“Masih bareng Jonathan Widiawan dan Dito Putra di pagi hari yang cerah ini di sembilan puluh sembilan koma tiga…” Jonathan membuka, setelah lantunan sebuah lagu terdengar.
“Metro FM, brighten up your day!” sambung Dito.
“Line telepon kita mulai dibuka, yang mau nyoba nelepon, jangan ragu, langsung tekan di nol dua satu satu satu lima lima dua dua sembilan sembilan….”
“t***k-ngaso kan?” tanya Dito.
“Eits! Tunggu dulu. Pagi-pagi udah mau t***k aja…”
Dito tertawa.
“Sementara teteknya kita simpan dulu untuk nanti, karena kita mau ngomongin tentang sesuatu nih.”
“Tentang apa Jo? Buruan, gue udah keburu pegel nih badan, kelamaan.”
“Kelamaan apa, Dit?”
“Push up.”
“Di mana?”
“Di…”
“Panti pijat?” potong Jonathan cepat.
“Sstt! Bini gue dengerin gue siaran! Mampus gue!”
Jonathan terbahak.
“Gue push up di bini gue.”
“Wah… nggak bener nih, menjurus nih… menjurus!”
“Menjurus gimana? Gue push up di hati bini gue…” kata Dito, bernada sok polos.
Jonathan tertawa kencang.
“Ngomongin push up, gue mau ngomongin olahraga. Gue suka nge-gym dan main futsal. Gue pengen tau nih, olahraga apa yang kalian suka dan nggak suka. Line kita udah dibuka, jadi langsung aja ngomong pendapat lo.”
“Bener, Jo. Olahraga itu penting, seperti pepatah mengatakan, mens sana in corpore sano…”
“Yang artinya adalah…”
“Kalau mens harus minum caprison….”
“Bukannnn!” teriak Jo bernada histeris.
“ Apa dong artinya?”
“Artinya adalah kalau lagi mens jadi panas kayak di atas kompor…”
“Yahhhh!”
Keduanya tertawa.
“Bukan, bukan, artinya adalah… di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat,” kata Jonathan akhirnya di penghujung gelak mereka.
“Ngerti nggak lo Jo, maknanya?”
“Bahwa kalau tubuh kita sehat, pikiran kita sehat pula. Pikiran yang sehat, bisa bikin kita berpikir jernih untuk menjalani hidup.” Jonathan menjelaskan.
“Anda hebat sekali, Guru!”
“Berkat baca Google, Nak!”
Dito tertawa.
“Kalau gue, sama seperti Jonathan, gue suka futsal. Trus olahraga yang gue paling nggak suka adalah skipping. Suka pabeulit, euy!”
Jonathan tertawa.
“Emang lo bisa skipping?” goda Dito
“Bisalah, melarikan diri kan? Skip?”
“Bukannnn! Skippinggg, lompat tali, jiah!”
Jonathan tertawa semakin jadi.
“Gue nggak suka olahraga senam indah.”
“Kenapa?” tanya Dito.
“Bajunya ketat, gue malu…”
Dito tertawa, “kenapa malu? Kekecilan ya?” ledeknya.
“Justru ukurannya terlalu super, bisa mengalihkan perhatian dunia…” tangkis Jonathan yang disambut gelak tawa Dito.
“Udah, udah, ini ada penelepon kita nih. Namanya Elang.”
“Elang! Coba sebutin olahraga apa yang lo demen dan yang lo benci.”
“Gue… suka catur!”
Hah?!
Jonathan dan Dito saling berpandangan.
“Catur?”
“Iya, catur,” Elang menjawab pertanyaan Dito.
“Catur emang termasuk olahraga, Dit. Ya kan?”
“Iya, sih…”
“Trus olah raga apa yang lo nggak suka?” tanya Jonathan lagi.
“Semua olahraga kecuali catur…” jawab Elang.
Sekali lagi kedua penyiar itu tertawa bersama.
“Kenapa? Kenapa, Lang?”
“Bikin sesek d**a…”
“Lha, kok bisa.”
“Pokoknya gitu deh, kalau terlalu banyak gerak nggak kuat, langsung d**a gue berasa sesek. Dari kecil gue begini. Ada gangguan gitu,” jelas Elang.
Ohh… keduanya ber-oh bersamaan.
“Gimana kalau bilyar? Ini kan juga termasuk jenis olahraga yang nggak banyak gerak,” tanya Dito.
“Bilyar bikin sesek juga lah,” jawab Jonathan.
“Kok bisa?”
“Kan biasanya scorer-nya cewek seksi… Gimana nggak sesek…”
“Dadanya sesek?”
“Bukan, tempat yang lain….”
Mereka bertiga terbahak-bahak.
“Udah! Udah! Makasih udah nelepon ya Lang,” tutup Dito.
“Ok, Jonathan Dito, salam sekak!”
“Salam checkmate!” balas Jonathan.
“Aduh… Elang ini, terus yang sehat jarinya doang dong. Ok, sebelum kita lanjut ke penelepon berikutnya, kita dengerin dulu, Blank Space-nya Taylor Swift,” kata Dito.
“Metro FM…”
“Brighten up your day!”
Jonathan mematikan microphone-nya, lagu diputar, menggema ke seantero ruangan. Mereka berdua mengobrol, membahas topik yang akan mereka bawakan selanjutnya.
Satu hal yang tidak mereka sadari, seorang gadis memandang ke arah mereka berdua. Tersenyum, terpesona. Sonya.
“Gue ke toilet dulu,” kata Jonathan, sembari berdiri. Dia berjalan keluar studio. Ketika dia selesai menutup pintunya kembali, Sonya sudah berdiri di hadapannya. Tersenyum. Jonathan membalas senyuman itu, lalu membelokkan badannya, hendak melanjutkan perjalanannya.
“Jo…” panggil Sonya.
Jonathan menoleh, mengangkat alisnya.
“Aku… boleh minta tolong?”
“Boleh. Bentar, full tank nih!” kata Jonathan dengan nada bercanda, lalu bergegas ke kamar mandi.
Setelah menyelesaikan hajatnya, Jonathan kembali ke studio, tetapi Sonya sudah tidak di sana. Dia kembali masuk ke dalam ruangan, Dito sudah memulai opening-nya.
Ponselnya berbunyi, pesan masuk. Dia duduk, menjawab umpan yang langsung diberikan oleh Dito. Sementara tangannya membuka pesan dari nomor tak dikenal.
Ø Jo, bisa kita ketemuan? –Sonya
Jonathan menutup pesan itu setelah mengetikkan jawabannya.
Ø Ada apa?
Setelah beberapa menit tidak ada jawaban, Jonathan sudah melupakannya, tenggelam di
dalam candaan yang dilempar oleh Dito.
Hari beranjak siang, siaran sudah selesai, meeting setiap hari Senin pun sudah selesai. Waktu sudah menunjukkan jam tiga lebih, sudah melewati jam kantor mereka berdua.
“Hangout yuk Jo! Café biasa.”
Jonathan meneruskan memasukkan laptop ke dalam tasnya.
“Lain kali, Dit, gue ada kerjaan.”
“Buset lo, semakin hari kayaknya makin sibuk aja. Bagi-bagi proyeknya dong!”
Jonathan hanya tersenyum, dan Dito bisa melihat, Jonathan langsung menelepon seseorang begitu keluar dari ruang staf, berjalan tergesa-gesa seperti mengejar sesuatu. Tiba-tiba langkahnya berhenti, membaca pesan yang baru masuk.
Ø Café La Tanza, Lantai dasar Apartemen Valencia, Sabtu jam 8 pagi, bisa? –Sonya
Jonathan berpikir sejenak, dia tahu tempat itu.
Ø Ok.
.
***