannya selama tiga tahun ini. “Masih cukup, masih cukup.”             “Sponsor-nya masih sama, Pak?”             “Masih sama seperti tahun lalu, ada lima sponsor tetap. Mungkin akan ada satu atau dua pihak lagi yang ingin ikut serta tahun ini, masih dalam tahap negoisasi.”             Berlian tersenyum senang.             “Kita mulai bentuk panitianya….”             Untuk satu jam berikutnya, mereka sudah larut dalam diskusi pembentukan panitia dan hal-hal lainnya yang menyangkut acara itu.             Dua minggu lagi pengumuman akan disebarkan.             Tiga bulan lagi pemenangnya akan diumumkan.             Berlian keluar dari ruangan Pak Munir, mendengarkan jam dari ponselnya, lalu langsung ke ruangan lainnya. Kelas dia mengajar anak kecil menulis huruf braille.             “Selamat siang!” sapa Berlian ketika dia membuka pintu kelas. Suara gaduh yang tadinya terdengar, langsung terhenti seketika, hening.             “Selamat siang, Ibu Berlian!” jawab anak-anak itu kemudian. Berlian tersenyum. Tujuh orang anak berusia lima sampai tujuh tahun menantinya, sebagian tersenyum dengan tangan terlipat di atas meja dan sebagian lagi tampak mulai lagi bercanda satu sama lainnya.             “Keluarkan kertas, reglet dan stylus kalian. Terakhir kita belajar tentang bagaimana membuat huruf apa??”             “Huruf A, Buuuu!” jawab beberapa anak serentak.             Berlian tersenyum.             “Hari ini kita akan belajar huruf apa ya…” pancingnya dengan nada suara yang dibuat-buat seakan begitu ragu.             “Aku tahu! Huruf B!” teriak seorang anak laki-laki yang tersenyum lebar.             “Nenek-nenek juga tahu kaliii, habis huruf A ya pasti huruf B!” kata seorang anak perempuan. Yang lainnya tertawa mendengar komentar itu. Senyum Berlian semakin lebar. Sudah sekitar dua tahun dia mengajar kelas awal seperti ini. Mendidik mereka, kaum d*********s—seperi dirinya sendiri—menjadi ‘melek mata’ terhadap huruf-huruf. Menjadikan mereka generasi yang berpengetahuan dan menyukai membaca, walaupun dalam keterbatasan.             “Benar, huruf B. Nah sekarang jepitkan reglet-nya ke kertas.”             Semua anak mendadak sibuk sendiri. Berlian menghampiri mereka satu persatu, menanyakan apakah mereka menghadapi kesulitan.             Untuk sejenak kelas sama sekali menjadi senyap, semua tampak sibuk menekankan stylus mereka ke lubang reglet.             Sejam kemudian anak-anak sudah berhamburan keluar kelas, Berlian menyusul kemudian, menuju ruang staf.             Tangannya langsung meraih gelas minuman yang ada di atas mejanya.             Rrrtt!             “Halo…?” sapanya,tangannya batal mengambil gelas minumannya.             “Berlian, kamu di mana?” Suara berat. Ethan. Bibir Berlian tersenyum lebar tanpa bisa dia kendalikan. “Di yayasan.” “Aku tahu, di dekat halte yang kemarin kita ketemu kan?” “Iya.” “Jam berapa pulang? Aku jemput.” Berlian terdiam. Ada gelenyar indah terselip di antara relung hatinya. Perutnya seakan tergelitik, seakan ratusan kupu-kupu melayang-layang mengepakkan sayapnya di sana. Dia merasa wajahnya panas, pembuluh darahnya melebar karena debar jantung yang meningkat. “Nggak perlu…” katanya pelan, mengingkari kata hatinya. Bodoh! “Aku jemput pokoknya.” “Jangan…” katanya lagi, membuat bayangan dewa Cupid1 membentur-benturkan kepalanya di dinding. Stupid! “Berlian, rumah kita searah, apa salahnya aku jemput kamu?” Ethan bersikukuh. Terlalu awal untuk bersikap GR, Berlian… keluhnya dalam hati. “Jam empat, tapi…” “Ya udah, sampai jumpa jam empat, tunggu aja di kantor kamu, ok?” “Aku… tunggu di halte aja…” elak Berlian. Merasa dirinya terbang terlalu tinggi. Dia takut, semakin tinggi dia terbang, rasa sakit ketika jatuh akan terasa lebih menyakitkan. Berlian tidak mampu lagi untuk berkonsentrasi penuh. Diletakkannya kembali catatan perkembangan murid-muridnya ke dalam laci. Lalu termenung. Sapaan rekan kerjanya hanya dijawabnya sambil lalu. Waktu sejam terasa semenit, atau malah terasa seharian? Entah, terasa begitu mendebarkan dan menyenangkan di saat yang sama. Begitu mendebarkan hingga waktu menggoda dengan larinya yang cepat. Begitu menyenangkan hingga terasa waktu mencumbunya begitu pelan. Berlian mengambil tasnya, melangkah keluar dari gedung yayasan, berjalan perlahan menuju halte. Hanya sekitar  lima menit Berlian duduk menunggu, seseorang menyentuh pundaknya. “Berlian. Hai!” Berlian berdiri dan tersenyum begitu mendengar suara Ethan. “Yuk, pulang.” Ethan