Berlian menelusuri jalan, dia menggerakkan tongkat perlahan. Saat tiba di gapura pintu utama perumahannya, dia berbelok ke kanan. Setiap hari dia berbelok ke kiri, ke arah halte bus. Kini dia hendak ke minimarket yang ada di seberang jalan. Dia berjalan lurus sembari sedikit memiringkan kepalanya, berusaha mendengar suara langkah orang-orang yang sedang naik dan turun melalui jembatan itu.
Dengan hati-hati dia meniti anak tangga, sedangkan tangan kirinya mencengkeram kuat pagar pembatasnya. Tongkatnya dipegang erat di tangan kanannya.
Dia bersyukur, ada jembatan penyeberangan di sini, karena menyeberangi jalan raya memiliki kendala tersendiri baginya. Mudah mungkin saat ada orang yang berbaik hati mau membantunya, namun saat sendirian, dia benar-benar harus menggunakan instingnya. Mengangkat tongkat pintar tinggi-tinggi, adalah isyarat bagi pengendara kendaraan untuk melambatkan laju kendaraannya dan memberi kesempatan baginya untuk menyeberangi jalan. Namun tak semua orang mengerti isyarat itu, kadang caci maki akan tetap diterimanya, walaupun pada akhirnya permintaan maaf akan didengarnya begitu si pengemudi mengetahui keterbatasan fisiknya.
Tak lama kemudian dia sudah tiba di seberang jalan. Berbelok ke kiri, berjalan sejauh 30 langkah lalu mulai mengarahkan dirinya ke kanan, ke depan sebuah minimarket. Dia mengulurkan tangannya, meraba-raba pintu toserba itu, mencari pegangan pintunya. Lalu mendorongnya pelan.
Dingin AC menerpa wajahnya, dia menikmatinya, mendinginkan suhu tubuhnya yang terkena panas matahari pagi kota Jakarta.
“Selamat datang! Selamat pagi!” sapa kasir toko itu.
“Pagi…” jawab Berlian sambil tersenyum tipis.
Dia berjalan perlahan, mengambil keranjang belanja di dekat kasir lalu meraba sekilas ujung rak-rak yang berjajar di sana. Setelah tiba di rak yang ditujunya dia mulai mengambil beberapa barang keperluannya, menciumi aromanya untuk mengenal apa yang sebenarnya dia cari.
Pasta gigi dengan aroma mint, sabun mandi batang beraroma melati dan tissu tanpa wewangian.
Dia bergerak ke rak sebelah, lalu diam di depan rak berisi macam-macam mi instan.
“Ada yang bisa dibantu, Mbak?”
Berlian tersenyum.
“Saya mau mi instan yang goreng, Mas. Tolong.”
Karyawan toko itu tersenyum sembari menanyakan merek yang dimaksud oleh Berlian. Berlian menjawab sekaligus menyebutkan berapa banyak yang dia butuhkan.
Setelah mengucapkan terima kasih, dia melanjutkan acara belanjanya. Salah satu kegiatan yang disukainya untuk menghabiskan waktu di hari Minggu seperti ini. Jika ibunya masih hidup, hari Minggu seperti hari penuh dengan kesenangan. Ke mall, ke pantai, ke Puncak, atau ke mana pun Berlian ingin pergi, ibunya berusaha memenuhinya.
“Kenapa ibu bawa aku ke pantai?” tanya Berlian suatu hari. Di hadapannya terbentang laut biru, indah, tetapi Berlian tidak pernah bisa melihatnya.
“Kamu harus tahu, bagaimana bau laut, bagaimana rasa pasir pantai di kaki kamu, bagaimana bunyi angin laut. Jadi, kamu punya pengalaman. Untuk pengetahuan dan modal kamu bersosialisasi dengan orang lain. Kamu mengerti?” jelas ibunya, menatap buah hatinya dengan senyum kasih. “Ayo, ibu tuntun kamu ke laut,” ajak ibunya.
Berlian mengangguk penuh semangat. Saat kakinya menyentuh air laut, dia tahu ibunya benar.
Di minimarket, dia masih mengambil beberapa camilan, roti dan biskuit, dengan bantuan karyawan atau pengunjung lainnya yang sedang berada di dekatnya.
Setengah jam kemudian dia sudah mengantri di kasir untuk membayar. Dia mengeluarkan dompetnya dari dalam tas, lalu mengeluarkan selembar uang, meraba permukaan uang yang kasar untuk mengenali nominalnya.
Dia membawa kantong plastik yang berisi barang-barang belanjanya, melewati rute jalan yang sama seperti saat dia pergi.
Setibanya di rumah, dia segera memasukkan semua isi plastik ke dalam lemari di dapur, lalu menyimpan peralatan mandinya langsung di kamar mandi.
Hari belum menunjukkan setengahnya, Berlian mengambil selembar kain lap dari tempat jemuran di bagian belakang rumahnya, lalu membasahi kain itu dengan air keran. Dia ke ruang tamu, lalu mulai mengelap kursi dan meja di sana. Merasakan debu yang menempel dengan ujung jarinya. Ibunya yang telah mengajarkan padanya.
Tidak banyak perabotan di dalam rumah itu, apalagi pernak-pernik kecil yang biasanya menghiasi sebuah rumah. Tidak. Ibunya berusaha meminimalkan keberadaan benda-benda yang sekiranya berbahaya bagi dirinya, walaupun dia sudah berkali-kali meyakinkan ibunya, dia bisa mengatasi semua itu, dia bisa berhati-hati dan berusaha tidak ceroboh.
Sudah hampir dua jam dia membersihkan seisi rumah, kamar kosong bekas ibunya, dapur dan kamarnya sendiri.
Bergerak dari ruang tamu, dia ke kamar mandi, membuang sisa air di embernya, lalu ke dapur, mencuci tangannya. Keringat mengucur dari dahinya. Berkali-kali dia menghapus keringatnya itu dengan punggung tangannya.
Dia mengambil plastik yang ada di sebelah sink dapur, mengeluarkan isinya. Wortel, kentang, seledri, bawang daun dan seplastik sosis, yang dibelinya dari pedagang sayur keliling tadi pagi. Beberapa menit kemudian, dia sudah terlihat begitu tekun memotong semua bahan itu. Mengiris dengan hati-hati. Menyalakan kompor untuk menumis bumbu, lalu memasukkannya semua bahan sop sayur itu ke dalam panci.
Dia tersenyum, dia teringat ibunya. Ibunya yang selalu memasak sop setiap hari minggu ataupun setiap hari libur.
Berlian meninggalkan jerangan sopnya yang mulai mengeluarkan wangi sedap, menghampiri magic jar, mencabut stop kontaknya. Membuka magic jar itu lalu mengaduk nasi yang sudah matang. Semua dilakukan dengan hati-hati dan perlahan.
Dia menengok lagi sop sayurnya, mencicipinya sekali lagi, lalu mematikan kompor.
Berlian bergegas ke dalam kamarnya, mengambil baju untuk mandi.
Semua dilakukannya sendiri. Ibunya yang telah mengajarkan dirinya untuk mandiri, karena kehilangan penglihatan bukan suatu penyakit, bukan suatu keterbatasan yang menelikung erat.
Ibunya yang mengajarkannya, memberinya teladan, untuk mengerjakan semuanya sendiri, tidak banyak bergantung pada orang lain.
Menjadi tunanetra bukanlah hal yang memalukan, kadang mereka bahkan lebih bisa ‘melihat’ dibandingkan dengan beberapa manusia lainnya.
Kini Berlian sedang duduk di ruang tamu, dengan sepiring nasi dan semangkuk sop. Dia tersenyum puas, kegiatan membersihkan rumah telah mengurangi sebagian tenaganya hari ini. Menikmati makanannya dengan santai menjadi mirip sebuah reward kepada dirinya sendiri.
Dia menyalakan playlist di ponselnya, duduk bersila di atas sofa, menikmati makan siangnya ditemani lagu yang mengalun lembut.
Setelah semua habis tandas, dia membuka laptop yang sedari tadi ada di meja dan memakai headset. Membuka halaman word lalu mulai mengetikkan seluruh isi di kepalanya tentang mekanisme lomba cerpen. Hanya perlu kurang dari sejam dia sudah selesai, didengarkannya lagi di telinganya apa yang sudah dia tulis. Mendengarkannya dengan cermat, memastikan semua sudah benar.
Setelah yakin, dia mengirim draft tulisannya itu ke ketua yayasan. Besok dia akan membahas semuanya satu-persatu.
Kini Berlian membuka file baru aplikasi word, mengetikkan sesuatu di sana. Ujung bibirnya seakan ditarik lebar ke samping. Dia tersenyum. Isi kepalanya seolah berputar-putar liar, mencari jalan keluar agar bisa menjelma menjadi tulisan.
Hal yang sudah lama dipendamnya, namun baru kali ini dia bisa membuka penghalangnya. Kata-kata mengalir deras dari ujung jarinya, sesekali dia terkikik sendiri. Lalu termenung, mengetik lagi lalu mendengarkan lagi paragrap-paragrap yang telah tersusun rapi.
Berjam-jam berlalu. Matahari sudah condong ke barat. Angin sore berdesir. Pohon mangga yang ada di halaman rumahnya bergemerisik, pelan.
Dia membuka headsetnya lalu menggerakkan kepalanya ke kiri kanan yang terasa pegal. Menekan semua jemari lentiknya hingga mengeluarkan bunyi. Menarik ke atas kedua lengannya, lalu menguap lebar-lebar.
Rrrt!
Bunyi ponsel. Dia menekan tanda terima.
“Halo?” sapanya.
“Berlian?” Suara berat dan dalam.
“E… Ethan?” tanya Berlian ragu, suara khas yang tak mungkin dilupakannya, sejak… kemarin.
“Iya, aku. Ganggu kamu?”
Berlian tersenyum. “Nggak, lagi santai, habis nulis,” jawabnya.
“Nulis apa?”
Berlian tertawa. “Rahasia. Nanti kalau udah selesai, aku kasih tahu kamu.”
Ethan tertawa, menggelegar di telinga Berlian. Keras namun lembut di saat bersamaan, memenuhi rongga telinganya, berbaur menjadi satu dengan detak jantung yang tiba-tiba menaikkan kecepatannya.
“Kok main rahasiaan sih?” Suara Ethan terdengar menggoda.
“Iya, buat kejutan.” Berlian mengeluarkan suara tawa kecil, dia menahannya.
“Ya udah, nanti kamu kasih tahu aku ya?”
“Iya,” jawab Berlian, kini dengan senyum mengembang.
Hening sejenak.
“Kamu lagi di dalam mobil? Nyetir?” tanya Berlian.
“Iya, mobilku udah aku ambil dari bengkel.”
“Hati-hati, Than. Nggak baik nyetir sambil teleponan. Kacamata kamu?”
“Nggak apa-apa, udah biasa, aku hati-hati kok. Kacamata udah aku ganti, sayang sekali, padahal itu kacamata baru bulan lalu aku beli.”
Berlian tersenyum.
“Mau jalan?” tanya Ethan.
Berlian terdiam, senyumnya menghilang.
“Jalan?” tanyanya ragu. Jarinya menggaruk pipinya secara tidak sadar.
“Iya, mau aku ajak jalan-jalan?”
“Ke mana?” suaranya mendadak terdengar seperti mencicit karena tercekik. Ini pertama kalinya, seorang laki-laki, selain Jonathan, dulu sewaktu mereka masih kecil, yang mengajaknya keluar. Jalan-jalan.
“Ke mana aja kamu mau.”
Berlian menahan napas. Dia masih mengingat sangat jelas, pertemuannya dengan Ethan kemarin. Bagaimana mungkin, dia bisa merasa dekat dengan laki-laki yang baru dikenalnya itu. Saling bercerita, tentang cuaca, tentang sepakbola, tentang banyak hal yang terjadi di Jakarta dan dunia. Pengetahuan Ethan yang sangat luas, membuat Berlian terperangah, laki-laki itu terlihat seperti sebuah ensiklopedi berjalan.
“Ok, aku ngerti, kamu pasti nggak percaya aku. Kita kan baru kenalan kemarin. Lain kali aja jalan-jalannya ya?”
Berlian mengangguk, tanpa sadar, masih terhipnotis dalam gelungan tanda tanya besar di kepalanya.
“Kok diam?”
“Iya… kapan-kapan,” katanya lemas. Mendadak lemas. Jiwanya lemas, hatinya lemas.
“Sekarang PR buat kamu, list out semua tempat yang pengen kamu datangi, di manapun.”
Berlian terdiam lagi, mulutnya setengah terbuka, seakan tak percaya dengan pendengarannya sendiri. “Kenapa?” tanyanya pada akhirnya setelah dia berusaha mencerna kalimat Ethan dengan baik, dan dia yakin tidak salah dengar.
“Apanya kenapa?” Ethan balik bertanya dengan nada tenang.
“Kenapa kamu mau ngajak aku?” tanya Berlian, kembali cicitannya terdengar, oksigen di dalam rumahnya seakan lenyap, membuatnya tak bisa bernapas wajar.
“Emang aneh seorang teman mengajak temannya jalan-jalan?”
Berlian tertawa pelan. Hatinya tersiram kesejukan, memecah keraguan yang sempat terbentuk di hatinya.
Iya, benar. Hanya sebagai teman. Ini… lebih aman.
“Ke mana pun?” tanya Berlian sambil tertawa kecil, kini rasa iseng menggodanya begitu besar.
“Iya. Ke mana pun,” jawab Ethan tegas, terdengar penuh keyakinan.
“Lu-ar ne-ge-ri?” Berlian mengatakan ini dengan tekanan di tiap suku katanya.
Ethan tertawa. Berlian menyusul dengan tawa yang lebih kencang.
Hentikan bersikap konyol, Berlian! Serunya pada diri sendiri.
“Kalau aku mampu, kenapa nggak?”
Pipi Berlian tiba-tiba merona, tawanya menghilang seketika. Bukan jawaban itu yang ada di pikirannya tadi. Seharusnya Ethan berkata : “Gila kamu, mana aku punya duit segitu banyak?” atau “Emang lo siapa?” Itu akan memberi garis jelas status antara Ethan dan dirinya, sebagai teman. Berlian memejamkan matanya sekejap, lalu menggelengkan kepalanya.
Jangan ge-er, Berlian!
Dia baru mengenal Ethan, tapi seolah dia sudah mengenal laki-laki itu seumur hidupnya. Perasaan pertamanya… bukan, ini perasaan melayang kedua dalam seumur hidupnya. Yang pertama adalah….
“Berlian?”
Suara berat itu menyentak Berlian keluar dari alur pikirannya sendiri.
Nggak, aku nggak boleh GR! Baru juga sekali ketemu!
“Iya Than, nanti aku kerjain PR-nya. Siap-siap aja, ini list nya bakal sepanjang novel.”
Ethan tertawa. Suara khasnya menggelitik telinga Berlian.
“Minggu depan, aku ke rumah kamu, boleh?”
“Ngapain?” tanya Berlian cepat. Kata tanya yang sepersekian detik kemudian disesalinya sendiri dalam hati. Seharusnya ‘Sungguh? Aku senang Ethan’, begitu bukan?
“Ya, ampun, emang kamu pikir aku mau ngerampok kamu?”
Berlian tertawa.
“Boleh deh.”
“Pake deh…” suara Ethan terdengar seperti bersungut-sungut. Berlian tertawa lagi. “Mau aku bawain apa?” tanya Ethan, kini terdengar begitu sabar.
“Nggak usah bawa apa-apa.”
“Aku maksa.”
Berlian tertawa, “Apa aja, terserah kamu.”
Langit kembali menghitam, senja kembali bertandang di cakrawala, meninggalkan salam perpisahan bagi mentari yang sudah terlelap. Berlian masih menempelkan ponsel di telinganya. Rasa panas yang berasal dari device miliknya itu tidak membuatnya lelah.
Ethan telah mencuri seluruh rasa lelahnya.
***
Aku harus berhasil!
Aku sudah mengingatnya…. Aku sudah tahu banyak tentang dirinya. Itu pasti dia! Tidak salah lagi!
Laki-laki tua itu mengenakan kembali topinya, menutupi sebuah parut luka di keningnya, lalu berjalan menjauhi rumah bercat kuning, rumah Berlian. Senyum tersungging di bibirnya yang hitam. Dia merapatkan jaket lusuh yang kelihatan tadinya berwarna hitam, kini sudah menjadi abu-abu.
Dia berjalan terus, hingga rumah yang selalu diawasinya itu tak lagi terlihat jelas. Dia berhenti di depan gerbang perumahan, duduk di bangku kayu panjang yang ada di sudut luar gerbang, tempat para tukang ojek berkumpul.
“Ketemu Bang sama orangnya?” tanya seorang tukang ojek.
Yang dipanggil “Bang” itu mengangguk. “Saya cabut dulu dah!” katanya sambil berdiri, memakai helm yang ada di setang motornya. Pemuda itu hanya diam, mengawasi orang itu dengan lekat, orang yang sudah beberapa hari ini selalu menitipkan motornya di sana.
Motor tuanya menggerung pelan, lalu melaju di antara kendaraan lainnya yang masih padat merayap di jalanan.
***