Jonathan mengendarai mobilnya ke arah Jakarta Selatan. Sementara matanya melihat ke depan, tangannya menaikkan volume audio. Musik mengalun, mengentak dengan irama lagu rock. Kepalanya bergerak-gerak mengikuti irama lagu. Jarinya mengetuk-ngetuk setir dan sesekali dari mulutnya terdengar dendangnya mengikuti lagu.
Hari Minggu menjelang siang. Jakarta masih padat dengan kendaraan, ketika hari kerja jalanan sibuk dengan ribuan orang yang pulang dan pergi dari tempat kerja, maka saat weekend—Sabtu dan Minggu—jalanan penuh dengan orang yang seakan-akan berlomba mencapai pusat perbelanjaan. Mengendorkan sejenak otak dan otot yang tegang karena pekerjaan, melepaskan kejenuhan, mencari hiburan.
Tren kota besar.
Gedung-gedung pencakar langit berderet di sepanjang jalan, seolah berlomba untuk mencapai langit, tanpa menyadari Bumi telah terluka. Ketika Jakarta semakin hari semakin terasa panas, suhu udara yang meningkat pasti setengah derajat setiap tahunnya, siapa yang harus disalahkan?
Manusia yang tidak mengerti keseimbangan alam. Bumi telah sakit, langit telah terluka, oleh kepongahan salah satu makhluk yang disebut berakal budi.
Ø Telepon lo nggak jawab, pesan gue lo nggak balas!
Jonathan melirik ponselnya, teringat SMS yang dia terima beberapa kali dari Cathy, tertanggal kemarin.
Ø Gue on the way ke apartemen lo.
Itu balasan dirinya kepada Chaty tadi, sewaktu dia baru masuk ke dalam mobilnya.
Gedung apartemen Cathy sudah terlihat di depan mata, dia memelankan laju
kendaraannya. Memarkirnya ke dalam basement, lalu melangkah cepat memasuki lift. Menekan angka 27 di panel tombol. Suara dentingan lift mengiringi langkahnya, dia berbelok ke kiri, menyusuri koridor, lalu berhenti tepat di depan pintu bernomor 2765.
Dia menekan bel apartemen Cathy. Pintu terbuka.
“Lo ke mana semalem?!” bentak seorang gadis. Wajah cantik terlihat dari balik pintu. Cathy.
“Boleh masuk dulu?” Jonathan bertanya balik.
Cathy melepaskan kacak pinggangnya, membalikkan tubuhnya, melangkah dalam langkah lebar lalu membanting tubuhnya ke atas sofa.
Jonathan menyusulnya setelah menutup rapat pintu apartemen, lalu duduk di hadapan Cathy. Dia bersandar, menatap gadis yang sudah dipacarinya selama setahun ini. Pacar ke sekian dalam hidupnya.
Tubuh molek Cathy, gadis blasteran Inggris-Indonesia, tertutup hanya di beberapa bagian vitalnya. Dadanya hanya berbalut kamisol berwarna pink gelap, sedangkan pinggulnya hanya mengenakan celana dalam mini berwarna putih.
Mata Jonathan menelusuri tubuh itu, tubuh yang telah berkali-kali—tak terhitung—memberinya kepuasan.
“Gue ketiduran. Sorry,” kata Jonathan sambil mengambil sebatang rokok yang ada di meja, lalu menyalakannya. Berusaha mematikan getaran yang dikirimkan oleh matanya, yang membuat darahnya melaju lebih cepat, ke satu tempat. Dia mengembuskan asap rokok dari mulutnya. “Ganti rokok?” katanya lagi, Cathy tidak menjawab, matanya menyorot tajam dengan alis yang bertaut. Bibirnya membentuk kerucut. Kesal. “Ganti pemantik juga,” lanjut Jonathan sambil memainkan pemantik yang bertuliskan huruf G di sana, lalu meletakkannya kembali ke atas meja. Cathy mengikuti gerakan tangan Jonathan dengan matanya.
“Ketiduran di mana?” tanya Cathy sambil menekuk kedua lututnya ke atas, kemudian memeluknya. Mengacuhkan pertanyaan Jonathan, melanjutkan interogasinya.
Tapi gerakan itu telah membuat pupil mata Jonathan membesar. Matanya menatap ke satu titik, ke s**********n yang tersibak. Mulus, tanpa sehelai rambut pun tumbuh di sana.
Jonathan menyesap lagi rokoknya, dia berusaha mengalihkan perhatiannya. Dadanya. Tempat yang salah.
“Apartemen Aboy.”
“Beneran?”
Jonathan mengambil ponsel di saku celananya, lalu mengulurkannya kepada Cathy.
Cathy cemberut, dia tidak mengambil ponsel itu. Jonathan bertahan selama beberapa detik sebelum memasukkan ponselnya kembali ke dalam kantongnya.
Cathy berdiri, lalu menghampiri Jonathan dengan tungkai panjangnya yang tanpa alas kaki. Cat kuku kaki berwarna merah kontras di kulitnya yang putih. Dia menghampiri Jonathan. Lalu menaiki sofa single yang diduduki oleh Jonathan. Lututnya mengangkang lebar di antara paha pacarnya itu, kedua tangannya merengkuh lehernya.
Jonathan menyesap dalam-dalam rokoknya, mengembuskannya perlahan ke arah samping. Dia menahan tubuh belakang Cathy dengan tangan kirinya, lalu mencondongkan dirinya sendiri, tangan kanannya mendekati asbak di atas meja. Asbak yang penuh dengan puntung rokok.
Jonathan menekan kuat rokoknya di sana, mematikan bara yang tersisa, karena dia memiliki bara sendiri di dalam tubuhnya.
“Gue kangen lo, Jo… kangen banget…” bisik Cathy di telinga Jonathan. Sudah tidak terdengar lagi nada kekesalan dalam suaranya. Dia menekankan dadanya ke leher Jonathan. Jonathan mengelus punggung pacarnya itu. perlahan, sesekali jarinya menelusuri pinggiran kamisol, menyentuh kulit mulus itu, menyentak sebagian dirinya. Terbangun. Garang.
Cathy menarik kepalanya, menatap Jonathan, tanpa sisa kesal sedikit pun. Hanya gairah yang terlihat. Jonathan menghentikan elusannya, dia menarik lepas karet rambut yang mengikat rambut ikal kecoklatan. Tergerai. Ujung rambutnya menyentuh pipinya, dagunya, menggoda.
Cathy menunduk, mencari bibir Jonathan. Lalu mencumbu mulut yang kini malah menyerangnya dengan hebat. Cathy melenguh, pinggulnya bergerak, di atas paha Jonathan.
Jonathan bergerak menurunkan tubuhnya, lebih menyandarkan punggungnya, mencari kenyamanan posisi duduknya, membuat pinggul Cathy terjatuh tepat di atas dirinya yang keras.
Cathy bergerak agresif, meminta perhatian kekasihnya itu.
Dan ketika Jonathan menarik kamisolnya ke atas, membuangnya ke lantai, dia tahu bahwa dia telah mendapatkan perhatian penuh laki-laki itu.
***