mendorong lembut punggung Berlian, membukakan pintu mobil untuknya, lalu menutupnya setelah yakin Berlian sudah duduk dengan baik. Berlian duduk dengan kikuk, ada perasaan ganjil di hatinya. Mobil penuh aroma Ethan, aroma cokelat. Aroma yang kini sudah diingatnya dengan sangat jelas. “Maaf, jadi ngerepotin…” kata Berlian pelan. Ethan hanya tertawa. Tubuh Berlian tiba-tiba membeku. Dia menajamkan telinganya. Dia merasa mengenal…. “Ngapain minta maaf? Dan siapa juga yang ngerepotin? Kamu ini aneh-aneh aja,” kata Ethan, dia masih memandang ke depan. Tangannya bergerak lincah memutar kemudi mobilnya, menghindari sebuah angkutan umum yang tiba-tiba mengambil jalur jalan di depannya. Berlian tersipu malu, perasaan ganjil sesaat yang ada di benaknya luruh. “Gimana kerjaan hari ini?” tanya Ethan. Mobilnya melaju pelan, kemacetan di depannya kini mencegahnya untuk bisa menekan gas. “Kelasku lancar hari ini. Tadi aku sempat ngobrol sama orangtua anak didikku yang butuh perhatian lebih.” Berlian menceritakan tentang Ferdi. Ethan hanya mengangguk-angguk, mengomentari sesekali. “Kamu suka ngajar…” kata Ethan. “Iya. Ngeliat mereka ngerti yang aku ajarin, dari nggak bisa kemudian menjadi bisa, itu memberi kepuasan batin tersendiri bagiku.” Berlian mengembangkan senyumnya. Pernyataan yang keluar dari lubuk hatinya yang terdalam. Ethan tersenyum, tangannya memindah gigi persneling, setelah melihat mobil di depannya mulai bergerak maju. “Ada niat untuk bikin sekolah sendiri?” Berlian tertawa. “Kok ketawa?” “Ngaco, mana bisa aku bikin sekolah sendiri.” “Lho, emang ada yang salah?” Berlian masih tertawa. Itu impiannya, ketika orang berkata gantunglah cita-citamu setinggi langit, dia merasa hanya bisa mendongak, menatap langit yang katanya begitu indah. Berwarna biru. Biru itu seperti apa? “O ya, aku terima les privat juga, Than.” “Les privat apaan?” “Seorang penulis novel, mau belajar huruf Braille. Namanya Saka, aku nanti ngajar tiap Selasa dan Jumat, sore, jam empat sampai jam lima. Dia bilang untuk mendalami karakter tokoh novelnya.” “Kamu kenal dia?” “Nggak. Kenapa?’ “Kamu yakin dia bukan orang jahat?” “Ethan! Ya nggak lah, nggak mungkin orang jahat.” Berlian tertawa pelan, ucapan Ethan terasa begitu menggelitik. “Hanya make sure aja, kamu kan belum tahu orangnya…” kata Ethan. Nadanya ringan, namun terdengar begitu khawatir. “Aku nggak akan apa-apa.” “Di mana rumahnya?” “Jakarta Utara.” Ethan terdiam sebentar. Berlian tersenyum, membayangkan pengalaman barunya mengajar privat. Pikirannya melayang, dia merencanakan akan membuat peralatan pengenalan huruf Braille nantinya, untuk membimbing Saka. “Aku antar kamu.” Ethan berkata tiba-tiba. Berlian menoleh. “Ke mana?” “Masih nanya…” desis Ethan pelan dari mulutnya, suara beratnya seakan menggema. Matanya memandang lurus ke depan. “Ke rumah murid kamu, si Saka itu.” Berlian ternganga. Pikirannya tentang peralatan stimulasi mengajar braille buyar begitu saja. Kenapa? “Kenapa?” tanyanya ragu. “Kamu pikir gampang naik bis dari rumah kamu ke Jakarta Utara?” jawab Ethan, kepalanya menoleh sebentar ke Berlian. “Aku bisa tanya orang…” berusaha berargumentasi. “Bisa nggak kamu nggak usah ngeyel?” tanya Ethan ketus. “Iya…” jawab Berlian, tercekat. Menyerah pada kekeras kepalaan Ethan. Rasa bingung, senang dan ragu menerpa dirinya sekaligus. “Itu pas dengan jam pulang kantor kamu, kan? Aku jemput di halte itu, jam tiga.” “Kerjaan… kamu?” tanya Berlian ragu. “Itu urusanku. Kamu kan tahu aku punya waktu fleksibel. “ Berlian hanya mengangguk, dia merasa percuma berusaha menolak, dia merasa seperti berada dalam pengaruh tak terlihat, menjerat pikirannya, menjerat hatinya. “Udah kamu pikirin ke mana aja kamu pengen pergi?” Berlian menoleh pada Ethan. Tidak pernah menyangka Ethan akan menanyakannya lagi. Hal yang dia pikir hanya suatu basa-basi, sesuatu yang tidak mungkin terjadi. It’s too good to be true. Too good. “Belum. Kamu serius?” “Apa aku kedengaran lagi becanda?” tanya Ethan. Dia melirik Berlian yang sedang menggelengkan kepalanya. “Kamu pikirin benar-benar. Rumah kamu blok apa?” Berlian menyebutkan nomor rumahnya, kemudian terdiam. Seribu pertanyaan dirasakannya, melayang-layang dalam kegelapan yang akrab. Serasa melihat pendar cahaya di kejauhan. Kata orang, cahaya itu indah.  *** Catatan : 1.      Cupid : salah satu nama dewa dalam mitologi Yunani yang mengontrol dorongan hasrat dan cinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD